dadiwongenomblikenasobud

Bukan Sembarang “Abu”

In Bahasa, Dunia Pesantren, Kultur, Politik on 11 June 2007 at 1:09 pm

SEBAGAIMANA dalam pengertian sehari-hari istilah abu adalah sisa pembakaran. Hasil dari pembakaran kayu atau hasil pembakaran mayat di krematorium. Namun bahasa Arab mengartikan abu adalah ‘ayah’. Seorang ayah berarti disebut Abu. Misalnya Abu Najib berarti ayahnya Najib. Tapi Abu pun bisa untuk penyayang binatang: Abu Hurairah, salah satu sahabat Nabi, artinya bapaknya kucing. Abu Dujana oleh polisi dikenal sebagai terorist yang ditakuti di Asia Tenggara, kemarin di Yogya anak buahnya ditangkap. Masa seh Abu jadi terorist?


Para sahabat Rasulullah saw banyak yang menggunakan kata Abu sebagai ‘kunyah’. Bagi yang belum akrab dengan bahasa arab mengucapkan kata ‘kunyah’ dengan penggalan kata ‘kun’ dan ‘yah’, bukan ‘kunyah’ seperti mengunyah makanan. Ungkapan ini artinya sebutan atau alias.

Kebiasaan orang-orang Arab dalam menggunakan alias kini ramai diikuti oleh orang Indonesia. Mungkin maksudnya untuk membuat ciri khas kalau dengan ungkapan “Abu” adalah islami dan alim. Sehingga para kyai dan ulama yang tidak memakai Abu dalam publik, tidaklah alim (pakar agama). Atau bisa jadi untuk membuat ciri khas sebuah golongan atau komunitas. Mereka pun mirip orang-orang Arabia: suka memelihara jenggot, bercelana tidak sampai ke mata kaki bukan pada shalat saja, dan sering berbahasa arab campuran dalam ucapannya: Ana, antum dll. Dua ciri khas ini diklaim sebagai kebiasaan Rasulullah saw. Bahkan tidak bisa dibantah karena memang ada haditsnya, shoheh lagi. Nah loh, jadi bagi yang tidak memelihara jenggot dan bercelana hingga mata kaki tidaklah mengikuti sunnah Rasul saw.

Pengguna nama “Abu” biasanya bukanlah para santri lulusan pesantren desa. Namun seringkali digunakan oleh “santri kota”. Mereka yang sedari kecil biasa-biasa saja, setelah mengikuti gaya pengajian kota (pesantren kota) berubah drastis dalam sikap dan prilaku keagamaan. Bayangkan seorang lulusan UIN jurusan pendidikan agama bisa kalah berdebat dengan lulusan SMU yang telah menjadi santri kota. Banyak sekali dalil-dalil bombastis yang bisa mengalahkannya. Mereka tiba-tiba saja mahir dalam berargumentasi dan berdebat. Namun sayangnya anak SMU yang berubah jadi Abu itu senangnya hanya berdebat saja. Melawan kemapanan dalam beragama di masyarakat bahkan dalam keluarga sekalipun. Seorang ayah bisa dilawan oleh anaknya gara-gara dianggap salah dalam bergagama. Bahkan berani mengatakan ayahnya akan masuk neraka. Dalil bombastis itu biasanya masalah furuiyah.

Ternyata pembinaan keagamaan yang prematur dan materi ajaran yang bersifat dogmatis hanya akan membawa kepada suasana tidak akrab dalam komunitas dan keluarga. Akhirnya, karena logika keagamaan yang hanya diikuti atas kemauan dan cara berpikir sendiri dan berdasarkan pola pikir mereka saja mengakibatkan kerawanan dalam masyarakat.

Jika sudah begini, maka tidak heran jika para Abu yang berkarakter keras dan memiliki keberanian besar, ada yang menjadi penebar teror di masyarakat. Ahirnya, terorisme bukan saja melawan hegemoni dunia yang dianggap tidak adil bagi umat Islam, mereka pun lalu mencoba membela dengan kemampuannya dengan membuat bom dan diledakkan pada komuntias yang dianggap ‘kafirin’. Mereka senang karena dianggap perang suci dan atas nama agama. Apalagi mereka pun berbekal dalil ayat-ayat suci dan dalil teori pengetahuan teknik merakit bom. Jadilah upaya mereka cukup membuat ketakutan di masyarakat.

Jadi ungkapan Abu memang asli bahasa Arab karenanya banyak berada di Arabia. Kini Abu pun banyak dipakai di Indonsia. Mereka yang berkunyah Abu banyak yang baik, ada yang santun ada yang luas pengetauannya bahkan ada yang menjadi ulama panutan dan akrab dengan siapa saja. Tapi sebagaimana juga di Arabia pada zaman Nabi Muhammad saw, ada Abu Bakar, ada Abu Hurairah dan lain-lain. Mereka menjadi pemimpin dan perawi hadits yang kita ikuti ajarannya hingga kini. Tapi jangan lupa ada pula Abu Jahal sebagai ‘terorist’ bagi umat Islam dan Rasulullah saw yang begitu menampakkan kebencian. Padahal Abu Jahal itu sendiri adalah saudara Rasululalh saw.

Akhirnya Abu Jahal dari dulu hingga kini genarasinya masih saja bertebaran di mana-mana. Ternyata sesama saudara bisa saling bermusuhan. Penyebabnya sama dari dulu hingga kini. Dulu Abu Jahal tidak suka kepada Nabi Muhammad saw karena menjadi Rasul yang mengajarkan kedamaian. Tapi Abu Jahal punya ajaran ‘kebencian’. Bukankah itu mirip sekali dengan Para “Abu” modern yang menjadi “polisi agama”. Menyalahkan sana-sini dan mencari-cari kesalahan lalu “menilang” nama baiknya. Semua itu berdasar pada anggapan kelemahan orang lain dalam beragama. Tentu mereka berbuat karena merasa memiliki “lisensi” dalil atas kemauan mereka. Kerap pula mengeluarkan kata-kata “kasar” kepada golongan di luarnya. Anehnya itu semua berkaitan dengan ajaran agama. Bukan ajaran ekonomi, sosial, politik atau urusan yang lebih penting dalam memenuhi hajat hidup kemanusiaan di dunia sebagai tanaman akherat.

Saya, Anda dan siapa saja yang telah mempunyai anak juga disebut ‘Abu’. Sebagaimana ada ‘Abu’ menjadi juru masak, ada pula Abu juru rusak bahkan ada ‘Abu’ yang menjadi juru teror. Jadi benarlah tidak sembarang ‘Abu’ yang bisa membawa kedamaian, ketentraman, atau kerusakan. Ah…. ‘Abu’ hanyalah sebuah nama. Wallahu a’lam.

  1. sebuah fenomena “santri kota” … lagi …🙂

    fenomena perbedaan cara beragama memang sudah menjadi fenomena yang sangat umum dan sepertinya ngga akan ada habisnya untuk dibahas atau diperdebatkan … Ada yang bilang perbedaan lah yg membuat hal itu menjadi menarik, tapi kalo saya lihat sih, perbedaan tersebut jarang dijadikan sebagai acuan untuk menjadi lebih baik, tetapi HANYA dijadikan sbg alat untuk pembuktian diri… sehingga selalu terjadi kemelut seputar perbedaan tersebut …🙂

    *agak ruwet ya susunan kata-kataku …*😀

  2. PRUT !

  3. Namun sayangnya anak SMU yang berubah jadi Abu itu senangnya hanya berdebat saja. Melawan kemapanan dalam beragama di masyarakat bahkan dalam keluarga sekalipun.

    Ya mungkin hal ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara pikir dan dzikir…

  4. @jurig
    bukan ruwet tapi menyeruak dalam hati… critanya penyadaran!🙂

    @prutte
    PRUT! juga bos….🙂

    @deking
    may yes may be sure… mas🙂

  5. Sebutannya kurang dikit pak Kurt, tambahi dengan embel-embel Al-Banjari, Al-Midani, dan Al..-Al… lainnya. BTW, ada nggak ya, “santri kota” yang belum punya anak tapi maksa juga dengan menggunakan kunyah ABU ….. ??

  6. iya kelupaan pak gak pake AL… ya udah saya mau pake deh… anakku namanya Alfi .. jadi Abu Alvi Al Cirebony … kalau pak Faiq.. apa dong… ….🙂

  7. Bayangkan seorang lulusan UIN jurusan pendidikan agama bisa kalah berdebat dengan lulusan SMU yang telah menjadi santri kota.

    Seorang santri di pesantren biasanya tidak dibekali untuk berdebat, biasanya mereka lebih mengedepankan Tabaruk.

  8. abahapis
    Kebetulan teman lulusan UIN itu mengadu padasaaya, dan dia anak betawi bukan santri. Dia malas berdebat, karena tidak ada untungnya mendebat masalah muludan katanya…

  9. Banyak orang2 yg rajin mengaji tapi ga rajin megaca why?

  10. Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Maksud nt ga rajin Ngaca apa yaa akhi(Jibril)?

  11. Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Maksud nt apa ga rajin ngaca yaa Akhi(Jibril)?

  12. ini berhubungan dengan posting sebelumnya tentang “mengambil peran Tuhan” ya …
    Di daerah kami juga marak fenomena beginian, … kuliah semester sekian tahu-tahu berubah jadi pembuat hujjah plus ngototan. Sekarang sudah gak berkembang, moga menghilang seiring dengan perubahan pemahaman bahwa kita diwarisi ajaran kedamaian.

    Btw, fraksi Abu Jahal itu emang penggambaran sampai akhir jaman ya ?

  13. cakmoki
    jangan salah Pak, di Arab Saudi antara laki-laki dan perempuan saat masuk bandara dipisah… tapi herannya, saat memasuki hotel.. disana tersedia channel2 hollywood bebas bas… mau pake channel apa aja.. mungkin yang menghendaki bebas chanenel itu adalah generasinya Abu Jahal di sana … konon cerita temanku yang baru saja Umroh, saat nginep di Hotel. Wallhu a’lam maksudnya.

  14. saya pake abu gosok al-denpasary sahaja…

    kadang2 miris dengan fenomena santri kota…
    kayak gelas kosong tiba2 langsung dipaksa masuk air sakceret…akhirnya gelagapan, tumpah kemana-mana, dan bikin nggak nyaman yg di sekitarnya…

  15. emang benar mas JOE…. semoga saja tumpahannya meresep ke dasar bumi …

  16. ah mboh lah…
    ruwet banget…
    cara pandang yg beda yang buat semua gitu kaie yaaa………

  17. buat santri buntet, terus berjuang melawan doktrin nyeleneh mereka ya.
    mudahan Allah ta’ala membuka jalan ilmu buat santri buntet.

    @sayid sunni
    makasih didoain bisa membuka jalan ilmu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: