dadiwongenomblikenasobud

Pancasila Mitos yang Makin Atos?

In Kultur, Nranapi tulisan orang, Pendapat, Politik, Tokoh on 2 June 2007 at 7:26 pm

Benarkah pancasila masih bisa dijadikan sebagai ideologi bangsa Indonesia, falsafah atau pandangan hidup? Ataukah hanya sekadar mitos belaka yang kini makin atos (keras) mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Lahirnya pancasila yang setiap tanggal 1 Juni diperingati nuansanya masih berupa seremonial belaka, seminar, diskusi dan debat publik. Mereka tetap menjadikan pancasila sebagai sebuah pergerakan yang bisa melintas batas antara berbagai suku, agama, etnis dan golongan. Tetapi lain dunia pergerakan, kalangan lain menilai bahwa pancasila tidak ubahnya sebagai mitor belaka. Sebab nilai-nilai itu telah dilanggar jelas, ditinggalkan dan diselewengkan.

Pancasila sebagai Ideologi
Menurut M. Dawam Rahardjo, banyak kalangan yang menganggap bahwa pancasila itu sebagai sesuatu yang sakti. Bahkan ibarat mantra yang mandraguna. Hal ini bisa digunakan sebagai sesuatu yang daya gunanya sangat legitimasi. Namun katanya, banyak ahli lain beda pendapat seperti diungkapkan oleh teori Daniel Bell tentang the end of ideologi, berakhirnya peran ideologi pada pertengahan abad ke-20.

Namun juga berbeda keyakinan seperti yang diungkap oleh Mubyarto, Sri-Edi Swasono, dan Sri Arif. Katanya, pancasila itu adalah the end of history. Maksudnya sebuah batas akhir dari perkembangan pemikiran ideologis bahwa Indonesia. Konon, ini dipinjam dari istilah Francis Fukuyama tentang tesis faham demokrasi liberal.

Dari pemikiran tersebut menjadi kenyataan bahwa orang semakin tidak peduli terhadap pancasila. Maksudnya ada atau tidak adanya pancasila bukan menjadi persoalan. Seperti ungkapan di pesantren wujuduhu ka adamihi.

Lihat saja negara yang tanpa pancasila sebagai ideologi, banyak yang maju. Hal ini karena tidak terikat oleh doktrin yang totaliter yang membatasi kebebasan berpikir. Akhirnya merekapun bisa bebas berkreasi dan berpikir dalam ranah pengetahuan sebagai pengganti dari ideologi semacam pancasila.

Kalau begitu, bagaimana duduk persoalan pancasila ala Indoensia itu bisa bermain. Dalam kerangka dan nilai apakah sehingga ia bisa membangun masyarakat dan negara.Melihat persoalan ini, Dawam Rahardjo mengklaim bahwa batasan pancasila itu dapat menjadi semacam korelasi nilai di negara yang serba multi. Sebab katanya, negara yang ilmu pengetahuan dan peradaban memerlukan landasan nilai. Tanpa pancasila sebagai sistem nilai, dalam negara, seolah tidak ada lagi penjaga gawang, batas garis dan wasit moral.

Hal ini cukup bisa menjadi ekses negatif. Sebab akan timbul wacana negara federal. Dimana masyarakat yang terdiri dari suku, agama dan golongan akan kehilangan tali pengikatnya. Karena itu menurut Dawam, solidaritas seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dianggap sebagai fondasi masyarakat dan peradaban akan cair. Nasionalisme dan wawasan atau kebangsaan akan pudar. Akhirnya mengarah kepada timbulnya sektarianisme dan primordialisme baru.

Melihat kehwatiran itu, ditambah lagi dengan doktrinasi dulu seperti P4 memang mewacanakan adanya tafsir pancasila dalam kehidupan bernegara. Namun sayangnya wacana rinci tersebut mudah sekali dilanggar oleh para elit negeri. Karenanya banyak orang yang menyangsikan adanya wacana tafsir pancasila yang bersifat indoktrinasi. Sehingga ditiadakanlah sistem pembelajaran doktronasi ala P4 di Indonesia karena dianggap sebagai penafsiran tunggal yang dibingkai totalitarianisme.

Dengan ketiadaan penafsiran yang bersifat totalitarianisme itu, maka kini, pancasila diberi kebebasan untuk ditafsir menurut kebebasan dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Tentu saja, kata Dawam, akan menghasilkan perbedaan tafsir dan justru ini sangat bermanfaat sebagai bentuk dinamisasi pemikiran. Akhirnya menjadilah pancasila itu sebagai ideologi yang terbuka bukan sesuatu yang tertutup dan bebas tafsir. Bahkan Cak Nur pernah berkata bahwa Pancasila itu adalah ideologi yang terbuka yang memungkinkan bisa masuknya berbagai pengaurh, sebagaimana teori Marxis, kondisi ini mempengaruhi kesadaran. Dengan kata lain, perkembangan nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, Pancasila mestilah terbuka jangan tertutup dari pengaruh luar.

Bebas Tafsir
Bagaimana tafsir pancasila yang bisa mengejawantah dalam ranah perkembangan kekinian. Ini bisa dilihat dari teori mutakhir menurut Coleman dan Fukuyama. Bahwa Pancasila katanya bisa menjadi jaminan untuk saling percaya antar anak bangsa, gotong royong atau solidaritas. Semuanya itu kata kang Dawam, bisa masuk dalam bingkai nilai trust. Semacam resep penggerak kemajuan bangsa menuju kemoderenan sebagaimana yang telah dicapai bangsa yang lebih dulu maju: Jepang, Jerman dan USA.

Masalahnya kemudian mengapa bangsa ini justru terpuruk oleh berbagai persoalan seperti elite yang doyan korupsi, kekearasan antara agama, terorisme dan berbagai gejala disintegrasi?

Dalam kacamata kang Dawam, persoalan itu bisa dilihat dari berbagai hipotesa. Salah jawabannya adalah bahwa hal tersebut karena hilangnya sebuah keteladanan dari para elit. Alih-alih mereka menjadi pemimpin bangsa yang damai, justru melahirkan banyak kebobrokan yang timbul karena contoh yang buruk terutama dalam korupsi yang cukup membuat urat malu hampir putus.

Kedua, nilai pancasila itu tidak dipahami dalam kalangan kelas menengah kota. Tapi masih dalam benak orang-orang kampung: gotong royong, berani berkorban dan keikhlasan berbuat. Namun kini, nilai-nilai itu pun kini hampir hilang di dunia pedesaaan. Hal ini pun tidak dipungkiri akibat pengaruh gaya dan contoh yang ditonjolkan secara centang perenang di kalangan kota, uatamanya para elit.

Ketiga, bangsa kita masih dipengaruhi oleh globalisasi dan kapitalisme. Hal ini menurut akan memberi sumbangan besar terhadap daya tahan budaya dan kultur bangsa. Sebab jangan-jangan budaya asing itu akan lebih baik dari budaya lokal. Otomatis bangsa Indonesia yang masih miskin dan terbelakang (bodoh) ini akan makin rawan saja. Karena itu solusinya adalah mengembangkan dan menggiatkan pendidikan yang dinamis.

Keempat, Pancasila lahir dari fakta bhineka tunggal ika. Keberagaman yang sangat gampang melahirkan berbagai gesekan budaya ini mesti ada sebuah lem perkat antar budaya. Kenyataan ini sebagaimana diungkap Denys Lombart, Indoensia dibangun di atas geologi kebudayaan yang berlapis-lapis yang menghasilkan masyarakat plural dan multikultural yang mengandung potensi konflik. Tak ada cara lain kecuali adanya pengikat.

Kelima, bangsa kitapun terbangun atas dasar pondasi geologi budaya. Karenanya, kata kang Dawam sejak agama Budha, Hindu, Islam dan Konghucu juga Kristen berada di antara kita, maka Pancasila juga merupakan jawaban pada tantangan masyarakat yang makin dewasa dan majemuk.

Karena itu, pancasila sebagai perekat bangsa dan sebuah ideologi, dengan penafsiran terbuka masih mampu sebagai jembatan multikultur. Tentu saja dengan membauat penafsiran baru akan semakin memberi nuansa pemikiran yang bisa mempersatukan dalam perbedaan dan membedakan dalam konteks kebersamaan. Karena itu ideologi pancasila bukan lagi sebagai sesuatu yang patut ditinggalkan karena dia bukan mitos yang semakin atos. Wallahu a’lam.

  1. lho Pancasila yang jadi mitos apa pancasila merupakan mitos yang atos?

  2. sejak SD sampe di bangku kuliah … semua org Indonesia mendapatkan doktrin2 ttg pancasila dan nasionalisme … tapi kok anehnya banyak sekali org Indonesia merasa “males” utk menerapkan doktrin2 yg udah mereka dapat itu …

    satu contoh : Sila pertama kan bunyinya “Ketuhanan yang maha esa”, itu kan berarti Indonesia bukan negara agama… berapa banyak kasus yg udah terjadi karena sila 1 itu diabaikan ???????

  3. @peyek
    dua2nya benar cak…

    @Jurig
    iyaa masalah praktek memang nomor dua yang nomor satu tetap kecap (teori) ….πŸ™‚

  4. Pancasila….? Mungkin sebuah agama baru…πŸ™‚

    maybe yes.. may be noπŸ™‚

  5. yah sekarang orang semakin tak perduli dengan keberadaan pancasila, tak banyak yang memahami nilai-nilai pancasila dengan benar

  6. Pancasila sebenarnya dirumuskan dari kenyataan bangsa Indonesia.
    So kalo gak gitu lagi berarti paham orang2 indonesia sudah berubah dari zaman dulu dong…😦

  7. dagangan yang dah gak laku mas. sudah dibanting harga sama mbah harto cs.

  8. Mas Santri, sejak saya SD hingga perguruan tinggi saya belajar Pancasila. Pancasila didoktrinkan pada saya sebagai ideologi negara, sebagai rujukan hukum bernegara, sebagai sumber dari segala sumber hukum di negeri kita, sebagai “mahluk” sakti yang perlu diperingati kesaktiannya, dst.

    Padahal Pancasila itu sendiri adalah simbol, lambang belaka, buatan manusia. Apakah memperlakukan Pancasila seperti itu sama dengan perbuatan syirik? Kalau iya, berarti orang Indonesia, yang percaya ke Pancasila, sama dunk (berbuat syirik). Duh, padahal ini dosa besar, yang katanya ga akan diampuni. Jadi gemana dunk Mas Santri…?

  9. Sebenarnya para pejuang jaman dahulu membuat sebuah kerangka dasar negara agar bisa menampung semua aspirasi rakyat Indonesia yang majemuk. Pada saat-saat sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh tokoh-tokoh negarawan yang handal dan bijak, mereka semua lebih mementingkan kemajuan negara Indonesia daripada dirinya. Berbeda dengan saat ini, sulit mencari negarawan sejati, mereka yang benar-benar memperjuangkan negaranya demi kemajuan.

    Kita semua mengetahui pancasila, tetapi siapa diantara kita yang mengamalkannya?

    Sila pertama kita disuruh tauhid, menyembah Tuhan yang Maha Esa. Tetapi kita menyembah harta, menyembah jabatan, menyembah wanita, menyambah status, dll. Siapa menyembah Dia Yang Maha Jujur? Siapa yang menyembah Dia Yang Maha Adil? Siapa yang menyembah Dia yang Maha Bijaksana?

    Sila kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Bukankah salah satu fondasi agama adalah Keadilan? tetapi siapa diantara kita yang berusaha untuk adil? kita malah sibuk dengan diri kita sendiri, teriak-teriak keadilan tetapi dengan dirinya sendiri ngak bisa adil. Dan berusaha menjadi adil adalah salah satu jalan menuju manusia beradab. Dan negara yang beradab lahir dari rakyat yang beradab.

    Sila ke tiga. Persatuan Indonesia. Ini adalah representasi dari kebersamaan di dalam kehidupan. Kita semua bersaudara, bahu-membahu dalam membangun Indonesia. Perbedaan adalah sarana untuk saling melengkapi. Tetapi apa yang kita perbuat sekarang? kita malah sibuk mengatakan “agamaku!” “agamamu!”, “ideologiku!…ideologimu!”, “partaiku!…partaimu!”, “pemimpinku! pemimpinmu!” Dimana kebersamaannya? siapa yang mengatakan “bangsa kita?” siapa yang mengatakan “negara kita?” semuanya sibuk dengan ego pribadi “aku!” “aku!” “aku!”

    Sila ke empat. Ini yang paling menyedihkan, seharusnya “kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan (inner wisdom)”. seharusnya para wakil rakyat adalah mereka yang super bijak, mereka yang telah terlebih dahulu bisa memimpin dirinya, pada kenyataannya ketidakmampuan dalam menahan godaan status adalah karena kurang bijaknya diri kita.

    Sila ke lima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak usah muluk-muluk untuk menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Lihat kepada diri kita. sudahkan kita adil terhadap diri kita? sudahkah kita adil terhadap keluarga kita? sudahkan kita adil terhadap alam semesta? sudahkan kita adil terhadap Tuhan? melihat ketidakadilan diluar diri gampang, tetapi melihat ketidakadilan di dalam diri adalah sangat sulit.

    Beberapa kaum muslim ada yang mengatakan bahwa Pancasila tidak sesuai dengan ajaran mereka. Mungkin adalah lebih bijak ketika kita mencoba memahami esensi dari segala sesuatu daripada hanya melihat kulitnya saja.

    Terima Kasih telah diberi kesempatan untuk berkomentar

    Semoga Cinta dan Kasih Sayang Tuhan selalu bersamamu sahabatkuπŸ™‚

  10. Inti Pancasila kan hanya dua:
    1. Hubungan secara vertikal manusia dengan Tuhan (khusus Sila pertama)
    2. Hubungan horisontal sesama manusia (baik antar individu ataupun antara individu dengan kelompok manusia)
    Pancasila sepertinya merupakan inti ajaran dari semua agama yang ada…
    Jadi sebenarnya tanpa Pancasila seharusnya semua umat beragama juga mempunyai suatu tuntutan untuk mengamalkan semua nilai2 yang terkandung dalam Pancasila
    Kalau fungsi (dan nasib?) Pancasila hanya sekedar simbol maka itu tidak ada gunanya…

    ——
    sepakaattt….πŸ™‚ tos dulu ahhh!

  11. sebenarnya konsep pancasila sangat sederhana tapi kayaknya sulit banget dilaksanakan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari (?)
    *bocah cilik melu nimbrung juga donk……

    ———
    Oh iyaa adek pernah ngalamin penataran P4 gak (pedoman pemelintiran dan penyelewan pancasila ) gak? kalau blm sebaiknya gak usah belajar… kan bisa lihat sendiri di alam nyata hehehπŸ™‚ bocah cilik sing pinter ini…

  12. “… Maksudnya sebuah batas akhir dari perkembangan pemikiran ideologis bahwa Indonesia. ”
    Pak, kalimat di atas (paragraf 4) sepertinya masih menggantung, belum selesai. Apa saya yang salah baca ya? Maaf, pak.

    —-
    oh iyaa… kata “bahwa” itu dibuang pak! terima kasih atas koreksi cerdasnya… toss dulu ah!πŸ™‚

  13. Panjang, pertama kesini, salam kenal ya pak.

    ——-
    panjang berarti pikirannya lagi njlimet.. heheh makasih mampirnya… pak Anas

  14. Dari kayu ya jelas ATOS ..!
    —————
    atos dipegang atos pula rasana ya neng heheh…πŸ™‚

  15. Gus Kur, NU sejak lama menerima Pancasila sebagai Ideologi. Sampai saat ini pun, mereka tetap istikomah dalam menyatakan hal tersebut. HMI, menerima asas tunggal ketika Akbar tanjung jadi ketua. PPP jadi bunglon, ketika wajib asas tunggal, asasnya Pancasila. Zaman reformasi ketika asas tunggal sudah dicabut, asasnya ganti lagi. Benar-benar oportunis si PPP ini.
    Prof. Juwono Sudarsono pernah mengatakan Pancasila selayaknya menjadi sebuah ideologi yang terbuka. Dengan menjadi ideologi terbuka maka penafsiran Pancasila tidak lagi dimonopoli salah satu kalangan seperti zaman P4 dulu. Hal ini tentu bisa berakibat positif atau negatif, terlepas dari kacamata merek apa memandangnya.
    Saya memilih percaya bahwa sebagian besar manusia Indonesia ini tidak peduli pada Pancasila. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib dihafal dan dibacakan setiap hari senin dan di setiap upacara pada zaman sekolah dari SD sampai SMA. Dalam hidup keseharian, ada manusia berperilaku baik atau buruk. Perilaku baik atau buruk dihasilkan dari kesadaran moralnya, bukan karena dipengaruhi Pancasila.

    Pendeknya, saya ingin mengatakan bahwa Pancasila itu bukan apa-apa. Kedudukannya sebagai ideologi negara / pandangan hidup bangsa bukan diperoleh dari kesadaran manusia Indonesia melainkan dipaksakan oleh negara.

    —————
    kritisss…πŸ™‚

  16. Mungkin Pancasila juga perlu di Amandemen?

  17. Desakralisasi kadang juga multi manfaat, dia bisa jadi lebih membumi. Misal sebuah iklan rokok yang berbunyi “Tanya Kenapa” atau “U are U” atau “Buktikan Merahmu!”
    Kalimat2 ini jadi membumi karena dia tidak sakral.
    *mohon jangan ditafsirkan saya berkeinginan mendesakralisasi Pancasila sehingga sederajat dengan iklan rokok*
    regards,

    ——-
    sepakat… maksudnya adalah membumikan paham ide2 menjadi aktual

  18. pancasila=berhala, hehehehe. soalnya kayaknya g ada artinya deh..justru bikin puyeng, soalnya musti ada pelajaran pancasila, P4 dan macem2. cape deh..

    ———-
    iyaa abis bayarnya juga lebih dari ceppe deh..πŸ˜€

  19. Pancasila dikatakan mitos atos? hemmm mungkin yg cuman menganggap mitos itu cuman ngaku2 bangsa Indonesia aja, aku setuju sama Dimas, jangan memandang kulit, tapi lebih dalam ke makna nya dong….

    ————
    makna sekali lagi makna bukan Maknya.. ibunya si Dul betwi..πŸ˜€

  20. Secara Tekstual apa yang dinyatakan dalam Pancasila itu baik dan memang tidak salah. Hanya saja, penafsirannya bisa bermacam-macam. Kalau ideologi, biarlah orang berkiblat pada ideologi yang dia suka. Dan kemudian, pancasila sebagai wadah bermain orang-orang/masyarakat dengan ideologinya masing-masing.

    ————-
    berbeda ide biar saja, bersatu padu kudu! begitu bukan maksudnya kang rendra?πŸ™‚

  21. Pancasila ? itu gmbr yg nempel di dinding itu ? πŸ™‚
    Pancasila itu baik. (gambarnya jg keren dan tdk memalukan). tapi kemana dia ya ??? terbang jauh and `gak pernah balik lagi tuh ?

    hahahahπŸ™‚

  22. pancasila ????
    mesti diperjuangkan toh….
    tapi zaman sekarang kyaknya kurang thu masyarakat sadar apa thu pancasila

    —————-
    iyaa mbak rie2… termasuk aku nih… makasih ngingetinπŸ™‚

  23. saya setuju pancasila dijadikan ideologi..

    *lho, ga ada yg minta pendapat ya?
    *padahal saya ga tau apa itu ideologi

    yang penting, berbeda-beda tetapi tetap satu jua..
    peace..

  24. sebuah negara jelas memerlukan lambang negara dan dasar negara. Masalahnya kedua simbol negara ini dijadikan satu alat indoktrinasi oleh rezim Orde Baru sehingga masyarakat menjadi muak dan sebal…. efeknya kalau dengar istilah penataran P4.. pasti ketawa…

    Pancasila sebagai ideologi sah-sah saja, selama mengandung satu simbolisasi persatuan dan visi yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia kedepan. Masalah terbesar sih…pada aplikasinya…korupsi jalan terus, dukun jadi narasumber TV, de el el…

    Nah jangan salahkan Pancasila, karena Pancasila hanyalah ide dasar yang menyatukan seluruh bangsa ini… Salahkan ke para pejabat yang korup dan aparat yang bermental kecut…

  25. Kata orang yang katanya mengerti, Suatu negara jika mengamalkan Pancasila secara murni dan konsekwen maka rakyatnya akan makmur, Indonesia sebagai sumber dari Pancasila kayaknya hanya memperoleh lisensinya saja (jika diurus). Rakyat sekarang malah menjadi bingung. Jangankan bicara tentang ideologi, mau makan saja sulit. Rakyat dalam kondisi tersebut sulit diajak berpikir logis karena logika tanpa logistik akan berujung anarkis. menilik realaitas yang ada tentang rakyat indonesia tak salah jika saya mencoba mengutip penryataan menarik dari bung Ahmad Yulden Erwin yang mencoba menjawab pertanyaan rakyat “Kelima-lima Sila dalam Pancasila saling berhubungan. Jika muncul pertanyaan dalam masyarakat, mengapa rakyat belum sejahtera( sila ke-5) Karena rakyat belum dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan (sila ke-4).
    Mengapa Rakyat belum dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan? Karena belum ada persatuan (sila ke-3)? Mengapa belum ada persatuaan? Karena belum ada kemanusiaan yang adil dan beradab (sila ke-2). Mengapa belum ada kemanusiaan? Karena belum ada Ketuhanan Yang Maha Esa.”

  26. Pancasila disebut sebagai idiologi, menurut saya pancasila belum memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai idiologi, itu sebabnya mengapa nilai-nilai pancasila serasa sulit sekali dijabarkan dalam kehidupan, meski penataran P4 telah doktrinkan kepada seluruh masyarakat.

    Saat ini yang bisa dikatakan sebagai idiologi itu hanya 3, yaitu sosialis, sekuleris, dan idiologi islam. Dalam idiologi harus memiliki 2 unsur pokok, yaitu pertama harus ada akidah sebagai sumber nilai dan ide-ide yang akan diejawantahkan dalam kehidupan, sekaligus sebagai dasar atau landasan yang mampu mendorog manusia untuk mengikuti nilai-nilai dan ide-ide tersebut, dan tentunya hanya orang-orang yang percaya terhadap akidah tersebut yang akan mengikutinya. Contoh, dalam idiologi islam, jelas orang-orang mukmin akan terdorong untuk menjalankan nilai-nilai islam atau syariat islam, dan dalam idiologi sekuler, jelas orang-orang sekuler akan terdorong untuk menjalankan nilai-nilai sekuler, juga dalam idiologi sosialis.

    Kedua, harus ada thariqah atau bagaimana cara implementasi nilai-nilai atau ide-ide tersebut. Kalau sebuah idiologi tidak punya cara bagaimana implementasinya, maka ide-ide tersebut hanya akan menjadi sebuah hayalan, angan-angan, atau hanya akan memunculkan kebingungan dalam masyarakat. Contoh, dalam idiologi islam, ide bahwa setiap mukmin wajib shalat, maka islam jualah yang telah memberikan tuntunan bagaimana cara shalat. Ide bahwa hukum yang harus diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia adalah hukum Allah, maka islam pulalah yang telah memberikan tuntunan bagaimana cara hukum tersebut bisa diterapkan, yakni melalui keimanan, amar ma’ruf, dan penerapan oleh negara.

    Semoga bisa menjadi bahan renungan.

    @handoko
    renungan yang patut direnung-renung… tq sir!

  27. Bicara tentang Pancasila sebagai idiologi negara kita tidak boleh melupakan historis lahirnya Pancasila yang dirumuskan founding fathers. Jangan karena kekecewaan kita pada pengelola negara pada era orde baru yang begitu identik dengan P4 dsb kita jadi memandang Pancasila sebagai sesuatu yang tidak bermakna untuk menjadi idiologi dan jatidiri bangsa.
    Dalam hal ini menurut saya, setiap WN Indonesia yang mencintai Negara dan Bangsa ini berhak ikut dalam proses Merevitalisasi idiologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, prestasi bangsa ini akan menentukan posisi Pancasila ditengah percaturan idiologi dunia saat ini dan dimasa mendatang.

  28. apa perbedaan dan persamaan idiologi pancasila,idiologi liberal,dan idiologi komonis.
    tolong kasi penjelasan dan kirimkan ke e-mail eka ya….???????

  29. @ Kurt

    It is to good to be true …

    kalo semua orang ngerti dan ngamalin pancasila artinya = Indonesia adalah surga dunia di bumi ini dan dijamin lebih makmur dari brunai, lebih kuasa dari USA dan punya ekonomi lebih sip dari RRC.

    it is to good to be true….

  30. Y gmN Y,bwt W enjoy aj,pancasila emank sngt b’jasa bg negara Qta t’bukti saAT masa orde lama,makany Qta hrS jaga pancasila sbg ideologi bngsa Qta,jgn mrasa pancasila sbg beban,namun sbg pemersatu bangsa.Jd bwt yg g suka ma pancasila brarti milih indonesia cerai berai n W yakin tu org g suka ma indonesia,n iri Y ma jasa2 pahlawan,jgn jd penghambat pembangunan n pemecah bangsa dEH,emank sitU OKE???

  31. Q sgt b’trima ksh pd pancasila yg sdh menjadi dsr neg. qt… Tpi p’tanyaannya, apakah qta sbg bgsa INDONESIA telah mengamalkannya baik d dlm negeri maupun d luar negeri !!!!!

  32. Indonesia, sebuah negara yang menganut sistem demokrasi pancasila.

    That’s good.

    Tapi yang dipertanyakan apakah ini sudah ful terlaksana atau hanya secara teoritis saja?

  33. Pancasila itu representasi dari beragamnya orang Indonesia. Saking beragamnya, semua pada susah diatur. hahahπŸ™‚

  34. kita harus bijaksana menyikapi masalah ini.. permasalahannya bangsa tempat kita tinggal ini adalah bangsa yang majemuk… bangsa yang bukan hanya dihuni oleh satu agama saja, kita juga harus memikirkan bagaimana dengan suku, agama lain… untuk sementara ini menurut saya masih pancasila yang cocok untuk indonesia.
    berkenaan dengan suatu saat ideologi kita berubah semua itu kita serahkan sepenuhnya kepada konsensus rakyat…..
    pancasila merupakan peninggalan para pejuang pendahulu kita.. “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa2 pendahulunya”, terkait dengan “musrik atau tidak” menurut saya tergantung pada orang2nya… kita jangan hanya bisa bicara tapi kita juga harus bisa memberi solusi terhadap permasalahan bangsa ini.. itu baru bijaksana…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: