dadiwongenomblikenasobud

Khilafah Cuma 30 Tahun, loh!

In Modernisasi, Politik on 22 August 2007 at 11:57 am

Go to fullsize imageKHILAFAH atau penguasa umat Islam itu sudah selesai sejak masa terakhir khulafaurasyidin selama 30 tahun saja. Setelahnya hanyalah sultan, malik atau raja. Anehnya, Hizbuttahrir Indonesia (HTI) berteriak “histeris” agar mengganti UUD 45 dan Pancasila dengan konsep Islam. Bagaimana Al Qur’an dan Rasulullah saw menginformasikan tentang khilafah ini?

 

Khilafah dalam Al Qur’an

Saya bertanya kepada seorang kyai dari Buntet Pesantren ketika ditanyakan mengenai persoalan khilafah, beliau menyarankan agar membuka tafsir ayat 55 surat An Nur. Selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut:

 وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور  55) 
Artinya: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55)

Dalam tafsir Al Ahkam, Imam Al Qurthubi,  menulis bahwa ayat ini merupakan janji Allah subhanahu wata’ala kepada Rasul saw bahwasanya Allah swt  akan mengutus pemimpin (khalifah) untuk manusia di bumi sebagaimana ayat 30 Al Baqarah. Tujuannya, tulis tafsir ini, untuk memberesi urusan pemerintahan dan agar manusia patuh terhadap peribadatan. Juga agar manusia aman dari rasa takut serta menghukum mereka yang bersalah.

Selanjutnya, sejarah menulis setelah Rasulullah saw wafat, khalifah mulai ada. Berturut-turut dipegang oleh Abu Bakar as Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin ‘Affan ra dan Ali bin Abi Thalib kw. Dari keempat khalifah ini maka Islam kemudian berkembang pesat

Namun sebelum Rasulullah saw wafat, Nabi telah berpesan seperti yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra: Nabi s.a.w bersabda: “Segala urusan pengikut Bani Israel akan diatur oleh para Nabi. Apabila seseorang Nabi itu meninggal dunia, dia akan digantikan oleh seorang Nabi yang lain. Tetapi sesungguhnya tidak akan ada Nabi selepasku. Pada suatu ketika nanti akan muncul Khalifah. Para Sahabat bertanya: Apakah yang anda perintahkan kepada kami? Nabi s.a.w menjawab: Patuhilah perlantikan khalifah yang pertama, kemudian yang seterusnya. Penuhilah hak-hak mereka, sesungguhnya Allah akan menanyakan tentang apa yang telah dipertanggungjawabkan kepada mereka”. (Al Bayan 1092)

Dari ayat ayat dan hadits shoheh ini menunjukkan akan pentingnya khalifah. Karena khalifah merupakan pemimpin umat Islam. Namun pengertian khilafah sebagaimana ayat dan hadits di atas menunjuk pada kepemimpinan (khalifah) setelah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Khalifah di sini menunjuk kepada khulafaurrasyidin.  

Masa Khalifah hanya 30 Tahun

Bagaimana kemudian sepeninggal Rasulullah saw apakah masih ada khalifah yang akan meneruskan kepemimpinan umat Islam? Kita bisa menyimak bebeberapa tulisan hadits yang diambil dari kitab-kitab shoheh di bawah tulisan ini sebagai dasar bagaimana kedudukan khalifah  dalam Islam itu ternyata hanya berumur 30 tahun saja.

Dari hadits-hadtis tersebut, singkatnya bahwa “Al khilafatu mim ba’dii tsalatsuna sanatan” khalifah sepeninggalku hanya tiga puluh tahun. Salah satu contoh hadits itu misalnya dari Kitab Sunan Ahmad hadits no. 4029 :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافَةُ النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ. [ سنن أبي داود 4029]

Rasulullah saw bersabda: “Khilafah kenabian itu (bertahan) selama 30 tahun kemudian Allah mendatangkan raja-raja kepada yang dikehendaki. (HR. Ahmad) dan masih banyak hadits-hadits sejenis di kitab-kitab lainnya. (Sunan Abi Dawud Hadtis no. 4029) Buat yang suka mempermasalahkan kata-kata Nabi soheh atau tidaknya, sedangkan kalau kata-kata Einstein tak pernah ditanyakan soheh tidaknya, sebaiknya merujuk sendiri ke kitabnya. (eh maaf kok agak sewot sih….🙂 )

Hadits lain misalnya pada  Kitab Sunan At Turmudzi hadits no. 2152

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ

Rasulullah saw bersabda: “Khilafah pada umatku ada tiga puluh tahun setelah itu para raja (sebagai penguasanya). HR. Turmudzi.

Angka 30 tahun itu terbukti dari sejarah Khulafaurrasyidin yang empat itu semuanya pada masa khulafaurrasyidin. Selengkapnya syarah hadits tersebut menerangkan hitungan dan rincian 30 tahun itu dihitung pada masa khulafaurrasyidin.

 قوله : ( الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ) وفي رواية أبي داود : ” خلافة النبوة ثلاثون سنة ” . قال العلقمي قال شيخنا يعني الحافظ السيوطي : لم يكن في الثلاثين بعده صلى الله عليه وسلم إلا الخلفاء الأربعة وأيام الحسن , قال العلقمي : بل الثلاثون سنة هي مدة الخلفاء الأربعة كما حررته , فمدة خلافة أبي بكر سنتان وثلاثة أشهر وعشرة أيام , ومدة عمر عشر سنين وستة أشهر وثمانية أيام , ومدة عثمان إحدى عشرة سنة وأحد عشر شهرا وتسعة أيام , ومدة خلافة علي أربع سنين وتسعة أشهر وسبعة أيام Arti bebasnya : “Maksud ungkapan Nabi saw: “Khilafah umatku (masanya) 30 tahun”.  Dan tulisan yang diriwayatkan oleh Abi Dawud: “Khilafah kenabian itu ada 30 tahun”. Menurut Al Ulqami, yang bersumber dari gurunya yaitu al Khafidz As Sayuti: bahwa tidak mungkin dalam angka 30 tahun khilafah setelah Nabi Saw wafat itu selain dari Khulafaurrasyidin. Tetapi 30 tahun itu sebetulnya adalah jumlah masa Khulafaurrasyidin yang empat: Kekuasaan Khalifah Abu Bakar Shiddiq ra [ 2 th + 3 bln+ 10 hr]; Khalifah Umar bin Khattab ra [10 tahun + 6 bulan + 8 hari]; Khalifah Utsman bin ‘Affan ra [ 11 th + 11 bl + 9 hr]  Khalifah terakhir, Ali bin Abi Thalib ra [ 4 th + 9 bl + 7 hr) Jika dijumlah angka itu sama dengan ungkapan Nabi saw.
 

Romantisme Sejarah

Dari dalil naqli di atas sepertinya jelas sekali bahwa khilafah itu sudah dihapuskan setelah masa Khulafaurrasyidin. Setelah itu adalah raja. Cirinya, keturunan ke bawahlah yang berkuasa. Pantas semua kalangan ulama, negara di Arab Saudi dan Negara-negara Arab lainnya menurut KH. Hasyim Muzadi, tidak ada yang mengakui kekhalifahan umat Islam. Jadi, jika Al Qur’an dan Hadits saja sudah mewacanakan kekhalifahan selama 30 tahun, terus bagaimana “teriakan histeris” dari Hizbut Tahrir Indonesia akan mengganti UUD 45 dan Pancasila dengan syariat Islam melalui upaya Khilafah? Bukankah itu hanya romantisme sejarah? Kalau saja masih terus “ngotot” untuk terus “memaksa diri” mengegolkan cita-cita mendirikan syariat di Indonesia, maka bisa diikuti pendapat Prof. Dr. Azzumardi Azra agar HTI ikut bertarung dengan dalam kancah partai politik. 

Hal mana HTI bisa belajar dari perjalanan sebuah partai Islam (P**) pada awal berdirinya. Dulu partai ini ramai-ramai mengangkat isu Palestina sehingga hampir seluruh Indonesia terkesima akan kehebatan partai ini yang  menyuarakan simpati kepada dunia Islam di luar dunia Islam Indonesia. Nah apakah HTI akan terus berusaha mengegolkan khilafah di Indonesia dengan mendirikan syariat Islam di bumi yang pluralis ini? Wallahu a’lam.

  1. artikel anda good banget, saya sepakat dengan ulasan anda, tapi saya yakin anda tidak memaksakan orang lain untuk merinduhkan masah ke khalifaan seperti di jaman rasulullah. salam kenal

  2. kok HTI ini seperti berusaha melakukan sesuatu yg subversif …😦

    :::::::::::

    langsung print … seperti biasa🙂

  3. Hal mana HTI bisa belajar dari perjalanan sebuah partai Islam (P**) pada awal berdirinya. Dulu partai ini ramai-ramai mengangkat isu Palestina sehingga hampir seluruh Indonesia terkesima akan kehebatan partai ini yang menyuarakan simpati kepada dunia Islam di luar dunia Islam Indonesia.

    Yeah, right… masalah kaum muslimi itu memang cuma masalah Timur Tengah saja™ Di luar itu, seperti TKW, naiknya harga minyak, busung lapar, seperti bukan isu menarik untuk menggalang demo sejuta umat di Bundaran HI…

    Saya udah nggak simpati lagi dengan isu-isu global yang cuma buat narik kader begitu… cara basi menarik simpati, IMHO😐

  4. Terimakasih nih mas Kurt info-nya. Selama ini, berarti orang-orang banyak yang salah. Katanya, kekhalifahan umat Islam runtuh, ditandai dengan pergerakan di negeri Turki (Kemall-Pasha Attaruk. Bener ga ya, saya lupa nih?).

    Benar, HTI begitu lantang (apalagi di kampus-kampus) menyuarakan khilafah-khilafah, dst. Banyak mahasiswa/mahasiswi tergaet ikut masuk di dalamnya. Dan secara “buta” ikut, menjadi simpatisan setianya.

    Lantas, terkadang menganggap yang tidak ikut dianggap tak membela kepentingan ummat, katanya sih (mudah-mudahan ini cuma gossip). Hehehe…😀

    Begitu pula dengan partai P** yang juga meraup simpati banyak pihak, hingga ke sini (yang saya lihat mengikut begitu saja, karena dianggap hebat, baik, luar biasa. Karena katanya banyak diikuti kaum intelek).

    Saya sebagai orang yang bebas, cuma bisa diam, tak bisa berbuat banyak. Cuma bisa nonton (mungkin bagi mereka-mereka yang sudah ikutan bergabung dalam komunitasnya itu, orang seperti saya ini dianggap tak peduli dengan bangsa, tak hirau dengan keadaan bangsa yang memprihatinkan, keadaan umat Islam yang sekarang. Kata-kata semacam inilah yang suka dijadikan alat untuk mengompori orang-orang agar masuk jadi simpatisan setianya.) Tapi, dasar saya ini, saya sih cuek saja, cuma manggut-manggut saja. Selanjutnya, terserah saya.😀

  5. Mr Kurt, ini artikel bagus. Dari beberapa minggu lalu, saya berusaha mencari referensi hal ini. Pak Harry (Harry Sufehmi) sebenarnya juga sudah melontarkan hal ini (anehnya sistem kekhalifahan di Indonesia). Sayang sekali, dunia blogsphere nampaknya kurang tertarik membahas hal ini.

    Saya pribadi, tidak bisa menulis, sebab minimnya data. Untung ada anda, Mr Kurt. Yang mengetahui data dan fakta. Hehehe.

    Bagi saya, sistem kekhalifahan di Indonesia amat meragukan. Sejarah tidak pernah membuktikan bahwa kepemimpinan tunggal mengalami keberhasilan di ranah nusantara.
    Yang kedua, setahu saya DI/TII juga punya konsep yang sama, dulu. Jadi ini bukan ide baru di Indonesia.
    Ketiga, nampaknya HTI hanya melontarkan isu belaka. Sebab setahu saya tidak ada sistematika masa depan kekhalifahan yang dibuat HTI dengan terencana. Artinya simpel, lempar batu sembunyi tangan.

    Modelnya jadi seperti; “aku teriak, maka aku ada”. Seakan HTI seperti menunjukkan eksistensi mereka di depan publik.

    Semoga rekan-rekan HTI dan pengikutnya berbenah diri. Sebab tindakan tersebut blunder. Tidak menunjukkan kecerdasan dan kedewasaan dalam berorganisasi. Apalagi dengan membawa nama Islam.

  6. friend
    Oh yaa tidak dong friend, saya tidak mau melawan wacana Nabi saw wacana para ahli negarawan, pholosof, sosiolog. Lha HTI punya gak ahli2 negaranya? mungkin kalau baca qur’an sih faseh sama khutbah yang berapi2…

    Jurig
    Nada-nadanya minornya sih mirip begitu, anehnya, KTP mereka tetap Indonesia loh sebuah negara yang dasar negaranya ditentang ! …🙂

    Alex
    Saya juga cuma ikut “tersenyum” mas🙂

    mathematicse
    Terima kasih juga mas Jupri atas tanggapannya. Tentang kekhalifahan di Turki yang runtuh Anda bisa baca teman saya dari Sevilla. Dia urai sejarahnya meski singkat 🙂
    Memang Kang Jupri, orang bicara itu sesuai kapasitas. Sebagai orang bebas tentunya tidak mau diikat oleh satu sumber bacaan, satu sumber ideologi, satu sumber faham. Islam yang membebaskan tentunya kita sepakat islam yang memberi ruang gerak, sesuai kapasitas otak kita. Semoga otak kita yang luas ini tidak disempitkan oleh batasan2. Bukankah Tuhan Maha Luas, memberi ajaran agar kita bisa luas, komprehensif. Loh kok saya jadi ikut komentar🙂

    Bangaiptop
    makasih atas petunjuknya bangaip. saya baca punya mas Harry. Dia lebih luas hadits2nya banyak dan anehnya dia kupas habis sesuai selera dewek dan berani menggugurkan “sabda” nabi bahwa khilafah itu 30 th. (menurut saya sesumbar, terlalu berani!) Bahkan sekelas mufassir imam Al Qurthubi membahas dalam An Nur:55 beliau tidak berani sedikitpun klaim khilafah itu syah. Yo wis, namanya juga ijtihad… apalagi didukung dana segar dan besar dari “sono”🙂

  7. ”Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehandak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia meng hendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemu dian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghen daki untuk mengang katnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” Kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR.Ahmad)

    pak bisa dijelaskan ttg hadits di atas? maklum saya orang biasa, bukan santri🙂
    makasi sebelumnya

  8. assalamu’alaikum
    kenalkan saya sigit budi
    saudaraku, riza mungkin antum bisa membuka website http://www.almanhaj.or.id,www.salafi.or.id.atau ikut milis assunnah.caranya masuk ke http://www.almanhaj.or.id kemudian di kotak milis silakan tulis email antum.semoga bermanfaat.

  9. assalamu’alaikum.
    maaf.
    ada undangan kajian Ahlussunnah wal jama’ah
    tema “Agama adalah Nasehat”
    pembicara (insya Alloh): Syaikh Abdullah al-Mar’i dari Yaman
    tempat: Jakarta Islamic Center, Koja Jakarta Utara.

  10. waduh… berat baca nya *buat org bodoh kaya saya lho*
    mo ngomentarin parta P** ajah deh…
    mksd nya partai apa siy? prasaan gada partai yg beres, walo itu bawa2 atribut Islam… saya udah ga percaya partai, apa pun itu *jangan salah kan saya utk hal ini yah* saya sdh sering tertipu ama kemunafikan partai.
    bermanis2 kata, ngobral janji ternyata sama aja palsu nya.
    buat saya, partai apapun nama nya ya BULSHITT… bohong!
    blass… gada tawar menawar…

  11. saya nemu artikel yang menjelaskan hadits riwayat imam Ahmad yang menjelaskan janji Allah tentang akan adanya khilafah ala minhajin nubuwah di sini.

    di sumber lain dijelaskan juga bahwa khilafah 30 tahun itu khilafah bermanhaj kenabian tahap pertama pada masa pemerintahan yg terdapat pada hr ahmad. Kalau khilafah yg spt setelah khulafaur rasyidin sampai thn 1924 dikatakan terjadi banyak penyimpangan, gmn bentuknya khilafah bermanhaj kenabian tahap kedua nanti ya 8->

    @ sigit budi
    terima kasih

  12. heheheheh…
    gitu aja koq repot ..
    mau pake sistem khilafah, kerajaan, republik .. yang penting pemerintahannya baik … rakyat mendukung .. beres ..😀 ..
    yang percaya khilafah adalah solusi .. silahkan ..
    yang lebih percaya bahwa khilafah bukan solusi .. silahkan ..
    toh semua akan terbukti setelah dijalani …
    dulu jaman reformasi .. orang bilang g***** bakal mati lima tahun lagi ..
    sekarang yang bilang gitu malah banyak yang duduk di kursi …

  13. Sungguh saya sangat setuju dengan uraian ayat dan hadist-hadist tersebut, namun kesimpulan bahwa khalifah yang merupakan pemimpin umat Islam, namun hanya menunjuk pada kepada khulafaurrasyidin saja, ini jelas bertentangan dengan hadist tentang bakal munculnya khilafah ‘ala minhajin nubuwah berikutnya, serta bertentangan dengan esensi diturunkannya syariat buat manusia.

    Apakah syariat itu hanya diperuntukkan bagi umat islam pada masa khulafaur rasyidin saja, apakah kepatuhan manusia terhadap peribadatan hanya milik umat islam masa khulafaur rasyidin saja, apakah rasa aman dari rasa takut serta menghukum mereka yang bersalah juga hanya berlaku bagi umat masa khulafaur rasyidin saja.

    Jawabnya sudah jelas bukan, karena syariat Allah tersebut diperuntukkan bagi seluruh umat dan hingga akhir zaman, kepemimpinan kepada umat dengan landasan keimanan kepada Allah diperlukan hingga akhir zaman, setiap umat pada setiap masa berhak untuk hidup aman, adil, bebas dari rasa takut, serta sejahtera. Dan sebagai muslim kita harus yakin hanya dengan syariat Allah semua itu dapat terwujut sebagaimana janji Allah.

  14. Apakah Khilafah Islamiyyah Hanya Berumur 30 Tahun dan Selebihnya Kerajaan?

    Kata khilafah yang tercantum dalam hadits tersebut maknanya adalah khilafah nubuwwah, bukan khilafah secara mutlak.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, “Yang dimaksud dengan khilafah pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu’awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan sebagai khalifah.” Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud,”Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun”[HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647]

    Yang dimaksud khilafah Nubuwwah di sini adalah empat khulafaur Rasyidin; Abu Bakar, ‘Umar , ‘Utsman, dan Ali Bin Thalib. Mereka adalah para khalifah yang menjalankan roda pemerintahan seperti Rasulullah saw. Mereka tidak hanya berkedudukan sebagai penguasa, akan tetapi secara langsung benar-benar seperti Rasulullah saw dalam mengatur urusan pemerintahan. Sedangkan kebanyakan khalifah-khalifah dari dinasti Umayyah, ‘Abbasiyyah dan ‘Utsmaniyyah banyak yang tidak menjalankan roda pemerintahan seperti halnya Rasulullah saw, namun demikian mereka tetap disebut sebagai amirul mukminin atau khalifah.

    Ada diantara mereka yang dikategorikan sebagai khulafaur rasyidin, yakni Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar tahun 99 H. Diantara mereka yang menjalankan roda pemerintahan hampir-hampir dekat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw, misalnya Al-Dzahir bi Amrillah yang dibaiat pada tahun 622 H. Ibnu Atsir menuturkan, “Ketika Al-Dzahir diangkat menjadi khalifah, keadilan dan kebaikan telah tampak di mana-mana seperti pada masa khalifah dua Umar (Umar bin Khaththab dan Ibnu Umar). Seandainya dikatakan, “Dirinya tidak ubahnya dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka ini adalah perkataan yang baik.”

    Para khalifah pada masa-masa berikutnya meskipun tak ubahnya seorang raja, akan tetapi mereka tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah Islamiyyah. Mereka tidak pernah menggunakan sistem kerajaan, kesultanan maupun sistem lainnyan. Walaupun kaum muslim berada pada masa-masa kemunduran dan keterpurukan, namun mereka tetap menjalankan roda pemerintahan dalam koridor sistem kekhilafahan bukan dengan sistem pemerintahan yang lain. Walhasil, tidak benar jika dinyatakan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun. Yang benar adalah, sistem kekhilafahan tetap ditegakkan oleh penguasa-penguasa Islam hingga tahun 1924 M.

    Kata “al-muluuk”(raja-raja) dalam hadits di atas bermakna adalah,” Sebagian tingkah laku dari para khalifah itu tidak ubahnya dengan raja-raja”. Hadits di atas sama sekali tidak memberikan arti bahwa mereka adalah raja secara mutlak, akan tetapi hanya menunjukkan bahwa para khalifah itu dalam hal-hal tertentu bertingkah laku seperti seorang raja. Fakta sejarah telah menunjukkan pengertian semacam ini. Sebab, para khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah tidak pernah berusaha menghancurkan sistem kekhilafahan, atau menggantinya dengan sistem kerajaan. Mereka tetap berpegang teguh dengan sistem kekhilafahan, meskipun sebagian perilaku mereka seperti seorang raja.

    Meskipun kebanyakan khalifah pada masa dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah ditunjuk selagi khalifah sebelumnya masih hidup dan memerintah, akan tetapi proses pengangkatan sang khalifah tetap dilakukan dengan cara baiat oleh seluruh kaum muslim; bukan dengan putra mahkota (wilayat al-‘ahdi).

    Makna yang ditunjuk oleh frasa “dan setelah itu adalah raja-raja” adalah makna bahasa, bukan makna istilah. Dengan kata lain, arti dari frasa tersebut adalah “raja dan sultan” bukan sistem kerajaan dan kesultanan. Atas dasar itu, dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa mereka adalah seorang penguasa (khalifah) yang memerintah kaum muslim dengan sistem khilafah. Dituturkan oleh Ibnu Hibban, “Rasulullah saw bersabda,”Setelah aku akan ada para khalifah yang berbuat sebagaimana yang mereka ketahui dan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Setelah mereka berlalu, akan ada para khalifah yang berbuat tidak atas dasar apa yang diketahuinya dan mengerjakan sesuatu tidak atas apa yang diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang ingkar maka ia terbebas dari dosa, dan barangsiapa berlepas diri maka ia akan selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridlo dan mengikuti mereka maka ia berdosa.”

    Penjelasan di atas sudah cukup untuk menggugurkan pendapat yang menyatakan bahwa sistem khilafah Islamiyyah hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Hadits-hadits yang mereka ketengahkan sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. Sistem khilafah Islamiyyah tetap berlangsung dan terus dipertahankan di sepanjang sejarah Islam, hingga tahun 1924 M. Meskipun sebagian besar khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah bertingkah laku tak ubahnya seorang raja, namun mereka tetap konsisten dengan sistem pemerintahan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw, yakni khilafah Islamiyyah.

    Tugas kita sekarang adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sebab, tertegaknya khilafah merupakan prasyarat bagi tersempurnanya agama Islam. Tidak ada Islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah tanpa khilafah Islamiyyah.

  15. Islam memang pernah jaya dan pernah mengalami zaman keemasan. itu dulu. tetapi bukan berarti saat ini negara ini diajak menggunakan sistem khilafah, kenapa? karena konteksnya sangat tidak nyambung. Indonesia ya Indonesia, Arab ya Arab di mana kedua negara ini memilki perbedaan dalam segala hal. jangankan perbedaan antar negara dalam mengaplikasikan syari’at agama, wong satu negara saja yang podo-podo Islame ada banyak perbedaannya. Tapi menurut saya itu tidak menjadi soal karena perbedaan adalah sebuah rahmat, kalau kita mau berlapang dada melihat perbedaan itu termasuk dengan tidak setujunya memakai istilah khilafah di negara ini. artinya selagi orang islam itu beriman kepada Allah dan rasulnya serta percaya akan adanya hari pembalasan, maka itu sudah merupakan bagian dari aktualisasi niali-nilai Islam. apa pun bajunya dan bagaimana pun caranya. Ber Islam enjoy aja lagi.

  16. “Rukun Islam” HTI itu berarti ada 6
    1. Syahadat
    2. Shalat
    3. Puasa
    4. Zakat
    5. Haji
    6. Khilafah

    Karena penetapan orang HTI khilafah sebuah keniscayaan, khifalah itu urgen dan khifalah itu WAJIB…🙂

  17. Kepada ikhwan yasin nur falah, coba marilah berfikir secara jernih, bukankah ajaran Rasulullah dalam Al Qur’an dan Sunnah2nya diperuntukkan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman, bukan manusia zaman Rasul saja. Kalau dulu Islam diterapkan dan mampu membawa kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia dan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) mengapa sekarang harus ragu dengan alasan konteknya tidak nyambung.

    Waktu zaman Rasulpun orang yang meragukan kemampuan Islam juga tidak sedikit, bahkan berbagai macam tuduhan dilontarkan kepada Rasul, bahkan sampai Rasul dituduh gila. Tetapi kalau sekarang setelah kita menyatakan beriman, tetapi ragu terhadap islam bahwa dalam islam ada solusi, ini sungguh aneh.

    Indonesia dan arab memang berbeda, apalagi terhadap seluruh belahan dunia, sangat-sangat berbeda dan beragam, akan tetapi semua bumi dan seisinya ini ciptaan Allah, Allah Maha Tahu atas segala makhukNya, karenanya Allah Maha Tahu atas hukum dan aturan yang harus diterapkan untuknya. Syariat Islam (hukum-hukum Allah) jelas telah mengakomodir selururh perbedaan tersebut.

    Apakah kita menganggap bahwa syariat islam ini hanya diperuntukkan bagi bangsa arab, hanya karena turunnya syariat tersebut di arab dan melalui orang arab (Rasulullah). Lantas mengapa kalau demikian kita juga harus shalat dengan cara shalatnya orang-orang arab. Apakah ini bukan merupakan ketidakkonsistenan.

    Beriman kepada Allah dan RasulNya tidak cukup hanya dalam ucapan, tapi harus diimplementasikan dalam perbuatan terhadap apa saja yang diwajibkan oleh Allah dan RasulNya.

  18. Kepada Ikhwan Roin Siroj 12, kewajiban-kewajiban islam itu tidak hanya 5 rukun islam, kalau setiap kewajiban harus dimasukkan dalam rukun islam, maka jumlah rukun islam akan menjadi tidak jelas.

    Sebetulnya yang perlu dilakukan oleh seorang muslim, cukup melihat dalil-dalil yang mendasarinya, apakah dalilnya kuat atau tidak (ini kalau kita mampu atau memiliki cukup ilmu untuk menilai dalil), tapi kalau tidak mampu cukup mengikuti bagaimana ulama menghukumi tentang masalah tersebut dalam hal ini masalah “khalifah dan khilafah”, banyak kok ulama yang telah membahasnya.

    Dan saya yakin kalau di pesantren masalah ini bukan hal baru, ada kitab2nya kok yang membahas masalah tersebut, hanya saja mungkin tidak diajarkan lagi, karena dianggap tidak aplikatip, padahal sangat diperlukan untuk bisa mendapatkan pemahaman islam dengan lebih baik.

    Saya pernah berkunjung ke salah satu pesantren, ketika kami berdiskusi mereka merasa bahwa apa yang mereka pelajari di pesantren kadang sulit mengaitkannya dengan fakta, dan mereka baru bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas, saat mengkaji ahkam sulthaniyyah.

    Contoh, tentang hadist-hadist baiat, ayat-ayat taat kepada pemimpin, dan banyak lagi hadist dan ayat terkait dengan pemimpin, maka pemimpin seperti apa, baiat kepada siapa, dst.

  19. Alkholifatu ala manhajirrosul… itu kalimat yang arab artinya kan, khilifah masa kenabian.. Gimana khilafah masa kenabian wong khalifahnya itu kan sahabat Nabi Khulafaurasyidin…

    Bagaimana mungkin seh nabi menutur hadis sangat jelas kok dibilang lemah….. hampir semua kitab shoheh merekam hadits ini.. sedang Hadits rujukanmu saya belum menemukan… mohon disertakan kalimat haditnya dan nomer berapa.. sementara itu saya akan masukkan hadits kholifah itu cuma 30th dari berbagai kitab2 shoheh…

    Imam Al Qurthbui dalam Tafsir surat An Nur ayat 55 ayatnya jelas silahkan buka kitabnya baru bicara… Khlafah tetap bermakna Ijtihadi bukan kewajiban…. (ini mohon juga dibaca bos) buat inspirasi argumen kita…

  20. Saya heran, kita-kita ini terlalu banyak bicara tapi kosong melompong. Cobalah kita introspeksi, Bangsa-bangsa lain yang selama ini sering dihujat sebagai bangsa kafir, tidak bermoral, musuh Tuhan , bla bla bla, dlsb, mereka telah bertindak dan berfikir sampai menembus ruang angkasa, sibuk dengan berbagai penemuan-penemuan ilmiah yang nantinya bisa disumbangkan untuk kelangsungan hidup kemanusiaan.

    Sedangkan kita-kita disini masih sibuk ngotak-atik ayat-ayat, pasal-pasal, lalu dilanjutkan dengan saling mencemooh, saling merasa paling benar, terus bertengkar, bakar sana bakar sini, terus ngeboooommm, wuih..?? Ingat kehidupan dan alam bukan hanya melingkupi bumi, matahari, bulan, bintang, tetapi seluruh alam semesta.
    Selama jangkauan pikiran kita hanya masalah-masalah yang itu-itu saja, saya yakin seandainya nanti ilmu pengetahuan dengan fakta nyata sampai pada kesimpulan bahwa ada kehidupan lain di planet lain, maka saya tanya disini kira-kira agama apa yang paling kelihatan paling bodoh di dunia ini ?(saya tekankan “didunia” ini, bukannya di alam semesta ini !!!)
    Apalagi kemudian penghuni planet lain tersebut juga mengklaim punya “keyakinan” dan “agama” dan “nabi” juga lho. Terus, istilah “nabi terakhir” itu artinya apa? Nabi di dunia atau nabi alam semesta??

    Wis ngono wae disik.

    Salam,

    Rasional Man,

    Dewa.

  21. eh, saya membaca artikel anda dengan perasaan yang gimana gitu? begini ya mas, jika anda seorang muslim sejati…kenapa anda tidak mendukung syariat islam itu di berlakukan di negara tercinta ini? apakah anda tidak bosan…jika idul fitri kita ribut? idul adha ribut? tahlilan ribut? capek aku…

    dalam islam, sepengetahuan saya…ada tiga terminologi yang harus dipahami tentang subyek syariat islam itu sendiri:
    1. syariat yang dibebakan di individu hukumnya…….wajib bo’ tuladha: sholat, zakat lan konco-koncone
    2. syariat yang dibebankan kepada kelompok… kalo ini fardhu kifayah.
    3. syariat yang dibebankan pada negara…,tulodho: hukum2 peradilan, khudud, jinayat, mawaris, bahkan hukum2 fiqih yang menyangkut kehidupan sehari2.
    pertanyaannya adalah, negara yang seperti apa yang dibebani syariat (N0.3)
    SETELAH SAYA MELAKSANAKAN KAJIAN TERHADAP sistem negara ternyata, yang cocok dengan syariat islam…hanya bentuk negara khilafah…atau imamah…sampeyan pasti tahu…bahwa asshobiyah itu diharamkan dalam islam, jadi the fact is khilafah pernah memimpin dunia selama 13 abad tentu maksud saya disini tidak sesempurna khilafaurroshidin. tetapi, meskipun demikian para kholifah tetap bersiteguh dan mengigit syariat islam dengan gigih di geraham mereka. bisakah anda membuka sejarah tentang masa-masa kegemilangan islam di daulah umayyah dan abbasiyah…bisakah difikirkan, apa yang terjadi sekarang? islam dipijikkan dihina dilecehkan dihina…etc… didentikkan dengan TERORIS bo’…kebodohan apalagi? padahal kan islam yang membebaskan kita dari zaman jahiliyah!!! lantas jika bersatu bisa membuat kita menjadi kuat dan kokoh, why not? saya pernah membaca di situs CNA bahwa barat(amerika lan dulur2e) sangat khawatir dengan kembalinya the great khilafet…saya yakin Islam,,, AKAN BERJAYA KEMBALI DAN BERSATU, itu janji Allah seperti yang anda tulis kan?
    jadi apa salahnya kita BERONTAK…KITA TERIAK…
    ALLAHu AKBAR!!!! balas ya…

  22. eh, saya membaca artikel anda dengan perasaan yang gimana gitu?

    >>>🙂 heheh emang kenapa bos, kelihatan tolotlnya? makasih …

    begini ya mas, jika anda seorang muslim sejati…kenapa anda tidak mendukung syariat islam itu di berlakukan di negara tercinta ini? apakah anda tidak bosan…jika idul fitri kita ribut? idul adha ribut? tahlilan ribut? capek aku…

    >>> Ssya malah merasa enjoy kalau perbedaan Idul Fitri/Adha itu misalnya malah seminggu, atau sebulan. jadi lebaran terus… lah kenapa perbedaan itu bagi saya menyenangkan.🙂

    Syariat Islam sperti yang dikatakan Nabi saw sudah sangat jelas dan gamblang. Kemudian apakah hadits ini sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang itu terserah. Saya tetap akan mengimani hadits Rasulullah saw itu. Ditambah jika Anda membaca tafsir dari ayat 55 Surat Annur, semakin mengimani akan sabda Nabi saw itu.

    Kalau Anda anggap mengikuti Khilafah itu adalah mengikuti Sabda Rasulullah saw, maka sayapun tidak mengikuti khilafah versi Anda juga karena mengikuti sabda Rasulullah saw : Khilafah umatku itu hanya 30th selebihnya raja-raja…

    Saya penduduk Indonesia berKTP Indonesia, maka dari itu saya Cinta Indonesia… hidup saya berusaha mengikuti syaraiat secara pribadi, keluarga sementara urusan negara silahkan Anda saja yang protes sama pemerintah untuk “MENYERANG” pemerintah dan “MEMAKSA” agar diganti dengan Syariat yang Anda yakini…

    saya sekali lagi tidak tertarik… seperti pendapat Imam Hanafi beliau seolah-olah mengatakan :

    AUDZUBILLAHI MINASSIYAASYAH… :
    “Aku berlindung kepada Allah dari politik”

    maaf kalau jawaban saya tidak berkenan. Itulah pendirian saya sebagaimana saya menghargai pendirian sampean..
    salam

    Maaf saya tidak melanjutkan dialog karena saya takut berhadapan pada “yang gelap” … maksudnya tanpa rupa dan tanpa “wajah..”

  23. kurtZ Berkata:
    21 Desember, 2007 pada 7:46 pm

    Saya penduduk Indonesia berKTP Indonesia, maka dari itu saya Cinta Indonesia… hidup saya berusaha mengikuti syaraiat secara pribadi, keluarga sementara urusan negara silahkan Anda saja yang protes sama pemerintah untuk “MENYERANG” pemerintah dan “MEMAKSA” agar diganti dengan Syariat yang Anda yakini

    Kedengarannya seperti :
    “Hai Musa, kamu saja berdua dengan Tuhanmu menyerang negeri itu, nanti kalau kalian menang, baru kami ikut masuk.”

  24. Saya tidak akan ikut berpolemik ttg masalah khilafah. Tapi saya mau tanya ke mas Kurtubi dan teman-teman yg sependapat dgn beliau, “WAJIBKAH KITA MEMILIKI SEBUAH SISTEM PEMERINTAHAN YANG MENJALANKAN SYARI’AT ISLAM SECARA UTUH DALAM SELURUH ASPEK KEHIDUPAN ?” dan “APAKAH SISTEM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA TELAH MELAKSANAKAN SYARI’AT ISLAM SECARA UTUH ?” saya pikir pertanyaan ini perlu dijawab terlebih dahulu agar diskusi kita lebih terarah.

  25. Terlepas dari pertanyaan di atas, sebagai muslim saya meyakini-secara akidah- bahwa sejelek-jeleknya penerapan Islam oleh para penguasa( sultan, raja, khalifah, atau apapun namanya)Islam di masa lalu, itu semua masih lebih baik daripada sekarang di mana hukum-hukum Islam tidak ditegakkan-bahkan dibuang jauh-jauh. Kalo boleh berandai-andai saya lebih memilih hidup pada zaman ketika hukum-hukum Allah tegak meskipun di bawah penguasa yang zalim daripada sekarang ketika yang dijadikan sumber hukum bukan Al Qur’an dan Sunnah.

  26. “ihdinashshirootol mustaqiim” ..

  27. mudah2an Kurt dibukakan matanya…dan hatinya

  28. yang gue tau ada 2 kewajiban kita, yang gue pikir tidak akan diperdebatkan:

    1. setiap kelompok orang harus punya peminpin. dan presiden RI bukan peminpin umat islam tapi peminpin RI. KALO BEGITU PEMINPIN UMAT ISLAM SEDUNIA SIAPA???

    2. semua muslim wajib melaksanakan syariat islam secara keseluruhan, bukan sebagian2. pertanyaan gue adalah: dengan kondisi kita saat ini apa kita sudah melaksanakan semua syariat islam???

    tolong di-coment bro!!!!!

    — ok bro saya komentari yah —– tapi jangan kesel ya atas komentarku, kayanya dikau punya tekanan suara yang gemes sama saya.🙂

    Kata kaffah itu berarti berislam secara keseluruhan. saya setuju, kita ini bukan golongan Nabi tapi kita berusaha ikut Nabi saw, nah karena Nabi saw sendiri bersabda bahwa khilafah itu cuma 30 tahun, ya gimana gitu, kan berarti boleh saja ada yang tidak sependapat jika khalifah itu ditegakkan kembali, dan bukan berarti yang tidak setuju khilafah itu tidak mengikuti kanjeng Nabi saw.

    Setiap kelompok orang, harus ada pemimpin… saya setuju. jawabnya ikut Nabi saw: kullukum ro’in… dst (setiap Anda itu pempimpin, dan akan ditanyai kepemimpinannya) jadi kalau mau khilafah ya saya lebih setuju khilafah untuk keluarga, untuk diri sendiri. Sebab namanya pempimpin negara itu tidak jauh dari ajang politik dan itu masalah keduniaan jadi ya sudahlah, urusan dunia pasti ribet – ribut – robot. sementara urusan ibadah dan akherat, tidak ada musuhnya, karena kaplingnya lebih luas.

  29. —– maaf baru bisa balas yah ——-

    Gini mbak/mas ungue dan kawan-kawan dari HTI (Hizbut Tahrir Indoensia) juga para pengusung khilafah ala HTI. Pertama saya mohon maaf kalau postingan ini membuat gerah perjuangan kawan2 semua. Postingan ini cuma pendapat pribadi (jadi gak usah dipusingkan atau abaikan saja. Ini hanya dalam bentuk wacana kegelisahan saya saja dalam memahami dualisme khilafah antara nash dan realita.

    Saya akui bahwa aku belum menjadi muslim sejati dan terus berupaya ke sana, karena masih banyak dosa di sana-sini, ibadah mahdoh dan ghoiru mahdoh juga tidak ada yang bisa saya banggakan. Jadi apapun jawaban saya, mungkin njenengan gak akan terima sebab dihati njenengan khilafah itu wajib, sementara bagi saya tidak. Jadi ya gak ketemu. karenanya mari sepakat untuk tidak sepakata. dalam hal sepakat atau tidak, saya kita tidak ada kaitannya antara muslim sejati atau tidak. Yang sejati muslimnyasaja mengatakan khilafah 30 th apalagi saya yang tidak sejati.

    Tapi baiklah saya setuju jika khilafah itu bakal tegak, maka umat sono akan khawatir. Sekarang saja Iran mau bikin Nuklir amrik dkk sudah kebakaran jenggot.

    Nah, jadi yang sekarang dikembangkan menurutku sih, persatuan umat Islam sedunia itu dalam bentuk kerjasama dan kerja-masa untuk sama2 bersinergi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Jangan seperti di Arab yang berantem terus. Nah mampukah kita menyatukan orang2 Arab yang keras karakternyaitu? Kita sangat bangga jika umat muslim menguasai IPTEK dan negaranya bisa maju seperti China dan India, Korea dst. Dengna begitu saya kira Allah tidak akan mengurangi appresiasi karya kita gara2 kita sendiri tidak berkhilafah.

    Sejarah kelam umat kita itu dalam masalah khilafah sungguh tragis. Masa sih mau diulang kembali ketragisan itu… kita tidak setuju kan?

    Khilafah akan tegak saya setuju dan itu di nash. Tapi yang menegakkan itu adalah ALLAH nanti pada akhir masa dekat kiamat. jadi saya bertumpu dan tetap teriak ALLAHU AKBAR! kepada “YANG MAHA KHILAFAH” saja.

  30. Saya kebetulan lihat link blog ini di pesantren buntet.

    Masa lalu khilafah yang berdarah-darah jelas tidak tepat untuk menilai konsep khilafah. Sebagaimana dalam Quran malaikat mempertanyakan penciptaan manusia di muka bumi karena berbuat kerusakan. Kalau penyimpangan praktik dari konsep dipakai untuk menilai konsep, jelas tidak ada konsep yang benar. Sebagaimana adanya pendosa yang menyimpang/menyalahi hukum agama.

    Pak Kurtubi ada baiknya juga dibahas hadits nabi tentang 12 khalifah dari kalangan quraisy. Biar lengkap gitu. Bagaimana menyeleraskan hadits khilafah 30 tahun dengan hadits 12 khalifah dari kalangan quraisy? Thanks.

  31. singgihs

    Terima kasih bos atas tanggapannya. Insya Allah nanti kita tulis.Karena saya belum menguasainya, dan hadits itu mau ditelusuri lebih lanjut… SYukron…🙂

  32. Artikel mantap…apalagi Kita sodor hadist ini ke Hizbut tahrir

  33. Pemerintahan Islam Rasul 10 th + Khulaurrasyidin 30 th,dan petunjuk Hadist ttg Khilafah / Pemerintahan Islam Kurun Ke dua itu adalah : ” Seindah-indah KURUN adalah KurunKu ( Kurun Kesatu/ Dimana Rasul Tampil) dan Nanti ( Kurun Kedua di akhir Zaman ). Ingat …Tugas Rasul adalah Menghancurkan Kebathilan ( Dzolim/Seluruh Systim-Systim Kehidupan Sosial Pyramidal/Liberalisme, Komunisme, Nasionalisme dll Isme ) dan Menegakkan Kebenaran (Hak/Nur-Systim Persamaan Diwajah ALLAH), dan sepeninggal 4 Sahabat, maka Muawiyyah merampas Kekuasaan Ali Bn Abitalib dengan cara KUDETA dan mulai menegakkan System Sosisal Piramid lagi/pengingkaran dan Penghianatan Ajaran Rasulullah ( Hadist: “Khilafah kenabian itu (bertahan) selama 30 tahun kemudian Allah mendatangkan raja-raja = Musuh Rasul2 dan Seluruh MUKMIN, kepada yang dikehendaki ) yang terjadi higga saat ini dimana Prinsip Systim/Dinul Islam yg diterapkan pada Era Rasul & 4 orang Sahabatnya telah PUTUS sama skali Benang-merahnya dengan Islam yg diterapkan Oleh Muawiyyah (Systim Dinasti).jadi masalah Pemerintahan Khilafah/Tegaknay Islam memang ada dan Pasti… Tapi Pasti Bukan HTI dll…(???) Islam2 yg ada di seluruh dunia sekarang ini semuanya saling terkait satu sama lainnya dengan Muawiyyah, kebanyakan hanya Islam akal2an alias Islam2an aja yang tidak jelas Standar dan Tujuannya, hanya ingin Kekuasaan dan Materi dengan memakai Dalil Quran dan Hadis… Study ulang dong…Bandingkan secara jitu… antara Makana dan Tujuan Pemerintahan RasuluLLAH dan 4 Sahabatnya denga Pemerintahan Kufur Dzolim Dinasty Muawiyyah…kalau anda/ seluruh ummat Islam bisa temukan perbedaannya yang tajam, maka dijamin oleh ALLAH bahwa,dalam waktu sangat dekat Quran (IsLAM SEBAGAI sYSTIM Penataan Kehidupan yg Adil Makmur) Pasti terwujud. sementara itu aja dulu,

  34. Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, “Yang dimaksud dengan khilafah pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu’awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan sebagai khalifah.” Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud,”Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun”[HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647]

    Tidakkah penjelasan ulama terkemuka ini cukup ? bahwa hadits diatas bukan membatasi khilafah hanya 30 tahun saja. 30 tahun untuk Khilafah Nubuwah, namun setelah itu tetap disebut Khilafah, meskipun mereka memerintah layaknya seperti raja. tolong diperhatikan kalimat : AKAN TETAPI MEREKA TETAP DINAMAKAN KHOLIFAH ,

  35. Imam Jalaluddin as-Suyuti (911 H) dalam kitabnya Tarikh al-Khulafa (Sejarah Para Khalifah) menuliskan sejarah para Khalifah hingga wafatnya Khalifah Mutawakkil Abul ‘Izz pada 903 H dan pengangkatan puteranya, al-Mustamsik Billah. Ia menuliskan dalam pengantar kitab tersebut: ‘Inilah sejarah singkat yang berisi biografi para Khalifah, para Amirul Mukminin, yang menjadi pelayan umat sejak masa Abu Bakar as-Siddiq ra hingga saat ini’. Dan saat itu adalah 900 tahun setelah Hijrah!

    Semakin jelas, khilafah bukan hanya 30 tahun, Imam Jalaluddin as Suyuti menjelaskan dalam kitab Tarikh al Khulafa , priode Khilafah hingga 900 tahun.

  36. Alhamdulillah, kami saat ini menyediakan bendera ar Rayaa (Bendera daulah Islam Iraq pimpinan Abu Umar al Baghdadiy). Berikut spesifikasi bendera tersebut

    berukuran : 75 cm x 100 cm.
    warna : hitam
    tulisan : kalimat tauhid لا إله إلا الله, محمد رسول الله
    kain : mengkilap.
    harga : Rp. 25.000,-
    Barang TERBATAS !

  37. Memang benar, para pejuang berdirinya khilafah percaya bahwa Nabi telah menjanjikan akan datangnya kembali khilafah di akhir jaman nanti. Mereka menyebutnya dengan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Ini dalilnya:

    “Adalah masa Kenabian itu ada di tengah tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya (menghentikannya) apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.

    Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan ‘Adldlon), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyah), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya.

    Kemudian adalah masa Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” (Musnad Ahmad:IV/273) .

    Menurut Nadirsyah Hosen, kawan saya, mengatakan mereka merasa cukup berpegang pada dalil di atas, para pejuang khilafah menolak semua argumentasi rasional mengenai absurd-nya sistem khilafah. Mereka menganggap kedatangan kembali sistem khilafah adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya, Nadir membahas masalah ini.

    Salah satu rawi Hadis di atas bernama Habib bin Salim. Menurut Imam Bukhari, “fihi nazhar”. Inilah sebabnya imam Bukhari tidak pernah menerima hadis yang diriwayatkan oleh Habib bin Salim tsb. Di samping itu, dari 9 kitab utama (kutubut tis’ah) hanya Musnad Ahmad yang meriwayatkan hadis tsb. Sehingga “kelemahan” sanad hadis tsb tidak bisa ditolong.

    Rupanya Habib bin salim itu memang cukup “bermasalah” . Dia membaca hadis tsb di depan khalifah ‘umar bin abdul aziz utk menjustifikasi bhw kekhilafahan ‘umar bin abdul azis merupakan khilafah ‘ala
    minhajin nubuwwah. Saya menduga kuat bhw Habib mencari muka di depan khalifah karena sebelumnya ada sejumlah hadis yang mengatakan:

    “setelah kenabian akan ada khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, lalu akan muncul para raja.”

    Hadis ini misalnya diriwayatkan oleh thabrani (dan dari penelaahan saya ternyata sanadnya majhul). Saya duga hadis thabrani ini muncul pada masa mu’awiyah atau yazid sebagai akibat pertentangan
    politik saat itu.

    “Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah” di teks thabrani ini me-refer ke khulafa al-rasyidin, lalu “raja” me-refer ke mu’awiyah dkk. Tapi tiba-tiba muncul umar bin abdul azis –dari dinasti umayyah—yang baik dan adil. Apakah beliau termasuk “raja” yg ngawur dlm hadis tsb?

    Maka muncullah Habib bin Salim yg bicara di depan khalifah Umar bin Abdul Azis bhw hadis yg beredar selama ini tidak lengkap. Menurut versi Habib, setelah periode para raja, akan muncul lagi khilafah ‘ala minhajin nubuwwah–> dan ini merefer ke umar bin abdul azis. Jadi nuansa politik hadis ini sangat kuat.

    Repotnya, term khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yg dimaksud oleh Habib (yaitu Umar bin abdul azis) sekarang dipahami oleh Hizbut Tahrir (dan kelompok sejenis) sebagai jaminan akan datangnya khilafah lagi di kemudian hari. Mereka pasti repot menempatkan umar bin abdul azis dalam urutan di atas tadi: kenabian, khilafah ‘ala mihajin nubuwwah periode pertama (yaitu khulafa al-rasyidin) , lalu para raja, dan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah lagi. Kalau khilafah ‘ala minhajin nubuwwah periode yg kedua baru muncul di akhir jaman maka umar bin abdul azis termasuk golongan para raja yang ngawur🙂

    Begitulah pendapat kawan saya, Nadirsyah Hosen, dan saya sepakat dengan pendapat itu. Artinya, nuansa politis dalam hadits tersebut sangat kentara.

    “Saya kira kita memang harus bersikap kritis terhadap hadis-hadis berbau politik. Sayangnya sikap kritis ini yang sukar ditumbuhkan di kalangan para pejuang khilafah.” katanya mengahiri penjelasan dalam sebuah tulisan tentang khilafah di milis.

    Saya menunggu penjelasan istilah Khalifah yang 900 tahun dari Imam Jalaluddin dengan khalifah yang diungkapkan Rasulullah saw yang 30 tahun. Kenapa bisa berbeda apakah di sini, istilah khalifah yang dimaksud sama dengan raja? artinya urutan itu adalah : khalifah = raja = mulk = dinasti = presiden?

    Jika memang cuma istilah, maka pempimpin siapapun juga adalah khalifah. Bahkan istilah qURAN MANUSIA PUN JUGA KHALIFAH dimuka bumi.

  38. assalamualaikum,
    bagus terusdikembangkann biar kita tidak buta informasi dan jadi namabh refernsinya tapi inga hati poleh panas utek da oleh nas panas matur kesuwun

  39. baca tentang khilafah di aljirbani1972.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: