dadiwongenomblikenasobud

Mengimani Nabi alaihimussalam perlukah dilogikakan?

In Celotehan on 13 January 2007 at 4:18 pm

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ini mengikuti pengajian Tafsir Jalalain di Musholla tempatku tinggal. Pengajian ini rutin namun baru beberapa kali saya ikuti karena kesibukan kerja yang  biasanya pulang hingga malam [biasa setelah jam kerja explor di IE]. Tapi alhamdulillah saya mendapatkan hikmah dari pengajian ini. Dalam kajian malam ini sang Ustadz membahas tafsir Yasin kebetulan pada giliran Surat Maryam (bukan Maria Eva) membicarakan  kelahiran nabi Yahya putra dari Nabi Zakaria.

Dari ayat yang tercantum seperti kutipan al quran ayat 1-15, Ternyata kelahiran seorang Nabi Yahya sulit dilogikakan. Bagaimana Nabi Yahya as bisa lahir dari ayahnya bernama Nabi Zakaria as yang usianya 125 tahun sementara isterinya 85 tahun. Nabi Zakariapun tidak mempercayai ketika ia dikabari oleh Tuhan akan dikaruniai seorang anak. Beliau berkata dalam al qur’an ayat -5:

Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”. (S. Maryam, 08)

 

Namun Tuhan menjawab:

 

Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”. (S. Maryam, 9)

 

Ø      Dari jawaban itu maka logika tidak bisa bermain karena Allah berfirman: “hal itu adalah mudah bagi-Ku”. Dari ungkapan inilah maka keimanan sungguh sulit dilogikakan. Disinilah keimanan diuji.

Ø      Sebenarnya bukan nabi Zakaria saja yang asal kelahiranya tidak sama dengan manusia lainnya. Sebut saja misalnya Nabi Isa as (Yesus Kristus dalam agama kristen). Beliau lahir tanpa Bapak, demikian pula Nabi Adam.

Ø      Karenanya, keimanan bisa menetap dalam hati, alamnya unilmit luasnya dari dunia hingga akhirat. Sementara logika bermain pada tataran terbatas dengan alam yang terbatas pula (dunia), sebagaimana Rasulullah saw bersabda: “antum a’lamu biumuri dunyakum” you are more known then me about the world’s problem”. Jadi gurunya keimanan adalah para Nabi sedangkan logika bebas sebebas-bebasnya meskipun tidak mengikuti nabi sekalipun…

Wallahu a’alam

Bagaimaan menurut para pembaca…. Mohon diskusinya.


Kisah Zakaria dalam Al Qur’an

  1. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad
  2. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,
  3. yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
  4. Ia berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.
  5. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,
  6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai”.
  7. Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
  8. Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada seorang anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua”.
  9. Tuhan berfirman : “Demikianlah”. Tuhan berfirman : “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali”.
  10. Zakaria berkata : “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat”.
  1. ini artikel sudah jadi belum sih…

  2. Lho, penulisnya ngantuk ya? terusin dong coy, biar ana bisa mencerna maksud topik tsb.

  3. Kenapa musti binun, mesti pake logika-logikaan, bukankah sudah anda nuki firman-Nya dalam al Qur’an berkaitan kisah Nabi Zakaria As. dan Isa A. Untuk sekedar nambahin, coba kita simak firman Allah berikut ini :
    “Dan Allah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kalian berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Fathir:11)

    Mengimani ya….akh terusannya ana gak bisa kasih aargumentasi…….gak bisa pake logika, lha wong kkalo Allah punya urusan, emang kita bisa menolaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: