dadiwongenomblikenasobud

Hardiknas antara Upacara dan Demonstrasi

In Uncategorized on 2 May 2007 at 7:50 pm

Hardiknas seringkali diupacarai setiap tanggal 2 Mei. Teman sayapun, seorang wakapsek SMU di Jakarta, membenarkannya, bahwa setiap tanggal itu bergerombolah para guru ke lapangan untuk berseremonial dan di isi dengan mendengarkan wejangan-wejangan Pak Menteri. Memang siapa yang melarang berupacara. Kan untuk memperingati, sebagaimana hari-hari nasional lainnya: Hari kemerdekaan, hari Kartini, hari buruh dan hari-hari lainya. Bukankah bangsa kita paling senang dengan acara yang bersimbolisasi, sementara acara yang bersepi-sepi apalagi yang serius-serius paling minim peminat.

Hardiknas hari ini masih tetap diwarnai protes dari kalangan mahasiswa karena dikalim pemerintah masih belum beres mengurusi bidang pendidikan. Mereka menunut kompensasi dana 20% itu digunakan maksimal. Itulah yang terjadi hari ini di Bandung, Semarang, dan Medan. Tak kalah kemarin pula puluhan ribu buruh merangsek ke gedung DPR/MPR untuk menunut kesejahteraaan. Padahal demo itu juga kan berbiaya, sementara buruh berdemo untuk menuntut kesejahteraan. . Padahal demo juga berbiaya, mengapa tidak di isi dengan kegiatan yang sedikit menyentuh ruhani dan empati orang lain, apapun bentuknya. Dengan begitu niscaya para bos dan orang di luar buruh akan ikut prihatin dan memikirkannya. Tapi memang cara berdemo kadang lebih efektif sebagai bentuk penekanan pada pihak lain agar mengikuti caranya.

Sang Pelopor
Bila memegang uang pecahan Rp. 20.000,- kita bisa melihat tokoh bernama Ki Hajar Dewantara. (Yogyakarta, 2 Mei 1889–26 April 1959). Seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Beliau membuat lembaga pendidikan, Taman Siswa. Di sini beliau memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Kemudian beliau wafat pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. Kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

Sekedar mengingatkan, beliau membuat semboyan pendidikan yang terkenal: tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada. Semboyan ini mempunyai arti bahwa: tut wuri handayani (dari belakang memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah memciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita, terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.

Masihkah Ada Semangat KI Hajar Dewantara?
Mungkin masih ada di beberapa tempat dan tokoh para guru kita. Namun juga banyak kemungkinan sudah tinggal di kertas-kertas kuliahan atau buku-buku bacaan anak-anak sekolah. Belum lagi kesempatan pendidikan masih belum merata luas di setiap generasi bangsa. Pendidikan pun masih dipandang mahal, masih membela kepentingan orang berduit. Sedangkan orang-orang miskin masih keteteran mengikutinya. Lihatlah misalnya, sekolah swasta masih terkesan mahal baik di kota maupun daerah.

Presiden Sukarno berkata bahwa Indoneisa kini tengah menghadapi berbagai revolusi dalam satu generasi, ‘a summing up of many revolution in one generation’. Misalnya terjadinya proses peru¬bah¬an radikal dari feodal ke demokrasi dan dari tradisional ke modern yang berorientasi pada perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Revolusi atau perubahan itu harus dimaknai sebagai bagian dari pembangunan negara bangsa Indonesia yang maju dan modern. Untuk itu, diperlukan pendidikan yang bermutu, terutama dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara historis, pendidikan tumbuh dari suasana yang diciptakan oleh lahirnya negara-negara berperadaban (Fischer, 1970).

Jika melihat visi dan misi pendidikan nasional maka memang tampak jelas semangat itu masih ada. Adapun Visi dan misi itu berkeinginan mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas, terampil, bermutu, kompetitif, mandiri, demokratis, bersikap dan berkepribadian profesional (beradab), serta relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal, nasional, dan global.

Ketika saya melewati Kantor Diknas di Sudirman, di papan spandauk terlihat jelas tulisan yang rupanya tema pendidikan nasional berbunyi: ‘Dengan semangat Hardiknas, Kita Sukseskan Pendidikan Bermutu Untuk Semua’ .

Melihat tema seperti itu, sepertinya menteri kita memiliki cita-cita untuk mengangkat harkat pendidikan nasional itu bisa setara dengan pendidikan internasional. Sebuah cita-cita yang luhur tahun ini. Pendidkan sejatinya, memang harus diarah kepada nilai-nilai luhur dan berwawasan global. Dengan tanpa memperhatikan mutu pendidikan, buat apa bercapai-capai mengurus pendidkan. Semoga saja greget yang besar ini bisa dihelat dalam peringatan hardiknas tahun ini.

  1. Sebenarnya arti dari memperingati hari pendidikan itu apa yah? Sepertinya cuma upacara doang, nyaris tak ada tindak lanjut.

    Yang ikutan upacaranya juga, paling anak-anak sekolah, pejabat-pejabat (itu juga karena dipaksa, takut sama pimpinan).

    Setelah upacara apalagi ya? Sepertinya……

    ———–
    sblm upacara, dandan serapih mungkin, setelah upacara sepertinya…………….. (rupanya banyak masalah penting dan yang tidak penting bisa ditulis)

  2. Hardiknas cenderung diperingati hanya sebagai peringatan kepada para pahlawan saja, lha untuk implementasi ke dunia pendidikan sebebnarnya nggak ada, jarang sekali yang menjadikan hari pendidikan itu sebagai tonggak untuk bener-bener meningkatkan mutu pendidikan kita

    ——–
    waduh makin krisis pendidikan kita dong ya pak…

  3. Melihat tema seperti itu, sepertinya menteri kita memiliki cita-cita untuk mengangkat harkat pendidikan nasional

    Semoga saja pak menterinya tidak amnesia yah😀

    halo pak saya berkunjung nih😉

    ——-
    mantan siswa yang bakal jadi manten yaa… heheh
    nuhun atuh dah kamari. Selamat berkanjang-kunjung moga2 tetap nyambung ka mojang ti bandung …😉

  4. Sebenarnya ada secercah harapan guru ketika mengikuti upacara Hardiknas. Para guru berharap di pidato Mendiknas ada kalimat, “Mulai tahun inikesejahteraan guru dinaikkan”.😀

    —-
    hmmm betul, semoga kesejahteraan bisa menggapai semua potensi guru dan sekitarnya.. btw.. guru sekarang gajinya sudah melebihi karyawan swasta biasa… itu sudah lumayan.. tapi moga2 bisa bertahan syukur bisa namah lagi

  5. IYa, percuma, menyelenggarakan sesuatu yang ngga ada hasilnya, setidaknya ada visi baru gituh…

    ———-
    hmmm mubadzir emang masih melekat di tubuh biro – krat [tempat sirop loh] kita

  6. Seharusnya Hardiknas ditandai dgn kenaikan gaji guru & sekolah negri harus gratis gitu!!!

    ———-
    iyaa yaa stuju mbanget. btw gimana nih mbak kalau di sana, enak banget ya orang nganggur saja dibayarin, apalagi orang sibuk. duuh makmur banget yaa negara. kapaan kita bigitu…

  7. Hardiknas kemaren setidaknya gw ngeliat satu cermin dengan dua pantulan berbeda. Pak Inu dapet penghargaan peduli HAM dan kawan sejawatnya, Lexie, resmi ditahap Polda Jabar.
    Berharap sesuatu pada momentum hardiknas? ah…lupa ya kalo bangsa ini cuma kaya dengan simbol tapi ga ada aplikasi.

    *ma kasih kunjungan ke blog saya…🙂

    ——–
    🙂 makasih menyambangi ke kebun hijauku.. moga makin hijau dan menyubur tanamanku… hei tulisan2mu enak dibaca dan sumringah .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: