dadiwongenomblikenasobud

Meyakini hanya Sifat Kasih Sayang Allah Bisa Stress

In Celotehan on 13 January 2007 at 4:11 pm

Bismillahirrahmanirrahim

Menjalani hidup dengan memliki rasa keyakinan kepada Allah subhanahu wata’ala sangatlah penting sebagai media kontemplasi dalam relung kerohanian. Jika relung kerohanian itu hanya bertumpu kepada keyakinan pada sifat Rahman dan Rahim Allah subhanahu wata’ala saja akan menyebabkan stress. Hal ini karena sifat Rahman dan Rahim adalah kasih sayangNya yang ditimpakan kepada Makhluqnya. Maka, seandainya tidak mendapatkan kedua sifat tersebut dihawatirkan berkurangnya rasa keimanan dan keyakinan kepadaNya. Padahal sifat Allah subhanahu wata’ala selain rahman dan rahim ada sifat Al Maani’ [Maha menahan], dan Al Qadir [Maha berkuasa].

Sebagai ilustrasi bisa dikemukakan di sini: orang yang ditimpa cobaan terus menerus dalam hidupnya, kemudian menyebabkan ia merasa sulit dan pahit dalam menjalani hidup akan menuduh seolah-olah Allah tidak memberi karunia kasih sayangNya kepada kita. Bila kemudian cobaan ini berlangsung cukup lama misalnya karena kegagalan demi kegagalan dia akan putus asa. Barangkali akan bertanya : “Mana kasih sayang Allah, katanya Allah itu kasih dan sayang kepada makhluqnya, kok saya begini-begini terus”.

Dari pernyataan itu, lama-lama dikhawatirkan akan putus asa alias stress. Namun bila meyakini sifat selain rahman dan rahim, misalnya sifat Al Maani’ (Maha Menahan) akan melahirkan sifat optimisme dan rasa keberTuhanannya tetap berahan dalam dirinya. Keyakinan ini misalnya terungkap dalam kata-kata: “ooh mungkin Allah masih berkenan memberikan cobaan kepada saya, dan penderitaan ini akan terus menimpa saya untuk tujuan yang Allah sendiri lebih tahu.” Tentu saja, keyakinan ini tidak ada kaitannya dengan upaya untuk terus berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang menimpanya.

Dalam kasus masalah ini, kita bisa belajar dari bagaimana daya tahan jiwa seorang Nabi Allah Ayyub alaihissalam. Ketika beliau ditimpa cobaan berupa penyakit kulit yang parah sekali, sehingga menyebabkan orang-orang sekampungnya mengusir Nabi Ayuub dan diasingkan dari keramaian penduduk karena takut penyakitnya menular. Dalam kitab Durratun Nasihiin menggambarkan bagaimana parahnya sakit kulit ini sampai-sampai ulat-ulat yang menggerogoti badannya menjadi teman sehari-hari. Suatu ketika jika beliau akan mengerjakan shalat, maka ulat-ulat ini disingkirkan terlebih dahulu, dan ketika selesai ulat ini dipersilahkan lagi untuk menempati luka-luka kulitnya.

Dalam abad modern sekarang ini, dimana berbagai cobaan tengah mendera setiap lini kehidupan, akan lebih arif jika kita tidak memfokuskan keyakinan iman kita kepada rasa kasih-sayang saja. Sejatinya, kita perlu memahami kembali nama-nama asmaul husna yang lebih luas lagi. Bahkan Allahpun memiliki sifat menyiksa, mencabut Maha Takabbur (al mukabbir), dan Maha Berkuasa dan lain-lain.

Akhirnya jangan sampai kemudian ketika mengaku sudah berdoa sangat lama kemudian berkata: saya sudah lama berdoa shalat tahajud tapi masih begini-begini saja….

Wallahu a’lam
(MK)

  1. Dalam kitab Durratun Nasihiin menggambarkan bagaimana parahnya sakit kulit ini sampai-sampai ulat-ulat yang menggerogoti badannya menjadi teman sehari-hari. Suatu ketika jika beliau akan mengerjakan shalat, maka ulat-ulat ini disingkirkan terlebih dahulu, dan ketika selesai ulat ini dipersilahkan lagi untuk menempati luka-luka kulitnya.

    —> ada yang saya tidak mengerti dari sikap Nabi Ayub a.s., bila kisah ini benar !. Mengapa ulat-ulat itu harus diletakkan kembali untuk menempati luka-luka kulitnya !?. Kisah ini terasa fatalistiknya menghadapi ujian Allah?. Apakah tindakan ini dibenarkan ? atau pertanyaannya menjadi, apakah kisah ini benar !?….

  2. Hanya sebuah kisah… benar/tidaknya wallahu a’lam. sebuah cerita dari banyak pena-pena ulama tidak semuanya benar, sebagaimana juga hadist2 ada yang maudlu ada pula yang marfu dlsb.

    pemaknaan satu dan lainnya dari kisah2 ini juga tergantung bagaimana tujuan dari sebuah pemaknaan itu sendiri… barangkali tidak cocok cerita ini dikedepankan dikala bangsa harus bangkit…🙂

  3. pendapat —-> kalau memang nabi ayyub mengalami ujian dengan penyakitnya yang begitu lama serta menjijikkan, lantas kapan nabi ayyub bisa berdakwah kepada ummatnya sedangkan beliau di utus untuk menyampaikan amanah2 Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: