dadiwongenomblikenasobud

Energi Getaran dalam Hati

In Ibadah, Modernisasi, Tokoh, Uncategorized on 26 October 2007 at 9:53 am

hati yang bergetarApa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.

Konon, energi terpancar melalui getaran. Manfaatnya dapat memberikan tenaga gerak pada segala sesuatu. Misalnya matahari sebagai sumber energi. Getaran hasil reaksi fusi di dalam matahari mampu memancarkan foton-foton yang membentuk cahaya. Lalu ia mampu menumbuhkan tanaman. Kemudian daun-daun hijau (klorofil) menghasilkan oksigen. Gerakan oksigen yang terpancar di udara inipun kemudian dimanfaatkan manusia dan mesin-mesin untuk bernafas sehingga menggerakan energi berikutnya.

Getaran Listrik juga demikian. Gaya gerak listik (GGL) yang tercipta dari hasil fluktuasi magnet pada generator menghasilkan ion positif dan negatif. Dari keduanya kemudian mengalir dengan deras ke selang-selang kabel sehingga mampu menghidupi mesin-mesin listrik dan lampu-lampu. Sehingga dunia menjadi ramai dan memakmurkan penduduk bumi.

Bunyi-bunyian tercipta dari getaran. Suara yang keluarkan mulut seseorang, dihasilkan dari getaran pita suaranya. Lalu udara sekitarnya bergetar dan gelombangnya ditangkap membrane dalam genderang telinga sehinggalah segala ucap dimengerti. Begitu pula suara yang dikeluarkan dari audio stereo digetarkan oleh membrane yang terdapat dalam speaker dan digetarkan ke udara lewat foton dan ditangkap lagi oleh genderang telinga yang bergetar. Sehinggalah dari getaran ini pula semua kata/lagu dimengerti.

Keimanan (rasa beragama) juga timbul dari getaran. Getaran ini mirip gelombang sinus istilah Nabi saw: kadang yazid kadang yankus ( naik turun). Namun demikian seperti contoh di atas, orang masih ada keimanannya (rasa keberagamaanya) saat waktu kritis pun masih maumengerjakan misalnya shalat. Getaran sosial pun juga. Ketika melihat ada tetangga membutuhkan, ia tergerak untuk membantu tanpa ingin dipuji atau semisalnya. Bagi pemimpin yang bergetara rasa keagamaanya, ia tidak mau sedikitpun untuk korupsi dan lain-lain.

Dalam sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan kalimat: “wajilat qulubuhum” hati mereka bergetar. “waidza tuliyat ‘alaihim ayatuhu, zaadathum imaana”, kemudian jika dibacakan ayat-ayat (al qur’an) bertambahlah keimanan mereka. Dengan demikian, adakah hubungan yang signifikan antara getaran hati dengan rasa keberagamaan seseorang ?

Boleh jadi, rasa beragama merupakan citra yang didapat hasil dari bergumulnya keagamaan seseorang dalam kesehariannya. Namanya rasa, ada rasa manis, pahit, asem atau getir. Nah, karena agama bersifat meruhani tentu saja rasa ini pun sifatnya ruhani. Ternyata, jika dirunut-runut, rasa beragama ini bermula dari getaran hati karena reaksi pada dzikir kepada Allah. Misalnya pada ayat di atas, “jika mengingat akan Allah, hatinya bergetar.”

Sebagai contoh kecil, Misalnya pengalaman yang mungkin menimpa saya, Anda, teman saya atau siapapun. Pernah suatu ketika saat hendak mengerjakan shalat ashar namun waktu sudah mendekati finish (maghrib). Ketika mendengar atau melihat jam sudah setengah enam, saat itu, di musholla/Masjid terdengar pengajian menjelang maghrib. Kondisi di jalanan tengah macet luar biasa. Lalu dipaksakanlah mampir di masjid untuk segera mengerjakan shalat karena khawatir tidak kebagian waktu. Meskipun mengerjakan shalat ashar itu menjelang maghrib, maka konon, siapaupun orang ini dalam hatinya masih mampu bergetar. Padahal itu hasil mendengarkan pengajian dari speaker atau saat melihat jam tangan.

Bayangkan jika tidak ada getaran dalam hatinya, jangankan mendengarkan suara pengajian, mendengar adzan saat waktu shalat tiba saja mungkin tidak akan memperdulikannya. Apalagi menjelang waktu shalat hampir selesai. Kadang terdengar ungkapan: “Masa bodoh ah!”, “baju saya kotor” atau ungkapan “nanti saja lah shalatnya” dan seterusnya. Tuhanlah yang mengetahui getaran sehalus apapun yang dipancarkan oleh Hati manusia. “Inaallaha alimun bidzatissuduur” (Allah mengetahui getaran yang dihasilkan oleh hati manusia).

Nabi saw, adalah contoh yang paling hebat getaran hatinya. Diceritakan dalam berbagai versi hadits dimana Rasulullah saw shalat malam hingga menjelang subuh. Dengan rakaat yang panjang-panjang dan seringkali menangis. Hingga pada saat hampir masuk waktu subuh, sahabat Bilal bertanya: “Ya Rasulullah, mengapa Anda menangis bukankah Anda orang yang dijamin Allah masuk syurga.” Lalu Rasulullah saw menjawab: “Aku belum menjadi hamba yang bersyukur”.

Shabahat Ali kw, saat mendengarkan adzan berkumandang, muka beliau pucat karena akan menghadap Allah SWT. Kemudian cucunya, Ali Zainal Abidin, saat setelah berwudlu, mukanya pucat sekali. “Mengapa tuan mukanya, pucat?” tanya seseorang. “Bukankah kita akan menghadap Allah SWT (shalat).” Jawab beliau.

Akhirnya, getaran frekuensi merupakan gejala alam (sunnatullah) ini berlaku kepada alam makrokosmos. Demikian pula alam mikrokosmos seperti atom. Di dalamnya terdapat elektron yang senantiasa bergetar tiada henti. Alam jiwa seperti hati yang kita miliki pun terus-menerus bergetar yang getarannya mampu mencapai Arasy… Wallahu a’lam.

———-
Terima kasih kepada kang Deking yang telah memberikan ilmu tentang getaran… sudah lama ngobrol dan nulisnya, tapi tulisannya hilang baru ketemu semalam, diperbaiki langsung posting.

—— update ——-

Baru saja temanku datang dan menceritakan isterinya yang ada di Perancis. Peristiwa ini ada kaitannya dengan tulisan ini. Hati yang bergetar, sekaligus lucu.

Saat waktu shalat wajib hampir habis. Situasi di sekitar menara Eiffel cukup ramai. Orang hilir mudik ke sana-kemari. Isteri kawanku itu tidak bisa mencari mushola atau masjid yang dekat. Karenanya ia dengan sesegera mungkin mengambil air wudhu di pancuran yang terdekat. Kemudian menggelar sajadah di rerumputan taman sekitar Menara Eiffel.

Sungguh di luar dugaan, dalam hatinya ia tertawa geli. Sebab orang-orang yang lewat melemparkan uang recehan di atas sajadah.

  1. Tulisan yang bagus. Saya jadi tergelitik untuk menanyakan tentang hati karena itu yang menjadi inti tulisan ini.

    Dalam kasus di atas, hati itu menjadi pembangkit (generator) energi atau hanya merupakan penyalur (konduktor) energi?

    ———–
    @Kang Kombor
    Kalau menurut Kanjeng Nabi saw, sepertinya, hati itu ibarat generator jika arusnya kegedean, yaa semua aliran listrik tubuhnya kacau balau. Sebaliknya juga berlaku. Kalau tidak salah bunyi haditsnya: “idza fasada, fasadat kulluhu waidza sholuha, sholuhat jasaduhu..” alaa wahiyal qolbu.

    tapi dari kasus di atas, sepertinya konduktor juga bener.. sebab ia mengantarkan aliran getaran dari apa saja… atau bisa juga kang hati itu adalah : menangkap sinyal dan memancarkan kembali. gak tahu ah, kang lagi pengen sok ilmiyah!🙂

  2. Kupasan yang bagus, pak. Saya jadi merenung sepertinya banyak yankus-nya ketimbang yazid. Semoga saja tidak semakin turun😦 harus di-charge lagi sepertinya.

    ———–
    @indra kh
    Yang jadi masalah chargernya beli di mana nih pak yang bagsu… saya juga butuh nih charger yang bagus…🙂

  3. Weleh3X, salut3x. Ini yang namanya ilmu kontekstual, mengaitkan perilaku keimanan dengan konteks keilmuan. Ya, ya, ya, saya kira hanya manusia yang masih memiliki kepekaan yang mampu bergetar ruh dan hatinya. Coba baca ayat2 Alquran di telinga para koruptor, masih bisakah bergetar ruh dan hatinya:mrgreen: OK, salam.

    ————-
    @Sawali Tuhusetya
    mungkin kira² getaran hatinya jika diosciloscope muncul sinus begini: ketangkep …. gak! ketangkep …enggak!.. ketangkep enggak!.🙂

  4. ilmiah sekali ya.hehe

  5. perlu dikaji lebih lanjut neh
    menarik🙂

  6. Getaran hati. Menarik sekali postingannya.

  7. @ Bachtiar
    ilmiah??? tq.

    @’K,</b?
    haha… aku mo datang ah ke majlis ta’lim ‘K,

    @Hanna
    kalau Hanna lewat, dijamin tak kalah menariknya.🙂

  8. hati saya kok bergetar saat berkenalan dengannya pak hehehhe

  9. kangguru
    sama pak, bahkan sampai sekarang getaran itu masih terasa jika mengingatnya yaa.. heheh🙂

  10. Semua ada karena getaran……..🙂

  11. lagi ga mut nih…
    saya lebih tertarik dg MACARONI nya
    di Bogor ada tuh Macaroni Panggang, lumayan enak buat org yg ga bisa masak kaya saya

    *halah, koment nya ga mutu! ga nyambung! ma’ap…*

    btw, crita ttg menara eifel nya sgt menghibur…;))

  12. sampai sekarang aku sedang mencari getaran hati tersebut, persis yang seperti anda sebutkan, getaran ketika pada waktunya kewajiban harus ditunaikan,
    namun jujur, terkadang godaan-godaan masih sering melemahkan getaran tersebut hingga tak terasakan. diwaktu yang lain terkadang getaran itu muncul begitu kuat sehingga aku akan segera pergi dan memenuhi panggilannya.
    aku igin getaran tersebut bisa selalu terasa. tunjukkan aku caranya pak!!

    ———
    D: dalamhati
    kalau saya tahu, hati saya akan bergetar terus… jeh..🙂
    kata guru saya: nikmati saja sekecil apapun getaran itu…

  13. ada satu getaran yang saya jadi susah Pak
    kenapa kalo ketemu wanita cantik hati jadi tergetar😳 & sering terbawa samapi rumah hehehe
    mohon cara buat ngilanginnya Pak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: