dadiwongenomblikenasobud

Amerika dan Syndrome Popularity

In Celotehan on 16 January 2007 at 11:52 am

TENTARA sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Inggris akhirnya mengaku memberikan laporan bohong mengenai serbuan mereka ke Irak, bahkan mengaku kalah. Tetapi mereka tidak segera enyah dari negeri Muslim bersejarah itu dan mengembalikan kekuasaan pemerintahan lama. Malah meninggakan tragedi kemanusiaan dan peradaan paling bengis yaitu menggantung Saddam Husen dengan alasan membunuh 180 kaum pemberontak. Tetapi Sekutu tidak merasa bahwa kejahatannya jauh lebih kejam yakni mengakibatkan terbunuhnya satu milyar lebih penduduk Irak.

Eksekusi itu mengakibatkan Irak terjebak dalam perang saudara yang dipicu oleh negara yang mengaku beradab. Ketika Irak sedang menderita lahir batin, tentara sekutu sudah beancang-ancang menyerang Iran dengan alasan mengembangkan enegi nuklir. Kalau energi nuklir baik untuk peperluan industri maupun persenjataan tidak boleh kenapa negara negara Amerika dan Eropa memilikinya, termasuk beberapa negara seperti Israel, India, Cina diperbolehkan. Bukankah mereka juga harus dilarang. Karena mereka tidak beradab, maka penerapan peraturan tidak mengenal keadilan, peraturan hanya untuk menguntungkan dirinya dan untuk membelenggu bangsa lain.

Hal itu diungkapkan dalam sebuah tulisan kawan saya Mas Mun’im di http://www.nu.or.id/v2/index.htm 

Sangat menyayat hati ungkapan dalam tulisan Kang Munim di atas. Amerika dan Eropa terkesan begitu membeci negara yang kebetulan bernuansa Islam. Begitu cemburukah dengan orang-orang muslim atau memang ada semacam gejala penyakit popularitas. Tapi bila dicermati, gaya Amerika dalam berbagai aksi penyerangaan terhadap negara lain sebagai aplikasi dari gaya psikologis mereka dalam menyikapi kehidupan adalah bermuara dari ideologi yang diajarkan. Sangat “mungkin” bermuara dari warisan agama mereka yang terkenal “keras dan kaku”.

Bagi kalangan agamawan, khususnya lingkungan NU, tingkah polah Amerika dan sekutunya ini tidaklah mengagetkan. Karena memang sudah wataknya yang khas bagi mereka dan hal itu telah di nash dalam Al Qur’an. Setidaknya contoh-contoh di bawah ini mirip kalau tidak dikatakan persis dengan kejadian dalam Al Qur’an

  • Ketika Amerika disuruh untuk berbuat baik yaitu jangan menyerang komunitas lain yang memiliki peradaban dan integritas tersendiri, demokrasi sendiri dll. Namun mereka menjawab: “I am is the best” sayalah [bangsa] yang terbaik! di dunia ini. Technologinya, kekayaanya, demokrasinya. Jadi kalau ada bangsa yang mengancam kepentinganku, mestilah mereka harus tunduk di hadapanku. “because I am is the world police ” Aku mereka.

Kira-kira miripkah dengan ungkapan dalam Al Qur’an ketika para malaikat disuruh bersujud kepada Adam a.s. lalu semuanya bersujud kecuali yang bernama Iblis. Kata Allah swt, dia enggan bersujud karena “aba wastakbara!” dia enggan bersujud karena takabur (sombong).

Perintah Allah pasti menyuruh kepada kebaikan. Namun ternyata ada makhluq yang tidak mau cenderung kepada kebaikan. Simbolisasi ini boleh jadi mengindikasikan bahwa selain Iblis dahulu maka di zaman kapanpun dan dimanapun, simbolisasi itu akan terus ada. Dalam kasat mata, seperti  yang diurai oleh Mas Mun’im sangat gamblang.

  • Ketika Amerika ditanyakan mengapa tetap ngotot untuk menyerang Afghanistan, Irak dan berencana menyerang Iran. Apa alasannya untuk selalu membangkang komunitas dunia yang cinta damai?  Apa jawab mereka:

Lagi-lagi ini pun mirip dengan ayat berikutnya ketika Allah menanyakan mengapa tidak mau menghormati Adam.

 “saya diciptakan dari Api sedangkan Adam dari tanah, Saya lebih baik dari dia!”

Bukankah ini juga mirip dengan alasan Amerika dalam jawabannya:

“Tidak ada yang boleh mendikte negara kami, apalagi mengancam kepentingan kami . Siapa saja yang mengancam kepentingan Amerika, maka negara itu berarti siap melawan kekuatan kami. Bukankah kami adalah negara paling kuat di dunia?

Kita mengimani ayat-ayat Allah baik yang tekstual maupun kontekstual. Apa yang harus dilakukan dengan kenyataan seperti itu. Sejatinya kita tetap dalam koridor demokrasi yang dibangun, komitmen dengan kebenaran. Tidak serta merta kemudian mengikuti alur dan jalan pikiran ideologi mereka.

Insya Allah dengan begitu lama kelamaan kebaikan akan menang. Bukankah kita pun percaya bahwa : “Innal batila kanaa zahuuqa” sesungguhnya, kebatilan itu pasti lenyap tidak akan bertahan lama. Paling tidak saya melihat kesadaran penduduk Amerika terhadap nilai-nilai ajaran universalisme Islam plus toleransinya yang tidak dipublikasikan oleh newspaper mereka, sedikit mengamini dan sedikit-demi sedikit akan turut dalam iramanya. Buktinya, dari beberapa laporan berita yang bebas sensor, mengungkap bahwa kesadaran kaum intelektual Amerika terhadap Islam mulai tampak dengan adanya banyak orang yang tertarik kepada Al Qur’an setelah kejadian 11 September. Kemudian sedikit-demi sedikit banyak pula warga Amerika yang pindah agama.

Namun dibalik itu ada  sebagian kecil utamanya di pemerintahan, yang diperlihatkan dari berbagai kebijakannya, seringkali terkesan mirip “koboi” yang tidak berhati nurani. Itulah yang sangat disayangkan sekali, tradisi ideologi lama masih dipertahankan. Al Qur’an telah berbicara, zamanpun mengamini Al Qur’an lalu bagaimana dengan kita, kapan ikut mengamini ayat dan kemudian waspada terhadap korelasi dampak yang digambarkan dalam teks dan konteks tersebut. Semoga umat kita dikuatkan oleh Allah, dan diselamatkan dari afatiddunya wa’adzabil akhrah. Amin.

wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: