dadiwongenomblikenasobud

Shalat bersama Matahari

In Ibadah, Kajian Kitab, Keajaiban on 29 August 2007 at 9:40 pm

Sebuah renungan

S

//www.thelensflare.comebuah hikmah yang datang dari ulama jadul (jaman dulu/salaf) menarik untuk dilirik sebagai sarana mendidik diri. Hikmah itu berbicara tentang perjalanan matahari dan umur manusia berkaitan pula dengan kewajiban shalat. Semua itu seiring sepadan dengan siklus perjalanan matahari sehari semalam. Ah masa seh?

Renungan itu ditulis dalam buku berbahasa Arab yang banyak dimiliki para pelajar Kairo, Mesir. Namanya kitab Bujairimi. Karangan Imam Bujairimi. Selengkapnya tulisan itu berbunyi seperti ini. Terjemahnya dibuat secara bebas bersama uraian.

وابدى بعضهم لذلك حكما. منها تذكر الإنسان بها نشأته إذ ولادته كطلوع الشمس ونشؤه كارتفاعها وشبابه كوقوفها عند الاستواء، وكحولته كميلها وشيخوخته كقربها من الغروب وموته كغروبها، زاد بعضهم وفناء جسمه كانمحاق أثرها وهو مغيب الشفق الأحمر فوجبت العشاء حينئذ تذكيرا لذلك، كما أن كماله في البطن وتهيؤه للخروج كطلوع الفجر الذي هو مقدمة لطلوع الشمس المشبه بالولادة فوجبت الصبح حينئذ، (نقل من كتاب بجيرمي)

Terjemah bebasnya sbb:

Sebagian ulama mengenalkan hikmah-hikmah untuk mengingatkan manusia akan kehidupannya. Saat lahir laksana terbit matahari; masa pertumbuhan diibaratkan meningginya matahari; masa mudanya seperti saat sinarnya di pertengahan; masa dewasa ibarat sinar mulai condong ke barat; dan masa tua seperti sinar matahari mendekati terbenam.

Terbenam matahariLalu ulama lain menambahkan. Masa kematian diibaratkan dengan matahari terbenam. Adapun gambaran kehancuran badan dan tulang-belulang seperti matahari yang sinar merahnya berangsur-angsur menghilang. Sehingga diwajibkan shalat isya. Kemudian sebagai pengingat proses janin yang siap lahir saat berada di perut ibu, digambarkan dengan munculnya fajar shidiq (menjelang waktu subuh).  Fajar ini sebagai persiapan munculnya matahari maka diwajibkanlah shalat subuh.

Pertama, tulis Bujairimi,  awal kelahiran manusia diibaratkan dengan matahari terbit. Matahari pagi, sinarnya kemerah-merahan. Rasanya hangat dan menyehat­kan badan. Hampir setiap orang menyukai sinar matahari pagi. Demikian pula anak manusia yang baru lahir. Ia akan diperhatikan karena menghangatkan siapa pun. Tetangga berkumpul untuk meng­ucap­kan kata selamat atas kelahiran seorang bayi. Ada juga sih yang tega mem­bunuh bayi. Padahal bayi ibarat sinar. Tapi bukankah pembunuh bayi mi­rip dra­kula yang tidak suka dengan sinar. Karena lebih suka kepada kegelapan.

Di waktu pagi ini umat Islam diwajibkan mengerjakan shalat subuh. Arti “Subuh” adalah pagi. Sebagaimana keberadaan manusia diawali dari perut ibundanya. Matahari yang menampak di pagi hari laksana anak manusia yang dilahirkan hasil perjuangan seorang ibu antara hidup dan mati. Maka gambaran ini mirip dengan orang yang mengerjakan shalat subuh setelah tidur begitu beratnya. Maknya rakaatnya cukup dua rakaat saja.

Matahari memerahKedua.Saat matahari menanjak memasuki waktu dhuha (jam + 7.00 s/d 11.30 WIB). Perjalanan matahari di waktu ini diibaratkan dengan masa kanak-kanak menuju remaja.

Karenanya, di waktu pagi (dhuha) ini tidak ada kewajiban mengerjakan shalat. Karena memang anak-anak yang belum memasuki akil baligh, tidak wajib shalat. Waktu ini justru diisi untuk berbagai akvitas bermain layaknya anak-anak.   

Ketiga,Saat matahari mencapai pukul 12.00 (waktu istiwa). Saat itu, matahari menunjukkan karakter sinar yang paling panas. Ini mirip dengan masa remaja. Sinar yang panas, jiwa yang menyala-nyala: penuh emosi. Panas matahari bisa membakar kulit jika tak berpelindung. Begitu pula remaja yang meluap-luap emosinya, jika orang tua tidak pandai mendidik akan merusak kulit rumah tangga, kulit moral atau kulit-kulit lainnya yang membuat persoalan lebih besar lagi.

Kuat, strength... Karena itu untuk mengekang gejolak yang meluap-luap itu, orang muslim diwajibkan mengerajakan shalat dhuhur. Duhur artinya, “menampak”. Orang muda yang menampakkan karakter hebatnya, sejatinya harus dimohonkan kepada Tuhan. Subhanal­lah, jika gejolak itu benar salurannya, niscaya segala persoalan dari dampak gejolak yang menyengat itu akan tersalur energinya menuju manfaat bagi kehidupan. Sebagaimana matahari yang panas menyengat itu bisa menghasilkan energi “sel electricity” , “solahart” pema­nas air, atau menjemur padi dan ikan bagi petani. Sebuah manfaat yang besar sekali.

Keempat.Sinar matahari mulai condong ke barat hingga hampir terbenam. Pada masa ini, mirip dengan umur manusia yang memasuki masa tua. Lihatlah matahari jika menjelang terbenam, sinarnya memerah seperti juga saat terbit waktu pagi. Konon, ini mirip orang tua yang sering pikun, dan bertingkah laku seperti anak-anak.

Di waktu tersebut, umat Islam diwajibkan shalat “Ashar” ( arti Ashar = memerah). Masa tua, bisa juga seperti buah yang sudah memerah. Tinggal dinikmati kematangan buahnya. Biasanya orang tua yang menjelang ajalnya, kekayaanya diwariskan untuk dinikmati keluarganya.

Kelima. Sinar matahari memasuki awal malam hari. Dimulai dari jam 6-an hingga jam-7 malam. Masa ini diibaratkan sebagai awal dipendamnya jasad manusia di alam kubur. Bekas sinar matahari masih menampak jelas di angkasa. Namun dengan waktu satu jam ini mirip dengan proses penguburan manusia yang begitu singkat.

Karena itu, masa antara jam 6-7-an ini Islam mewajibkan umatnya mengerjakan shalat maghrib. Arti “maghrib” adalah terbenam. Searti dengan gambaran manusia saat dibenamkan dalam tanah. Singkat, menuju gelap.

ulat-ulat mulai menggerogoti tubh manusia di dalam tanahKeenam. Perjalanan waktu benar-benar memasuki malam hari. Gelap gulita, begitu sepi dan kadang mencekam. Waktu malam ini kehidupan makhluk lain mulai beraktivitas. Karenanya, binatang di dalam tanah, mulai bekerja mengurai tulang dan daging hingga menjadi tanah. Cacing dan hewan lain, memakan jasad kita di kubur hingga hancur minah. Proses mengurai benda keras ini memang membutuhkan waktu lama. Karenanya waktu malam hari dipakai untuk tidur, begitu panjang, begitu tenang, begitu senyap. Kematian.

Karena itu, untuk mengenang masa kegelapan yang panjang ini digunakanlah bagi umat islam untuk mengerjakan shalat “Isya”. Arti “Isya” adalah makan malam. Jadi shalat isya adalah sebagai pengingat akan sebuah proses kehancuran jasad di dalam tanah yang dimakan malam oleh jasad renik. Waktu penguraian memang panjang. Sebagaimana pula waktu Isya begitu panjang.

Janin dalam rahim ...............

Masa menjelang subuh (fajar shodik) diibaratkan dengan proses janin dalam perut ibu menjelang kelahiran. Makanya, ada pula orang yang bangun malam di sepertiga malam ini. Ia diisi dengan olah fikir, dzikir baik badan maupun hati kepada Allah Yang Maha Besar (shalat tahajud). Pekerjaan sepertiga malam ini sebagai pengingat akan proses menuju kelahiran jiwa yang mulia.

Ya Allah, semoga saya, keluarga, dan siapa saja, bisa mengakrabi dan merasakan proses siklus waktu, dan siklus matahari sebagai bagian dari diri kita.

 

Wallahu a’lam.

 

Tentu saja artikel ini bukan untuk menyuruh Anda mengikuti pendapat ulama ini. Bagi yang tidak suka mengerjakan shalat pasti memiliki argumentasi yang tidak kalah canggih dengan paparan ulama yang saya kutip. Yaa maklum saya hanya seorang santri (pelajar) belum bisa bikin teori sendiri. Istilahnya masih taklid. Habis kalau taklid enak sih tidak susah-susah berteori…

  1. Subhanallah…

    Mantapz sekali pembahasannya Pak…

    Kira2 apa makna filosofis bilangan2 rakaat itu ya Mr. Kurt?
    Apakah jumlah 4 rakaat diberikan untuk masa2 paling kritis dan rawan, yaitu masa muda adalah masa yg kritis (dengan segala prospek “kehitaman”-nya) begitu juga masa “persiapan kematian” dan “pasca kematian”.

    Terima kasih…artikel Mr. Kurt selalu mencerahkan.

    ————
    terima kasih mas deKing, tentang filosofi shalat dengan rokaatnya saya lagi cari sumbernya nanti Insya Allah tak publish…

  2. Selalu saja ada hal yg menarik seputar sholat.
    Dahsyat, ustadz………..!

    ————–
    iyaa dan selalu saja kalau ulama yang menulis itu menarik.. saya hanya memahami filosofi ulama tersebut… aku tukang utak-atik kabel mas bukan ustadz… salah panggil … heheh🙂

  3. Menarik dan mencerahkan tulisannya pak…

    Salam kenal, orang baru saya nih…

    #Maksudnya baru nyinggah pak# 🙂

  4. Wow, kereeeen! Saya sangat mendapat pencerahan, ilmu, wawasan, dan pengetahuan yang baru bagi saya.

    Nah, bentuk tausyiah or dakwah seperti ini yang jarang saya dapat. Terimakasih, mr Kurt (Sang Kyai dari Buntet Pesantren, yang terkenal. Kapan-kapan, insya Allah, saya jadi pengen bertemu ke sana).

    Dengan baca artikel ini, saya tahu arti siklus hidup manusia, arti dan makna sholat ditinjau dari pergerakan matahari, yang dianalogikan dengan siklus hidup manusia, sebuah uraian filosofis yang mencerahkan.

    Oh, iya. Tentang uraian duha, sebagai masa pertumbuhan, masa anak-anak. Saya mau berpendapat nih, boleh ya mas?

    Memang betul di waktu ini (duha) tak ada kewajiban sholat. Tapi ada sholat sunat Duha, yang katanya dapat mengundang rizki yang Allah berikan pada manusia, dengan segera. Mungkin, bila dianalogikan dengan masa pertumbuhan (anak-anak), bila anak-anak mau belajar dan mengerjakan sholat + menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh di masa ini (walau tidak wajib), maka ia akan mendatangkan berkah bagi kedua orang tuanya (bukankah ini juga rizki yang lezat bagi kedua orang tua? Rizki yang datangnya tak diduga tak disangka. Seperti salah satu faidah dari sholat duha. Maaf bila salah mr Kurt. Hehe… :D)

    Terus mengenai waktu-waktu sholat, di artikel ini dituliskan dengan jelas jam-jamnya (misal Maghrib jam 6-7 pm). Menurut saya tak usah ditulis (karena waktu-waktu sholat ini relatif berbeda. Misalnya untuk belahan bumi utara, ketika musim panas, sholat maghrib itu bisa jadi jam 10 pm). Begitu juga dengan waktu-waktu sholat lainnya. Saya lebih setuju, cukup dituliskan ciri-ciri waktu sholat itu. (Misal waktu maghrib di kala matahari tenggelam, warna kemerah-merahan matahari). Begitu juga untuk yang lainnya.😀

    Ya sudah segitu saja dulu komentarnya. Saya tunggu pencerahan/pengajian berikutnya. Hehehe…😀

  5. Perjalanan hidup seperti perjalanan waktu sholat .. ada jedah dimana kita bermunajat kepada Nya .. agar kita tidak terlena. Good job bro.

  6. Pak Santri, ditanggung yahud dach !

  7. pakkkkkkkkkkkk, boleh di copy paste gak ke milis nih….minta ijinnya, makasih..wassalam

  8. Salam….
    Abzay.wordpress.com
    PINDAH ALAMAT ke:
    SANGGARDEWA.WORDPRESS.COM

    sangat menarik dan mencerahkan

  9. Assalamualaikum, Lam kenal

    Duh saya ga bisa lama-lama baca ne, lum bisa kasih komentar. Terus, mungkin mata saya yang kondisinya kurang baik jadi pedih terkena cahaya hijaunya.

    Permisi ngopi ya, terimakasih🙂

  10. Simpan. Buat bekal ramadhan. Met menanti bulan suci. Semoga kita bisa menjumpainya

  11. @mathematicse
    Sejujurnya tulisan ini untuk saya, karenanya saat menulis, saya malu sendiri karena selama ini saya tak menyadari shalat itu sendiri. Tapi memang seorang ulama salaf, filosofis sekali saat berbicara dan menulis. Karena itu, maka Ulama penulis Bujairimi inilah yang telah mencerahkan kita2.

    Sitop! jangan bilang saya kyai. Kalau saya muridnya pak kyai di pesantren benar sekali. Saya berprofesi tukang utak-atik kabel…… Karena Pak Kyai sibuk mengajar, maka saya tulislah ilmu2nya Pak kyai di sini…🙂 begitu kang Jupri calon matematikawan handal Indonesia…🙂

    @erander
    Aku terinspirasi dari tulisan sampean, biar jangan malas gimana gitu… ?

    @Vino
    Enak aja aku dibilang Yahudi…. (pssst…. pura2 bego)🙂

    riza
    Silahkan riza, mengkopi paste, sebebas menghirup oksigen …..

    sanggardewa
    Hooi indah nian webnya Bib, aku suka banget… tulisanya menarik, apalagi puisi2nya aku berkomentar berkali2 tapi eror terus… Maafin ya Bib…

    Puan
    Atuh boleh perempuanNya… aha jangan2 ini Puan Maharani …. ????

    madsyair
    Kaya deposito aja pake disimpan..

  12. memang sih kang, terhadap diri kita mana ada yang setia menunggu. kekasih? kalau dia mati pasti pergi meninggalkan kita, begitu juga orang-orang yang kita cintai begitu mereka tidak ada kita akan sendiri lagi. Dan yang paling setia menanti untuk selalu bersama kita hanyalah ” Sang Mauuuut”. lama kelamaan kita juga akan musnah. heeeegee

    @sang maut
    hidup sang maut adalah memauti semua yang hidup… wah mantap sekali ajaran sang maut ini…

  13. hikmah tuh luaaas,semua boleh berfilosofi sendiri2,baik tu ulama/kyai/org biasa/mukmin/kafir,kebenaran tuh mutlak bagi bagi siapapun tergantung kapabilitas @ org menerima pancaran hidayahNya,trmsuk filosofi karya al bujairimi ini,beliau dgn meinterpretasikan ulang cahayaNya kpd qta, alhamdulillah, jazakallah khair abadan abadaa, mr.kurt thanxs,Allah bless u fiddaroini, amiin.

    @erick_sambel
    waduuh sang penggemar sambel jika bicara sangat khas… nice comment sir!

  14. luar biasa mas,, saya baru taw.
    btw ada lho nomor telp surga 42443

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: