dadiwongenomblikenasobud

Belajar “Ekonomi” lebih Sulit dari Agama

In Celotehan, Ibadah, Pendapat on 4 November 2007 at 7:49 pm

)Siapa bilang belajar “agama” itu sulit. Cukup singkat bahkan hanya beberapa menit saja. Namun prakteknya seumur hidup. Bandingkan dengan belajar Ekonomi misalnya, apalagi  matematika sosial atau matematika filsafat, lebih-lebih teknik pasti sulit.  Waktu belajarnya lama, tapi prakteknya kadang tidak terpakai.

Contohnya dalam Islam belajar berwudu paling memakan waktu 1 menit, shalat 2 menit dan puasa cukup dikasih tahu teorinya yang berjumlah dua saja: niat dan menahan lapar dari fajar subuh hingga sore hari (maghrib). Lalu kenapa yang disalahkan kurikulum?

Artikel pada portal ini  dan komentar dari Bang Aiptop yang lagi buka-bukaan di ruang publik, sungguh menggugah saya untuk memposting ini. Meskipun postingan ini memang remeh temeh bagi Anda tapi yaa daripada gak posting karena ditanyain oleh bocah Grage yang lagi males posting katanya.

Kembali ke Lapotop

Saya kira, dalam agama lain pun sama saja. Tidak perlu berhari-hari belajar tentang agama itu. Misanya cukup datang ke gereja diarahkan dan disyahkan sebagai pemeluk agamanya. Tidak ada yang menjadikan kesulitan dalam mempelajari suatu agama. Bila dibandingkan dengan belajar kuliah “eknomoni” misalnya, tentu memakan waktu ber-tahun-tahun. Bahkan anda akan dianggap gagal pada salah satu mata kuliah karena tidak disiplin dan tidak memenuhi target. Dalam agamanya apanya yang sulit.

Agama dalam pengertian ibadah itulah yang saya maksud. Namun agama sebagai pengetahuan itulah yang kemudian disinyalir banyak terjadi silang sengketa. Namanya pemahaman pasti saja terjadi silang sengketa. Ini mirip dengan mata kuliah yang dikaji dalam kampus-kampus. Berbagai jurusan mewajibkan para mahasiswa agar mendalami perkuliahan dengan masa waktu yang tertentu. Masing-masing mahasiswa dituntut kecerdasanya untuk menguasainya agar bisa lulus dengan menghasilkan karya ilmiyah yang akan berguna bagi masyarakat.

Lalu apakah dalam agama perlu kecerdasan? Saya kira tidak! Orang “bodoh”-kaya apapun pasti bisa mengerjakan shalat, puasa atau berhaji. Misalnya berhaji, asal ada uang dan kemampuan fisik pasti bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah bagi umat Islam. Bahkan orang sakit pun shalat tidak dituntut untuk berdiri bahkan tiduran pun bisa bahkan tidak mengucapkan apa-apapun juga bisa sah shalat tersebut. Demikian juga bagi agama lain. Gara-gara sakit apakah kemudian dicap keluar atau gagal menjadi agama yang dipeluknya? Lebih praktis lagi, jika di KTP saja tertulis salah satu agama, maka orang tersebut tidak keluar dari agamanya.

Kecerdasan agama letaknya dimana? Saya kira kecerdasan itu terletak pada akal, sedangkan keimanan pada hati. Menurut saya, agama akan lebih manfaat jika ditanam dalam hati. Sehingga timbul orang yang berhati-hati: saat berbicara, bertindak, bergaul, bertingkah laku dan seterusnya. Sebab hati yang adem, akan bisa menghargai orang-orang di sekitar kita. Emosional akan terkikis, nafsu serakah akan terjungkal bahkan kejujuran akan bersemi terus menerus dalam hati. Sedangkan jika agama diletakkan di dalam akal saja, silahkan lihat fenomena ini: timbul silang sengketa, kafir mengkafirkan, perang ayat, perang keangkuhan, perang madzhab.

Akhirnya, menurut saya “agama akal” sangat bermanfaat untuk mengatur tatanan keduniaan saja dan itu sudah diaplikasikan dalam ilmu pengetahuan. Sementara “agama hati” lah yang akan mengatur tingkah laku, kejujuran, kedamaian dan ketentraman. Karena di dalam hati, rasa dan perasaan, empatis dan menghargai pihak lain akan ditempa.

Buat apa berlabel atau berbaju agama namun nilai religiusitas agama itu sendiri sirna dalam individu. Jika Indonesia kedepan masih tertarik dengan pamer pameran agama, maka tidak beda dengan para “selebritis” yang suka berbaju bagus dan dibeli dengan label made in negara sono….. Saatnya agama diletakkan dalam hati jangan di pikiran saja. Stress nantinya dan mencari-cari guru spiritual yang suka memamerkan pengetahuan agamanya baik dalam obral “ayat” maupun obral “baju”. Itulah yang disebut kecerdasan agama? Ah mbauh ga ah.

Kalau menurut Anda bagaimana?

  1. kenyataanya demikian..
    masalahnya ekonomi tu itung itungan mulu
    😀 mad man
    kalau ekonom g itung²-an bisa “buntung” dong bos……

  2. Justru (mungkin) karena (dianggap) mudah jadinya lebih memilih untuk menyepelekannya.
    Kalau ibadah hanya sebatas seremonial dan ritual sesaat mungkin dengan paksaan memang benar tidak akan terlalu sulit, tetapi implementasi nilai2 dan makna2 ibadah itu yang sepertinya sulit.
    😀 deKing
    huuh filosofis sekali kang…

  3. Agama itu pelajaran paling susah, Mas Kurt.
    Susah dalam arti mengalahkan hawa nafsu itu sendiri. Mempratikkan, menjalankan ibadahnya itu yang sering disalah artikan.
    😀 Hanna
    masa sih Ci, nah kalau urusan ngalahin hawa apalagi nafsu hmmm maunya kita malah ikutan tuh heheh …

  4. *bertanya dulu kepada hati*
    😀 NuDe
    ditunggu jawabnnya yaa

  5. Jadi… dimana letaknya kesalehan beragama ?, mengobral ayat, menghabiskan waktu untuk ibadah, ataukah menjadikan seluruh perilaku dunia menjadi bagian dari prosesi ritual keberagamaan.

    Menjadikan kerja menjadi ibadah, menjadikan saat meneliti adalah ibadah, menjadikan tindakan ekonomi yang dilakukan ibadah?….😀
    😀 agorsiloku
    wah hebbat ibadah that all

  6. Pada dasarnya, belajar apa saja kita bisa, bahkan ada orang yang ‘belajar’ jadi Tuhan. Yang susah mempraktikkan apa yang dipelajari. Saya jadi terseret-seret senang kesini. Sampeyan tu belajar filsafat dari mana sih, Maz Kurt? Aku jadi nyesal ngak pernah belajar di Pesantren. Ternayat bisa berpikir begitu terbuka ya. Salam menulis.
    😀 EWA
    hahah nyesel kenapa bang, justru aku yang nyesel gak bisa jadi dosen kaya bang EWA sampe pinter nulis dan bikin virus itu…

  7. Huehehehe…. saya jadi inget dulu kuliah belajar fungsi matematis biaya:
    “Fungsi biaya pada sebuah perusahaan mengikuti pola kurva y\:= \: 2{x}^{2} \: + \: 4x \: + \: 3 . Berapakah x, agar biaya menjadi minimum?”

    Haaalaaah… capek2 belajar seperti itu, selama saya kerja jadi satpam itu ilmu belum pernah terpakai! Huehehehe….😆
    😀 Yari NK
    hahah kerjanya jadi “satpam” sih yaa kang jadinya gak guna… coba deh kalau jadi tukang ngitung pasti puyeng kali hehehe

  8. Ya belajar agama memang mudah. Sekedar “mempraktekkannya” mungkin juga mudah. Tapi, yang susah itu adalah mengamalkannya.

    Ya mengamalkannya. Btw, mengamalkan itu sendiri apa ya? Tuh kan susah…😀

    @Yari NK: sekarang setelah ada blog, Pak Yari kan sering memakai ilmunya bukan? HEhehe…😀

    😀 mathematicse
    upss.. praktek sama mengamalkan emang beda kang?

  9. obral ayat dan obral baju…😆
    😀 caplang™
    mau beli berapa bos??

  10. Wuih, kalau menurut saya Mas Kurt, perlu ada sinergi antara “agama akal” dan “agama hati”. Tujuannya? Yak, agar ilmu agama tidak mati dan terus mengembara di hati manusia dengan cara2 yang logis dan tidak bersifat dogmatis.
    😀 Sawali T
    dogmatis juga penting bos, tapi yang dilandasi logika dan terbuka gitu .. bukankah sesuatu yang terbuka semua laki2 senang *husss*😀

  11. yang susah kalo ngak sinkron antara hati dan akal dan biasanya akal yang menang dan selalu punya alasan…. kalo untuk hati susah bikin argumentasinya pak
    😀 kangguru
    hahaha hati gak pake argumen betul banget tapi diam-diam makan ati heheh🙂

  12. aku sih kayanya manut wae sing penting bener menurut akal & hati he he he
    😀 castono
    hei Pak Lurah makasih diintip webku… kapan nih saya diundang makan sama pejabat heheh🙂

  13. Saya jadi teringat dengan salah satu sabda rasulullah,”Agama itu mudah…” (Kelanjutan dan kualitas perawiannya saya belum tau nih).🙂

    Seringkali kita atau sebagian dari kita saja yg mempersulit (menyulit2kan) diri sendiri. Bukankah ada kisah di Al-Qur’an (surat al baqarah) tentang orang2 yang mempersulit (mencari2 alasan mengelak) kewajiban agama, lalu akhirnya Allah benar2 mempersulit baginya agama itu. CMIIW.

    😀 Herianto
    ah kang Heri masih aja sih kena “sindrome” Hadits… padahal kita kalau mengutip pendapat Einstein gak pernah nanya siapa perawinya shoheh enggak….. hehehe🙂 Hadits meskipun doif kan sam2 dari Nabi saw asal bukan yang berkaitan dengna ibadah mahdoh dan akidah…

  14. Sayangnya walau lebih mudah dipelajari, masih banyak yang sulit memahami sehingga sering salah paham.
    😀 imcw
    iyaa aneh yaa, (ups padahal aku termasuk itu loh)

  15. setuju bro, agama diperlukan hati yang ikhlas dibanding kecerdasan, jika hati ente ikhlas niscaya lebih cepet anda memahaminya. Jadi belajar agama lebih utama faktor bathinnya.

    😀 Abi Bakar
    membatin se-x komentarnya, TQ.

  16. Ukuran sulit atau tidaknya tergantung masing2 individu. dalam hal ini saya setuju dg pak abi bakar. Jika yg dipelajati dalam agama baru syariatnya saja, mungkin gampang tapi bila yg dicari bukan lagi sekedar pelaksanaan tapi meningkat pada hakikat beragama, tentu akan sangat sulit, apalagi dg iman yg tipis. Klo ekonomi kebalikannya, awalnya susah, tapi bila sudah menguasai, ilmunya kepake terus! Alternatifnya > Ekonomi Islam!

    :D benbego
    hakikat beragama duuh dalem sekali yaa… inikah yang sulit???

  17. wah…jadi ingat sewaktu nyantri dulu..
    mondok itu sulit kang!

    dulu ikutan ngaji surat An-Naas, nggak khatam-khatam, rujukannya banyak sekali..

    salut bagi yang nyantri
    eh… ndilalah ada yang ngaku nabi!

    😀 peyek
    hahah kang peyek bisa aja dlm bertawadlu itu mah kelas tinggi namanya kang…

  18. untung saya smk…
    jadi gak belajar ekonomi..
    😀 myresource
    wah jadi pinter dong agamanya..🙂

  19. Setelah saya baca secara detil, ternyata emang betul juga pak. Selama ini anak” kita dijejali pelajaran dunia yang nanti nya belum tau akan terpakai atau tidak. tapi kalau kita belajar agama, sekali belajar pasti terpakai seumur hidup…..
    Bravo pak kurt…..

    Syahrudin-Paramuda

    :D Syahrudin
    tetap saja pak penting, segala ilmu mesti diplototi… siapa tahu gak berguna di kantor A bisa di kantor B dst… heheh🙂

  20. iya sih, belajar agama mungkin lebih mudah, tapi mempraktekkannya itu lho, susah menjaganya supaya bisa tetap istiqomah / konsisten,h3w (dasar pemalas🙂 )

    Contoh seperti hal-hal kecil yang diajarkan dalam agama : berdoa sebelum makan, tidur atau mengerjakan hal lain-lainnya.

    Hal seperti itu (kalau boleh jujur) saya sering lupa,😦 , padahalkan, ilmu agama tanpa dipraktekkan sama seperti pohon tanpa berbuah, kalau nggak salah, gitu ya mas Kurt ?

    😀 SQ
    hahah … ada lagi plesetannya, ilmu tampa amal, bagaikan laki-laki tanpa ada anunya…🙂

  21. menurut saya bagaimana…?
    mmm… apa ya…?

    boleh ga komentarin yg ini…
    “Misalnya berhaji, asal ada uang dan kemampuan fisik pasti bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah bagi umat Islam…”

    Thn 98 si Babeh *rencananya* mo naek haji, fisik okeh, niat mantab, duit ga punya sih *hehe* tp dibayarin seseorang yg katanya berhutang budi n pengen banget ngeberangkatin haji Babeh kuh… ONH PLUS! Bayangkan…
    pdhl ONH yg biasa ajah kita mah kaga mampu…

    Tp apa yg terjadi…? Duit yg udah disetor ke yayasan *kutu kupret* ga disetor buat bayar ONH malahan ditukerin dolar ama yg punya yayasan ituh*inget ga… saat itu krismon dolar naek terus…* Gagal lah Babeh ku sayang naek haji coz batas setor udah liwat…

    Bisa disimpulkan, urusan naik haji bukan cuman duit plus fisik, tapi…
    *isi sendiri lah…*
    😀 novee
    jadi kesimpulane, munggah haji susah tah nok???🙂 atur bae lah.

  22. ma’ap Om… koment nya ga nyambung…
    Ma’ap kan lah…
    😀 novee
    jelas ga nyambung wong gak deket sayah sih heheh🙂

  23. belajar agama bukan hanya teori dan petuah-petuah bijak yang terkadang membosankan dan melenakan. kan yang terpenting dari itu semua adalah praktek dan pengamalan dalam hidup sehari hari ada satu lagi mas kurt….tidak tekstual dalam memahami agama. kalau udah tekstual akan ada agama baru yaitu agama pokoke………..
    😀 rimba
    Agama pokoke ….. hahahah😀 satire yang menyentil.

  24. kadang saya berfikir, permasalahan klasik kita bukan dalam hal belajar, tapi dalam hal mengimplementasikan🙂

    dan parahnya lagi, kita sering memisah2kan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat. akibatnya, mengingat hidup di dunia ini “life” dan berimpact langsung, kita cenderung untuk lebih memperhatikan ilmu dunia. akhirat kan masih ntar-ntar :p. mungkin ada hubungannya dengan budaya instan kita

    http://www.edo.web.id/wp/2007/11/02/republik-instan/

    personally, saya termasuk orang yang tidak setuju tentang ini. semua ilmu ini ya untuk dunia akhirat. sumber inspirasinya juga sama. pembedaan ilmu agama dan ilmu dunia menyebabkan kita terkooptasi. buat saya, belajar ilmu apapun itu sumbernya sama, gunanya ya sama, tujuannya ya sama. pengertian “bacalah” menurut saya sangat luas, sehingga pada prinsipnya, bahkan di ayat pertama kitab suci saya (namanya AlQuran. kl kitab mas kartubi apa? :p) disuruh untuk membaca, kl saya menterjemahkan sama seperti pepatah kampung saya : “alam takambang jadi guru” :p

    >>😀 edo
    setuju belajar apapun semua ilmu saling kait, kiat dan menguat satu sama lain… karena “alam takambang jadi guru”🙂 TQ.

  25. betul juga sih…belajar agama ga sulit. tapi menerapkannya itu lho yang agak sulit..:mrgreen:

    tapi yang pasti, rumus-rumus matematika yang dulu saya coba hafalin selama berhari-hari, sekarang udah lupa. tapi ayat kursi yang coba dihafalin dalam sehari, sampai sekarang masih keinget terus..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: