dadiwongenomblikenasobud

Disharmoni Kultural: Agama kok Bawel?

In Celotehan, Kultur, Pendapat on 26 May 2007 at 10:42 pm

Jika agama dimaknai sebagai tindakan aksi untuk kemanusiaan maka sebenarnya amat membantu untuk bisa hidup rukun dan damai. Sayangnya hubungan kemanusiaan itu justru oleh perbedaan tafsir agama itu sendiri. Bahakn bukan antar agama melainkan dalam satu sekte keagamaan. Contohnya, di antara organisasi NU dan Muhammadiyah. Sampai hari ini, perbedaan ini seringkali membawa discommunication. Lihatlah masalah qunut, tahlil, tawasul, tangan digerakkan saat tahiyat, mengamini do’a dengan mengangkat tangan, panggilan sayyidina kepada Rasulullah saw, masalah ziarah dan lain-lain. Pertanyaanya, apakah memang demikian agama dilahirkan guna menciptakan disharmoni?


Tulisan ini tidak ingin memancing kisruh dengan menuliskan dasar-dasar qunut, ziarah, tawasul, tasawuf yang kerap dilakukan oleh kalangan Nahdhatul Ulama. Sebab masalah ini sudah diwacanakan puluhan abad yang lalu oleh para ulama. Juga bukan bermaksud menuduh kalangan Muhammadiyah secara keseluruhan. Sebab kalangan Muhammadiyah sejuk pun banyak. Namun ini pengalaman di tempatku saja. Masih saja ada implikasi seperti ini. Awalnya datang dari da’i Muhammadiyah garis keras yang sangat lucu, di tengah masyarakat yang lagi harmonis, diwacanakan suatu hal-hal yang membikin bulu roma berdiri. Saya tidak bisa protes di pengajian karena menjaga keharmonisan itu. Saya hanya menulis di sini. Agar jadi perhatian para pengikut Muhammadiyah garis lunak.

Para nahdiyin memang menjadi sasaran empuk untuk dikecam dan dituduh sebagai pengamal khurafat (kemusyrikan). Hampir saja ingin mengatakan kalau nahdhiyin itu banyak mengamalkan kemusyirikan. Dengan demikian para kyai di pesantren dan para ulama yang sudah membawa ajaran kedamaian di pondok-pondok pesantren plus para lulusan alumninya semuanya musyrik dan masuk neraka. Bahkan boleh jadi sekelas Imam Syafi’i yang mengajarkan qunut dalam sholat subuh bisa diklaim sebagai imam yang sesat… dan para kyai, ulama dan aulia pun juga demikian. Duuuh sesumbar sekali yaa..

Ada yang lebih parah lagi dengan berani sesumbar melalui pernyataanya yang sangat konyol: “Pantas saja persoalan bangsa tidak pernah selesai karena pemimpin agama di kalangan NU itu gemar mengamalkan bid’ah holalah”. Sedih rasanya mendengar ungkapan seperti itu. Padahal kalangan Nahdhiyin sendiri melakukan hal tersebut tidak semata-mata karena dorongan nafsu atau bahwa sengaja merusak kemurnian agama. Justru yang dilakukan mereka adalah bagian dari tafsir pemahaman dan aplikasinya yang merupakan rentetan dari pengamalan ajaran yang dicontohkan oleh para kyai dan ulama pendahulunya.

Kalau menemukan jawaban bhwa orang-orang ahlisunnah waljama’ah ala Nu itu mengikuti para ulama sebelumnya, mereka ganti tuduhan dengan mengecap para ulama pesantren itu sebagai pengekor atau taqlid buta. Mengekor tanpa dasar. Intinya entah bagaimana, dan apa tujuannya. Alih-alih ingin memurnikan ajaran agama tapi mengarah kepada disharmoni hubugnan kemanusiaan. Mereka rupanya lupa bahwa inti ajaran agama adalah menegakkan tatakrama yang bagus di masyarakat. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: “aku diutus semata-mata untuk menegakkan akhlak. Menurut saya, akhlaq itu tidak jauh dari tingkah laku yang baik yang ditujukan kepada orang-orang sekitar kita. Jika tidak baik, artinya tidak mendamaikan siatuasi.

Tentu saja bagi kalangan yang tidak pernah berziarah sibuk mengecam golongan yang suka berziarah. Begitu pula perbedaan-perbedaan lain. Sayangnya jargon khurafat ini menjadi tema sentral dalam setiap moment pangajian umum. Jadilah ajang forum khutbah jum’at sebagai media mengecam kalangan saudaranya di NU. Jadilah pengajian majlis ta’lim dengan gagahnya mencaci-maki kalangan yang dianggap khurafat. Jama’ah yang ikut khutbah dan pengajian sendiri tidak bisa protes terhadap penceramahnya yang sarjana, bertitel gagah, garang penampilan, dan vokal orasinya. Miris melihat fenomena seperti ini.

Kini muncul lagi kalangan yang ramai di internet dan partai. Merekapun membuat saudaranya seolah-olah sebagai bahan olok-olokan. Siapa lagi kalau bukan menyerang komunitas nahdhiyin. Datangnya dari kaum yang merasa diri sebagai salafi. Golongan yang dianggap suci secara penampilan, tapi kata-katanya kadang sarkastis. Tentu saja mereka terkesan berwibawa karena penampilan bergaya kaum arab. Juga suku cadang pembicaraan untuk menyerangnya dipungut dari ayat-ayat al qur’an dengan membawa penafsir dari ulama bawaanya. Tidak mau mengutip kitab-kitab yang tidak seide dengan mereka.

Konon banyak kalangan menilai, dana dakwah mereka berasal dari negara Arab. Mereka paling berani membawakan kritik-kritik keagamaan pada kalangan sendiri (Islam). Keberanian bicara dan sesumbar dalam berdakwah seringkali menyakiti golongan yang lain. Tidak tanggung-tanggung yang disalahkan adalah sekelas Imam Ghozali dan imam-imam lainnya, sebagai biang khurafat. Tasawuf dikecam, argumen para wali ‘dibantai’. Apalagi persoalan amaliah sosial keagamaan kalangan NU: muludan, rajaban, tafrijiyah, tahlilan, tasawuf dll. Forum yang dipakaipun mirip dengan sebagian kecil pengikut Muhammadiyah: forum khutbah Jum’at, pengajian dan lain-lain.

Gamang melihat situasi masayrakat seperti ini menurut pengamat sosiologi tidak terlepas dari masalah kultur yang berbeda. Di satu sisi kalangan Nahdiyin memegang kultur sangat erat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Di sisi lain, mereka tidak mau memegang kultur karena dianggap khurafat. Di kalangan Islam di Jawa, para penyiar keagamaan dahulu adalah para wali. Mereka berhasil mengubah wayangan sebagai tradisi Hindu dan Budha dijadikan sebagai bahan dakwah yang efektif di masyarakat. Nyanyian dan tabuh-tabuhan diubah dan dikaitkan dengan ajaran keagamaan. Seperti lir-ilir. Tokoh-tokohnya pun diubah seperti petruk, gareng dll. Semua itu adalah bagian dari akulturasi yang dicoba masukkan unsur-unsur ajaran akhlak dan budi pekerti. Mereka tidak menyerang kominitas budaya agama waktu itu. Namun secara kultural telah menyatu dengan ajaran Islam.

Jika perbedaan yang tajam ini terus diwacanakan oleh para pendakwah agama, maka jangan salahkan jika kaum grass root akan terus berantem dan bawel di sana-sini. Apa saja dikomentari negatif dikhawatirkan menciptakan disharmonisasi sosial. Jangan sampai kemudian di kalangan yang antipati pada agama akan semakin menjauhkan diri dan melahirkan sikap sinisme keagamaan: “Agama kok bawel!” dan semakin mempercayai jargon Marxisme: agama ternyata jadi candu masyarakat. Duuh Gusti!

  1. Pertamax
    bentar baca dulu nih …

    —————
    selamat anda dapat pertamax yang kini makin naik aja harganya….. bikin boros kantong.. heheh🙂

  2. Saya fikir, bila masyarakat kita berwawasan luas (saya udah luas belum ya?), masalah-masalah seperti: baca qunut atau tidak, menggerakan jari atau tidak di saat tahiyat, dll itu tak akan pernah terjadi. Sebab, masing-masing yang melakukan hal-hal tadi ataupun yang tidak, punya dasarnya masing-masing, yang saya yakini kedua-duanya benar. Jadi, ngapain dipersoalkan. Masih banyak urusan lain yang lebih penting ketimbang ngurusin yang begituan. Gitu aja kok repot….(pinjam istilahnya Gus Dur)

    —————
    iyaa… benar kang Jufri.. saya sampai tersungu2 hidungku ketika pengajian jadi bahan olok2… heran betul, zaman lagi susah malah membuat orang makin susah nafas… (waktu itu nafas saya ikut sengal2). tapi mengikuti hukum keseimbangan orang2 yang keras begitu mungkin ada sesuatu yang kurang dalam kehidupannya.. ya mungkin di rumahnya, di organisasinya, di pribadinya entahlah… kok saya jadi komen sihhh..🙂

  3. Klo setahuku di US ini org2 akhirnya ga memilih agama itu karena agama pada ga jelas bukannya ngajarin kebaikan malah ngawur, dulu kristen pada korupsi gereja2nya, islam pada berantem sendiri tembak2an bunuh2an antara sunny dan syiah, wahabi, lha yg disini itu salafy dan anak2 pada berantem sembari saling mengkafirkan, padahal khan bukan itu yg di maksud kanjeng nabi? Sebenrnya kita ini masing2 punya account mustinya ga saling mengutak utik urusan masing2 lah account itu ke yang maha kuasa, para pemuka agama sering merasa dirinya paling benar dan suci, cara menyebarkan dengan permusuhan dan menjelek2an agama lain juga menakuti ataupun mengacam umat, masak menjalankan agama karena ketakutan bukan karena memahami dan mencintai Sang Maha?

    —————–
    Aha selalu saja ada istilah manis dari bu dokter:account… betul! password masing2 account itu juga kan disimpan dalam tabungan amal masing2 dan online ke Tuhan. Semoga orang2 US pun jadi tahu konsekwensi beragama yaa yang benar…

  4. Kritik itu wajar, yang penting ada dasarnya dan tidak mencelah. Saya sering juga berjumpa orang-orang garis keras. Mereka ada dimana-mana, di Muhammadiyah ada, dan di NU pun tidak kalah banyaknya.
    Biasanya, pertama yang saya lakukan adalah bertanya pada orang itu untuk menunjukkan kartu keanggotaan, “Anda mengaku NU, mana kartu anggotanya?” “Anda Muhammadiyyah, bisa tunjukkan kartu anggota anda?” “Kalau tidak punya, jangan mengaku-ngaku orang NU atau Muhammadiyyah, jangan-jangan anda provokator!” Dan biasanya jarang yang bisa menunjukkannya. Jadi mudah saja, debat otomatis berhenti.Selesai.
    Jaman segini kok ribut soal qunut. Qunut sekarang menjadi wacana, bukan bahan keributan. Dan saya fikir tidak ada razia kok, kalau ada orang Muhammadiyyah baca qunut, lantas dipecat? Banyak juga orang NU tidak memakai qunut, dan tidak ada pemecatan.
    Yang perlu difahami adalah Nu dan Muhammadiyyah, bagi saya, hanyalah organisasi kemasyarakatan yang sama-sama bernafaskan Islam. Ia bukan sekte, bukan madhab.

    —————–
    Waaaah ini trik menarik dari Mr. Fulus: praktis, ekonomis sedikit berkumis hehehe… yaa aku nanti kalau penceramah itu datang lagi aku mau terapkan tip n trick sampean makaaaaaaaaaasihhhh…🙂

  5. sebenarnya yang musti di bandingkan tentu bukan nilai2 yang dibawa muhammadiyah dan NU atau apalah namanya (terlalu banyak di negeri ini hingga saya lupa satu per satunya). yang paling gampang ya, bandingkan dengan yang ada di Al-Quran + hadits. jika sesui ya mari dilakukan terus, klo ternyata melenceng (ditambahi dan dikurangi) ya yuk ditinggalkan. hehehehe. itu mah cara gampang ala saya…i

    —————
    Benar Jeng, harus terus mengkomparasikannya dengan sumber asal. sayangnya biasanya yang berantem2 itu memang semuanya berdasar dari sana. Konon, karena kita di suruh kembali ke alquran dan hadits.. jadinya berantem. Karena quran bersastra tinggi perlu ekstra pengetahuan tuk menggali pengertian.. dari sini saja masing2 beda tafsir.. nah ujung2nya pasti beda… ini kayanya yang ga di sadari hahahah sok tahu sih jadinya aku ini.. entar dimarahin pak Hasyim dan Pak Din nih … maaf bapak2 terhormat. dasar santri bengal…

  6. Betapa sulitnya menghargai perbedaan ya?
    Selama perbedaan itu tdk menyangkut akidah kayaknya sih g masalah
    Lagian kok bisa2nya menjudge orang/golongan lain sebagai aliran sesat…
    Inilah wajah dan watak kita yg seolah2 merasa paling benar dan juga merasa memiliki hak prerogatif untuk sesat-menyesatkan pihak atau golongan lain

    —————–
    makanya kang deking segera pulang ke sini…. jadi dai yang sufi dan ngemong masyarakat.. nanti aku ganti tuh dai yang seperti itu.. duuh kayanya bagaimana yaa bicara matematika tapi dikaitkan dengan alam, dengan agama… ada lagi yang menarik dengan poligami heheheh……… eh sory koment for coomentnya melenceng… 🙂

  7. Ada sementara pendapat yg mengatakan bahwa perbedaan peribadatan tersebut kebanyakan masalah furu’.
    Di daerah kami, alhamdulillah sudah tidak ada lagi dikotomi NU-Muhammadiyah, mungkin diam-diam masih ada namun tidak ribut.

    Ketua Tanfidziyah PCNU Cirebon telah berfatwa dan sy takdzim🙂

  8. @cakmoki
    betul… furulah yang menjadi masalah di akar rumput.. tapi biasanya pendidikan itu bisa membuat orang jadi toleran… dan mungkin seperti di tempat Bapak dikotomi itu sudah ada pastinya karena komunikasi yang harmoni…🙂

  9. Assalamualaikum wr..wb..
    Aduh saya jadi tertarik nih, saya dilahirkan dari keluarga NU dan alhamduliilah bisa ngaji tapi belum mendalami qur’an dan hadist dan waktu saya merantau dengan banyak bergaul dengan orang luar NU
    dan kebanyakan mereka menjelek2kan amalan orang NU, makanya saya sempat agak bimbang juga ,apakah benar amalan 2 yang selalu dilakukan
    prang NU banyak yang tidak benar dan banyak pula yang menyebut bid;ah makanya saya mulai belajar dan mencari di website di internet dan termasuk disini juga, tolong bagi yang udah canggih mendalami qur;an ama hadist bisa berbagi dengan saya biar saya semakin tahu dasar dasar hadist dari ibadah yang saya lakukan.

  10. Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.

    Jadi umat muslim terjebak.

  11. Nahdlatul Ulama (NU) adalah pengikut Ahlussunnah Waljamaah tertua di Indonesia, mendasarkan faham keagamaannya kepada sumber ajaran Islam: Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Bagi NU Islam adalah agama yang fithri yang bersifat menyempurnakan segala kebaikan yang sudah dimiliki oleh manusia dan menumbuhkan sikap kemasyarakatan yang telah dicontohkan Rosulullah SAW dan para pengikutnya, yang menjunjung tinggi keadilan dan kebersamaan, bijaksana, serta berjuang untuk amar ma’ruf nahi munkar Hal tersebut tercermin dalam perilaku anggota dan pengurusnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai maupun norma-norma ajaran Islam dan bersilaturahimi untuk dakwah Islam serta berusaha terus-menerus membina hubungan dan komunikasi Kalau sekarang banyak permasalahan di masyarakat bukan berarti NU tidak berusaha menjadi solusi, hal itu karena NU belum dibaiat masyarakat untuk menjadi kekhilafahan untuk itu sudah waktunya umat Islam Indonesia memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada kyai-kayai NU agar memproklamirkan beridirinya Khilafah Islam..Mari dukung NU untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah.

  12. Ass, klo menurut ana sifat anda dng ustadz yg anda ceritakan sama aj, sama2 menganggap diri sendiri yg paling benar, sama2 taklid. Klo misalkan ustad yg anda ceritakan mpunyai dasar dlm berdakwah ya sudah biarkan saja, biar orang yg memilih. Ga usah pusing. Jangan sampai karena si A NU dan si B Muhammadiyah jd saling menjelekan. Toh semua imam jg prnh berkata klo misalkn ad hadis yg lebih shahih brarti itu madzhabnya. Mereka semua tidak pernah berselisih, yg berselisih itu hanya ecek2 ny aj. Begitu juga dengan NU dan Muhammadiyah, para pemimpinnya semuanya damai2 saja, tapi yang ribut itu para ecek2ny yg tidak terlalu mengerti tentang dakwah. Ya seperti anda dng ustadz td yang anda ceritakan. Wallahu’alam

  13. Ass. kita sering gak sadar kalo ustad kita menjelekkan umat lain kita bilang “IYA”, tapi kalo bukan ustad kita yang jelekin umat lain kita bilang “Kurang Ajar”.
    Maaf ya, bukan memperkeruh suasana. tapi tahu gak kalo orang NU sering juga dijelekan dengan “agamanya beda”, “nguburin orang mati kaya nguburin ayam, gak ada tahlilan”, “mengharamkan sholawat”, “bukan ahlussunah”, sampai dibawa2 sebagai isu pilkada. Nah isu seperti ini jujurnya kalo kita juga sering dengar? bahkan diteriakkan di masjid-masjid dan di acara tahlilan?
    Janganlah berfikiran pendek. kita yang bawah gak usah ikut2an. yang kita percaya kita ikuti, tanpa harus menjelekan orang lain (atau memikirkan orang menjelekan kita tapi buta terhadap diri kita yang menjelekan orang lain).
    Islam damai, rahmatan lil alamin, titik. tanpa bilang ini ahlussunah, itu bukan. ini salafi itu bukan. perbedaan, biar menjadi rahmatNYA juga. biar Allah yang menentukan keridhoan orang yang mengamalkannya. Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepada Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: