dadiwongenomblikenasobud

Cemburu…..

In Bahasa, Dunia Pesantren, Pendapat, Politik, Uncategorized on 12 June 2007 at 7:48 pm

cemburuCEMBURU bukan milik manusia saja. Alampun bisa cemburu. Sebab bukankah manusia pun bagian dari alam. Lihat saja suku cadang tubuh manusia: ada air, udara, tanah, api dll. Manusia konon gampang cemburu. Ya, mungkin karena pengaruh keempat unsur tadi. Bahkan gara-gara kabar yang dibawa ‘angin’, seorang isteri bisa nekad bunuh diri. Bahkan dari kabar angin lagi, seorang isteri/suami dibakar hidup-hidup. Lebih sadis lagi: dimutilasi. Hiiih mengerikan. Lalu adakah cemburu yang manfaat?

Yaa itulah kenyataan sekitar kita, dari sifat cemburu berubah menjadi prahara rumah tangga, bahkan dengan jelas sekali, kemungkinan cemburu pun menjadi biang keladi prahara nasional.

Korupsi dari Cemburu?

Ah masak, korupsi kok, gara-gara cemburu. Kalau tidak percaya, lihatlah fakta: ada seorang tentagga dengan jelas menawarkan pada saya, satu rim kertas photo copy agar diganti uang. Terang-terangan, ia mendapatkan kertas ini, dari kantornya. Katanya, di kantornya kertas berlebihan sehingga dibawa pulang saja selebihnya. Lumayan, katanya buat bantu-bantu dapur. Sekelas pegawai rendahan itu saja bisa memiliki 1 rim kertas photo copy. Bisa jadi yang pegawai diatas golongannya, bukan satu rim yang dimiliki, tapi satu truk.

Dimanakah cemburu bermain? Boleh jadi karena kebutuhan rumah tangganya makin hari semakin melangit, sementara income-nya merendah sependek tanah. Parahnya, dikombor-kombori oleh tetangga sebelahnya lagi. Ia makin kemari, makin mentereng saja penampilannya: rumahnya makin ngejreng, barang-barangnya makin keren; setiap hari baju dan kendaraannya berganti-ganti. Duuh cukuplah itu sebagai alasan untuk dicemburui. Sementara kesulitan tetangga yang satu itu, seakan kesulitan membelit terus bagai selilit di ujung gigi. Karena makan enakpun sulit, giliran buang air jadi sembelit. Menurut pak dan bu dokter, itu berbaahaayaaaaa……………

Agamawan pun bisa cemburu?

Ini pun cerita di daerah saya (Jakarta). Ada dua orang ustadz (guru agama) yang ‘diprediksi’ saling cemburu. Entah cemburu persoalan perbedaan ajaran, atau cemburu karena beda pengaruh. Masing-masing guru itu sama-sama alim (pandai membaca kitab). Tapi anehnya, di antara guru itu berusaha mempengaruhi murid-muridnya agar jangan sampai mengikuti pengajian guru selain dirinya. Jadilah pengajian itu berkelompok: jama’ah yang anti guru A tidak mau mengikuti pengajian guru B, begitu sebaliknya. Hinnga pergaulanpun tidak bisa bercampur.

Yang saya tahu, namanya persaingan itu kerap terjadi di pasar-pasar. Jika ada pedagangan yang sama jenis dagangannya, pastilah akan terjadi kecemburuan. Seorang kawan bercerita pada saya. Pedagang nasi di Jakarta yang berasal dari daerahnya (Jawa tengah bagian tengah) ada hampir 90% menggunakan jasa orang ketiga. Maksudnya, ada yang black magic ada pula yang white magic. Semua itu dilakukan agar para langganannya tidak berpindah ke lain hati. Kalau cemburu antara pedangan seperti itu menurut saya, wajar-wajar saja, karena persaingan keduniaan. Tapi kalau masalah ubudiyah dan agama kenapa mesti harus saling cemburu. Memang dunia hanya selebar daun kelor kali!

Rasanya, di kalangan aliran agama pun juga seperti itu. Saling hantam saling tuduh. Saling kafir-mengkafirkan. Semua mengaku paling benar. Semua mengaku salafiah, semua mengaku ahli sunnah. Kalau saya gampang saja: jika sebuah ajaran yang dilontarkan dalam kajian itu hanya mengkritik terus dan yang dicari adalah kelemahan pihak lain, maka bagi saya aliran itu tidak akan saya ikuti. Karena buat apa mencari kelemahan orang lain, bukankah itu sejenis kesombongan berbaju kealiman?

Alam juga bisa cemburu?

Kalau ini akal-akalan saya saja. Boleh jadi alam itu dulunya diakrabi oleh manusia begitu pun sebaliknya. Karena memang sama unsur dan jenisnya. Bedanya kalau manusia ada rohnya. Sehingga manusia diwajibkan shalat (mengabdi pada Tuhan) tapi alam tidak. Namun sekarang, setelah gempuran hedonisme dan kapitalisme melanda penduduk bumi (manusia) maka jadilah timbul kecemburuan dari pihak alam: si tanah, si air, si udara dan si angin. Manusia dengan sifat kepongahannya dan kecemburuannya, berlomba-lomba mengekploitasi alam dengan semena-mena tanpa tahu unsur keseimbangan dan penghormatan pada saudaranya (alam). Akhirnya, mungkin karena tidak tahan dan sudah keterlaluan, alam ini rupanya sepakat untuk memberi pelajaran pada si manusia. Kecemburuan mereka rupanya tak bisa dibendung lagi. Jadilah bencana di mana-mana. Korbannya tidak tanggung-tanggung: jutaan! Tanah gempa, merekah, longsor, lumpur meluap ke permukaan, gunung meletus, air tumpah ruah ke daratan, patahan benua benar-benar patah (dipatahkan?), angin ngamuk, api memanas membakas segala dst.

Tapi ambil positifnya, itung-itung keluarga berencana versi alam. Mungkin karena manusia sudah beranak pinak banyak. Sehingga dengan adanya gempa yang menewaskan jutaan generasi manusia, maka perkembangannya jadi seimbang sesuai dengan kapasitas daya tampung bumi yang makin tua. Sementara pendukung daya hidupnya makin terbatas. Misalnya, bumi sudah terlalu sumpek oleh sampah ideologi maupun filsafat hidup yang arogan dan hedonism sehingga mengeksplorasi bumi seenaknya dewek.

Politik pun adu cemburu?

Boleh jadi. Bagaimana tidak cemburu, ada partai lama berkurang peminat, sementara partai baru hingar-bingar pendukung barunya. Padahal jumlah penduduk tidak bertambah dalam waktu 5 tahun. Karena itu bagaimana caranya agar partai itu bisa mendulang angka pemilih yang banyak. Tidak tanggung-tanggung uang diadakan. Jika tidak ada yang menyumbang dari mana saja didapat. DPK (dana kampanye presiden) pun menggelinding. Ada yang mengaku jujurpun ditanggapi sinis ada juga yang menganggap pahlawan.

Yang jelas kecemburuan politik itu bisa membumi hanguskan apa saja. Ibarat api dalam sekam. Jika kecewa dan tidak terpilih “jagonya”, marah adalah pelampiasan yang tidak dewasa. Yang dewasa mengambil jalan oposisi. Yah itulah politik kata banyak komentator.

Masih ada lagikah cemburu membuat tatanan sosial dan budaya berjalan tak simetris? Silahkan menambahkan sendiri… Terima kasih bercapai-capai membaca artikel ngawur ini.

  1. cemburu itu tanda nggak Pede….nggak pede dengan kemampuan diri sendiri…nggak pede klo rejeki yang kita dapat adalah kasih sayang Tuhan…hehehehe

  2. Dalam diri kita selalu ada 2 perilaku: Positif (+) dan Negatif (-). Perilaku negatif tidak selamanya buruk lho…hmmmms nanti dulu, jangan salah sangka. Misalnya nih, perilaku bosan (-), sebenarnya ia mensinyalkan untuk bagian tubuh lain dalam diri kita untuk merespon sinyal ini. Kita bisa mengartikannya menjadi (+) ketika perilaku bosan ini kita maknai demikian: hey…bagian tubuhku yang berurusan dengan kreatifitas…ayo bangun dunk!, lebih kreatif lagi ya. Sehingga bosan sebenarnya bertujuan untuk mengaktifkan lagi kreatifitas diri kita.

    Kalau cemburu (-), berarti ada bagian tubuh kita yang bertugas untuk PD kurang berfungsi. Cemburu berarti mengajak fungsi PD untuk aktif (+). Coba kalau kita PD, kenapa musti cemburu?

    Ini sekedar sharing dari saya. Salam kenal, dan terima kasih boleh berkunjung ke blog Anda. Salam Progresif!

  3. Contoh cemburu-cemburu lain.
    (1) Cemburu di tempat kerja. Wah ini sering saya saksikan di tempat kerja. Bila seseorang dapat projek, apalagi duit projeknya terdengar wah. Bisa ada omongan-omongan dari pihak lain tuh di belakang, apalagi bila projeknya itu mulanya dikompetisikan. Pihka yang kalah kompetisi, seringnya ga terima, Bahkan seringkali menjatuhkan ketika projek itu diseminarkan. Ah, kacau aja… (saya yang pendatang baru di dunia seperti ini, cuma bisa nonton. MAu ngomong gemana, ga ngomong juga ya gemana/)
    (2) Cemburunya anak-anak. Biasanya, anak-anak itu cemburu (iri) sama temannya yang lain, yang punya mainan baru misalnya. Nah, kalau kita yang sudah dewasa masih punya rasa cemburu masaha kehartaan, kepangkatan, kekorupsian… ini ga ada bedanya dengan sifat anak-anak. Berarti kita tak ada perubahan

    Btw, agamawan pun cemburu mencari pengikut. Contohnya, wah banyak sekali ini. Apalagi di tepat yang masyarakatnya masih belum terbuka cara berfikirnya, mudah dihasut dan dimanfaatkan oleh kaum “alim beginian”

    Btw juga, sebenernya cemburu itu sifat alamiah manusia bukan? Kalu tak ada cemburu, sepertinya manusia juga tak akan maju. Biar maju, rasa ceburu yang positif seharusnya yang dike depankan. Bukan cemburu yang negatif, destruktif, menghancurkan.

    Btw lagi dan lagi, maaf ya mas klo komentar saya banyak ngawurnya. Soalnya semangat sih baca tulisan ini. Sepertinya mas Kurt pandai memainkan kata-kata. Duh saya cemburu nih….

  4. @senja
    Jeng Senja aku jadi cemburu pada komentmu heheh🙂

    @Krisnawan Putra
    Cemburu dimata trainer for trainer ternyata lain yaa bisa positif🙂
    makasih bos masukannya

    @mathematicse
    ah benar juga, cemburu itu ada yang positif… makasih aku mau bikin artikel cembru yang positif…

  5. kalo saya mengistilahkan bukan cemburu…. tapi serakah….
    yah melihat orang bahagia… dia mau kayak mereka juga….🙂

  6. Agamawan pun bisa cemburu?

    hehehe jadi ingat salah satu dawuh “Santri itu cemburu sama santri, Kyai itu cemburu sesama kyai, nggak ada cerita kyai itu cemburu sama santrinya”

  7. cemburu sama dengan sirik ga? Sirik tanda tak mampu, lebih praha lagi klo udah jadi dengki….wah api dalam dada

  8. cemburu pada samudra yang menampung segala
    cemburu pada sang ombak yang selalu bergerak

    halah kok malah nyanyi lagu iwan fals sich

  9. arul

    peyek
    waah bener juga … kang, kalau kyai cemburu pada santrinya, bisa2 jadi ga bisa cemburu.😀

    Evy
    nah loh, kalau api sudah di dada mungkin cemburunya itu sama cem2an kali ya bu ..🙂

    kangguru
    gak papa pak guru, sekalian woro-woro. aku blum punya nih lagu itu…

  10. Pak, saya kurang setuju jika Alam dikatakan cemburu. Menurut saya, Alam hanya menjalankan tugasnya masing-masing. Kita (manusia) sendiri yang terlalu meng-dzalimi Alam. Bencana Alam tidak bisa kita hindari, karena bencana alam merupakan proses kerja operasional Mereka. Udah bagus kita dikasih tempat tinggal oleh Alam, ya kok masih nuntut ini itu…

    Saya setuju dengan program pengurangan penduduk pak, tapi mungkin diubah seperti dulunya program KB yang sudah uzur, diganti dengan “Progam Mudik”. Pas hari mudik, tempatkan orang2 yang mau pulang kampung di “tranportasi Indonesia”, dijamin ngga balik-balik. Korelasikan dengan jumlah tanggal merah di kalender tiap tahunnya. Wew, kita pasti terpesona. hehehehe…

  11. Maaf Mr. Kurt, saya baru pulang nich jadi br sempat bersilaturahmi ke sini
    Bersyukurlah bagi yang masih bisa cemburu…karena itu berarti masih benar2 manusia
    Yang penting sebenarnya bukan masalah cemburu itu sendiri karena rasa cemburu sebenarnya merupakan suatu pelatuk, yg lebih penting adalah bagaimana kita mengelola perasaan cemburu kita
    Karena cemburulah kita bisa maju dan berkembang…
    Karena cemburu jugalah kita bisa hancur dan mengambang…

  12. romy
    iya betul, saya juga tidak yakin, makanya menggunakan ungkapan “bisa jadi” meniru gaya para penyair memanusiakan alam, atau sebaliknya.. that is just symbol … btw thank anyway🙂

    deking>
    Waaah selamat atas perjalannya … oleh2nya dong buat tulisan sudah cukup memberi oleh2 heheh🙂

  13. Cemburu bisa berakibat baik, jika kita cemburu atas prestasi seseorang, dan berusaha meningkatkan diri.
    Kayaknya perlu dibuat artikel nih, bagaimana agar cemburu bisa berdampak positif.
    Salam kenal.
    ———–
    waah benar sekali jika cemburu bisa meningkatkan diri…. saya sudah siapkan tapi bagi2 ilmu deh sama edratna…. tulis yaa tulis yaa… bagi2 ilmu🙂

  14. Pak, saya pernah bertanya-tanya… Apakah Tuhan cemburu juga?
    kalau tuhan tidak cemburuan, maka dosakah pindah agama?

    Setau saya, selama ini, masalah ini selalu menjadi masalah yang lumayan substansial. Bahkan malaysia yang sudah semaju itupun, masih saja mempermasalahkan pindah agama… Dengan alasan, bahwa itu pekerjaan yang dibenci Tuhan. Seakan Tuhan adalah makhluk pencemburu.

    Mohon pencerahannya.

  15. Mungkin Masyarakat Indonesia telah mengetahui Kasus Kejari Tilamuta Ngamuk gara-gara ga kebagian upeti dari pemda boalemo.

    Nah, untuk mendengar Suara Asli Kajari Tilamuta Ngamut tersebut, silahkan kamu download disini :
    http://www.ziddu.com/download/2612974/rekamansuaraKejariTilamutaNgamuk.rar.html.

    Pake windows media layer klasik, atau nokia multimedia player untuk mendengar suara tersebut jika sudah didownload, maklum tiep file aslinya memang type .amr (rekaman HP)

    thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: