dadiwongenomblikenasobud

Pengalaman Rohani Seputar Haul Buntet

In Keajaiban on 23 April 2007 at 6:51 pm

Ini bukan cerita fiktif namun semacam pengalaman rohani seorang santri yang pernah bermondok di buntet Pesantren kemudian setiap haul selalu berusaha untuk menghadirinya. Hampir sudah berpuluh tahun ia sudah melakukan hal tersebut hingga pada suatu ketika ia tidak bisa datang pada haul tahun lalu. Ia sendiri kemudian tidak bisa hadir karena ada suatu halangan syar’i (sakit) sehingga tidak bisa datang. Dalam keadaan tidak enak badan, alumni ini tertidur. Antara sadar dan tidak, ia kemudian mengalami suatu keadaan seperti mimpi.

Di dalam mimpinya itu, ia bercerita bahwa ia tiba-tiba tengah mengadiri ziarah di Buntet Pesantren bersamaan dengan para almarhumin kyai Buntet yang kenal dan yang tidak kenal. Di dalam mimpinya yang tengah berada  di makbaroh “Gajah Ngambung” itu ia disuruh oleh salah satu kyai untuk menyalami para almarhumin yang saat itu tengah berdiri dan berjejer dengan berpakaian ala para masyayikh: berbaju serba putih dan rapih dan bersorban. Alumni ini kemudian disambut dengan hangatnya dan disalami satu persatu, dikenalkan dan didoakan oleh para almarhumin Buntet Pesantren.

Allumni yang bermimpi  ini kemudian buru-buru mendatangi KH. Abdullah Syifa di Buntet Pesantren dan menceritakan semua peristiwa tersebut di atas dengan lebih rinci dan membuat para tamu yang mendengarny menjadi terheran-heran bercampur kagum. Namun sayangnya alumni ini tidak diberitahu asal dan siap gerangan. Rupanya KH. Abdullah Syifa merahasiakannya. Sepenggal pengalaman rohani itu diceritakan KH. Abdullah Syifa di Makbaroh “Gajah Ngambung” saat peristiwa Haul 2007 kemarin, dalam sebuah sambutan sebelum acara tahlilan dan dzikiran dimulai.

Pengalamn tersebut terkesan aneh memang, namun ini hanya menimpa seorang alumni yang rupanya sangat memiliki keterikatan mendalam dengan Buntet yang bukan saja sebagai institusi biasa, namun baginya melebihi institusi jasmani seakan Buntet sudah merohani terutama kepada para pemimpinnya, saat itu.

Sebaliknya, ada sebuah pengalaman yang berbanding terbalik pada peristiwa di atas. Hal ini pun menimpa seorang alumni Buntet yang lulus kira-kira tahun 1989 dari MAN. Alumni ini, sering menghadiri haul dan memang bukan hal yang tidak dipentingkan baginya. Suatu ketika, ia hendak melangsungkan acara permenikahannya di hari yang sama dengan acara Haul di Buntet Pesantren. Kemudian ia tidak lupa mengundang kyainya ketika dulu ia tinggal. Tentu saja Pak Kyai itu menolaknya karena berbarengan dengan haul, dan kyai itu sendiri tidak menyarankan agar diundur mungkin karena hal itu tidak ada dalam benak pikirannya untuk mencegah karena pernikahan merupakan hal yang sakral baginya.

Setelah peristiwa pernikahan itu berlalu, tiba-tiba saja, matahari yang biasanya terbit begitu terang menyegari kehidupan barunya bersama isteri tercinta, begitu hangatnya mengiringi hidup barunya. Begitu bahagia. Namun dalam hitungan hari kebahagiaan itu kini berubah total. Tiba-tiba saja hawa gelap dan cahaya kehidupan tak memebelanya. Bisnis yang cukup maju yang ia buka kiosnya di cikampek menyurut pelan tapi pasti. Bangrut. Sementera ia sendiri oleh mertuanya memaki-makinya hingga pada akhirnya ia disuruh menceraikan isterinya. Padahal, sang isterinya itu adalah juga seorang santri dari pesantren Benda. Pesantren yang memiliki kaitan erat dengan Buntet Pesantren dalam struktur kepemimpinannya.

Itulah yang pernah diceritakan oleh sahabat karibnya (Mahmud Syaltut) teman penulis  di Buntet Pesantren menanggapi ceramah KH. Abdullah Syifa di Makbaroh tentang kejadian luar biasa yang dialami oleh alumni Buntet yang suka berziarah. Seakan teman penulis yang mendengar ceramah Kyai Syifa lalu melengkapi dengan pengalaman temannya yang sangat akrab ketika sekolah di MAN.

Dua peristiwa di atas apakah ada kaitannya dengan peristiwa haul atau tidak itu bukan wewenang penulis menghukuminya. Pada peristiwa pertama jelas ada kaitannya karena dalam mimpinya aantara sadar dan tidak ia dibawa seolah-olah ada di makbaroh Buntet. Sementara pada peristiwa kedua itu hanya kebetulan yang mungkin tidak ada kaitannya dengan tanggal pelaksanaan pernikahan itu berbarengan dengan haul di Buntet Pesantren.

Tapi memang menurut penuturan KH. Anas Arsyad kepada penulis: “jika karena bukan suatu halangan besar, hendaknya kamu bisa menghadiri haul. Sesibuk apapun sempatkan setahun sekali ini sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh. Itulah nasehat Kang Anas kepada penulis berkali-kali. Mungkin ada benarnya sebagai sebuah bentuk refleksi silaturahmi dengan keluarga yang masih hidup dengan yang sudah mati. Di sisi lain berupa dampak dan akibat kalau tidak hadir bukan sebuah hal yang perlu dipikirkan karena peristiwa tadi tiap orang pasti berbeda. Dan bukan sebuah kepastian. Mungkin saja hal tadi merupakan peringatan bagi orang-orang tertentu dan bukan peringatan bagi orang-orang tertentu pula. Hal itu terserah kepada para pembaca. (M. Kurtubi)

  1. Waah aku boro2 haul pak santri, wong denger suara adzan aja cuman dari laptopku, ya tapi InsyaAllah terus belajar agama, haul sendiri aja.. boleh khan?

    ——–
    of course doctor, the woman smarter like you, remote from Indonesia, is very easy to get more important wisdom from everywhere… I salute to you doc, to your new presentation web and to your soft spoken like my mother… ofcourse you a mom for your children and I hope to most blogroll

  2. hei dr evi berpenampilan baru… waaah aku tak melihat jawa dimatamu tapi kulihat hawa diwajahmu… hehehe selamat belajar terus dan terus membelajar… tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: