dadiwongenomblikenasobud

Kalau Cuma Angan Terbang Saja Kalau Berani

In Celotehan, Peristiwa on 25 November 2007 at 10:24 pm

Kalau cuma angan angan , terbang saja sendiri kalau berani LAYANG-LAYANG bisa terbang, angan-angan juga bisa. Hanya saja angan bisa terbang tanpa tali kendali. Dampaknya, jika layang-layang meski terbang bisa terkendali, kalau angan-angan hanya bisa melayang tapi entah kemana.

Bahwa “sebab” berdampak pada “akibat” itu sudah mafhum. Ibarat air mengalir di kran, ia akan muncrat sesuai kapasitas volumenya. Demikian juga arus listrik lemah dan kuat; oksigen dalam tubuh atau intesitas cahaya, semuanya terpola dari logika tadi. Karena itu, sangat aneh, jika orang teriak-teriak pada “akibat” tapi “sebabnya” tidak dihiraukan.

Betapa banyaknya orang bunuh diri (akibat), hanya karena kalah saingan dengan ‘cem-ceman’ yang pinter mesem (sebab). Betapa banyak orang beringas dan membunuh (akibat) hanya karena uang recehan (sebab). Tidak jarang pula orang tiba-tiba melejit bak gunung kekayaanya (akibat), hanya karena tanda tangan cuma dua detik (sebab). Bahkan orang dikejar deadline untuk sukses justru gara-gara ‘kecanduan’, suksesnya malah melayang jauh.

Tapi sebaliknya seperti dalam kitab-kitab klasik (ulama salaf), gara-gara menyiksa kucing (sebab), seorang wanita dimasukkan ke neraka; atau karena memberi minum anjing yang kehausan (sebab) si saudagar masuk syurga (akibat). Ada lagi, hanya karena menolong mengambilkan pecut seekor kuda (sebab), si pemuda diberi uang yang sangat banyak oleh Imam As syafii’ ra. (akibat).

***

Sudah menjadi rahasia umum dari Mulai Malaikat hingga semut di lobang, sangat paham tentang teori sebab akibat. Tapi anehnya, *halah, termasuk saya* makhluk yang bernama manusia, baik individu maupun koloni (negara) masih banyak yang pura-pura setengah paham pada yang namanya logika seperti itu.

Bagaimana negara mau menjadi kaya, kalau terus-menerus para penghuninya sumringah mengurusi terus masalah politiknya yang dikedepankan sementara “sebab-sebab” yang kurang dihiraukan.

Misalnya, konon negara kita hampir bangkrut th. 2006 nilai kewajiban neraca Rp. 1.318,16 triliun . Akibatnya begitu mengerikan: pembangunan di segala bidang terhambat, industri banyak yang pailit, pengangguran subur, investasi justru kering. Oaaalaaah.

Karena konon sebab akibat merupakan sebuah kausalitas yang berlaku dari ujung langit hingga ke ujung bumi. Semakin banyak sebab, semakin banyak akibat yang dipetik, semakin langka sebab semakin sedikit akibat.

Tiba-tiba saja pikiran nglanturku kambuh lagi. Ini tidak bermaksud membawa ke alam filsafat tapi mencoba mengingatkan logika yang pernah diajarkan para guru yang kini tengah berhari jadi. Ini semata-mata mengingatkan pada diri saya sendiri akan lemahnya memperjuangkan sebab tetapi selalu mempertanyakan akibat.

Singkatnya, menjadi orang yang hanya berangan-angan tidak ubahnya seperti layangan yang tak bertali. Ia akan terbang kemana saja sesuai angin berhembus. Namun bagi layangan yang mempunyai sebab, yaitu seutas tali terus menggantung, niscaya si layangan akan terbang sesuai arah angin tapi tetap akan terkendali.

Berangan-angan itu bagus, tapi kendali sebagai sebab-sebabnya akan memberikan dampak terbangnya sebuah layangan. Saat angin sekencang apapun maka tali akan menegang, namun yakinkan selama tidak ada yang memutuskan, maka tali yang tegang itu akan terus menjadi kendali.

Si anak penyuka layangan biasanya akan mencari tali yang kuat. Maka orang yang bisa survive di dunia ia akan terus menerus mencri penyebab. Jika ingin kaya bukan melamun, tetapi mencari penyebab bisa kaya: berbisnis, tetap bekerja meski penuh dilema atau apapun upaya yang bisa mengarah kesana. Namun bagi si pengagum angan-angan, ia hanya bersumpah serapah di hadapan manusia bahkan lebih berani ia protes pada Tuhannya: Kok saya gagal terus sih…. Plis deh ah😀 kalau angan-angan tanpa mencari penyebab, maka terbang saja kalau berani…
***

Postingan ini dilatar belakangi oleh beberapa kenalan (teman, sejawat, tetangga yang suka mengeluh di hadapan orang lain khususnya padaku). Saya tidak bisa menolongnya secara langsung namun rasanya mengeluh di depan manusia bukannya akan membuka borok-borok sendiri. Saya hanya ngurut dada dan hanya bilang: kasihan ya. Idealnya, *halah belagu lagi!* Mengapa tidak lebih baik mengadu pada Yang di Atas Segala…. tapi yang jelas saya tidak sedang berlogika bagaimana membuncitkan perut. heheh (ikut ngutip yang kang peyek).

  1. Saya suka bangat postingan ini. Langsung semangat nih. Kalo ga salah nih ya sebelum layang2 terbang tinggi ia harus melawan arah angin dulu. Kalau pun layang-layang bisa terbang tinggi tidak luput dari jasa seuntai benang.

    Hmm…kebetulan saya sangat percaya hukum “Sebab-Akibat” apa yang kita perbuat itulah yang kita petik. Tulisan yang membangkitkan semangat sekaligus mencerahkan. Duh, senang deh membacanya.

  2. Hanna
    Cepet banget deh!
    Duuh … diupuji nanti putus nih talinyaa karena lupa sama tali heheh ..🙂 btw, TQ

  3. Logika, sebab-akibat, apa memang makin banyak dilupakan orang sakini, Mas Kurt. BTW, sejak jadul, kok kayaknya peribahasa “Tak ada asap kalau tak ada api” kok masih berlaku, yak. Belum terhapus tuh dalam kamus peribahasa. Kalau sekarang orang lebih suka melihat akibat dan dampaknya sonder melihat sebab2nya, nah itu pula *halah* kali ya yang sering bikin negeri ini jadi chaos. Yang lebih parah, orang sering menilai pernyataan seseorang tanpa melihat konteksnya dulu. Suka hantam krama dan gebyah uyah:mrgreen:
    🙂 >> nah pada point terakhir itulah semua orang tidak setuju…. jadi pesannya “mari melihat konteks?”

  4. saya sangat kagum sama uncle kurt (sebab), maka saya suka selalu tertarik sama artikel2nya (akibat). artikelnya menarik banget uncle (sebab), saya jadi pengen ngasih komentar (akibat)..:mrgreen:

    🙂 >> kang brain itu mau tukeran sebab – akibat ama saya yaa…

  5. nah ini komennya..

    uncle kurt, apakah hukum sebab akibat ini berlaku dalam keberagaman manusia? contoh.. menurut agama, orang kafir(sebab) akan masuk neraka(akibat), tapi orang kafir ini orang yg baik, tidak pernah membunuh ngjahatin orang dlldll. nah apakah ia akan tetap masuk neraka?
    kalo masalah angan2, saya fikir bukankah justru dari angan/hayalan itulah para filosof dan ilmuwan mewujudkan sesuatu? ya memang tetep dengan usaha.. tapi setidaknya kita butuh hayalan hehe
    *jangan ngehayal yang jorok ya om*😆
    🙂 >> brainstorm
    kang brainstrom orang yang pertama kali masuk neraka itu salah satunya dari golongan kyai…. jadi bukan orang kafir saja yang bakal masuk neraka, orang muslim/nonmuslim pun juga. Bahkan di quran orang munafik yang terdiri dari siapa saja (bakal ada di neraka terbawah)
    BTW, angan-angan masuk syurga/neraka tak usah dihiraukan sebab Neraka Milik Tuhan jadi sebuah misteri! siapa-siapa yang bakal masuk neraka juga tidak tahu, bahkan saya bakal masuk neraka/syurga pun tidak tahu… sebab masalah itu adalah teologi maka jawabnya dalam bahasa sehari-hari wallahu a’lam.
    Ya tentu angan2 filosof itu ada talinya… kalau yang ga ada talinya seperti pemakai narkoba itu kan melayang tapi keblinger…

  6. kembali kehukum sebab akibat

    ini adalah komen ketiga saya(sebab) jadi wajarlah kalau saya ini hetrixx(akibat)

    *kabur.. takut dikutuk*

    🙂 gak jadi dikutuk … gak mempan mantranya heheh

  7. Hmmmm…. selain working hard juga working smart dan juga sedikit faktor X untuk menjadi sukses. Faktor X ini bisa faktor2 yg positif ataupun faktor2 yg negatif. Tergantung kita ingin mencondongkan diri ke yg positif atau negatif. **halaah**😀
    🙂 faktor x itu hanya bisa dimengerti kalau buka X-Files yaa kang?

  8. Mas Kurt,
    Hidup adalah bekerja…bekerja…dan bekerja keras. Jika staf saya mulai kelihatan cape, saya cuma memompa semangat…ayolah bekerja, karena kerja itu ibadah. Bekerja keras, melihat ke depan, dan selalu berusaha dijalan Nya, …cepat atau lambat membuahkan hasil. Kalau belum berhasil (saya berkali-kali mengalami kegagalan), tak boleh menyalahkan orang lain..introspeksi, mungkin kita kurang kerja keras, atau belum mencoba yang lain…atau doanya belum kuat, sholatnya masih belum khusuk….dan ternyata hasil kerja keras walau tak seberapa rasanya nikmat sekali.

    Catt;
    Saat rapat anggaran saya mendapat komplain… kenapa ya gaji saya tak naik2? Baru setelah diajak melihat struktur keuangan, bagaimana porsi biaya dan pendapatan dll….yang protes diam, karena dia termasuk bagian yang bertanggung jawab atas profit center…tentu saja gaji akan naik, jika pendapatan kenaikannya lebih tinggi dari biaya secara signifikan, dan target anggaran dari pemilik saham terpenuhi. Kesimpulannya, mungkin karena ketidak mengertian…(jadi punya ide nih…kapan2 saya tulis ya)
    🙂 edratna
    makasih bu atas penjelasan yang khas dari ibu: menggugah, singkat, jelas, praktis, ekonomis dan sedikit berkumis🙂 hehehe. Nunggu postingan berikutnya…

  9. Relativitas yang sungguh menarik. Benar juga, tanpa bertindak, tak akan ada akibat. Sebaliknya mereka yang berbuat pasti akan menuai hasilnya.

    yang menjadi pertanyaan kadang mas Kurt, sudah benarkah perbuatan, atau merasa benar? Tapi jangan salah, kebanyakan mikir malah nggak jadi-jadi berbuat. (heleh so’ so’an)🙂

    🙂 ada kang komar yang mikir terus tapi akhirnya jadi: orang yang jatuh cinta kepikiran melulu… lama2 jadi kawinan…🙂

  10. kang kurt,biarkan angan-angan kita terbang sejauh mungkin…dan nantinya akan menabrak angin dan badai. dan yang selanjutnya menghasilkan sebuah imajinasi liar……sepertinya dunia telah kita genggam

    🙂 hehehe itu mah namanya, bayangan liar (sebab) dapat menuai sensasi liar (akibat)….

  11. Kang .. kalo saya sering mengistilahkan sebab akibat itu sebagai sunnatullah. Benar ga ya?? karena itu adalah hukum alam. Sepanjang kita memahami sunnatullah tersebut, ga peduli latar belakang seseorang .. maka dia akan mendapatkan akibat dari sebab yang dia lakukan. Benar ga Kang.

    Btw .. ngelink-nya banyak banget kang. Habis keliling2 ya :roll:??

    🙂 Ya semodel, ada taqdir sunnatullah …. benar itu! karenanya seringkali kita dipesan banyakin sebab karena sebab akan berdampak pada akibat… kan ada teori perusahaan: banyakin produk (diversifikasi) biar bisa menuai hasil yang banyak… betul habis ronda malam hingga jam 2 dini hari… heheh

  12. nggg…..
    anu…
    setubuh aja deh kang🙂
    *lagi ngga punya ide :p

    🙂 edo
    ngg… setubuh sama anu? Sil vous plait kang edo…

  13. sip sip, jadi orang dilarang mengeluh ya…🙂

    🙂 alief
    sipp juga

  14. orang indonesia berangan2 tinggi tapi kok negaranya gini2 aja.. hehehe.. numpang rusuh mode on

    🙂 roffi
    mungkin angan2nya gak pake tali bos… *rusuh diterima, resiko tanggung sendiri *

  15. ::bagaimana angan terkait dengan sebab-akibat jika keduanya tak terhubung, angan yg terhubung, malah bisa jadi menemukan sebab dari sebab…dst..

    🙂 zal
    kang zal sepertinya yang kutulis ada sambungannya deh….

  16. Jadi inget lagunya Koes Plus…

    🙂 wah kang Halliva, termasuk penikmat yaa?

  17. Hanyut … dalam sunyi sepi … termangu … dalam geram … diam … menatap makna … ya Rabb

    🙂 Wah saya gak mau ganggu sunyimu bang…

  18. daripada mengeluh, mendingan bilang ama temen nya *kalo dia ngeluh lg…* :
    jadikan SABAR & SYUKUR untuk solusi semua masalah.
    dg bersabar, kita buktikan bahwa kita tahan ujian dariNya *jangan mengaku beriman kl belum diuji*
    dg bersyukur, kita akan merasakan kasih sayang Nya & Dia akan menambahnya…

    ini berlaku bagi yg meyakini Nya…

    😀 novee
    memang nop, penghuni syurga itu kata guru saya cuma dua: si sabar dan si syukur… tepat sekali alasanmu…

  19. NB :
    kalo org ituh belom ngerti juga, suruh baca inih :
    http://noveerasjid.blogspot.com/2007/07/stop-mengeluh.html
    *kekekekkk… :lol:*

    😀 novee
    keluh kesah dilarang tapi keluh lidah tak apa2

  20. Akibat selalu terjadi karena sebab, namun saya selalu percaya bahwa mengapa tidak selalu harus dijawab dengan karena. Ah sok tau-nya sedang kumat paman kurt:mrgreen:

    😀 goop
    wahahahaha logika dilawan logika menarik yaa… tq sir

  21. Aku ga mau terbang achhh…
    Takutnya ntar klo terjatuh jadinya sakiiittttt….😆

    😀 dwihandyn
    terbangnya jangan di birokrat… terbang bersama ide melayang tanpa batas…

  22. ::Pak Kyai, mungkin persepsi kita tentang angan-angan ini yg belum kita sejajarkan ..hmm kayak baris aja…:lol:
    ::yang sering terungkap kan “jangan panjang angan-angan”, mungkin pada diri saya terfahami sesuatu yg dikejar memang kosong, umpama mengejar bayangan saja, titik pemahaman ini ada pada “segala sesuatu itu adalah perumpamaan”, jika perumpamaan itulah yg dilakukan maka yg terlakukkan adalah ketersia-siaan… atau mungkin saya salah terjemah… sorry kalo gitu.. he..he

    😀 zal
    Ya betul ada memang ajaran Nabi saw mengatakan “jangan panjang angan-angan… ” yang terfahami oleh kang zal itu benar menurut saya… yaitu angan2 kosong… tapi kalau angan2 para pemikir, filosof, dan para pelajar yaa tdiak… mereka tetap punya tali.. begitukah? oh ya please don’t call me kyai… call me kurt… tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: