dadiwongenomblikenasobud

Mengaplikasikan Akhlaq Tuhan di Bumi

In Celotehan, Politik on 26 May 2007 at 10:49 pm

Mohon maaf pada saudara-saudara penganut agama lain tanpa maksud untuk mempengaruhi ruang public yang harmonis ini dengan isu agama. Sama sekali tidak. Apalagi menyuruh pindah agama atau menganggap agama sendiri paling benar sama sekali tidak. Di dalam kultur pesantren dan NU keharmonisan agama sangat dijaga. Saya memang tengah digairahi untuk belajar menulis apa saja. Apalagi ada dorongan dari kang Dehel agar jangan takut menulis. Karenanya, berani menjadi santri (pelajar) harus berani menulis terus. halah …

Dalam beragama menjadi insan yang berakhlaq adalah tujuan utama. Itulah visi kanjeng Nabi Muhammad saw. Beliau semangat sekali mengajarkan kedamaian. Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaaq. Sabdanya. Artinya, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik. Tentu tafsiran akhlaq luas. Tergantung cara pandang kita. Namun pastilah mengajak kepada penciptaan kedamaian dan keteraturan hidup. Sayangnya, persoalan akhlq ini menjadi kisruh karena perbedaan wacana yang dibawa. Lalu kepada siapa kita mesti meniru akhlak yang baik?

Prof. Dr. Quraisy Shihab dalam salah satu bukunya “Asmaul Husna” dan Membumikan Al Qur’an menulis bahwa tirulah akhlaq Allah. Sebab Tuhan dengan segenap KeMaha kasih sayangNya terbukti menciptakan manusia begitu rupa dengan berbagai jenis dan warnanya. Tidak itu saja, manusia yang ingkar tetap diberikan kebebasan begitu pula insan yang menyadari kehambaanya dibebaskan untuk meningkat atau menurun. Itulah hidup di dunia dengan segala keruwetannya. Kita tidak berbicara tentang akhirat yang konon hanya akan dinikmati oleh insan yang benar-benar menghambakan diri. Namun karena saya belum pernah berkunjung ke akhirat maka tidak akan menuliskan bagaimana akhirat dan kepastiannya.

Yang menjadi menarik tentang argumen Pak Quraisy tentang meniru akhlak Tuhan adalah meniru bagaiman Tuhan memperlakukan manusia. Misalnya Tuhan Maha Kasih maka meniru berlaku kasih sayang kepada manusia lain adalah sangat dihargai. Tuhan Maha Salam. Tuhan itu Maha Sejahtera, Al Hasyr: 59:23. Kata salam menurut Pak Quraisy diambil dari kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari sifat tercela. Sifat As salam berarti Yang Maha Esa itu terhindar dari sifat aib dan tercela. Kata itu dikutip dari tulisan Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya “Maqaysul Lughah”, Terminologi bahasa.

Sementara Imam Al Ghozali berpendapat bahwa makna keterhindaran zat Allah dari segala aib, sifat-Nya dari segala kekuarangan baik kejahatan dan keburukan. Sehingga tiada keselamatan/keterhindaran dari keburukan dan aib yang diraih dan terdapat di dunia ini kecuali merujuk kepada-Nya dan bersumber dari-Nya.

Bagaimana meniru Akhlaq Allah pada sifat As salam ini, katanya adalah agar kita dituntut untuk menghindarkan hati dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasud serta berkehendak untuk berbuat kejahatan.

Imam Al Ghazali berkata, “siapa yang selamat hatinya dari hal-hal tersebut, maka akan selamat pula hatinya dari Al Intikas (kejungkir balikan) dan Al In’ikas (ketolak belakangan) dan dengan demikian ia akan datang menghadap Allah dengan hati yang salim/selamat.

Timbul masalah; apakah yang jahat juga dari Tuhan? Tentang masalah ini pak Quraisy berpendapat bahwa untuk memuskan nalar sangat sulit. Hanya beliau berargumen bahwa sebenarnya kejatahan itu dimata Tuhan tidak ada. Bukankah “Dialah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya”. (QS. As Sajdah 32:7).

Itulah sekedar contoh bagaimana mencontoh akhlaq Tuhan. Masih banyak akhlaq Tuhan yang ditulis dan dikumpulkan dari Alquran dan terangkum nama asmaul husna. Jika semua bisa ditiru manusia, maka tugas manusia sebagai wakil Tuhan di bumi sedikit-demi sedikit akan menjadi teraplikasi dalam perbautannya. Wallahu a’lam.

  1. yah itulah pak, kebanyakan ulama atau guru agama suka nakut2in dan bilg kalau Tuhan itu suka menghukum, bencana hukuman Tuhan, anak ga nurut di ancem masuk neraka di hukum Tuhan, padahal asmaul husna sendiri khan menulis hal2 yg baik, nama2 yg baik ya kita khan berharap mendapat dan meniiru yg baik to, kalau masalah kejahatan diciptakan oleh Tuhan apa engga? menurutku Tuhan itu MAHA segalanya termasuk menciptakan yg jahat juga, tapi kan manusia di kasih pilihan mo milih yg mana itu pake otak… klo ga punya otak, wong gendeng ya ga masukin dalam hukum itu… jd pakailah otak untuk memilih dan memutuskan lak mengaten to?

    —————–
    Konon dalam lanjutan tulisan Pak Quraisy Shihab, jahat itu sebenarnya tidak ada. sebab mustahil Tuhan ciptakan kejahatan. Jika pun ada itu pandangan nisbi manusia. Dikiranya jahat… padahal itu adalah pelajaran yang sangat penting. hahahah… iyaa yaa otaknya di dengkul apa di panggul aku g tahu bu, yang jelas tukang otak2 banyak tapi ketika dibeli tak satupun yang bisa meresap ke otak… heheh🙂

  2. yang jelas tidak gampang menyalahkan dengan cara pandang keyakinan pribadi, semua berbeda tentang pandangannya terhadap sesuatu hal, yang jelas nilai-nilai baik dan mulia tentu dapat diterima oleh semua kalangan

    ——————–
    betul bos… paling enak itu menyalahkan dengan cara pandang kita… bayangkan kalau menyalahkan dengan cara pandang sapi atau kebo… waaah pasti dianggap dungu kita yaa…🙂

  3. Tuhan tentu saja tdk jahat. Dia memberikan kita segalanya, termasuk “peta penunjuk jalan” di bumi ini. di jaman menurunnya kepercayaan kita thp para Ulama ini, tulisan2 yg menyegarkan spt ini memang diperlukan. saya lihat di beberapa blog bisanya cumen nakut2-in atau hujat sana-sini. tulisan2 ringan kayak gini mungkin sbg solusinya. great posting. salam. 🙂

    ————-
    benar masa Tuhan jahat yaa… Ahaa makasih atas supprotnya kang telmark.. semoga katamu yang bemerek inilah menjadi pendorong biar dapat tellMark juga.. heheh bisa aja si bos nih bikin namanya….

  4. “hukuman” yang diberikan Tuhan kepada saya, bukankah itu juga tanda sayang, menghindarkan diri dari lupa dan sombong, sedangkan di peringatkan saja terkadang saya masih suka bikin salah mulu.hehehehe

    ————–
    Ahaa seandainya aku pun bisa merasakan seperti kamu Jeng… hmm makasih pengingatnyaa… seakan aku makin jelas nih narsisnya…

  5. Iya ya…banyak manusia yang tidak mau memanusiakan manusia lain
    Sebenarnya tidak memanusiakan manusia lain itu sama saja tdk memanusiakan diri sendiri…

    ——————-
    haaa benar, pantes kanjeng Nabi saw bersabda: jika engkau mengkafirkan saudaramu, maka kata2 kafir itu akan kembali ke diri.. iiih kang Deking bisa ajaa…

  6. Pak, kalau kejahatan itu nisbi atau salah satu persepsi otak manusia… Bagaimana kita bisa menganalisa sebuah kebaikan?
    Analoginya adalah, ada positif.. ada negatif. Ada tinggi… ada rendah. Ada kebaikan… Tapi loh kok? Loh kok ndak ada kejahatan? Bukankah itu ndak adil?
    Wong malaikat dan setan, yang menciptakan juga sama.

    Mohon pencerahannya Pak. Otak saya tidak begitu pandai memahami isi yang tersirat ataupun yang tersurat dalam postingan ini. Maklum, anak kampung Cilincing. Huehehe.

    Makasih Pak santri.

    (*BTW, salam kenal euy. Senang sekali saya dapat mengunjungi site salah seorang santri NU*)

  7. hmmm…. kalo bahas masalah jahat2an, aku jadi inget “pencerahan” dari buku “The Madness of God” …

    makasih mas … udah mengingatkan aku …🙂

  8. “Konon dalam lanjutan tulisan Pak Quraisy Shihab, jahat itu sebenarnya tidak ada. sebab mustahil Tuhan ciptakan kejahatan. Dikiranya jahat… padahal itu adalah pelajaran yang sangat penting.”

    Saya rasa hal ini sesuai dengan Hadis,
    Sesungguhnya Allah berkata: “Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku” (HR.Muslim)
    Kita merasakan sesuatu itu jahat karena kita berprasangka bahwa sesuatu itu jahat, ya… jahat adalah bentukan fikiran manusia.

  9. @baingaip top
    waduh aku jadi ingat padi nih bang kalau melihat tulisan bangaip… semakin berisi semakin mau menyentuh tanah… tabik bang…

    btw… jahat bagi Tuhan tidak ada. sementara jawaban sementara dari kang koesna bisa… terus di ayat yang bunyinya kalau tidak salah… (maaf lelet komputernya mau searching ayat… nanti kalau koneknya normal bisa didiupdate)
    Boleh jadi apa yang kamu anggap jahat, adalah baik bagi kamu sekalian. disamping ayat dalam tulisan di atas: “dialah pencipta segala dengan sebaik2nya.” so, menurutku loh bang, kejatahan itu nisbi….

    kanan-kiri, atas bawah, pagi siang dan… jahat lawan dari baik….. Nah barangkali inilah pandangan manusia saja… [loh kok saya ngebantu pak Quraisy seh… kapasitasku apaan ] cari sendir deh Bangaip.. orang sepintar anda pasti mudah didapat.. segitu dulu jawaban soknya…🙂

    salanm kenal juga bang, aku dah listing tanpa izin terlebih dahulu…

  10. @ Jurig
    teh Jurig, curang, cuma kasih judulnya ajaa.. minimal kaseh kek sekelumit petuah “the Madness of God” bagaimana mau baca pula, kalau bukuna kangge english euy…🙂

    *mental terjemahan*

  11. @ Jurig
    teh Jurig, curang, cuma kasih judulnya ajaa.. minimal kaseh kek sekelumit petuah “the Madness of God” bagaimana mau baca pula, kalau bukuna kangge english euy…🙂

    *mental terjemahan*

  12. terjemahannya berjudul “Iblis menggugat Tuhan” …🙂 …

    banyak kok di gramedia

  13. koesno
    makasih atas masukan haditsnya, ini juga jawaban buat bangaip top
    (loh kok koment non login ga enak yaa) jadi lambat

  14. Hmmm, artikel yang sungguh mencerahkan …🙂

    btw, nyuwun sewu Pak Kurtubi nama saya ZULFADLI bukan ZULKIFLI,
    mungkin link disamping bisa diganti namanya jadi “d’Ranah” saja jika Pak Kurtubi berkenan

  15. Tak kuasa berkomentar🙂

    @ Juriq,
    Ditunggu kiriman bukunya *halah*

  16. @cakmoki
    aku juga tak kuasa komentarin komentar😀

    @cakmoki
    ok aku segera menggantikannya nanti saat login soale ini lelet banget koneskinya.. beda dengan koneksi bisnis biasanya cepet urusan heheeh😀

  17. Artikel yang menarik. tapi kalau boleh usul, jangan “meniru akhlak Tuhan”…melainkan “Mewujudkan akhlak Tuhan di Bumi”….mungkin lebih asyik lagi…

    suwun…

  18. @Fadli D’Ranah
    makasih kritike, saya dah diubah tuh….

    @mrtajib
    Inilah yang ku harap dari masukan seorang ustadz. Makasih tuh aku dah ubah judule…

  19. salam
    tirulah Tuhan maka anda akan seperti Tuhan
    Haidts qudsi: “hambaku! taatlak kepadaku maka aku akan jadikanmu seperti ku…”
    tulisan yang bagus, masykur
    salam kenal dan silahkan kalo ada waktu mampir

  20. konsep meniru Tuhan itu berasal dari ulama-ulama syi’ah di Iran yang sekarang sudah banyak diterjemahkan dan diterbitkan penerbit golongan yang sama karena itu sebaiknya kita berhati-hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: