dadiwongenomblikenasobud

Pendidikan Mestinya Merubah yang Biasa jadi Luar Biasa

In Celotehan, Keajaiban on 3 May 2007 at 9:49 pm

1168702226b.jpgAda hal yang menarik di acara 4 mata kemarin malam, di Trans 7. Bersama bintang terkenal,  hadirlah di sana Diah Pitaloka, Marshanda dan Wanda Hamidah. Itu biasa, sebagaimana bintang tenar lainnya pun sering menyegarkan laya kaca kita. Namun malam itu, ada hal istimewa terjadi. Hal ini mungkin bertepatan dengan Hardik(nas), Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei. Hadirlah di sana seorang guru SMP ketika Tukul Arwana sekolah dulu. Ia sengaja diundang ke acara yang cukup sukses “empat mata” yang sering mengeluarkan ungkapan “kembali ke laptop”.  Apa istimewanya acara ini baru terlihat ketika sang guru berbicara bagaimana latar belakang Tukul saat masih SMP.

Saat itu Diah Pitaloka bertanya langsung kepada sang guru, bagaimana Tukul saat bersekolah di SMP.  Maka berceritalah bahwa  Tukul itu berasal dari keluarga yang benar-benar ndoso dan sangat miskin. Sampai pada suatu ketika, cerita sang guru, ia mau makan di tempatku namun sayang tidak punya beras. Karena kasihan, akhirnya piring milikku  saya relakan untuk dijual lalu hasil penjualannya dibelikan beras. Dari situ praktis saya tidak mempunyai piring sama sekali. Akhirnya kami makan bersama dengan nasi yang dibungkus daun.  Karena ada semangat yang cukup besar dari Tukul dan keadaan Tukul yang begitu memprihatinkan, maka pihak guru-guru  membelanya agar bisa bersekolah terus hingga SMU. Atas bantuan guru-gurunya itu, maka meski dengan nilai teramat pas-pasan Tukul bisa lulus dan kita semua mengetahui bagaimana kiprah Tukul di dunia intertainment hingga saat ini. Daria empat mata menjadi ratusan juta mata pemirsa di Indonesia. Lawakannya begitu segar dan tetap masih eksis hingga saat ini.

Itu adalah sepenggal cerita tentang Tukul. Masih banyak sebenarnya yang mirip Tukul di nusantara ini. Mereka lahir dari keluarga biasa-biasa saja namun bisa berhasil mengerjakan tugas orang-orang yang luar biasa. Misalnya, konon Liem Sie Liong, konglomerat Indonesia itu awalnya berdagang bakau keliling kampung. Kemudian dari scientist misalnya, Thomas Alva Edison, penemu paling produktif dunia yang berhasil mematenkan 1.093 jenis temuan bidang teknologi. Konon, awalnya adalah seorang pelajar yang dianggap idiot.  Dari buku 100 tokoh paling berpengaruh, kita bisa melihat bagaimana urutan para tokoh diurai di sana. Tokoh pertama adalah Nabi Muhammad saw.  Menurut Michael Hart, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling berpengaruh di antara milyaran penduduk dunia, karena ia dianggap olehnya sebagai satu-satunya manusia yang berhasil secara luar biasa baik dalam kegiatan keagamaan maupun pemerintahan. Padahal dari sejarah kita bisa melihat beliau dari keluarga yatim piatu, ummi (tak bisa baca dan tulis).

Dari contoh tersebut semestinya pendidikan itu selayaknya mampu melahirkan orang-orang luar biasa, tanpa melihat batas kultur dan status. Sungguh luar biasa jika pendidikan kita mampu melahirkan orang-orang biasa dapat melaksanakan tugas orang yang luar biasa. Sebagaimana perkataan John D. Rockefeller (1839-1937), Industrialis AS  ”Kepemimpinan yang bagus adalah mengajari orang-orang biasa agar bisa melakukan pekerjaan orang-orang luar biasa. “

Yang terjadi sekarang, banyak lembaga pendidikan kita hanya mau menerima (mendidik) orang-orang yang tidak biasa: berkantong tebal, berfasiltas mewah dan bernilai bagus. Selain dari tiga kriteria itu ditolak. Apa susahnya mendidik orang-orang cerdas, lalu diarah agar lebih cerdas lagi, tidak ada susahnya. Bukankah lebih sulit mendidik orang yang tidak cerdas menjadi luar biasa kecerdasannya, baik kecerdasan akal fikir, emosi, musik, dan 9 kecerdasan lainnya. Menurut saya itulah hakekat daya rubah sebuah pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Rockeffeler. Mestinya memang pendidikan diarah untuk merubah yang biasa menjadi luar biasa. Nah, tantangan para guru sekarang lebih senang jika tugas mendidik itu dihadapkan pada orang-orang yang sudah mapan saja, sementera bagi murid-murid yang belum matang, sulit menerimanya. Jikapun diterima setengah hati.

Bukankah pengajaran identik dengan pendidikan. Guru adalah komponen yang cukup strategis dalam menentukan tugas lancarnya transfer pengetahuan. Disamping memang alat dan segala fasilitas dan dorongan motivasi guru-murid juga sangat menentukan. Setidaknya komponen-komponen pendidikan jika dikolaborasikan bisa memberikan efek salju terhadap lancarnya program pendidikan.

Apa yang terjadi sekarang, tidaklah bermksud menggurui guru, meggurui diri saja tak bisa. Kualat nanti! Hanya sekedar mengingatkan terhadap kondisi zaman  dimana musim “keblinger” begitu kentara mengawang di jagad negeri kita. Seolah -olah malaikat Rakib dan Atid sudah ogah terbang mengawasi, makhluk Indonesai semuanya. Pelajar kita yang dulu masih suka bercerita kedamaian, kini, masih suka damai sendirian. Begitu seterusnya hingga ke pada oknum pejabat yang paling suka berdamai baik dengan birokrasi, atau dengan oknum polisi. Memang guru hanya mengatakan: mendidik siswa saat di sekolah selanjutnya terserah Anda. Akhirnya memang pendidikan di sekolah di rumah dan di masyarakat merupakan komponen yang slaing menyatu. Karena itu kepada para guru, saat orang-orang tua di rumah tak sanggup mendidik, saat di masyarakt berguru kepada para koruptor dan penjilat maka kini tumpuan itu hanya kepada guru… waaah sungguh tuas yang luar biasa sulitnya… terus mau dipaksakanakah?

Hee Ah-Lee pianis berjari empatKepada pemerintah pun mestinya betul-betul konsentrasi dan serius mengurus masalah pendidikan ini. Tanpa adanya keseriusan di tiap lini departemenya maka sangat kontra dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Penyelewengan yang cukup parah yang sering kita dengar dan lihat secara langsung, semestinya harus disegera diseriusi untuk dihentikan. Karena tanpa adanya keseriusan di segala aspek, pendidikan akan terus menjadi bulan-bulanan para mafia. Kalau sudah begini tak ada kemajuan yang bisa diharap. 

Jika guru-guru Tukul Arwana berhasil mempertahankan ke”Tukul”annya dan  dari “kekatro”-annya  tidaklah sia-sia. Sebab Tukul sudah memberikan kebanggaan kepada guru-gurunya bahwa para guru itu telah berhasil menjadikan orang biasa melakukan tugasnya orang-orang yang luar biasa. Atau kita bisa melihat bagaimana peran seorang Ibu dari pianis dunia Ah Lee (21th.), asal Korea Selatan, menjadi pianis berskala internasional, justru berjari empat dari sepuluh jari yang ada pada manusia normal. Semua lagu-lagu sekalas bethooven, Bach dan lagu-lagu klasik dipianokan dengan begitu apik. Menurut seorang komponis, Dwiki Dharmawan, sebuah hal yang sangat sulit dilakukan oleh orang berjari empat, untuk membawakan lagu-lagu komponis dunia. Sebab berjari sepuluh (normal) saja kadang tidak seahli dan sekenyal permainannya. Wallahu a’lam.

  1. mas santri… mohon bantuannya memverifikasi keshahihan hadith ini:
    “Tetesan tinta seorang pelajar, lebih bernilai dari tetesan darah seorang syuhada”.

    Makasih.. oiya, dan salam kenal.

  2. Biasanya juga orang biasa yang jadi luar biasa itu, salah satu komponen utamanya karena jasa guru. Jadi, kenapa masih dipertanyakan? Eh, betul ga masa santri?

  3. iyah…berat memang. karena disisi yang lain, masih juga ada oknum guru yg ga ngerti fungsinya sebagai pendidik tapi malah menganiaya muridnya, anak2 bangsa yang dititipkan padanya untuk menjadi orang pinter, bukan jadi jagoan.

    *ma kasih banget karena BERGERAK dan SENANDUNG di link di blog ini🙂

  4. banyak lembaga pendidikan kita hanya mau menerima (mendidik) orang-orang yang tidak biasa: berkantong tebal

    Komersialisasi pendidikan benar2 menggiring manusia pada kebutaan..semua menjadi profit oriented
    Benar2 orang miskin dilarang sekolah…

    ——–
    duuh iyaa benar pak guruku, bisnis sudah menjadi cita2 hampir sebagian besar bangsa kita. pengabdian adalah emas tambang yang sulit digali. tapi aku optimis sama dg. teman2 di blog ini begitu semangat menyuarakan kegetiran… ya wis mungkin sudah zamannya kita hanya bisa go blog….

  5. Sayangnya .. jaman sekarang, semua mau serba instant. Ga mau melalui perjuangan panjang ya Pak. Apa gara2 kebanyakan makan mie instant ya? – canda pak

    ——-
    emang benar yang instant2 paling disukai, sehingga produk no 1 pun mie instant… sayangya g ada instant kaya yaa bos…

  6. sejujurnya, saya ndak suka Tukul.. hihi..

    ———
    terutama ama monyongnya yaa….

  7. pragmatis dan cenderung apatis *halah😛 ngemeng epe teh Le*

    ———–
    yeye ye ye yeee betellll .. heleh🙂

  8. ehm…. mengubah yang biasa menjadi lura biasa. setujulah. ENTAHLAH™

  9. @ndarualqaz:
    setuju jugalah … ENTAHLAH tanpa tm gak ngerti bikinnya

  10. kebetulan saya nonton waktu itu..
    terharu jg liat tukul dan cerita gurunya
    semoga tukul ngga takabur..

    para guru emang sangat berjasa..jd kangen dg para guru..
    semoga nasib guru makin baik..

    semoga tim empat mata tetap kreatif, krn penonoton akan lbh cepat bosan jika format acara tdk diubah..

    sebenernya mau protes jg kl gak salah si oneng bawain kostumnya agak2 gemana gitu..krn bbrp kali terlihat…mmm…🙂

  11. guruku inspirasiku (pengalamannya menjadi nasihat berarti bagiku)
    guruku teladanku (yang baik-baiknya aja ya)
    guruku temanku (seandainya asyik diajak curhat)
    guruku ayahku (seandainya ia bisa membimbingku)

    BTW, tayangan empat mata makin ke sini makin bosen ya? Apalagi sy nggak suka dengan gaya Tukul yang ngomongnya kurang baik seperti tak sobek-sobek..🙂

  12. mengubah yang biasa menjadi luar biasa… hmm…
    bener juga sihh,kita kan harus jadi orang luar biasa.
    siapa sih yang ngak mau jadi luar biasa?pasti semua mau.Tapi harus berusaha OK !!!

    ***sukses yaaaaa***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: