dadiwongenomblikenasobud

Menguak Tradisi Berkah

In Amanat, Bahasa, Dunia Pesantren, Kajian Kitab on 30 November 2007 at 8:57 pm

WARNING: Postingan ini cukup panjang; terlalu berbau pesantren. Banyak huruf hijaiyahnya. Tulisan ini jawaban atas pertanyaan seorang alumni Buntet di sebuah kota nun jauh di sana. Karena jawabanya panjang belum sempat mengedit. Jadi masih apa adanya. Maksud hati mau meneruskan postingan tentang Satanic Strategy tapi gagal, karena kerjaan utak-atik kabel hari ini begitu melelahkan. Hingga ada bahasan poligami yang menarik dari Kang Edo belum sempat dinikmati (bukan poligaminya tapi tulisannya).

——————————————————————————

Sebetulnya saya tidak mengerti tentang berkah, barokah atau keberkahan. Meskipun ngendon di pesantren cukup lama; tapi karena lebih banyak molor dari pada mulurnya dan banyakan males kalau ngaji kitab, ya begini nih akibatnya. Ditanya tentang berkah nyaho.com jawabanya. Tapi meski nyahoo.com tulisan ini bisa diarsipkan.. (stop menghabiskan benwidth orang saja.. ayo kembali ke topik, maaf kawan stressing kerjaan hari benar2 menguras cairan tubuh๐Ÿ™‚ ).

——————————————————————————

ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… | ุฑุญู…ุชู ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ ุนู„ูŠูƒู… ุฃู‡ู„ูŽ ุงู„ุจูŠุช…. ู‡ูˆุฏ – 73

“โ€ฆ rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Hud: 73)

Dalam sebuah email, ada seorang kawan alumni dari Buntet Pesantren yang kini tengah melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah, menanyakan apakah masih ada tradisi “ngalap berkah” di Buntet Pesantren sekarang?.

Setidaknya, ada 4 pertanyaan dalam tulisan ini yang ingin didiskusikani yang menjadi titik tolak dari persoalan tersebut:

Pertama, Pemakaian kata berkah itu sendiri secara lteks sangat banyak baik dalam quran, hadits maupun dalam naskah-naskah lain. Namun secara definitif masih belum jelas karena tidak akrab diperdebatkan. Padahal seringkali ungkapan “ngalap berkah” kerap menjadi ucapan sehari-hari dan begitu akrab di telinga.

Kedua, para santri ketika belajar di pesantren, tentu berdasar pengalaman saya, masih belum bisa menangkap wacana “berkah” karena tidak pernah menjadi bahan diskusi melainkan dalam tataran aplikasi.

Ketiga, “berkah” bagi kalangan non pesantren bukanlah bahasa yang enak didengar, bahkan menjadi bahasa asing.

Keempat, dunia modern yang berpandangan materialisme kurang bisa menerima yang bersifat unseen.

Kelima, yang lebih mengerikan adalah banyaknya kritik terhadap pemakaian term “berkah” yang dikonotasikan sebagai sebuah sinkretisme kemusyrikan. Dan masih banyak lagi sederet pertanyaan namun cukuplah lima hal ini sebagai wacana diskusi kita.

Definisi Berkah
Dalam ucapan salam ada kalimah “wabarakatuh” yang dimaksud adalah mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan. Kamus al Munawwir memberikan definisi “berkah” diambil dari “albarkatu” diartikan “an ni’mah” (kenikmatan); “assa’adah” (kebahagiaan); “annamaau, azziyadatu” (penambahan). Secara bahasa bisa jadi berkah adalah suatu kenikmatan atau suatu kebahagiaan atau sebuah penambahan.

Secara istilakhi, bisa diambil pendapat qaul ulama seperti dalam buku “mafahim anta shohhah” :

ุซุจูˆุช ุงู„ุฎูŠุฑ ุงู„ุงู„ู‡ูŠ ูู‰ ุงู„ุดูŠุก

Maksudnya kurang lebih adalah berlakunya suatu kebaikan yang bersifat Ketuhanan pada sesuatu. Atau dalam arti lain, kebaikan yang bersumber dari Tuhan yang ada pada sesuatu.

Tradisi Ngalap Berkah
Ngalap berkah atau dalam bahasa arabnya, “tabarrukan” yang diartikan dengan simbol mengambil berkah. Gambaran mengambil berkah yang sering kita temui dalam ucapan-ucapan misalnya:

1. Orang mendatangi salah satu kyai kemudian mohon didoakan. Alasannya mengambil “berkah” dari kyai tersebut. (apakah ini sesuai dengan definisi di atas)
2. Orang yang menziarahi makam para wali atau orang yang dianggap “kramat” kemudian seringkali ditemui diantara mereka ada yang mengusap-usap kuburan, mencium nisan atau benda-benda yang dianggap “kramat” seperti air tempat wudu, atau misalnya sumur “muara bengkeng” di Sindang Laut yang kerap didatangi oleh para pendatang yang ingin mendapatkan airnya, katanya ini adalah “air berkah”. (betulkah inipun sesuai dengan definisi di atas)

Dua hal ini cukup sebagai contoh tradisi yang sering ditemui misalnya dalam moment Muludan di Kraton Cirebon atau tradisi berziarah di Makam Sunan Gunung Jati.

Di Buntet Pesantren sendiri, ajaran tentang tabarruk tidak mengenal istilah mencium nisan, ngelus-ngelus benda yang dianggap kramat, atau bahkan mengklaim kubuuran ini gampang dimintai atau tidak. Jika, ada terjadi seperti ini, biasanya itu dikemukakan oleh “the other” (istilah Fathi Royyani dalam tulisan “siapa sih wong buntet?” dalam web ini) dan kebiasaan menggosok-gosok serta mensakralkan kuburan dan benda-benda yang dikalim kramat biasanya, dipraktekkan oleh “the other” (maaf orang di luar Buntet Pesantren).

Hal ini bisa dibuktikan dari para alumni santri yang belajar di pesantren Buntet, bahwa para kyai tidak mengajarkan hal-hal seperti itu. Paling yang diajarkan adalah sebatas anjuran bukan wajib yaituย  melakukan ziarah kepada para ulama/para wali baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Dengan bersalaman atau kepada para ulama/wali yang sudah meninggal. Isinya adalah dengan menghatamkan Al Qur’an dan mendoakannya serta membaca puji-pujian kepada Allah. Setelah itu diakhiri dengan doa yang isinya mirip dengan doa memohon ampunan kepada Allah untuk orang alim/para wali. Dalam kaitan inilah seringkali kita mengakui tindakan terakhir ini sebagai bagian dari upaya mencari “berkah”

Gambaran Keberkahan
Keberkahan dalam bahasa modern bisa diartikan dengan sinergis. Berbeda dengan energi, ketika dipakai akan habis sementara sinergis merupakan suatu proses energisasi yang berkelanjutan (unlimit). Gambaran sinergis bisa diilustrasikan kepada sinar matahari.

Betapa hebatnya ia, ketika memancarkan cahaya yang dihasilkan dari “reaksi fusi nuklir” yang dahsyat sehingga menghasilkan korona dan cahaya yang memancar ke segenap galaksi hingga mencapai planet bumi. Dari cahaya ini kemudian mengambil tempat pada daun-daun hijau dalam proses fotosintesis. Dari reaksi fotosintesis, menghasil glukosa dan tepung serta gas oksidasi berupa oksigen.

Dengan sebab energi oksigen dari tumbuhan yang dikeluarkan oleh daun melalui stomata, ia dibutuhkan untuk pernafasan manusia dan hewan. Sedangkan energi yang tersimpan dalam pohon berupa buah-buahan dinikmati oleh hewan dan manusia kembali untuk menjaga kekekalan energi protein ke tubuh-tubuh mereka baik berupa beras, buah, atau sayuran.

Prof. Dr. Quraisy Shihab dalam bukunya, Mu’jizat Al Qur’an menjelaskan makna fotosintesis ini ketika menjelaskan surat Yasin “Alladzii ja’ala lakum minassyajaril akhdori nara” ( Allah yang menciptakan kamu dari pohon hijau yang dibakar). Pohon hijau yang dibakar menurut penelitian modern, kata Quraisy adalah proses fotosintesis. Bayangkan pemeliharaan makhluk yang bekelanjutan hingga akhir zaman diterangkan dalam separo ayat 78 surat Yasin. Gambaran keberkahan lahiriah bisa digambarkan pada soal-soal tersebut.

Namun bagaimana jika kasusnya non materi seperti mengalirnya energi kebaikan pada seseorang. Masih ingat dalam benak saya, ketika salah seorang kyai pernah menerangkan masalah tabarruk dalam suatu pengajian, yang menurut saya masuk akal. Menurutnya, di dalam darahnya orang yang selalu berdzikir kepada Allah, niscaya mengalir suatu aura kebaikan. Dengan mendekati aura orang tersebut niscaya, akan mengalir aura-aura kebaikan dalam dirinya.

Dengan bersalaman maka pengaruh kebaikan itu akan mengalir. Sebagaimaan energi listrik yang ada dalam HP ketika di charge, maka ia akan menghasilkan energi untuk menghidupkan HP tersebut. Karena itu menurutnya, dengan sering-sering mendatangi para kyai yang ‘aliim (doble i) nasehat lahiriyah dan pengaruh non materi akan merasuk ke dalam tubuh kita sehingga kecenderungan kita akan mengarah kepada kebaikan.

Rasulullah saw bersabda: “dekatilah penjual minyak sehingga anda akan terkena wanginya, namun jangan tukang abu, karena akan terkena abunya.

Tentu saja sulit dibuktikan secara kimia dan tekhnis masalah aura ini, tapi dunia modern sekarang telah mengakui aneka macam warna aura pada sifat dan karakter seseorang.

Di Mana Letak Keberkahan
Secara pasti tidak tahu, hanya saja sekelumit ayat di bawah ini bisa menggambarkan bagaimana keberkahan itu bersemi. Ayat 54 surat Al Maidah: ” niscaya Allah akan datangkan sekelompokkaum dimana Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”

ูุณูˆู ูŠุฃุชู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจู‚ูˆู… ูŠุญุจู‡ู… ูˆูŠุญุจูˆู†ู‡

Allah mencintai mereka (kaum) itu dan kaum itu pun mencintai Allah. Jadi dengan landasan cinta kepada Allah, kaum tersebut mengalir sebuah “tsubutul khoril ilahiy fisysyai-i” menetapnya kebaikan yang berasal dari Allah karena Allah mencintainya dan karena mereka mencitai Allah. Siapakah mereka itu yang mencintai Alllah dan Allah pun mencintai mereka.

Kemudian bisa diikuti makna ayat rakhmat dan berkah sebagaimana ayat 73 surat Hud di awal artikel ini “โ€ฆ rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.

Dalam ayat 73 Surat Hud di atas Imam Ibnu Katsir dalam bukunya, menafsiri makna “wabarakatuh sebagai suatu ungkapan pujian karena kebaikan yang mendalam terhadap Rasulullah saw dan ahlul bait” kutipan selengkapnya sebagai berikut:

“ุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ ุนู„ูŠูƒู… ุฃู‡ู„ ุงู„ุจูŠุช ุฅู†ู‡ ุญู…ูŠุฏ ู…ุฌูŠุฏ” ุฃูŠ ู‡ูˆ ุงู„ุญู…ูŠุฏ ููŠ ุฌู…ูŠุน ุฃูุนุงู„ู‡ ูˆุฃู‚ูˆุงู„ู‡ ู…ุญู…ูˆุฏ ู…ู…ุฌุฏ ููŠ ุตูุงุชู‡ ูˆุฐุงุชู‡ ูˆู„ู‡ุฐุง ุซุจุช ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ุฃู†ู‡ู… ู‚ุงู„ูˆุง: ู‚ุฏ ุนู„ู…ู†ุง ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ููƒูŠู ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุŸ ู‚ุงู„ “ู‚ูˆู„ูˆุง ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ู…ุญู…ุฏ ูƒู…ุง ุตู„ูŠุช ุนู„ู‰ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุขู„ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุจุงุฑูƒ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุขู„ ู…ุญู…ุฏ ูƒู…ุง ุจุงุฑูƒุช ุนู„ู‰ ุขู„ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ุฅู†ูƒ ุญู…ูŠุฏ ู…ุฌูŠุฏ”.

Dari penafsiran itu, Ibnu Katsir mengartikan : “โ€ฆ rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (Hud: 73) Maksudnya adalah sebuah pujian terhadap segala perbuatan dan perkataan dan sifat-sifat Rasulullah saw. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim para sahbat bertanya, bagaimana kami bershalawat kepada mu Ya Rasulullah? Dijawab: hendaklah engkau bershalawat dengan ungkapan: Allahumma dst.

Sementara Imam Al Qurthubi dalam bukunya, menjelaskan posisi berkah dinisbatkan kepada keluarga Ibrahim. Kutipannya sebagai berikut:

_ ูˆุงู„ุจุฑูƒุฉ ุงู„ู†ู…ูˆ ูˆุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ; ูˆู…ู† ุชู„ูƒ ุงู„ุจุฑูƒุงุช ุฃู† ุฌู…ูŠุน ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก ูˆุงู„ู…ุฑุณู„ูŠู† ูƒุงู†ูˆุง ููŠ ูˆู„ุฏ ุฅุจุฑุงู‡ูŠู… ูˆุณุงุฑุฉ.

Berkah diartikan dengan “annamuwu” dalam kamus kata “annamuwu” diartikan banyak salah satunya, “asnadahu” artinya dinisbatkan atau boleh juga diartikan “azziyadah” bertambah/bertumbuh. Salah satu bukti keberkahan dari para nabi dan rasul dikarenakan nisbat mereka disanadkan kepada nabi Ibrahim dan siti Sarah as. Nabi Ibrahim as dijuluki Kholilullah.

Singkatnya, jika benar asumsi penulis bahwa keberkahan dan rakhmat dicurahkan kepada Rasululalh saw dan keluarganya, sebagaimana ayat di atas, ini berarti maka, kebiasaan para tamu yang seringkali mendatangi para habaib (habaib dipercaya sebagai keluarga Siti Fatimah binti Rasulullah saw) adalah upaya memperoleh keberkahan.

Tentu habaib dan turunannya yang selalu dzakkara ilallah bighoiril qath’i (always dzikrullah). Dengan adanya allways dzikrullah, maka mereka layak untuk didekati dan dimintai nasehat karena pasti Allah mencitai mereka dan sebaliknya merekapun mencintai-Nya.

Sedangkan pada benda-benda Allah tidak ada kecintaan pada semuanya kecuali kepada Batu (Baitullah) Ka’bah, “bibakkata mubarokan”.

ุฅู† ุฃูˆู„ ุจูŠุช ูˆุถุน ู„ู„ู†ุงุณ ู„ู„ุฐูŠ ุจุจูƒุฉ ู…ุจุงุฑูƒุง ูˆู‡ุฏู‰ ู„ู„ุนุงู„ู…ูŠู†- ุงู„ ุนู…ุฑุงู† 96

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (Ali Imran: 96)

Singkatnya, keberkahan tidak memihak kepada benda-benda apapun jenisnya hanya baitullah sedangkan segala macam yang “dianggap keramat” oleh definisi sebagian orang penulis belum menmukan rujukannya. Ini berarti asumsi sementara tidak ada dalam term agama yang diajarkan pesantren.

Beda Rakhmat dan Berkah
Dalam ucapan salam: ada rakhmat dan berkah. Jika rakhmat curahan dan kasih sayang Allah akan dilmpahkan kepada siapapun. Namun keberkahan tidak segampang itu. Sebagai contoh:

1. orang yang haus, ia dapati air minum maka ia mendapatkan rakhmat. Ketika haus itu hilang menghadirkan ketenangan maka ia mendapat berkah.

2. Seorang ahli pemasaran dengan ilmunya ia berhasil meraup keuntungan yang luar biasa. Ia mendapat rakhmat. Namun belum tentu mendapat keberkahan karena rezeki yang diterima seringkali masih dianggap kurang. Ia dapat rakhmat tapi tidak mendapat berkah (limpahan kebaikan yang sinergis).

3. Berkah dilimpahkan di dunia untuk siapa saja, hatta kepada maling/koruptor sekalipun. Ia memperoleh rakhmat namun uangnya tidak membawa keberkahan.

4. Karenanya orang yang rajin dan bekerja ia pasti mendapat rakhmat berupa hasil kerjaanya baik gaji maupun kedudukan. Tinggal mencari keberkahannya. Namun orang yang malas dan tidak bekerja, ia tidak mendapatkan dua-duanya antara rakhmat dan bekah.

Imam Al Qurthubi berpendapat dalam bukunya “tadzkiratul qurthubi” mengatakan bahwa orang non muslimpun mendapatkan rakhmat karena kehebatan usahanya dan keberkahannya akan diwariskan kepada orang muslim. Dari teori ini maka tidak masalah bergaul dengan non muslim dan tidak masalah untuk saling bantu-membantu dalam urusan sosial kemasyarakatan. Sebab keberkahan mereka akan mengalir kepada kita, dan mereka, menurut sang ilmuan ini, tidak membutuhkan berkah.

Pengalaman Rohani
Sebagai penutup diskusi, bagaimana gambaran orang-orang di bawah ini yang dianggap mendapat berkah atau tidak.

1. Seorang guru yang sangat pandai membaca buku-buku ulama salaf dan hafal banyak hadits dan logis (ceta’) dalam menerangkan ilmu dalam setiap ceramahnya, produktif menulis bercerita bahwa ia mengaku ketika kecil, orangtuanya sering mendatangi para habaib dan murid-murid habaib yang ‘aliim untuk dimintai “berkah”. Dalam benaknya masih ingat, ia ditiup ubun-ubunnya dan dibacakan doa.

2. Kawan saya, Ust. Mahmud Syaltut bercerita ada suatu keluarga memiliki 4 orang anak. Dua anak serngkali dengan sengaja dibawa ke Buntet Pesantren dan sengaja mampir ke kyai-kyai sepuh, menurutnya mencari keberkahan. Dalam persaksiannya, dua anak yang sering dibawa ke kyai, prilakunya bertentangan jauh dengan dua anak yang lainnya yang tidak pernah dibawa kepada para kyai.

3. Tetangga penulis memiliki anak lebih dari 8 orang. Tanpa bermaksud menghina, dalam kesehariannya, hanya satu anak yang kontras tingkah lakunya dengan anaklainnya: Ia rajin dan aktif mengikuti kegiatan keagamaan, shalat 5 waktu di musholla hampir tidak pernah ditinggalkan, berprilaku sopan, sangat bebrayan dalam lingkungannya. Kecerdasannya melebihi adik kakaknya, diterima di UI tapi ia memilih kuliah di STAN. Ternyata dalam pengakuan orangtuanya, hanya satu anak inilah yang ketahuan lahirnya dan diadzani oleh sendiri. Sedangkan yang lainnya meragukan apakah diadzani atau tidak.

Walalhu a’lam bishowab

  1. ::analisis yang baik Pak Kurt, kontek pembeda rahmat dan berkahnya mengalir, namun daptkah berkah menampakkan dirinya…, sedang dianya berada pada rasa yang dalam… sehingga dengannya timbul percaya…, titik percaya inilah yg mendatangkan garis dan gambar… mungkin inilah mengapa “ngalap berkah” tetap berlangsung..,
    jika “โ€œAlladzii jaโ€™ala lakum minassyajaril akhdori naraโ€ ” memunculkan gambar nyata, maka akan menyadarkan mengapa semua keadaan ini perlu… assalamu’alaiku ww

  2. tambahan bekal untuk mengejar berkah di negeri orang, maturnuwun kang kurt.

  3. * Walah, ternyata banyak juga yak huruf hijaiyyah-nya๐Ÿ˜€ *
    Konsep berkah dalam paradigma kaum salaf *halah* sepanjang yang saya tahu nih Mas Kurt, masih sering menimbulkan banyak penafsiran. Kalau menyimak uraian Mas Kurt, berkah itu termasuk “blessing in disguise” karena ihlas dan istiqomah sehingga kerja kerasnya membawa maslahat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Tapi, tradisi ngalap berkah yang sering dijalankan sebagai “laku” oleh kaum santri, kok hampir sama dengan “wasilah”, seperti berziarah ke makam kyai atau wali. Mohon maaf Mas Kurt kalau salah. Saya betul2 awam dalam soal ini.

  4. Haiah, itu dibacanya apa sih?๐Ÿ˜€ keberkahan dan kebarokahan itu, sama nggak sih?

  5. Saya baru tahu bedanya Rahmat dan Berkah.
    Semula saya kira sama. Pulang membawa ilmu lagi nih. Maksih yach, Pak Kurt.

  6. tradisi ngalap berkah di pesantren juga tumbuh subur ya kang!

  7. welgedewelbeh
    setelah tahu apa bedanya berkah dan rahmat, berikutnya …. kira-kira bangsa kita ini bangsa yang sedang dapat berkah / rahmat atau sedang jauh dari itu semua ya ..?

  8. Kyai kurt, benar-benar tambahan ilmu nih! mudah-mudahn berkah.. eit eit.. maaf, ini juga bagian dari ngalap berkah gak ya? emmhhhh, pusing mikirnya.. gak nyampe maqom saya membahas ini pak kyai! maqom saya maqom wong cilik! sing penting sowan, gek mulih mugo2 entuk berkah! *halah* kok berkah lagi…

    mengingat bahasan ini saya teringat wejangan bapak ibu saya kalau pas makan: “Le! lek mangan ojok nganti siso, meski sebutir nasi pun jangan sampai tersisa, kita ndak tau barokah rejeki dari Allah SWT itu ditaruh di butir nasi yang ke berapa?! jangan2 butir terakhir itu yang mengandung berkah, jadi habiskan jangan ada sisa”.

    Nuwun sewu, pak kyai, yang ini bagian berkah yang mana? matur nuwun..

    * cium tangan pak kyai kurt, lalu ambil bakiak/klompen/terompah, kemudian cincing sarung terus pulang, sambil tak lupa minta didoakan* Nyuwun barokahe, pak kyai!๐Ÿ˜‰

  9. Saya suka postingan ini, jelas menambah pengetahuan dan berbuah pencerahan. Sampeyan dasar banyak ide ya. Slamat.

  10. Postingan yang bagus. Makasih atas pencerahannya.
    Memang tanggung jawab orangtua sangat berat, sebelum “berencana” membuat pun, orangtua harus berdoa dulu, agar jika diperkenankan menjadi seorang anak, mohon agar menjadi anak yang baik. Proses kehamilan, kelahiran, bahkan pendidikan, kualitas pendidikan tak cukup hanya dari ilmu pengetahuan, tapi juga diajak melihat contoh kebaikan.

  11. zal
    Subhanallah, keberkahan memang luar biasa meskipun tidak nampak. menurut saya ia ghoib seghoib syetan bahkan setan sudah menampaki dirinya pada manusia, benda2 perusak seperti narkoba.

    Sedangkan berkah, kebaikan yang manusianya sendiri tidak menyadari memiliki berkah. Seperti rasa iman yang mendalam, mungkin dianyasendiri tidak merasakannya tapi orang-orang sekitarnya bisa merasakan kesejukan dan limpahan karuniNya… Saya punya orang2 sperti ini, di beberapa tempat, masyrakat sekitar benar2 aman dan banyak ditolong dari orang2 sperti itu. Padahal dia sendiri tidak merasa berbuat apa2… Salah satunya saya pernah posting di sini…

    Dee
    Muga-muga Pak De.. Ilmu Pak de bisa dideras, diunduh buat kita-kita…

  12. @Sawali Tuhusetya
    tentang berkah yang dikatakan “wasilah” itu memang benar dijalani, tapi saya pun mengingatkan bahwa para santri yang “ngalap berkah” kepada orang2 yang “dzikir unlimit” jadi kebaikan orang2 tersebut memang seperti yang diungkap imam Al Qurthubi, kebaikan ilahi yang menetap pada sesuatu/orang. Nah kita mendekati orang2 ini ibaratnya bukan menyembah tetap sekedar berteman dan bergaul. Lebih luas, kita kan disuruh oleh Nabi saw agar berteman dengan orang-orang baik. Yaa termasuk anjuran berteman dengan para Guru seperti Pak Sawali dll. itu termasuk menurut saya adalah “ngalap berkah”… heheh

    Namanya penafsiran akan terus berbeda, tapi perbedaan itu bisa merubah gabah menjadi beras bukan ?๐Ÿ™‚

    @Donny Reza
    Berkah, barokah, kebaikan, yang mentap pada orang/sesuatu yagn berasal dari Tuhan ya itulah sama saja… itu itilah dalam bahasa Cerbon saja bos…

    @Hanna
    Hihihi jadi malu nih, kita beda agama, tapi ternyata ada banyak kesamaan dalam ajaran kebaikan yaa…

    reza
    di pesantren ngalap berkah itu ‘wajib’ maksude namanya cari kebaikan harus terus disemangati: termasuk cari berkah adalah belajar giat, bekerja semangat, membantu orang2 yang membutuhkan, bergaul dengan orang2 baik… Itulah “ngalap berkah” atau mencari kebaikan lillahi ta’ala. ๐Ÿ™‚

    @mulut
    Duuh iyaa mulut, saya lupa tidak mengaitkan dengan konteks Indoensia.. apakah benar negara kita tengah jauh dari berkah…

    hehah malu ngomongnya, tapi saya teringat omongan KH. Musthafa Bisri (Gus Mus) begini katanya:
    “kalau di qur’an itu hanya menyinggung bencana itu di laut dan didarat seperti di (QS. Ar Rum: 41). Nah kata beliau, Indonesia itu bencaranya di semua aspek: darat, udara, luat, manusia..”

    @gempur
    Pak gu(ruku) bisa aja… saya, seperti yang ditulis, bahasa “cari berkah” itu bahasa asing buat orang lain kenapa yaa.. padahal cari berkah itu termasuk mengajar, memberikan kebaikan kepada orang lain, membantu orang yang membutuhkan… kalau di pesantren ditambah lagi yaitu: “bergaul dengan orang2 baik” yaa kyai, guru, ulama, scientis, pakar apasaja, semuanya demi kebaikan dan diniati “lillahi ta’ala.

    Dan seperti yang orang tua sampean paparkan jangan menyisakan makanan karena nanti gak dapat berkah.. nah itupun menurtu saya masuk karena mengajarkan nilai :”jangan sia-siakan nikmat Allah”

    Wah biasa aja, pak jangan panggil kyai, salam saya terima dan saya juga mau nyucup tangan pak gu(ruku) biar dapat berkah.. heheh๐Ÿ™‚

    @Ersis WA
    Pokokeโ„ข ini adalah ulah dari bang Ersis, menularkan virus menulis.. terima kasih.. tuh kan saya merasa mendapat kehormatan karena memperoleh berkah dari jalan ilmu yang Bang Ersis berikan…๐Ÿ™‚

    Edratna
    Betul bu, kita kadang melupakan satu hal: “doa” dan contoh-contoh kebaikan. Sebab kekuatan do’a konon bisa memberikan dampak “kebaikan” unlimit apalagi doa seorang Ibu bagi anak-anaknya. Banyak hadits yang menerangkan ini.. Seorang Ibu bahkan harus dihormati seorang anak daripada aayahnya. Perbandingannya 3:1.๐Ÿ™‚

    Nah, dalam hal ini, knteks di pesntren disebut juga berkah.. berbuat baik kepada Ibu dan melayani dengantulus dan menghormati seorang Ibu adalah juga dalam rangka “ngalap berkah” jadi konteksnya sangatn luas berkah itu… Berkah = kebaikan…

  13. Assalaamu alaikum kyai…
    Postingnya yahud… (gak pakai I di belakangnya!). Saya dulu waktu nyantren gak suka ngaji, soalnya yakin yang penting berkah dari kyai, nah berkah dari kyai yang paling gampang adalah macarin anak kyainya… insya Allah hehehehe

  14. walah hurup arab gundul.. yah dikit2 lumayan ngerti sih hehe..

    kalo saya ga’ berani minta berkah sama orang, bukan saya sombong atau so’-so’an tapi buat saya tempat berkeluh-kesah, berdo’a dan meminta hanya kepadaNya (walaupun jarang sekali saya berdoa)..
    saya takut kalau meminta berkah pada sesama manusia malah orang yg memberkahi itu jadi disucikan, dikeramatkan dll
    akhirnya timbullah orang2 sakti nan arogan yg malah jadi takabur akan kehebatannya..
    bukankah hanya kepada-Nya kita meminta dan memohon sesuatu?

  15. Ram Muhammad
    Selamat yang busah mempersunting anak kyai heheheh …

    brainstorm
    Nah ini dia baca lagi dong kang, mencari berkah itu hanya kepada Allah. Orang yang kita akrabi bukan menyembahnya, atau mengkultuskannya, kita bersahabat berdekat-dekat, berdiskusi, bertanya.. keberkahan ilmu yang didapat, pengertian yang diperoleh dan kecintaan kepada ALlah dari ap ayang diajarkan kepada kita, itu yang disebut juga berkah. Jadi tak perlu mengucapkan kata “minta berkah dong pak kyai”.

    Termasuk mencari berkah adalah mencari ilmu pengetahuan yang berguna untuk kemaslahatan umat, melakukan riset dengan bimbingan para pakar iptek itu juga masuk dalam kategori berkah. Jadi pls deh ah berkah itu jangan dimaknai sempit hanya pada kyai …๐Ÿ™‚

  16. beneran panjang yah ternyata…
    ma’af, terpaksa baca setengah nya dulu *sambil senyum2*
    selain di cirebon sana n di betawi sini, saya jg sering banget denger kata2 *mo ambil/minta berkah nya*
    bahkan imam masjid kantor sini pun sering kali ngajak saya ke pengajian dia di kwitang sana, trus ziarah ke kuburan kyai mana gitu. lha saya yg dari sana nya pemales ini n ga ngerti harus ngapain ziarah ke kyai itu sering kali dinasehatin “kita kesana kan ambil berkahnya aja nop…”
    haduh, saya jadi tambah bingung… ngambil nya dimana sih? emang di kuburan ada berkah yah…?

  17. salam wr wb

    Mu nebar virus TBC ah..

    Met kenal
    wassalam wr wb

  18. @ uncle kurt

    iya deh saya baca ulang lagi..

  19. @ uncle kurt

    saya bukan mengkritisi postingan akang, tapi lebih kepada mayoritas masyarakat kita yg masih sangat awam..
    kan kita liat sendiri begitu banyak orang2 yg terlalu mensakralkan benda2 tertentu, juga makam2 wali atau ulama, dll. kan hal yg demikian itu malah menjadikan kita musyrik.
    tapi terkadang ajaran2 seperti itu masih sangat kuat dibeberapa kalangan, mintalah berkah pada si anu si fulan pasti nanti selamet dunia akhirat..
    hal2 yg seperti itu yg seharusnya diubah cara pandangnya.

    Termasuk mencari berkah adalah mencari ilmu pengetahuan yang berguna untuk kemaslahatan umat, melakukan riset dengan bimbingan para pakar iptek itu juga masuk dalam kategori berkah. Jadi pls deh ah berkah itu jangan dimaknai sempit hanya pada kyai โ€ฆ

    untuk pengertian ‘berkah’ saya cukup mengerti dari hasil penjelasan posting uncle, tapi plis deh ah juga.. saya kan ga memaknai sempit hanya pada kyai?? malah ga ada kata2 ‘kyai’ dikomen saya.. ๐Ÿ™‚

    BTW, great posting, bahkan untuk saya yang underestimate dengan agama..
    andai semua pemuka agama bisa menyejukan seperti anda..๐Ÿ™‚

  20. Assalamualaikum wr. wb.

    Maaf nih numpang lewat, sambil liat-liat, ternyata webblog ini lumayan O.K. Boleh dong ana ikutan “bersuara”, walaupun suaran ana agak sumbang.

    Berkah istilan lain tabaruk. Penomena ini seringkali kita lihat di masyarakat. Memang berkah datangnya dari Allah. Namun ada salah pengertian dikalangan masyarakat bagaimana mencari berkah yang sesuai dengan syariat. Ada istilah mencari berkah atau kalau orang Sunda ngalap berkah.

    Dalil berkaitan dengan berkah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Ketika itu persediaan air sedikit. Maka beliau bersabda : “Carilah sisa air!” Para shahabat pun membawa bejana yang berisi sedikit air. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangan beliau ke dalam bejana tersebut seraya bersabda : “Kemarilah kalian menuju air yang diberkahi dan berkah itu dari Allah.” Sungguh aku (Ibnu Masโ€™ud) melihat air terpancar di antara jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 6/433.

    Dengan lingkungan alam sekitar kita bisa mencari berkah. Misal petani dengan sebidang tanah dikelola dan dimanfaatkan dengan baik, ditanami dengan tanaman yang bermanfaat hingga memetik hasilnya, apalagi hasilnya cukup memuaskan. Bukankah ini berkah ? Pemanfaatan dan pengelolaan hutan dengan baik, maka akan mendatangkan berkah. Jika tidak punya etika dan membabi buta menebangin pohon hingga gundul, maka yang didapat bukan berkah, malahan bencana.
    Dengan sungai pun demikian, sungai jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, mempunyai etika dalam pemanfaan dan pengelolaan sungai, hulu sungai hutannya dipelihara, bantaran sungai tidak didirikan bangunan-bangunan yang bikin bantaran sungai menyempit, maka berkah yang akan didapat oleh manusia. tapi sebaliknya hulu sungai hutannya digunduli, bantara sungai banyak didirikan bangunan2 yang membuat badan sungai jadi mengecil, maka tunggu saja bencana bagi manusia.
    Disekitar kehidupan bermasyarakatpun demikian, jika sekelompok masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, memelihara drainase (aliran-aliran air), tidak membuang sampah sembarangan, maka berkah akan didapat oleh masyarakat itu berupa lingkungan bersih dan sehat. Tapi sebaliknya jika diabaikan, tidak peduli, maka jangan salahkan siapa-siapa jika dimusim penghujan kebanjiran.

    Memang …..tabaruk atau berkah itu datangnya dari Allah, tapi jika kita tidak pandai-pandai memanfaatkan segala potensi yang ada disekeliling kita, maka jangan harap berkah akan datang. jangan ini, mencari berkah ke gua-gua keramat, ke pohon, ke tukang paranormal, ke kuburan-kuburan dan banyak lagi kenyelenehan manusia dalam mencari berkah. Kalau sudah jelas bahwa barakah itu dari Allah, maka memintanya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik seperti meminta rezki, mendatangkan manfaat serta menolak mudlarat kepada selain Allah. Tidak diragukan lagi bahwa barakah itu termasuk kebaikan, sedang kebaikan itu semuanya dari Allah seperti sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Dan kebaikan itu semuanya di tangan-Mu.” (HR. Muslim dengan syarah An Nawawi 6/57)

    Sebagaimana uraian saya diatas,sesuatu yang digunakan untuk mencari berkah, kedudukannya hanya sebagai sebab bukan yang mendatangkan berkah. Sebagaimana halnya dengan berkebun hanya sebagai sebab bagi datangnya hasil, bukan yang menghasilkan. Yang menghasilkan adalah Allah. Oleh karena itu kita hanya mengharapkan keberhasilan kepada Allah. Dan terkadang berkebun tersebut tidak bermanfaat dengan ijin Allah. Maka yang disebutkan dalam syariat bahwa padanya terdapat barakah hanya digunakan sebagai sebab yang kadang-kadang tidak ada pengaruhnya karena tidak terpenuhi syaratnya atau karena ada penghalang. Penyandaran barakah kepadanya termasuk penyandaran sesuatu kepada sebabnya. Sebagaimana ucapan Aisyah radliyallahu ‘anha tentang Juwairiah bintul Harits radliyallahu ‘anha : “Aku tidak mengetahui seorang perempuan yang lebih banyak barakahnya daripada dia di kalangan kaumnya.” (HR. Ahmad, Musnad 6/277)
    Jadi pengertian hadits ini dialah sebagai sebab datangnya barakah dan bukan dia pemberi barakah.

    Jadi kesimpulannya bahwa mencari berkah adalah mencari tamabahan kebaikan dan pahala yang dibutuhkan oleh seorang hamba dalam urusan agama dan dunia melalui sebab2 dan metode yang disyariatkan.

    Astaghfirullah, koq jadi panjang lebar…..koq saya yang ngasih penjelasan…..walah mohon maaf nih….ana mo pamit, Sebetulnya masih panjang yang perlu ane kemukakan, bukan ane sok pinter atau so tahu. Saran ane kepada sodara2 ane seiman dan seagama, mencari berkah harus sesua dengan yang dianjurkan oleh agama, maka untuk konfirmasi selanjutnya harap ente tanya para ulama2 atau para ustadz.

    Wassalamualaikum wr. wb.

    >>> wah terimakasih atas pencerahannya, sering2 mampir membeirkan pencerahan yaa pak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: