dadiwongenomblikenasobud

Berbagi Surga….

In Pendapat, Uncategorized on 15 May 2007 at 6:07 pm

burung2pun menikmati kehijauanSURGA konon menjadi harapan setiap insan yang menjiwa. Tak urung setiap detik para penanti ini begitu setia manggilnya. Surga kemudian dibagi-bagi pengertiannya bagi masing-masing kelompok.

Pada golongan pertama Surga merupakan gerak hidup dan kehidupan yang terus sambung-membayang. Tak sejengkalpun ruang batin jiwanya digunakan untuk non surga. Itulah mengapa setiap insan yang merindu pada surga menanti dengan sangat khusu serta rela berpeluh-peluh dalam hidupnya di dunia saat ini. Bahkan ia tidak berani menghadirkan surga saat ini, bahkan bau surga sekalipun. Sebab dalam benaknya bertutur: jika syurga dinikmati sekarang, nanti surga akhirat tidak kebagian. Rupanya ia khawatir bagian surga akhirat akan berkurang. Karenanya, dalam gerak hidupnya mereka mereka rela bersusah payah tidak menikmati surga. Sebab dirinya direlakan tuk menggapainya. Konon, dalam masa penantiannya itu,  mereka amat merindukannya. Dalam seluruh hidupnya berusaha diaplikasikan demi meraih surga yang kekal nan abadi. Jadi, mereka rela bersusah-sudah hidup dan tetap  konsisten dengan segala kewajiban sebagai seorang hamba: yaa ibadahnya, ya pengorbanannya dan lainnya.     

Sebaliknya bagi Kelompok kedua, mereka sengaja menghadirkan surga ya di bumi saat ini. Buat apa surga di kemudian hari, katanya. Bukankah hidup adalah sekarang? Karena menurutnya konsep syurga itu tidak seperti golongan pertama. Sebab mereka beranggapan, bahwa syurga mestinya boleh dicicipi terlebih dahulu. Selagi bisa kenapa tidak!. Mumpung masih hidup, mengapa kenikmatan surga tidak boleh dinikmati. Bukankah kita boleh dan dibebaskan memiliki? Begitulah pendapatnya.  Maka mulailah mereka menarik surga itu agar hadir dunia ini saat ini. Direguknya, segala kenikmatan yang dianggap surga itu. Melangkahlah mereka dalam setiap derap lahir dan batinnya agar berbau syurga: baik kenikmatan hartawai maupun syahwati. Para penutur sering berujar bahwa syurga itu  berisi kenikmatan. Karenanya, menghadirkan surga di bumi tak lain adalah menghadirkan bumi penuh kenikmatan untuk bisa direguk tanpa ragu. Baginya, surga itu bukan nanti tapi kini. Selagi bisa, selagi mampu,  selagi ada jiwa, mestinya surga itu hadir saat ini, di dunia ini. Jadilah surga dunia. Tak kan pernah ada surga ukhrawi. Demikian menurut golongan kedua.

Bagi golongan ketiga lain lagi. Mereka tidak tertarik dengan surga akhirat dan surga dunia. Artinya, mereka ini tidak menginginkan kehidupan syurga ala dunia dan surga ala akherat. Mereka hanya tertarik kepada di luar dimensi kenikmatan surga itu. Mereka hanya ingin bisa betemu kepada sang Insyinyur syurga yang tak tertandingi. Keterpesonaan batinnya yang begitu kuat, berusaha sebisa mungkin untuk bertemunya. Karenanya, tidak heran dalam setiap langkah hidupnya berusaha menjalin komunikasi yang intensif dalam hitungan detik. Di ruang batinnya tak menyisakan sejengkalpun dimensi untuk disediakan selainnya. Kemudian dalam segala hal tindakannya, berusaha mengenal, bahkan meniru sang kreator agung itu dalam setiap langkahnya. Kadang ada pula yang mampu bertemu meski dalam alam hayali. Ia bisa menemukan dalam setiap rentang ruang maupun waktu dalam materi maupun imateri. Sungguh-sungguh ia tak tertarik kepada selainnya. 

Namun aneh bagi golongan keempat ini. Takkan tertarik dengan definisi surga apapun: surga dunia, surga akherat ataupun kepada pembuatnya. Ia lebih tertarik kepada dirinya sendiri. Mengenal diri akan menemukan kenikmatannya. Mengenal orang lain takkan bisa mengenal apapun. Akhirnya, ia berusaha mendirikan kerajaan sendiri. Karena merasa raja, maka siapapun akan bisa diperintah; jika membangkang siap-siap dengan kekuatannya; jika lemah akan dilumat habis-habisan. Baginya, hidup adalah ciptaanya, mati adalah kesalahan pribadinya. Tak perdulikan segala tanda tanya yang mengawang: buat apa hidup ini, mau kemana melangkah dan dengan tujuan apakah hadir di bumi ini. Baginya, alam terjadi begitu saja, akulah sang penguasa, dirilah yang berkehendak. Sebab apapun definisi hidup dan kemanapun diarah takkan bisa ditentukan oleh selain dirinya. Bukankah pilihan hidup telah menjadi mesin otomatis layaknya program komputer: logic?

  1. Mas Santri… syurga atau surga? Bedanya apa?
    Klo saya sih termasuk golongan mana ya? Saya ingin menikmati surga di dunia ini. Saya juga ingin menikmati surga di akhirat kelak. Dan, saya pun ingin berjumpa dengan Sang Pencipta surga itu. (Kemaruk bener ya saya ini…)

    —————-
    surga & syurga iaa maksudnya syama atau sama… salah ketik saja bos.
    silahkan pilih, ada banyak menu dengan kesegaran masing-masing dan harga masing-masing… hayo sukanya yang mana hahah kaya dagangan ajaa.. tapi memborong semua, yaa boleh saja bos…🙂

  2. tinggal pilih deh – golongan pertama – golongan kedua – ketiga atau golongan yang ke empat?

    ———–
    betul neng, tapi kapan milihnya kalau tangannya bertopang dagu teruss…🙂

  3. Untuk yang memohon “bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, bi rahmatillah” masuk golongan mana pak?

    ———–
    iya2 belum ada definisinya nih… atau mungkin dapat surga stereo Pak Dokter.. ya khasanah (syurga) dunia dan syurga akhirat.. aku bahkan hafal doa ini… tapi kok pendalamannya tak seperti pak doter…🙂

  4. Umumnya sih di akhirat orang pengin menjadi golongan yang pertama, terus di dunia orang pengin jadi golongan yang kedua tetapi perbuatan orang kok seperti perbuatan golongan yang ketiga…
    Intinya, pengin sih kebahagiaan dunia akhirat tetapi kok tingkah lakunya tidak mencerminkan seseorang yang menginginkan hal itu… bingung deh…

    ————-
    sama bingungnya bos… tapi semakin hari moga2 saja yang golongan ketiga makin sedikit …. entahlah…🙂

  5. Kalau aku sih mengahrap ridhoNya saja pak, kalau menurut Allah aku ga pantes di Surga ya sudah aku terima yang penting aku tetap mencintaiNya, berusaha jadi manusia sebaik2nya semaksimal yang aku mampu. Meski aku juga ga tahu jalan yang benar mana yang aku pilih tapi aku yakin GustiAllah ga ndeso klo ngikutin orang aku bingung banyak banget mahzab dan ndeso kabeh… saling ngata2in..

    —————-

    Ah bu dokter ini bermadzhab Rabiatul Adawiyah… yang penting cinta… cinta … cinta.. uh jadi ingat lagunya Ahmad Dani dan syair al Ghozali… ilaahi lastu lil firdausi ahla… wala aqwa alannaril jahiimi (Duh Tuhan, aku tak pantas masuk syurga juga tak kuat masuk neraka… ) pantas saja.. kaulah sang laskar senyum…🙂

  6. Oh ya termasuk golongan mana aku itu pak, ga di masukin golongan juga ga papa… golongan itu yg bikin manusia atau GustiAllah? Biasanya yg manusia yg suka kasta2 itu dan semuanya yg bikin merasa dirinya di kasta yg paling tinggi dan terbaik…
    ——————
    Golongan mana yaa… golongan pencinta deh. hahah bagi2 dong cintanya bu biar aku kesetrum sama cintaNya.🙂

  7. Surga…surga…surga…
    Emang sudah fitrah manusia menginginkan surga. Surga dan neraka dapat diciptakan oleh manusia itu sendiri. Apabila ia berprilaku sesuai dengan prilaku katagori ahli surga, maka ia telah menciptakan surga untuk dirinya atau sebaliknya. Jadi teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali dimana Nabi saww bersabda: “Orang beribadah kepada Allah swt dibagi kepada 3 golongan; pertama, seperti pedagang yang beribadah karena ingin mendapat keuntungan surga (ada embel-embelnya). kedua, seperti hamba sahaya (budak) beribadah karena takut neraka (sebagaimana budak takut terhadap tuannya). ketiga, orang yang bebas (merdeka), beribadah bukan karena harapan mendapat surga maupun takut dari neraka, akan tetapi karena Allah swt memang patut untuk disembah”.

    ———————-
    Ahhh makasih semakin yakinlah akan tulisan di atas… makasih.. makasih… makasih…. islam feminis.. kamu feminin sekali heheh🙂

  8. ah bu dokter mendahului komentar yang hendak aku sampaikan nih…😀
    Laahaula aja deh…
    yang penting berusaha berbuat yang terbaik Lillahita`ala, surga yang mana?
    Wallahualam

    ——————
    xwoman keduluan bu dokter? wakakaka tapi aku suka banget dengan buntutmu: La haula… Lillahita’alaa.. wallahu a’lam🙂

  9. Surga…surga…surga…
    Emang sudah menjadi fitrah manusia menginginkan surga. Sebenarnya surga maupun neraka dapat diciptakan oleh manusia itu sendiri. jika manusia berprilaku sesuai prilaku katagori surga maka ia telah menciptakan surga untuk dirinya, dan sebaliknya.
    Saya jadi ingat sebuah hadis Nabi saww yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali dimana beliau bersabda: “Orang yang beribadah kepada Allah swt dibagi kepada 3 golongan; pertama, ibadahnya pedagang yang beribadah karena ingin mendapatkan surga. Kedua, ibadahnya budak (hamba sahaya), beribadah karena takut neraka. Ketiga, ibadahnya orang bebas (merdeka) yang beribadah karena Allah swt memang patut untuk disembah, bukan karena surga maupun takut neraka”.

    ——————
    Oh yaa aku suka dengan pernyataan ini….. persis yang pernah ku dengar dari Prof. Dr. Quraisy Shihab hingga sempat bikin genangan air di kelopak mata…. yang ku suka dari pernyataan kamu lagi adalah syurga bisa diciptakan oleh manusia sendiri… hmmm nice argument…🙂

  10. #cakmoki
    hahah…. yaaa yaa itu adalah untuk golongan kelima… aku tidak memasukkannya.. padahal itu kan doa sapu jagat yaa Cak semua orang pada bisa….. dasar aku katro.. ini buat update

  11. bonus dari kebaikan yang selama ini ditanam+kerendahan hati dihadapan Tuhan=surga. hehehehe, ah itu mah cuma utak-atik saya doank…

    —————–
    Senja… gilee otak-atiknya mantep mbak.. teruslah berotak-atik biar otaknya meletik2 ke mari yaa.. heheh🙂

  12. Baca tulisa ini jadi ingat Jhon Lennon. KAlau aja surga gak ada…
    Manusia memang kejam, udah diimingimingi surgapun masih nggak mau mengabdi sama Tuhan, apalagi nggak diiming-imingi apa-apa

    —————-
    hahah.. menarik yaa kata2 Jhon Lennon ini makasih bos tapi link nya mana nih? seperti agen rahasia ajaa yaa heheh (eh bener emailnya agenrahasia waduuh semoga agenrahasia yang baik hati…

    Waah Jhon Lennon berkata begitu? salut sekali… buru2 aku bilang pada ankku: “Lihatlah orang lain saja bisa berpikir demikian hebat memaknai hidup kok orang kita masih saja ada yang tak tahu menahu. Coba pikir yaa” tereakan membuat anak(ku) mantuk2… hmmm enggih ayah!🙂

  13. Maaf Pak Santri…baru sempat silaturahmi nih karena akhir2 ini sedang sok lumayan sibuk
    Mmmm…surga dunia atau surga akherat?
    Kayaknya saya ngikut fortynine saja dech…
    Muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga😀

    —————
    Haai kang theKing, emang manusia biasa yang tugasnya luar biasa… bayangkan menghilang hampir 2 minggu banyak yang mencari2 tapi emang tetap dikau orang biasa… yang tak mau ketinggalan dengan kita2 yang biasa juga… sesama orang biasa dilarang saling tak bertegur saapa meski di dunia maya… welcome back gu(ruku)….

    Masalah pilihan terserah monggo yang terenak diantara yang paling enak…🙂

  14. ngikut pak dhe ceking ahh🙂

    ————
    ya seide dengan saya, senada dengan the king searah dengan jiwa-jiwa yang menghamba…. halah🙂

  15. Ikut Rabiatul Adawiyah ah ….
    suatu hari nanti
    pasti kan bercahaya
    pintu akan terbuka
    kita langkah bersama
    disitu kita lihat
    kebenaran hakikat
    debu jadi permata
    kita jadi mulia

    —————-
    Yaa, inilah Rabiah adawiyah versi kangguru… lebih mengena dan mengeunah…🙂

  16. wah, komen-nya kang guru bersuci dalam debu ya…🙂

    —————
    ya benar. bersuci dalam debu?? seperti tayamum ya Ki…

  17. Kalau surga berada dibawah telapak kaki ibu itu masuk golongan mana ya pak? .. *kabur*

    ——————
    kalau itu surga yang keliatan kali bos….. surga yang di sono kan kita tak tahu… … *dikejar*

  18. Tanya, Pak. Apa orang yang ingin mengenal Sang Khalik lebih dari apapun itu golongan ketiga?
    Bagaimana keinginan mengenal Sang Khalik tidak dibarengi dengan keinginan menikmati surga?

    ——————-
    pertanyaan yang bagus… dan sulit menjawabnya.
    btw. ada diantara orang2 yang bersandar diri pada Tuhan dan menyerahkan sepenuhnya nasibnya itu padaNya… istilahnya adalah “rido”. Sufi2 besar seperti Al Ghazali melahirkan syir yang terkenal… katanya: “aku tak pantas masuk syurga namun di neraka aku tak kuat”, karena itu terimalah taubatku dan ampuni salahku, sebab Kaulah maha menerima Taubat”

  19. Hahaha, nggih Pak … iya do’a sapujagat, bagi dong syarat dan rukunnya, singkat aja deh *mekso*🙂

    —————–
    syaratnya bawa rokok Ji sam su kirim ke mari sama ayam cemani heheeh (cande)🙂

  20. Saya masuk golongan mana ya? Atau jangan jangan gak termasuk? Ah, mumet!! Atau jangan2 saya gak pengen masuk surga? Waduh😦
    —————🙂 g pengen masuk syurga juga pilihan… sing penting jarene urusan suwarga dipasrahken dumateng Gusti Pengeran

  21. Eh Pak Kurt, apakah pengikut aliran “Manunggaling kawulo lan gusti” masuk golongan yang keempat?

  22. @kangguru
    Pak, lirik terakhir bukan kita jadi mulia deh…tp hina jadi mulia. Eh…mbuh ding…lupa aku lagunya suci dalam debu hehe…comment ga mutu yah😀

  23. Sebagai insan, saya hanya bisa berharap pak. Semoga mendapat kemudahan dan banyak bekal di dunia untuk perjalanan pulang nanti. Dan berharap hanya lewat keridhaan Allah dapat merengkuh surga-Nya, aamiin. Karena bila mengharap amal shaleh, tentu tak kan sanggup sampai kapan pun.

  24. tentunya Sang Pencipta memiliki ‘maksud’ dengan apa yang disebut surga dan neraka itu kan Pak? maka tak boleh ada diantara kita yang mengklaim satu surga untuk golongan kita sendiri…ah surga…

  25. Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, ‘Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.”

    Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (Dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)

  26. @ deKing
    Eh Pak Kurt, apakah pengikut aliran “Manunggaling kawulo lan gusti” masuk golongan yang keempat?….

    ——————
    Bukan saya dong Pak yang membagikan syurga… Emangnya saya pemilik syurga?🙂 rangkaian golongan di atas hanyalah pandangan sesaat dan juga tidak permanen bagi tiap2 golongan. Contoh kasus menimpa saya. Kadang saya cocok di gol I, lain saat ke-2 terus hingga gol 4….. hahahaaa. Kalau lihat postingan dehel, ini sebuah pandangan ngaco yaa Kang deking…

  27. @ Lintang berkata @kangguru
    Pak, lirik terakhir bukan kita jadi mulia deh…tp hina jadi mulia. Eh…mbuh ding…lupa aku lagunya suci dalam debu hehe…comment ga mutu yah😀

    ———————
    pada lintang selalu ada sinar yang cemerlang yang menerang saat sinar mulai bringsut ke peraduannya

    @indra kh berkata,
    Dan berharap hanya lewat keridhaan Allah dapat merengkuh surga-Nya, aamiin. Karena bila mengharap amal shaleh, tentu tak kan sanggup sampai kapan pun.
    ———————
    Betul sekali bos, KERIDOAN!
    Ya Rabb, berilah kesanggupan tuh merengkuhmu melalui jalan Rido-Mu… Amiiin… Ya Rabbal alaamin…. (aku mengamini do’amu bos)

    @antobilang

    Tentunya Sang Pencipta memiliki ‘maksud’ dengan apa yang disebut surga dan neraka itu kan Pak? maka tak boleh ada diantara kita yang mengklaim satu surga untuk golongan kita sendiri…ah surga…

    ———————–
    Ampun mas Anto, bertamu ke sini bukan untuk menangkap pencuri bannermu kan? *mode gemetaran on * bannermu ku curi diam-diam… habisnya minta script ga di kasih2… dapat ilmu “laduni” langsung kupraktek deh… heheh🙂

    btw… pada koment ada penyadaran ada empatis dan bergaya pluralis… aku suka!
    halah…🙂

    @ osolihin
    Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “…..sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya (syurga).”

    Rasulullah saw. juga bersabda: “ sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya (neraka)’.

    ——————–
    Terima kasih Mas Osolihin. Dari kutipan du hadits tersebut, serasa semakin jauh ku dekat syurga, semakin dekatku pada neraka………. Duuh Gusti…. ammpuuuun

  28. saya masuk golongan mana ya … golongan keempat mungkin ??? …
    kalo dilihat seperti ini : …
    “katanya kan di surga itu mengalir sungai-sungai indah yg sangat menyejukkan ya … hmmm … gimana kalo kita selalu berbuat baik, menjaga hati, dll … akibatnya kan hidup kita bakal tenang dan berakibat ke peredaran darah yg lancar … sehingga jauh dari penyakit fisik & mental …”
    … kalo saya berpendapat itu sbg surga dunia, apa ini menjadikan saya di golongan 2 ?

    ————————-
    Golongan empat, tiga dua satu silahkan. Jangan samapi gara2 memilih ini membuat darahnya tidak mengalir lancar… sehingga dekat dengan penyakit fisik dan mental…🙂

  29. Buat apa surga diributin, seharusnya koreksi diri, sudah pantaskah diri kita menjadi penghuni surga, jika pantas, mampukah sikap dan prilaku keseharian kita mencerminkan sebagaimana harapan menuju surga itu sendiri.

    ———
    yup betul sekali… artikel ini justru biar jangan ribut dan bisa mengukur diri kita… terima kasih tambahan hikmah dari kang riz… so mengapa tak dicantumkan blognya nih.. kang kharis bisa kita berkomunikasi antar ide dong yaa. heheh waah kayanya kang kharis dari buntet nih… ups.. malu nih.. ketahuan aku santri beliau… (eh kalau benar)

  30. kalau yang berpendapat begini
    “Siapa yang belum pernah merasakan surga di dunia, jangan berharap mendapatkan surga di akhirat”

    kira-kira ini masuk golongan mana yah😀

  31. @watonist
    Nah kalau itu masuk golongane watonist aja gimana …… saya ikut deh…😀

  32. @kurt
    walaupun nadanya sedikit becanda … tapi maksudnya saya itu serius lho mas …🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: