dadiwongenomblikenasobud

Puaskah dengan Puasa?

In bergumam on 14 September 2007 at 5:14 pm

Tak bisa dipungkiri, orang yang berpuasa karena semata-mata mengikuti ajaran agama. Tidak lebih dari itu, sehingga setiap orang yang merasakan puasa dan bisa terlaksana dengan “sempurna” tanpa batal dan tanpa ada kendala selama sebulan penuh, niscaya, merasakan adanya guratan kebahagiaan yang luar biasa. Seakan dengan puasa rohani kita bisa berpuas-puas dengannya.

Puasa bagi sebagian kalangan yang “khusus”, merupakan sebuah ritual yang biasa. Puasa dipandang sebagai bagian dari hidup itu sendiri. Bagaimana mungkin mau berpuas-puas, wong kelangkaan suku cadang kehidupan yang bisa dimakan setiap hari kini sulit dan berharga mahal. Sementara alat barter untuk membeli suku cadang kehidupan itu pun tak bersahabat akhir-akhir ini.  Ya sudah daripada mengeluh di depan manusia mendingan dikeluhkan saja padaMu Ya Robbi. Sementara Tuhan Maha Kasih itu berfirman: “puasa itu untuku, aku yang akan memblasmu”.

Para pemuas puasa lain lagi cara ritualnya. Justeru berpuas-puas di malam hari, karena di saat kepuasan siang hari menurutnya direnggut oleh Tuhan. Otomatis, sore hari dan malamnya justru dipuas-puasin dengan memborong apa saja yang bisa menjadi pemuas. Sehingga tidak mustahil, belanja makanan di bulan Ramadhan itu melebihi quota dari pada hari-hari biasa. Dia benar-benar merasakan kepuasan makanan justeru pada saat puasa.  

Pasar tumbuh justeru di bulan puasa. Ekonomi bergerak justeru di bulan puasa. Si tukang parkir yang biasanya memarkir seribu, kini memasang tarif 2000 untuk motor yang parkir di pasar sebab makin membludak saja pasar selama ramadhan. Dari pedangan pembeli dan tukang parkir, kini merasakan kepuasan di wajahnya justeru di bulan puasa.

Malam hari, saat euforia awal romadhon begitu memuncak hampir pasti masjid2 di wilayah ku penuh sesak hingga blaratan ke jalanan. Rupanya mereka berpuas-puas pula melangkahkah kakinya untuk bertawajuh kepada Allah swt meskipun dengan berjejalan di jalanan. Entah bagaimana, di akhir-akhir puasa, justru kepuasan bertaraweh itu melemah di sebagian kalangan. Tidak mustahil masjid dan tampat shalat itu menjadi sepi hanaya seberapa baris saja. Ini rutin sekali, dan belum ada penelitian ke arah ini.

Jika puas untuk mencari kepuasan, sementara kepuasan puasa dinikmati dengan menjejer beraneka makanan di saat berbuka; atau kepuasan shalat dinikmati dengan berjejal barisan di awal ramadhan namun di akhir makin kendor, lalu kepuasan semacam apakah itu… ? Aku bukan penulis tapi akulah si objek tulisan ini… how to taste with ramadhan taste… ?🙂

  1. Kalo dipuas-puasin dengan segala macam makanan ruhani, bagaimana pak Kurt…..??

    Sempena (berkaitan dengan) datangnya bulan Ramadhan, sebaiknya dilupakan dulu ulah para hacker yang lagi seneng iseng nge-hack website pesantren buntet.

    Dan dari negeri seberang laut (yang katanya serumpun, tapi kadang “nyerimpun(g)”) ini, saya haturkan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga rahmat dan maghfiroh Allah mengalir deras mengiringi ibadah kita di bulan suci ini.

    @faiq
    rumpun yang suka nyerimpun(g) biasanya para petani dibabat kang, tapi berhubung lagi puasa yaa sebaiknya jangan dan mungkin seterusnya …

  2. Dalam keadaan berpuasa tetapi menjelang berbuka menyiapkan berbagai macam makanan secara berlebihan untuk memuaskan segala nafsu makan yang ada … ah ironis sekali.
    Bahkan menahan nafsu selama sekitar 12 jam saja tidak begitu kuat, buktinya saat berbuka langsung melakukan aksi balas dendam makan dan minum sepuasnya. Benarkah itu sudah benar2 bisa berpuasa lengkap dengan segala penyerapan esensi yang ada? Ah saya rasa tidak…

    BTW komentar saya ini hanya mencerminkan sosok dan keadaan saya pribadi:mrgreen:

    @deKing
    hahah cerminnya pinjem dong

  3. andai bulan ramadhan tak pernah ada… apa yang diutarakan kang tubi tak bakalan ada… karena apa yg diutarakan kang tubi diatas pun efek domino dari adanya ramadhan… bener ga kang?? tapi kalo andai semua bulan itu bernama ramadhan maka efek domino seperti itu pun tak bakalan ada…

    @izoruhai
    kalau semua bulan Ramadhan… mana tahaaaann…🙂

  4. hehehe, met puasa aja deh…

    @cewektulen
    hi cewek betulan yang gak bikin klalen.. met puasa juga

  5. itu terjadi mungkin karena kita lebih mengenal puasa terhadap haus dan lapar dibanding dengan puasa yang lainnya….

  6. yah…kadang malam hari sebagai ajang balas dendam

    @peyek
    hahah iya mirip film2 silat ye…

  7. Wah kalau saya coba amati si ada sebuah kesalahan yang terjadi pada sekeliling kita. mengumpulkan makanan untuk berbuka misalnya. Saya sih lebih menyebutnya sebagai habbit (kebiasaan).

    Memang pak Kurt, seharusnya rohani ktia yang puas karena dalam ramadhan semua yang kita lakukan bernilai ibadah (ya tergantung niatnya juga sih). Jadi tanpa dihitung pun sudah jelas apa balasan dariNya. Apalagi ada janjiNya kita akan diampuni, wah ini anugrah terbesar ramadhan saya pikir.

    kalau dari aspek ekonomi, yang biasanya terjadi inflasi (salah ga ya tulisanya) itu juga sudah hukum ekonomi, semakin tinggi permintaan semakin tinggi harga jual barang. Kesulitan ekonomi masyarakat kita untuk memiliki penukar barang, ini juga kaitannya dengan kemiskinan, bukan karena ramadhannya. Kerja tidak tetap namun sibuk dituntut memenuhi kebutuhan lebaran. Lho siapa suruh pusing memikirkan lebaran dengan berbagai barang-barang? Allah tak menyuruh toch.

    Ucapan syukur itu sudah cukup bagiNya.

    Kalaupun semua tergambar mendapatkan untung pada ramadhan. Mulai dari pedagang, tukang parkir, tukang becak dll, itu adalah berkah ramadhan yang disebarkanNya. Bagaimana memanfaatkannya kan diserahkan pada manusia.

    Semoga kita termasuk manusia yang memiliki keberkahan ramadhan, lahir dan batin yah.

    Wah diakhir aku ko jadi bimbang dengan komentarku ya pak Kurt,🙂, sudah terlanjur ditulis, biarkanlah

    @perempuanNya
    mendengar nasehat perempuanNya, aku sambil merem-merem menikmati adeem sekali…. semoga tetap adem di sisi perempuanNya?

  8. Tulisan keren… tapi kok:
    Aku bukan penulis tapi akulah si objek tulisan ini…
    trus penulisnya siapa?🙂

    btw menulis atau bicara memang sulit, ide bagus untuk menekankan bahwa…
    Aku bukan subjek tapi akulah si objek tulisan ini…
    di setiap akhir uraian kata yang kita hasilkan, entah ini harus diucapkan atau nggak, coz penulis juga manusia🙂

    @Riza — 12 lost
    maklum tulisan (kere)n jadinya penulis sama yang ditulis sama2 sudah janjian…

  9. Ramadhan memang indah dengan berbagai aspeknya pak kurt….
    Ah mungkinkah aku sampai pada ramadhan lagi?….

    @kangguru
    tersisak-isak …. berharap bisa nyampe ke ramdhan lagi…

  10. Tapi tidak ada larangan… jadi terus isi perut untuk pengganti kelaparan fisik 13 jam lebih berpuasa. Lalu bagaimana dengan nasehat sepertiga diisi air, sepertiga diisi makanan, seperti tiga lagi dibiarkan kosong….

    @agorsiloku
    hmmm ternyata memang kita suka lupa dengan pecahan angka 1/3

  11. xwoman
    yup! itulah yang kadang masih menjadi favorite shoum…

  12. Yang saya lihat, terutama di Jakarta, justru puasa hanya menahan lapar dan haus. Kondisi ini makin terlihat saat jam-jam pulang kantor, pengendara saling menyerobot, jalur busway pun dilewati mobil pribadi (hari Kamis kemarin)….padahal puasa kan tak sekedar menahan lapar dan haus.

  13. Saya rasa, lebih enak membiasakan puasa diluar ramadhan.
    Karena saya biasanya mikir setelah makan, begini:
    Kenapa saya nggak puasa untuk menahan apa yang seharusnya saya tahan? Makan, mata, dll.
    Nikah belum mampu, penghasilan ga teratur, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: