dadiwongenomblikenasobud

Muhaimin Iskandar: Pesantren Memiliki Kultur Aswaja yang Kuat

In Uncategorized on 10 January 2007 at 1:39 pm

Drs. H.A. Muhaimin Iskandar, M.Si.Pesantren memiliki pandangan yang cukup besar sebagai bagian dari apa yang disebut perjuangan semesta. Hal ini karena pesantren juga melahirkan perjuangan yang membentuk karakter bangsa sekaligus menciptakan sebuah iklim keagamaan yang dahsyat bagi penciptaan masyarakat Indonesia yang beradab dan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera.

Demikian diungkapkan dalam sebuah Ceramah Dr. A. Muhaimin Iskandar, dalam sebuah ceramah di Buntet Pesantren atas undangan dari panitia Haul ke-2 KH. Fuad Hasyim di asrama Nadwatul Ummah, 9 September 2006. Tulisan ini tidak meliput peristiwa langsung melainkan hasil dari mengamati rekaman VCD yang dikeluarkan panitia.

 Menurut Muhaimin, yang pernah kuliah di Gajah Mada dan sekarang ditugaskan sebagai bagian dari politik, menyadari betul bahwa Indonesia tanpa pesantren sepertinya akan terus menerus menghadapi persoalan besar. Ungkpanya.

Pesantren dalam ruang publik Indonesia sebenarnya memiliki peran luar biasa, namun ternyata tidak masuk dalam peta sejarah Indonesia artinya terkesan tidak diakui perannya. Karenanya, Muhimin kecewa sekali dengan orang yang tidak suka dengan nuansa pesantren. Boleh jadi benar apa yang dikatakan Masdar F. Mashudi, bahwa adanya krisis multidimensional yang terjadi di ranah bumi nusantara ini yang tengah bergerak kepad bencana multi dimensional, menurut Masdar, diakibatkan salah satunya karena bangsa ini telah kualat kepada para ulama dan Nahdlatul Ulama.

Muhaimin memberikan gambaran tentang peran Roisul Akbar KH. Hasyim Asyari sebagai pemimpin besar melawan penjajah bahkan pemimpin revolusi jihad, tidak ada catatan sejarah mengenai beliau. Putranya KH. Wahid Hasyim yang telah menyatukan negara yang waktu th. 1945 hampir pecah antara negara timur yang non muslim dengan barat yang berbasis muslim hampir berbeda antara Indoensia timur dan barat, namun alhamdulillah seorang tokoh pesantren, KH. Wahid Hasyim hadir bersama PPKI memberi solusi. Kyai Hasyim ternyata mampu menyatukan antara Indonesia Timur dan Barat yang berbeda ideologi dan budaya dan itu dan ternyata alhamdulillah menjadi solusi bagi kehidupan nasional sampai hari ini. Tapi lagi-lagi sejarah kurang mencatat. Makanya boleh jadi kata Masdar masalah yang tengah dihadapi oleh bangsa ini karena kualat dengan Nahdlatul Ulama.

NU dalam hal ini memiliki peran besar dalam rangka ikut menjadi penengah dalam setiap konflik dan menjadi garda terdepan bagi penyelesaian krisis nasional. Hal itu bukanlah omong kosong belaka. Kata Muhaimin disambut oleh antusiasme jama’ah yang hadir.

KH. Fuad Hasyim, yang diperingati Haulnya di asrama Nadwatul Ummah, asrama yang telah dirintisnya sejak lama, menarik para tamu untuk mengikuti ceramah Muhaimin. Namun ternyata bukan Muhaimin Iskandar saja sebagai tamu istimewa. Ternyata ada tamu yang sangat istimewa yaitu Habib Lutfi bin Yahya dari Pekalongan, ketua “jami’yiah thariqah mu’tabarah nahdlatul ulama” juga hadir teman Habib Lutfi, Habib Muhammad (Ayip Muh) dari Cirebon. Serta masih ada kyai lain seperti KH. Subhan, besan KH. Fuad Hasyim dan KH. Manarul Hidayah. Hal ini tampak dari tayangan di dalam VCD yang cukup bagus rekaman gambarnya.

Kyai Fuad dalam pandangan Muhaimin, merupakan person NU yang telah memberikan banyak pemikiran-pemikiran bahkan bagaimana nikmatnya menjadi bangsa yang bernaung di Nahdlatul Ulama. Syair-syair beliau, katanya, begitu dahsyat meskipuan ia sendiri tidak hafal dan tidak tahu artinya, namun hanya sebagian kecil saja. Tapi inspirasi yang saya dapatkan, katanya adalah bahwa peran kedepan bahwa pesantren dan Nahdlatul Ulama tidak bisa diabaikan oleh siapapun. Buktinya hari ini ketika “kualat dan krisis” itu terjadi, kembali orang melihat pesantren sebagai pintu masuk untuk menyelesaikan dan menyatukan berbagai macam perbedaan.

Contoh sederhana. Pemerintah dalam menangani persoalan bencana di Sidoarjo saja tidak karu-karuan. Menteri lingkungan hidup minta agar lumpur dibuang ke laut sementara menteri kelautan melarangnya. Akhirnya kini, pemerintah meminta kepada para kyai-kyai agar ditangai secara pesantren.

Lha ko tidak sejak kemarin-kemairn. Kenapa tidak dari dulu minta tolong, kita selesaikan secara adat. ini sebuah contoh kecil yang tidak ada apa-apanya.

Tetapi yang kemaren dari perjalanan politik kebangsaan kita, sejak masa orde baru yang otoritarian, yang tidak ada ruang bagi masyarakat apalagi pesantren, untuk menunjukan wajah dan bentuknya seluruhnya harus tunduk kepada pihak otoritas yang berkuasa 32 tahun. Pesantren menjadi bagian dari kekuatan yang terpinggirkan dan terpojokkan. Bahkan hampir tidak ada ruang sedikitkupun bagi tatanan nasional untuk memberikan peran-peran pesantren secara lebih nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: