dadiwongenomblikenasobud

Sisi Lain para Pencinta Tuhan

In Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur, Pendapat, Pengalaman Rohani, Peristiwa on 13 December 2007 at 11:58 pm

Maaf postingan ini untuk kalangan sendiri, bersifat teori,  banyak huruf hijaiyahnya🙂 dan panjang sekali… menjawab sedikit pertanyaan Hanna dan Icha dan lainnya.

Apakah tangga itu dengan dzikir?

A

lhamdulillah syukur kita kepada Allah karena telah mencip­takan tangga yang bisa dipakai untuk menuju kepada-Nya. Tangga itu kini tengah dinaiki step-by-step. Menurut pandangan para pengikut tasawuf, tidaklah salah memilih tasawuf sebagai salah satu tangga yang Insya Allah dapat sampai kepada tujuan. Para guru/syekh sering membe­ri­kan nasehat agar tetap berdisiplin dalam menjalani dan me­nai­ki tangga ini.

Selain itu Allah swt. akan memberikan fasilitas ekslusif kepada mereka yang berusaha menaiki tangga menuju Tuhan. Ada tiga fasilitas yang akan diberikan sesuai dengan golongan orang-orang yang mende­kati-Nya. Untuk lebih jelasnya siapa ketiga golongan yang berusa­ha mendekat sang Khalik itu dan apa fasilitas ekslusif Allah kepada mereka.

Ketiga golongan yang dimaksud Allah adalah terdapat dalam Surat Fathir: 32. Allah berfirman: (maaf ayatnyaditulis ya, soalnya ini pemicu postingan)

 

 

فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله ذلك هو الفضل الكبير

…. lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Tafsiran 3 Golongan

Ada tiga macam golongan yang dikategorikan dalam ayat di atas: Dholim Linafsih, Muqtashid dan Sabiq lilkhoirot. Adapun pengertian masing-masing menurut para mufassirin berbeda pendapat. Perbedaan pendapat itu bisa dilihat salah satunya dalam tafsir Al Qurthubi. Beliau banyak sekali mengutip pendapat penafsir untuk ketiga golongan. Di bawah ini dikutip beberapa saja diantaranya adalah:

Menurut Sahal bin Abdullah: Sabiq adalah orang alim; Muqtasid adalah muallim (guru) dan Dholim untuk orang yang bodoh. Ada pula yang mengartikan bahwa dholim adalah mereka yang tidak sabar bila terkena musibah; muqtashid mereka yang sabar dan bagi sabiq justeru mereka yang menik­mati bala (cobaan) dari Allah swt.

Ada pula yang mengar­tikan dholim orang yang meminta kekayaan berupa harta; muqtashid mereka yang meminta kekayaan .agamanya dan sabiq mereka yang memohon kekayaan Tuhannya. Adapula yang me­ner­jemahkan dengan pengamalan al Qur’an: bagi orang dholim mereka yang membaca al-Qur’an tapi tidak mengamal­kannya; Muqtashid mereka yang membaca sekaligus meng­amal­kannya dan bagi Sabiq, mereka yang membaca dan seka­ligus meng­amalkan serta mengetahui betul isi kandungannya.

Tiga Macam Gaya Penikmat Dzikir

the power of dzikir.. berapa ya harga bukuya.. Adapun menurut penafsiran orang sufi seperti Dzunun al Misri menghartikan Dholimu linafsih adalah mereka yang berdzikir dengan lisan; Muqtashid mereka yang berdzikir dengan hati dan Sabiq mereka yang berdzikir tanpa lupa dengan Allah. Seperti tersebut dalam Kitab Nuzhatul Majaalis Imam Ahmad bin Athaillah Assakandari mengartikan tiga golongan tersebut sebagai berikut:

Pertama, ظالم لنفسه (penganiaya diri) adalah mereka yang berdzikir dengn lisan tapi hatinya lupa dengan Allah; hanya dzikir lisan tok, hatinya mengembara kemana-mana. Berdzikir namun masih lupa dengan Allah, inilah yang dimaksud ayat disebut mendzolimi diri sendiri.

Kedua, مقتصد (pertengahan) yaitu berdzikir dengan lisan, tetapi hatinya betul-betul ingat kepada Allah dan faham apa yang diucapkan oleh lisan. Spertinya yang dimaksud adalah antara mulut dan hati nyambung.

Ketiga سـابق بالخيرات adalah penikmat dzikir tingkat elit; yaitu dzikirnya orang-orang yang tidak pernah lepas dengan Allahu-Allah dimanapun berada, dalam kondisi senang maupun susah. Dalam berdzikir bukan saja dengan lisan namun seluruh tubuhnya berdzikir kepada Allah. Meskipun dalam keadaan kaget, misalnya melihat piring pecah ‘praang!’ hatinya bahkan berkata: ‘ooh… mungkin Allah tengah bekehendak piring itu pecah’ Hatinya sama sekali tidak mau bergeming terus mela­falkan Allaahu-Allah. Singkatnya, jenis dzikir seperti ini mem­be­ri manfaat penikmatnya. Dalam hitungan detik mereka tidak pernah melewa­ti waktu kosong dari dzikir kepadaNya.

Ilustrasi, penghargaan buat penikmat dzikirFasilitas Ekslusif

Masih menurut Imam Ibnu Athaillah Assaakandarry menjelaskan bahwa ketiga penikmat dzikir tersebut masing-masing mem­per­oleh fasilitas ekslusif dari Allah swt sesuai dengan gayanya.

1. Nurul Hidayah

Nurul Hidayah (hidayah/petunjuk) adalah fasilitas untuk gaya berdzikir tingkat awal (dholimu linafsih), penikmat dzikir lisan namun hatinya tidak berdzikir. Mereka akan dianugerhi Nurul Hidayah yaitu semacam penunjuk jalan kebenaran bagi orang terse­but. Jika sudah memperoleh Nurul Hidayah, menurut Ibnu Atha­illah, Allah akan membe­rikan keisti­mewaan terbebas dari segala macam bentuk syirik.

S Rupanya penjelasan dari pengarang kitab Al Hikam ini memandang dzikir sebagai sesuatu yang manfaatnya besar sekali. Bahkan hanya dimulut saja, tanpa dihati, si penikmat akan diberi petunjuk.

2. Nurul Kifayah

Fasilitas ini untuk penikmat dzikir gaya kedua yaitu orang-orang muqtasid (pertengahan). Mereka adalah Penikmat Dzikir dengan Lisan dan Hati. Setiap orang yang berdzikir de­ngan gaya ini, menurt Ibnu Athaillah akan diberikan fasilitas dari Allah berupa Nur Kifayah. Nur ini langsung diberikan Allah sehingga orang yang memiliki­nya menda­pat­kan kemam-puan secara lahir dan batin untuk tidak mengerjakan dosa-dosa besar dan tindakan yang dhalim lainnya.

Keistimewaan ini didapat hanya dengan mela­kukan dzikir di lisan dan hatinya hadir kepada Allah. Suatu pekerjaan yang keliha­tan­nya mudah namun tidak semua orang mampu mengerjakan dzikir ini. Ka­re­na itu golongan orang-orang seperti ini jarang sekali. Al Qur’an sering menyebutkan ungkapan : kebanya­kan manusia masih suka lupa

3. Nurul Inayah

Adalah fasilitas petunjuk (inayah) karena rajin berdzikir. Berdasarkan pengalaman para penikmat dzikir yang saya temui, katanya, fasilitas inayah ini manakala seseorang yang mampu berdzikir tanpa henti maka setiap orang yang mengerjakan dzikir di hati dan tidak bergeming sedikit­pun terhadap keadaan sekelilingnya yang menggo­da. Dia benar-benar konsentrasi tanpa henti kepada Allah. Meskipun gang­guan fisik dan perasaan menghantui terus-menerus. Bah­kan gangguan pisik sekalipun tidak berge­ming. Contoh cobaan fisik berat namun tetap kuat  pernah dialami oleh Nabi Ayub as.

Ulat yang mengge­rogoti badannya tidak menyurutkan diri untuk terus memuji Allah. Beliau begitu ikhlas dan ridha terhadap penderitaan phisiknya. Pada zaman sekarang masih ada orang yang memiliki kedalaman hati sanubari tidak henti-hentinya mengungkapkan dzikir (menyebut nama Tuhan) misalnya Allahu-Allah. Maka dengan kehebatan tingkatan dzikir ketiga ini, menurut Ibnu Athaillah, Allah anuge­rahi Nurul Inayah.

Suatu ke­mam­­­puan yang diberikan Allah terhadap mereka sehingga orang ini terjaga baik perbuatan, perkataan­, bahkan lintasan dan bisikan hati yang mengajak kepada kealpaan dan hal-hal yang merusak.

Pada tingkatan dzikir pertama telah dilalui oleh Nabi Adam as, Nabi Nuh as, Nabi Yunus as dan para sahabat; mereka mengakui dirinya mendzolimi sendiri. Lihatlah misalnya ketika Nabi adam as dikeluarkan dari Syurga berdoa dengan ungkapan:

ربنا يا ربنا ظلمنا أنفسانا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

Dari ayat quran yang merekam kata-kata Nabi Yunus as itu, terlihat penyesalan dengan ungkapan: dzalamna..

Dimana Posisi kita

Dari uraiaan di atas dimana posisi kita sudah dapat diketahui. Di dalam posisi bagaimanakah kita dalam berdzikir. Apakah berdzikir dengan model pertama. Dimana lisan berdzikir tapi hati lupa… biasanya dzikir jenis ini dikarenakan banyak masalah pribadi sehingga tidak bisa konsentrassi.

Namun meski demikian, tidak perlu hawatir sebab bahaya orang yang tidak berdzikir lebih besar daripada berdzikir namun lupa dengan Allah. Karena itu, biasanya para penikmat dzikir berpesan teruslah berusaha berdzikir karena Insya Aallah nur hidayah akan beserta orang tersebut. Nur Hidayah ini akan diturunkan Allah kepada siapa yang dikehendaki. Nur ini sangat penting sebagai cahaya dan pelita kehidupan dan merupakan penerang dalam rangka menaiki tangga menuju Allah. Firman Allah:

 

ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور

“Barangsiapa yang tidak diberi nur oleh Allah maka ia tidak mempunyai nur.”

Kalau tidak memiliki nur Hidayah maka kemungkinan kesesatan yang akan didapatkannya. Sebagaimana Firman Allah:

 

يضل من يشـاء ويهدى من يشاء

Allah menyesaatkan siapa yang dikehendaki, dan memberi hidayah/petunjuk kepada siapa yang dikeehendaki

Allah memilih sendiri dengan ilmu dan kebijaksanannya, manusia tidak berhak bertanya mengapakah atau bagaimanakah? Terhadap kebijaksanaan Allah Karena adanya Nur yang Allah berikan kepada hambanya yang berdzikir adalah berseemayam di dalam hati. Sebab hati, maka karena itu berkata Ibnu Athaillah bahwa tempat terbitnya berbagai nur cahaya Ilaahi itu dalam hati manusia. Nur atau cahaya atau petunjuk adalah sangat penting namun semua itu tergantung kepada Allah, dan manusia hanya berharap. Itulah sisi lain pencinta Tuhan. Wallahu a’lam.

Bagaimana menurut Anda?

Sumber foto dari Google

  1. Pertamanya yach.

    >> selamat dapat pertamax gratis heheh🙂

  2. Luar biasa, ya, Pak. Terima kasih ya, Pak Kurt.

    Wah, saya paling takut sama ulat, hehehe.

    Mendingan berdzikir ya daripada tidak sama sekali.

    >>> Kenapa takut ulat bukankah ia makhluk yang lucu Ci, hiiii kalau saya geli bukan takut.🙂 betul mendingan dzikir daripada takut sama ulat heheh tidak sama sekali🙂

  3. Zikir konon mampu memancarkan “inner beauty” yang memancarkan cahaya keillahian dari dalam. Tapi, sayangnya saat ini kok lebih banyak orang yang memuja hal2 yang tampak secara lahiriah ketimbang rohaniah ya, mas Kurt.

  4. Maaf nanya nich Pak …
    Apakah dzikir yang ada di tulisan Mr. Kurt ini dzikir secara luas berdasarkan pengertiannya “mengingat Alloh”?
    Soalnya sepertinya masih banyak pihak yang beranggapan bahwa yang namanya dzikir ya mengucap tasbih dll.
    Tanya lagi Pak …
    Ketika seseorang secara “refleks” mengucapkan:
    *> “subhanalloh” ketika melihat fenomena menakjubkan
    *> “Innalillahi” ketika mengetahui ada musibah dll
    Apakah melihat sikap “refleks” tsb bisa dikatakan kalau yang bersangkutan benar2 mengingat Alloh dengan hati?

    BTW saya benar2 salut dengan Mr. Kurt sebagai sosok ustadz modern … benar2 bersikap terbuka tapi tetap terarah.
    *salaman*

  5. Bener-bener panjang….
    Saya mau komentar, tapi lum selesai bacanya.
    Pengen tanya, tapi kalau ga taunya udah ada gimana?, kan malah ketahuan kalau sebenernya saya belum baca, tapi dah komentar *Tapi kok malah jadi komentar panjang ya disini, mengomentari komentar*

    Jadi saya copy ya bang, komplit banget kayaknya🙂

    O iya ada pesan dari Sam Onohow yang mengingatkan saya sama postingan di benar-benar manusia biasa. Kata Sam Onohow saya disuruh tanya, kalu ndak percaya bahwa niat mendahului hasrat *sekalian ya dicantumin sini*🙂

  6. pahami n di cerna dulu ah tulisan si pak kurt ini..

  7. Pak apa yang dimakud dengan zikir yang tidak terputus setiap hari, selama 24 ?

  8. 24 jam maksudnya pak.

  9. Thanks pencerahannya.
    Saya juga merasakan, kalau sholat benar-benar khusuk, dan rajin berzikir, bahkan sampai tertidur, rasanya Allah swt banyak sekali memberi karunia bagi saya sekeluarga.

    Kita memang harus selalu ingat kepada Nya, dimanapun berada, rasanya karunia Nya lebih besar dari apa yang telah saya perbuat selama ini. Untuk akhir tahun, memang perlu waktu untuk refleksi diri, apa yang telah kita perbuat selama ini, dan agar lebih baik lagi jika kita masih mendapat karunia menikmatinya.

  10. Ya ya … bagiku ini memantik liukan alam kesadaran. Aku tak malu Kurt., aku orang yang tidak terlalu respek dengan itu zikir. Aneh? Ya. Tidak. Begitulah ‘aku’.

    Ketika ikut ESQ Training, ‘rasaku’ dibuainya, namun belum menikmat. Belakangan, membeli buku Gazali lebih banyak, Aljauziah, Amru, Al-Qarni, Wahap, Musawi, dan lain-lain … pikiranku masuk. Aku tertegun di gerbangnya.

    Batinku dah siap juga untuk melakoni zikir, sebagai pemula. Oh ya, kelompok yasinan saja aku dulu ngak pernah ikut. Selepas ramadhan baru jadi aktivis. E … curhat juga neh.

    Nah, Maz Kurt. Tolong ya, bagaimana kiatnya agar secara kaffah bisa masuk ke wilayah demikian. Allah SWT itu adalah keadaan sesungguhnya, Allah melingkupi selain Dia. Jadi hanya ada dua ‘materi’, Dia dan selain Dia. Oi … ajari aku menikmati zikir. Mau kan? Minimal, lewat pebcerahan tulisan. Salam Muslim.

  11. Pak Ustadz…
    menurut abah yang bodoh & dholim…
    dzikir = ingat.
    bisa “INGAT”… syaratnya yaa… harus “ketemu” / mengalami / merasakan dulu. Tanpa “ketemu” / mengalami / merasakan terlebih dahulu, mustahil sesuatu bisa di “INGAT”. Seperti abah yang belum pernah bertemu dengan Pak KURT, mustahil sekarang abah bisa ingat wajah pak KURT. Atau abah yang belum pernah merasakan tenderloin import steak dengan saos mushroom, mustahil abah bisa ingat rasa steak itu, yang mungkin abah lakukan hanya menebak-nebak saja, mungkin rasa steak itu seperti rasa rendang padang karena bahan dasarnya sama, daging sapi… tapi tetep aja itu keliru.
    Maka, dalam bahasan DZIKRULLAH, “Ma’rifatullah Awaludiin” tidak dapat ditawar-tawar lagi…! karena tidak tersedia bahasan menebak-nebak Allah.
    itu mah hanya pendapat abah, Maklum pak… abah yang bodoh & dholim ini, acap kali keliru…

    salam

  12. @Ersis WA
    “Allah melingkupi selain Dia. Jadi hanya ada dua ‘materi’, Dia dan selain Dia.”
    pernyataan ini hanya ada di “alam pikiran” abah yang bodoh & dholim. Tapi sungguh kenyataan yang sebenarnya :
    Laa ilaha ilallah.
    Tidak ada sesuatupun, yang ada hanya Allah.
    Allahu AHAD.
    salam

  13. OOT Sebentar Paman Kurt :
    Nama pacar pertama saya Nurul
    *halah nda’ penting*
    __________________________________
    Cahaya…
    Nur…
    Nur Muhammad…
    Sebuah konsep yang benar-benar menarik hati saya,
    meski belum sepenuhnya mengerti,
    Hanya teringat :
    “Para pencinta itu seperti laron yang silau pada Cahaya Pelita, merubungnya untuk kemudian lebur bersamaNya dalam Cinta”
    ah indah sekali,
    terima kasih:mrgreen:

  14. “Man ahabba syai-an katsuro dzikruhu…”
    barang siapa mencintai sesuatu, maka dia akan banyak menyebutnya.

    Dalam berdzikir atau berbuat taat pd Allah, jangan sekali2 terilntas agar DILAYANI oleh Allah, dg berbagai nikmat/karunia/karomah. Kalau itu terjadi, maka kita telah terbelokkan… na’udzubillah…
    hanya satu : RIDLOLLAH…
    wallahu a’lam bishshowab…

  15. sewaktu menjadi santri abal – abal, guru saya pernah menyuruh saya dzikir ini sekian ribu kali, itu sekian ribu, yang ini sekian ribu, dll dalam sehari. waktu pertama kali dikerjakan, wuuiihh berat banget. lama-lama jadi terbiasa dan ada sesuatu yang “mengalir” didalam hati.
    sata baru menyadari bahwa jumlah hitungan itu tidak penting, itu hanya sebagai sarana latihan agar memperbanyak dzikir.

    kemudian saya menemukan ayat yang bunyinya “berdzikirlah kepada Allah, amak hatimu akan tenteram”

  16. Hanna #1
    wey dapat pertamax🙂

    Hanna #2
    takut sama ulat beneran kan bukan ulet hayalan hehehe
    betul, dzikir dalam konsep para pencinta Tuhan,
    itu luar biasa energi yang diperoleh.. ..🙂 heheh

    Sawali Tuhusetya
    >> Zikir konon mampu memancarkan “inner beauty”
    waaah jadi ngiler dengan “inner beauty”

    >>sayangnya saat ini kok lebih banyak orang yang memuja hal2 yang tampak secara lahiriah ketimbang rohaniah ya, mas Kurt.
    Iyaa pak guru, mungkin rohani itu mirip roh gentayangan kali seperti yang TV tayangkan jadi pada takut heheheh🙂 just kidding.

    deKing yang biasa2 saja
    >>Apakah dzikir yang ada di tulisan Mr. Kurt ini dzikir secara luas berdasarkan pengertiannya “mengingat Alloh”?

    :)Mas Deking, ini hanya sebagian kecil dari makna dzikir yang saya kutip dari Imam ibnu Athoillah Assakandari, pengarang kitab Al Hikam. Makna-makna lain, sangat luas bisa dicari di manapun buku-buku, atau tafsir dan hadits …
    Sebab tujuan akhir dari dzikir itu adalah menenangkan hati… “alaa bidzikrillah, tatmainnul quluub” kata quran. Jadi dalam hal ini dzikir pengertian yang khusus bukan umum.

    Termasuk mengucapkan subhanallah, inaalillahi dan hanya dimulut, menurut Ibnu Athaillah, seperti artikel di atas, masuk dalam kategori dzikir tingkat lisan dan tidak masuk ke hati… menurutnya, ia tetap akan diberi fasilias eksklusif dari Allah. Alagi masuk ke hati-hati.🙂

    >>BTW saya benar2 salut dengan Mr. Kurt sebagai sosok ustadz modern … benar2 bersikap terbuka tapi tetap terarah.

    :)kang Deking, saya hanya penulis blog doang, bukan ustadz kalau beliau2 itu mana sempat ngeblog sebab disibuki oleh urusanmengajar dan ceramah. *salaman nucup*

    perempuan
    Mbak Peyem, komentar dulu gak papa, baca belakangan, kan nanti komentar lagi jika sudah dibahas tinggalkomentar saja.. jadi seperti gak ada rekayasa lebih alami seperti air, bukankan kita hidup bijak salah satunya karena menyadari kekurangan ??🙂 hehehkok jadi ceramah sih.

    Ohya kopiannya silahkan di cek lagi, sebab sudah diedit kembali nih…

    “Niat mendahuli hasrat..” ah itumah yang menguasai bahasanya Neng Peyem aja ya… saya kurang pede membahasnya. heheh🙂

    andi bagus
    >> “pahami n di cerna dulu ah tulisan si pak kurt ini..”
    terima kasih kawan jika mau membacakannya … sapa tahu saya kebagian kebaikannya.

    danalingga
    >> “Pak apa yang dimakud dengan zikir yang tidak terputus setiap hari, selama 24 ?”

    Sepertinya begitu mas Dana, tapi ini murni jawaban tanpa dasar … memang sulit dan sepertinya juga, kemampuan itu saya kira merupakan karunia.. Misalnya Nabi saw saat tidur hatinya tetap terjaga. siapa lagi, wallahu a’lam. Sebab itukan (sepi)ritualitas yang tahu hanya di alam sepi. heheh🙂

    edratna
    Makasih, selamat ya bu, bisa merasakan fenomena batin yang luar biasa.. jarang loh bu. Saya sendiri pun amat kesulitan menjaga kehusuan itu.

    “Untuk akhir tahun, memang perlu waktu untuk refleksi diri, apa yang telah kita perbuat selama ini, dan agar lebih baik lagi jika kita masih mendapat karunia menikmatinya.”

    Amin bu, semoga saya sih berharap reflektor yang ada dalam diri saya masih bisa difungsikan untuk menerima sinyal-sinyal penguat…🙂 makasih bu atas pengingatnya.

    Ersis WA
    ….. Begitulah ‘aku’.
    >> heheh yap, itu Bang Ersis masa lalu…

    “Ketika ikut ESQ Training, ‘rasaku’ dibuainya, namun belum menikmat. Belakangan, membeli buku Gazali lebih banyak, Aljauziah, Amru, Al-Qarni, Wahap, Musawi, dan lain-lain … pikiranku masuk. Aku tertegun di gerbangnya.”

    >>> heheh yap, itu Bang Ersis masa kini ….

    “Batinku dah siap juga untuk melakoni zikir, sebagai pemula. Oh ya, kelompok yasinan saja aku dulu ngak pernah ikut. Selepas ramadhan baru jadi aktivis. E … curhat juga neh.”

    >>> heheh yap, itu Bang Ersis masa depan ….

    “Nah, Maz Kurt. Tolong ya, bagaimana kiatnya agar secara kaffah bisa masuk ke wilayah demikian. ”
    >>> nah di posisi ini saya mundur, sebab seolah saya kok diposisikan sebagai ahli dzikir… padahal hanya penulis blog pemula.

    “Allah SWT itu adalah keadaan sesungguhnya, Allah melingkupi selain Dia. Jadi hanya ada dua ‘materi’, Dia dan selain Dia. ”
    >>> Allah melinkupi segala sesuatu… dan berbeda dengan makhluqnya.

    “Oi … ajari aku menikmati zikir. Mau kan? Minimal, lewat pebcerahan tulisan. Salam Muslim.”

    >>> Saya justru belajar dzikir menulis dari bang Ersis toh… salam muslim

    abah dedhot #1
    “…… bisa “INGAT”… syaratnya yaa… harus “ketemu” / mengalami / merasakan dulu. Tanpa “ketemu” / mengalami / merasakan terlebih dahulu, mustahil sesuatu bisa di “INGAT”.

    >>> ah abah ini, rendah hati selalu, menurut saya sama pengertiannya begitu, tapi bukankah tidak ada yang mustahil pada Allah. Ingat yang dimaksud kan bukan fisik Abah tapi ingat diri sendiri itu juga sama dengan mengenal Allah… kalau tidak salah kutip nih Abah, misalnya Nabi bersabda: “siapa yang mengenal dirinya, maka ia kana mengenal sang AKhalik” man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu”… nah sepertinya, dzikir diarahkan kepada ingat akan posisi masing2; kalau saya diposisikan sebagai hamba dan Alalh diposisikan sebagai penguasa Alam semesta.

    “Seperti abah yang belum pernah bertemu dengan Pak KURT, mustahil sekarang abah bisa ingat wajah pak KURT. ”
    >> emang iya sih, kalau rohani dikaitkan dengan fisik rasanya jaka sembung turun gunung , gak nyambung sampai ke ujung…🙂

    “Maka, dalam bahasan DZIKRULLAH, “Ma’rifatullah Awaludiin” tidak dapat ditawar-tawar lagi…! karena tidak tersedia bahasan menebak-nebak Allah.”
    >> Abah, saya berharap pencerahan dari Abah itu bisa dibaca untuk kelas saya yang masih awaludin ini…

    “salam”
    >> “salaman kembali, makasih atas ilmunya.”

    abah dedhot #2
    Terima kasih kembali atas pencerahannya…

    goop
    “Nama pacar pertama saya Nurul”
    hahahah ….

    “Para pencinta itu seperti laron yang silau pada Cahaya Pelita, merubungnya untuk kemudian lebur bersamaNya dalam Cinta” ah indah sekali,
    >>> saya juga silau dengan ungkapan ini, kita berharap laron itu masih kebagian cahaya sekitarnya….🙂 makasih

    ansori
    “….. Dalam berdzikir atau berbuat taat pd Allah, jangan sekali2 terilntas agar DILAYANI oleh Allah,……
    >> wah terima kasih satu lagi pikiran jernih mengalir kemari… Alhamdulillah.🙂 salaman.

  17. cerah cerah cerah…
    mohon terus menulis kang..
    izinkan saya belajar..

  18. […] ingin berterima kasih kepada seluruh fans-fans saya yang telah mendukung saya, baik support maupun doa. Kepada […]

  19. setiap kesini, selalu ada postingan baru, sarapan baru, makanan baru, ….om yang satu ini produktif sekali….salutttt

  20. Mas, kenapa manusia tidak berhak bertanya? Kalo nanya kan harusnya ngga papa, tapi terserah yang ditanya mau jawab atau tidak. Misalnya terjadi ketika Allah akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, malaikat bertanya (dibahas panjang lebar di buku “Bahkan Malaikat pun Bertanya”, Jefrey Lang).

  21. Maur nuwun pak Kurt, ada pencerahan yang saya dapatkan tentang dzikir. Boleh nggak, saya jadikan bahan untuk khutbah jum’at saya minggu depan?
    Atas perkenannya, mudah-mudahan barokah. Amin

  22. edo
    Bos Edo main cerah aja.. emangnya ramalan cuaca!🙂 heheh

    cewektulen
    kekekek… tahu gak sebabnya, salah satunya agar bisa silaturahmi sama cewek yang pulen eh tulen banget
    *dilepar tustel asa 400*

    Iwan Awaludin
    Mas Iwan, jawabannya saya tidak menguasai dunia permalaikatan … jin dan seputar dialog itu… mungkin sampean bisa tanya langsng kepada Jefey Lang atau di blog yang membahas tentang pendapat Jefrey Lang.. Tapi barangkali nanti saya bisa belajar dari beliau2 untuk juga menulis masalah penting ini…🙂 terima kasih saudaraku…

    gempur
    Sumonggo bilih panjenengan kerso, kulo ngrasa artikel niki mboten pantes dibahas.. isin kuloe.. Nanging bilih kerso enggih monggo dipun pendet. Mugi2 angsal barokahipun saking kyai gempur…🙂 Kulo naging pesen setunggil mawon, amit ayat2 nipun dicek and ricek … inggi kula kondur …

    @ hahah maksud hati berjawa kromo, apadaya bacot cerebon kowek! yang keluar… maaf ya pak..

  23. @pak KURT
    dalam proses memaknai hadist rasulullah “man ‘arofa nafsahu faqod arofa robbahu” (barang siapa yang mengenal nafs/diri nya, maka akan mengenal rab/tuhan/Maha Pemelihara). abah dibawa oleh ILMU kepada faham akan nafs/diri abah sendiri, yang pada akhir perjalanan abah simpulkan bahwa diri abah itu mempunyai sifat:
    1. Kitman / selalu salah.
    2. Khianat.
    3. Bodoh / Jahlun.
    4. Khizib / selalu menyembunyikan kebenaran & menyampaikan kepalsuan.
    jadi pengakuan abah sebagai yang superbodoh & dholim, bukan sifat abah yang “rendah hati”… Tapi pengungkapan “kejujuran” atas diri, padahal sifat “JUJUR” bukan sifat abah. Jadi siapa yang JUJUR…???
    Yang JUJUR itu, Big Boss kita yang punya sifat :
    1. SIDIQ.
    2. AMANAH.
    3. FATHONAH.
    4. TABLIGH.
    Hanya BELIAU inilah yang mengenal tuhannya / ma’rifatullah, dimana sifat ILMU dapat menempat. Tidak ada pintu lain untuk ma’rifatullah selain kepada BELIAU. Maka umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak shalawat NABI, dan juga dalam “pengamalan” 2 kalimat syahadat, syahadat tauhid & syahadat rasul, tidak boleh dipisahkan, karena manunggal adanya.
    Yang mengenal diri tidak langsung dapat mengenal tuhannya. harus ma’rifat dulu kepada rasulullah, karena hanya rasulullah yang ma’rifatullah. Abah dengan sifat bodoh, khianat dsb. MUSTAHIL dapat ma’rifatullah… apalagi bisa berDZIKRULLAH… wah JAUH pak. Abah mah untuk mengenal diri juga sudah “babak belur”. Dan kalo sudah kenal sama “diri”… hancurkan, penggal, salib, sirnakan (fana) “diri” itu. sehingga yang ada hanya Big Boss.
    Ma’rifatullah, Dzikrullah itu urusan Big Boss… abah mah kelaut aja, sirna tanpa bekas… Mati lah kamu sebelum mati, shalatlah kamu sebelum di shalatkan…
    Mungkin bgitu menurut abah yang…😆
    Mohon koreksinya Pak Ustadz… maklum abah ‘kan…😆
    salam

  24. @pak KURT
    nambah nih… (abis doyan sih…😆 )
    Keberadaan hamparan jutaan ILMU yang ditaburkan NYA di muka bumi… hanya untuk menjelaskan dan menegaskan ketidakberdayaan & ketiadaan diri abah. Yang ada hanya…
    Laa Maujud Ilallah. dimana dzat, sifat, asma & af’al manunggal adanya.
    Keberadaan abah hanya ada di “alam fikiran” hasil kesepakatan… (keberadaan diri abah tidak bisa dibuktikan dengan ILMU).

    salam

  25. ::wow, abah udah jadi kyai…ini bah sorbannya bah, nih bah yg untuk diselempangkan, *duduk khidmad*

  26. Matur nuwun pak Kyai Kurt, sebenarnya dah ada bahan untuk jum’at besok tentang haji. Tapi, kok sudah banyak yang mengungkapnya, maka jadilah artikel ini saya minta. hehehehehehe..

    Atas izinnya, matur sembah nuwun, mugi-mugi barokah! Amin Allahumma Amin.

  27. lha kalo orang mencintai dirinya, berarti cinta Tuhannya juga gak? Narsis dong😀 mohon penjelasan definisi narsis itu, supaya gak salah tafsir gitu ganti [break]…😀

  28. @mas zal
    UAMPUUUUNNNN…. bukan maksud abah begitu… abah memang GUDANGNYA kekhilafan, abah AHLINYA kesalahan… ngga pantes abah pake sorbannya, apalagi yang buat diselempangkan.. aduh, TOUBAaaat. AMPUN AMPUN AMPU 1000 X. SUHU ZAL, abah ngga BEGITU…

  29. @Abah Dedot
    Abah, Insya Allah semoga saya bisa mencerapi makna hadits yang telah duraikan oleh Abah… jadi mengenai dzikir sendiri menurut Abah bagaimana sebaiknya. Agar bisa memberi kesadaran Laa mujuuda illallaaah. Dan bagaimana mengaplikasikan ilmu “Big Bos” kita yang bersifat Siddiq amanat tabligh & fatonah sinarnya bisa menyerta dalam bayang2 kehampaan diri…🙂 mohon pencerahannya abah. Habis doyan seh. 🙂

    @ Siti Jenang
    diterima. Narsis itu mirip pengertiannya dengan ego.. ia tokoh Yunani bernama Narsisus yang suka bercermin sendrian… dan mengagumi diri.

    bisa dilihat lebih jauh di sini: Menurut Wikipedia:
    menurut wikipedia
    … Menurut Wiktionary

    gempur
    sami-sami kang ustadz gempur… bagaimana hasil khutbahnya kang, saya jadi penasaran pengen tahu.

  30. dulu perasaan pernah kesini degh, tapi lupa lagi.
    di sini saya dapat banyak sekali pelajaran yang dapat saya terapkan dalam kegiatan sehari-hari🙂 kadang2 kalo saya gi diblog lain saya liat nama pak kurt saya jadi ingat tempat ini loh pak huhuhuu
    menjilat mode : on
    yah mudah2an nanti kalo saya lagi blogwalking masih ingat tempat ini jadi bisa terus mampir, kalaupun bapak nggak ada atau tidak saya temui kan nggak dilarang main ke sini ya pak? lagian kan bapak tau dengan comment yang saya buat kalo saya udah kesini jadi bapak juga ingat ma saya huhuhuhuu. walaupun kita tidak pernah bertemu muka paling tidak saya masih bisa kesini karna udah tau tempat pak kurt huhuhuuh
    *basa basi yang kepanjangan.*

    untuk urusan zikir saya nggak begitu ngerti pak kurt
    jadi maafkan kalau kunjungan saya kali ini OOT banget

    mudah2an kita bisa terus saling mengenal biar saling ingat yah pak kurt😉

    >> wah aku jadi malu sekali sama kang bedh, iya pernah kemari… soalnya saya kadang2 olnya jadi yaa begitu deh melupakan tetangga yang suka lewat di depan rumah padahal.

  31. weleh2 ternyata para kiai langitan pada dzikir disini to?!
    *duduk bersila dan mulai menyimak*

    >>> hihih aku bukan kyai langitan tapi muridnya kyai bumian🙂

  32. Ibnu Athaillah Assakandary ah bergetar kang denger ini…

    banyak sih yang mengatakan batas syirik itu halus, nah gimana pendapat sampean kang tentang Robitho Wasilah yang dianut sebagian kaum thoriqoh itu, maaf jika salah tulis dan sedikit OOT

    >> wah ini menarik membahasnya Insya ALlah nanti aku postingkan tq. Intinya sih dosa semisal sombong saja konon jika ditelusuri ia menjadi syirik sebab merasa tidak membutuhkan Tuhan… jadi bukan kepada Robitho Wasilah saja bahkan kepada apapun… heheh maap kalau OOT

  33. ::Pak Kurt::
    Ibnu Athaillah Assakandary, apa Beliau ini penafsir Kitab Tua Tok Pulau Manis ya…

  34. Pak Kurt, mohon email saya dibalas yach, please?, he he he.

  35. saya sedang mempelajari dan menghapal doa2 nih pak….
    begitu miskinnya ilmu akhirat saya…

  36. “Abah, Insya Allah semoga saya bisa mencerapi makna hadits yang telah duraikan oleh Abah…”
    Coret-coretan abah diatas, adalah hasil pengamatan abah selama diperjalankan. jadi mungkin hanya buat abah cocoknya… belum tentu untuk yang lain bisa cocok… karena jalan menuju DIA sebanyak bintang dilangit, masing-masing punya jalur lakon kehidupan yang dialami sendiri-sendiri. Coretan itu belum mencakup keseluruhan perjalanan, pak… belum final.

    “jadi mengenai dzikir sendiri menurut Abah bagaimana sebaiknya. Agar bisa memberi kesadaran Laa mujuuda illallaaah.”
    Abah ngga punya kemampuan untuk merangkainya dengan apik, informasinya masih liar & panjang banget untuk diuraikan. Tapi kurang lebih seperti ini :
    Pak KURT bilang : Misalnya Nabi saw saat tidur hatinya tetap terjaga.
    Maka muncul pertanyaan… “Siapa”kah / “apa”kah… (wah ngga cocok juga…) ehm… “?” yang ngga pernah tidur & tidak pernah mengantuk…??? Ada ungkapannya dalam “ayat kursi”.
    “ini” yang disinggung sama mas danalingga diatas, mengenai dzikir 24 jam / ash shalatu wushqa / ash shalatudh dha’imun / Shalat atau dzikir yang tidak putus-putus. Nabinya sih keliatannya lagi tidur, tapi ungkapan hadist itu sesungguhnya “Big Boss manunggal dengan DIA”… DIA yang ngga pernah tidur, DIA yang selalu terjaga.
    Maka dalam bahasan DZIKRULLAH, pedomannya :
    Hanya DIA yang “TAHU” DIA… Hanya DIA yang “INGAT” DIA… dan DIA memuji diriNYA.
    Mustahil, “diri abah” tahu DIA… mustahil yang terbatas menjangkau YANG MAHA TANPA BATAS.
    Maka di syari’at kan, ketika hendak mengerjakan (mendirikan..??) shalat, diwajibkan dahulu untuk ber wudhu (air) atau ber tayamum (debu… unsur tanah, api & angin), yang dimaksudkan sebagai ritual penanggalan “diri” kembali kepada kesejatian “nur Big Boss” ( SIMBOL : tanah, api, air & angin). Sehingga yang mendirikan shalat adalah Big Boss… sedangkan “diri”…??? Sirna / fana.
    Dalam hadist : “Shalat itu adalah MI’RAJ bagi orang-orang (a’lim) yang beriman”. Dalam peristiwa MI’RAJ, di zona sidratul munthaha, Jibril as. pun tak dapat memasuki zona itu… apalagi “diri” yang melekat dengan dunia… Nah, di zona ini lah… Laa Maujuda ilallah, Laa hayuu ilallah, Laa Ta’siru ilallah… dsb. Yang berangkai menjadi 2 kalimah syahadat. Dari mulut Bilal ra. terdengar : AHAD.. AHAD.. AHAD..
    SINGKATnya :
    Kalo memang ada yang namanya IKHTIAR, tujukan ikhtiar itu kepada MEMERDEKAKAN HAMBA SAHAYA (Amati hamba sahaya/diri secara tepat, dan tanggalkan eksistensinya…) Pada saat hamba sahaya merdeka, otomatis Big Boss akan muncul… menggelar dzikir 24 jam (versi mas dana) / ash shalatudh dha’imun. disaat berdiri, duduk & berbaring selalu diliputi oleh DZIKRULLAH (tapi lebih pas dalam bahasa jawa… ELING).
    *Haqiqat DZIKIR, sudah digelar oleh mas bedh, dalam comment nya diatas… dzikir kepada pak KURT*

    Bgtu pak Kurt… pandangan abah mah, kumaha menurut pak kurt atas pandangan abah ini… Abah mohon koreksinya pak Kurt, semoga menjadi sempurna…

    “Dan bagaimana mengaplikasikan ilmu “Big Bos” kita…???”
    Wah… dijebolin juga nih perahunya..??? ntar tenggelemnya pada KAGET… pelan-pelan aja ah… (bocor halus)…😆

    salam

  37. ni posting asli kuereen abis
    *ijin disave ya pak*

    >>> silahkan… mohon dikoreksi yaa kalau ada yang salah

  38. Pak Kurt, saya cuma mau laporan, sekalian sowan njenengan. saya mau nyari kedamaian saja di sini.. hehehehehehe.. di tempat lain agak kurang kondusif..😉

    setelah saya jadikan materi khutbah saya jum’atan tadi, mudah2an Allah berkenan memberkahi kita semua terutama njenengan selaku penyampai dan penyambung lidah para ulama salaf yang mungkin sekarang tergerus jaman.

    Hasilnya memuaskan, setidaknya dalam pandangan singkat saya, melihat jamaah yang tak langsung ngeloyor pergi setelah jum’atan. duduk bersila dahulu untuk dzikir meski tak lama. karena biasanya jamaah langsung pada ngeloyor pergi setelah jum’atan selesai.

    mudah2an menjadi tradisi, mudah2an njenengan ketiban berkah. Amin alahumma Amin…

    matur suwun ingkah kathah pak kurt, saya undur diri..

    >>> beneran sampean khutbah pake materi ini? .. duuh *jingkrak2 sampe keseleo* karena muga-muga ketiban brekat berkah…🙂

    *serius on*
    saya jadi istighfar sendiri kang sebab tidak sedikit saya pun setelah shalat itu malah ngeloyor. Mugah-mugah menjadi penyanpai lidah ulama itu tidak membosankan… sebab agak sulit memahami omongane para ulama salaf itu.. butuh kesabaran dan keikhlasan *halah sok narsis nih* jadinya yaa

  39. Lagi, pak Kurt, maaf ada yang kelupaan.. yang sejenis beginian sering2 diposting pak kurt.. saya akan membaca dengan setia bersama istri saya, tentunya offline pak kyai..

    Matur nuwun atas izinnya.

    >> aduh jadi malu dibaca sama isteri njenengan…. btw makasih.. Insya Allah saya bisa melakukannya.

    Kang Gempur, memang Islam “inklud” (bukan Islam inklusif, ini istilah saya saja) itu khas pesantren, sementara islam “exclude” itu khas pesantren “kota..” isinya kadang marah-marah sama orang/golongan lain. Kalau di kampung saya (-pesantren Buntet) santri ya ngaji terusss meskipun di luaran sedang “perang panas dingin.”

    maksudnya saya ngomong apa inih… oooh maksudnya makasih atas silaturahminya…🙂

  40. Ass, asik dapat siraman rohani lagi nih tengah malam begini…pak Kurt ini tulisan membuat saya mengerti arti zikir sesungguhnya nambah ilmu lagi buat saya yang muallaf. Kalo saya zikir suka ingat dosa-dosa saya dan kebesaranNya kadang merinding nangis senang wah campur aduk deh. itu sah-sah aja kan pak? Wassalam.

    >> mbak fira yang teduh (pletak!) ….. seperti tertulis di atas, yang dzikir tanpa ingat Tuhan pun “berhadiah” … apalagi sampe menusuk menembusi kalbu dan nurani hingga menderaikan air hujan kemesraan … itu jarang orang mampu berakting sendirian seperti itu… kalaupun ada itu akting karena ditonton oleh pemirsa….🙂

  41. Rasanya setelah membaca pencinta Tuhan, merangkak saja belum…😦

    >> heheheh wah kalau pak Agor bisa saja. Memang sbelum merangkak ada tahap sebelumnya… sama pak, merangkak saja belum bisa ibaratnya masih melek saja buram melihat tulisan-tulsian tentang dzikirnya para pencinta Tuhan… saya hanya ngintip sana sini aja pak lalu dijadikantulisan.

  42. pertayaan 1.
    >>apakah benar dzikir allahu allah yang paling utama? dimana letak keutamaannya?

    pertayaan 2.
    >>apakah dzikir tersebut memang benar ibadah yang tdk pernah putus padahal pasti dzikir itu sendiri kadang terputus contoh..ketika kita tidur//

    pemikiran 1.
    >>*biar lebih fokus*….fahami dulu si DIA yang namanya akan kita dzikirkan, jgn dibalik atuh kang… bila itu tetap terjadi maka ketentuannya menjadi tidak utama

    pemikiran 2.
    >>**biar lebih lebih fokus**
    kan apa2 juga kita harus bertemu dulu baru ingat karena tidaklah mungkin ingat bila tidak pernah bertemu selama ini kita tau si DIA…itukan baru sepertinya??????

    maaf saya mah tdk bisa mengurai kata2 yang ada hanya nyablak tampa tendensi…

  43. sejujurnya saya mah mau tukar pikiran sama mas KURt tapi dengan satu janji yaitu….jangan sampai tertukar aja pikiran kita.
    gitu loh Mas K

  44. nah kalo si abah bendhot..eh salah *sambil nyengir malu* abah dedhot lebih masuk dalam penguraiannya…..maka salam kenal n ingin sekali jumpa langsung biar bisa…..ehm..ehm ama abah.
    mungkin ada yang bisa mempertemukan dengan beliau????
    >>rani razuka<<

  45. Mencari manusia yang selalu berdzikir di tengah malam, di tempat sepi dan di kuburan wali dan di saat tertimpa musibah itu sangat gampang. Yang sulit itu menemukan orang yang terus berdzikir di segala situasi, baik di keramaian maupun di kala sendirian.
    He..he..jadi inget dengan temen yang kerjanya kesana-kemari muter-muter tasbih segede salak pondoh. ampuuunnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: