dadiwongenomblikenasobud

Enterpreneur Jiwa

In Kajian Kitab, Kultur, Modernisasi, Nasionalisme, Pendapat on 19 December 2007 at 9:39 am

Hanya berupa postingan curhat yang kepanjangan. Bersifat primordial dan untuk lingkungan sendiri.

Hayo raih rezeki 90% kucuran Tuhan melalui enterpreneur dengan menjadi pebisnis atau petani... Yang tak Bisa Berbisnis Gigit Jari Saja… (2)Sebagaimana artikel kemarin, 90% rezeki itu dikuasai oleh pedagang dan petani. Itu adalah ungkapan Rasulullah saw. Faktanya, negara yang banyak menjalani itu, menjadi “berkah” negaranya. Tetapi bisakah bagi yang bukan pedagang/petani mampu berjiwa enterpreneur?

Di penghujung tahun 2007, Ekonomi merupakan titik terlemah pemerintah. Di sini menurut, pemerintah gagal membangun optimisme rakyat, apalagi mewujudkan kesejahteraaan yang pernah dijanjikan. Bidang ekonomi ini kemudian dinilai sebagai titik terlemah kinerja pemerintah saat ini. (di kemukakan oleh Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi PAN – Kompas, Selasa, 18 Desember 2007).

Setiap tahun Indonesia melahirkan 750.000 lebih sarjana menganggur. Di sisi lain, jumlah wirausahwan di Inonesia hanya sekitar 0,08% jumlah penduduk. Itu sebabnya ke depan bagi Indonesia adalah keharusan melibatkan lebih banyak wirausahawan muda. (Disampaikan oleh Ciputra, penerima penghargaan Erst and Young Enterpreneur of the Year (EOY) 2007 – )

Enterpreneur JiwaEnterpreneur jiwa adalah seseorang yang ”berbisnis dengan Allah.” Namun tetap yang dihadapi adalah manusia. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang peduli pada sesamanya. Maka ia tidak mustahil akan bernasib sama dengan para enterpreneur pada umumnya. Perekonomian bisa maju bagi kedua macam pelaku ekonomi itu.Jika mau melihat, sebenarnya banyak sekali ayat-ayat quran yang membahas masalah keuntungan berlipat bila dijalani oleh seorang berjiwa enterprenuer kedua model itu. Kita bisa melihat pernyataan di bawah ini:

  1. Imam Ali kw berkata seperti yang ditulis dalam buku “Nahjul Balaghoh” : “Siapa yang tengah bangkrut maka berdaganglah bersama Allah, yaitu dengan menyantuni fakir miskin.”
  2. Siapapapun yang karyanya baik, maka akan dibalas sepuluh kali lipatnya. Sebaliknya yang jelek kreativitasnya, maka ia pun akan memperoleh dampaknya. (Al An’am: 160)
  3. Siapa yang berinfak di jalur ketuhanan, maka niscaya ia ibarat petani yang menanam satu bibit pohon. Dari satu kali semaian ini akan bertumbuh 7 batang pohon. Kemudian dari tujuh batang pohon ini akan berbuah seratus macam. Jadi jumlah buahnya dari satu biji ini ada 700 buah. (Al Baqarah: 261)
  4. Orang-orang yang tidak takut berdagang dan tidak takut merugi. Mau melihat siapa-siapa saja mereka itu (Fathir: 29 )
  5. Derajat seseorang tergantung dari pada kemampuan akvitasnya. (Al-Ahqaf: 19)

Meskipun isyarat enterprenuer itu dipungut dari ayat Quran saya yakin di ajaran agama lain, kegaiatan sosial itu sangat perlu dikedepankan. Jadi karenanya, agama apapun dan berpaham apa saja, aktivitas sosial itu akan membawa kebaikan bagi lingkungannya.

Ya, semua ayat-ayat di atas itu sekedar melengkapi bagaimana sebenaarnya menjadi enterpreneur itu tidak mesti bagi mereka yang berprofesi enterpreneur pada umumnya. Di sini berarti siapapun manusianya, tua, muda, beragama atau tidak. Sepertinya itu semua masuk dalam enterpreneur jiwa.

Mereka adalah Teman-teman Dekat Saya

Saya memiliki teman-teman yang sejenis yang berada di Jakarta. Dari peristiwa kemarin di pertemuan orang-orang sejenis di sebuah gedung mewah, Jl. Gatot Soebroto, sangat banyak saya dapat pelajaran. Orang-orang sejenis yang saya maksud adalah orang-orang kampung pesantren Buntet, Cirebon. Mereka adalah tetangga saya dan di antara mereka pun teman-teman sepermainan.Kebanyakan mereka berprofesi sebagai guru di sekolah umum (PNS/Swasta) ada pula yang hanya mengajar dari pintu ke pintu. Namun banyak pula yang menggeluti dunai perdagangan dan persaingan.

Yang saya ingin catat adalah bahwa mereka hanya berprofesi sebagai guru dan selebihnya tidak segan melakukan aktivitas sosial. Pada akhirnya, mereka tidak kekurangan mendapatkan rezeki seperti petani dan pedagang. Meski demikian
Kekayaanya tidak kalah dengan para tetangga yang berada di sebelahnya. Bahkan diantara mereka banyak menjadi panutan di lingkungannya.

Apa yang mereka lakukan seperti membantu masyarakat tanpa pamrih sebenarnya mereka itulah tengah bernisnis jiwa. Atau mereka mengajar kepada komunitas-komunitas tertentu tanpa kekecewaan di benaknya, sebenarnya mereka pun menjadi petani. Wajar kemudian jikalau mereka itu sangat besar rezekinya.

Yang jelas untuk ukuran Jakarta, mereka tergolong cukup sebab kebanyakan memiliki rumah sendiri; rumahnya cukup luas bahkan ada yang bertingkat; memiliki kendaraan; keluaganya harmonis, berkecukupan rezeki. Padahal profesinya sebagai pengajar.

Ngajar ngaji salah satu upaya bertani dan bernisnis ... ?Menurutku, itu semua tidak terlepas dari upaya “enterpreneur jiwa” yang dijalani sehari-hari.Mereka hanya mengajar, namun aktif di bidang sosial, aktif membantu masyarkat miskin dan kerap terlibat dalam urusan sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Tidak ada yang menjadi NGO formal berbadan hukum sehingga mendapat sumbangan dari berbagai lembaga donor dunia. Karena maaf, mereka bukan tipe itu. Namun di balik itu mereka (teman-teman saya itu) Insya ALlah mereka tulus dalam berbakti.

Bukti lain adalah orang tua teman saya di kantor yang cukup menarik dan mirip dengan orang-orang sejenis dari kampung saya. :

Pak Nafik Yahya dari Pekalongan (maaf mbak Eny ceritamu tak masukin ya), jika hari lebaran dapat beras berkarung-karung dan sarung berpuluh-puluh diberikan dari orang-orang yang pernah diajari ngaji. Setiap hari pun para penjual tahu, tempe, bakso dan kelontong memberikan gula, teh, sabun dan kebutuhan sehari-hari. Jadi keluarga saya itu kebutuhannya tercukupi. Padahal dulu orang tua saya hanya ngaji saja. Di dekat rumah ada sekolahan. Nah sekolahan itulah dari mulai anak-anak hingga bapak-bapak dan emak-emak berkumpul.

Yang diajarkan adalah quran belajar shalat dan apa saja. Belajar rawi, ngaji nguping dan sebagainya. Hingga kini, saat kampung saya digusur, nama pengajian al kautsar pun ikut digusur namun sekarang dipindahkan di Cibitung dan pengajian ini masih eksis meksi bapak saya sudah wafat. Demikain hingga sekarang saat bapak sudah tidak ada saat lebaran berkarung-karung beras di rumah. Jika mau bikin selamatan 1000 harian maka murid-murid berbondong-bondong nganter beras, sembako, dan keperluan hari-hari, kueh-kueh. sampe ada yang berujar sama ibu saya: “Bapakmu itu rezekine enggok dewek, maksudnya, saat selamatan pun membawa rezeki.” )

Akhirnya, sabda Nabi saw tentang rezeki itu 90% dikuasai oleh pedagang dan petani,  siapapun kita bisa menjadi petani dan pedagang dengan menggeluti “enterpreneur jiwa”. Jika ini bisa dilakukan, meskipun harga guru honorer di Jawa Tengah seharga 6 bungkus rokok (tulis Kompas, 18/12/2007), atau guru yang stress di Sukabumi tega membunuh dengan sadis anak muridnya sendiri itu tidak akan terjadi jika mau berbisnis jiwa.

Betapa banyak orang-orang yang layak bantu berserakan di mana-mana. Saat Indonesia miskin enterpreneur hanya 0,08% saja, hayo kita rame-rame jadi enterpreneur beneran atau enterpreneur jiwa. Siapa menyusul memperoleh rezeki 90% kucuran dari Tuhan? Jika kemudian tidak mau menjadi enterpreneur beneran atau enterpreneur jiwa yaa sudah jika didera masalah gigit jari saja.

Bagaimana menurut Anda?

————————————————————-

Postingan ini dilatarbelakangi oleh harapan saya untuk tahun 2008 nanti. Semoga bisa meniru apa yang dilakukan oleh kawan-kawan saya dan orang-orang dari komunitas manapun yang bisa berenterprenuer jiwa dan enterpreneur sosial. Sekaligus mperingati ulang tahun kawan saya dari Buntet Pesantren yang merantau ke Jakarta sekian tahun dan kini sukses luar biasa.

  1. saya mau belajar dong, pak😀

    >> heheheh sayangnya gak ada gurunya. Kudu ngajari sendiri🙂 eheh

  2. Amankan posisi PERTAMAX

    Yang saya tangkap dari penjelasan “enterpreneur jiwa” ini adalah bahwa perbuatan sosial (seperti membantu rakyat miskin)secara tulus dan ikhlas sebenarnya tidak kalah dengan enterpreneur dalam artian bisnis. Namun Tuhan memberikan “laba” dalam bentuk yang mungkin tidak kita sangka, namun Dia meberikan apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu teman-teman yang bapak ceritakan tadi tidak pernah kekurangan😀

    >>> vertamax sudah disalip.. heheh🙂
    Inggih leres pisan kesimpulanipun panjengenan mas…

  3. Wah, disalip om caplang™😥

    >>> kan Caplang™ itu rajaiblis jalanan..🙂

  4. Biarin deh, ndak jadi pertamax, yang penting
    Hattrick ….

  5. Rejeki, memang bukan matematika ya Paman Kurt…
    Hukum penjumlahan dan pengurangan menjadi nisbi😀
    tapi saya masih blajar untuk bersedekah, dan beramal,
    dan semoga dimudahkan upaya saya dalam menjemput rizkiNya
    -amien-

    >>> iya paman Goop, padahal dulu kita diajari perhitungan nisbi dan nasab tapi ternyata ada yang lebih keren pada penjumlahan “kalkulator” Tuhan. Mengamini harapan paman Goop🙂

  6. good writing Kurt!

    >>> tq bos!🙂

  7. Guru kembali disebut-sebut, hehehehehe😆 Jadi, terharu, tapi juga prihatin mendengar kabar teman sejawat ada yang stress. Itu apa bukti bahwa belum semua guru mampu menjadi entepreneur jiwa, Mas Kurt? *Jujur saja termasuk saya, hehehehe* Walah tanya mulu!!!

    >>> iyaa nih Pak, saya pun ikut terharu sampe “stress” untuk segera menuliskannya heheh 🙂
    jujur juga pak saya pun dengan menulis ini adalah dalam proses belajar berenterpreneur jiwa. Mohon maaf postingan guru dijadikan sampel ya pak, tapi juga benar kata Pak Sawali, apakah itu bukti bahwa guru belum mampu ber enterpreneur jiwa… ah susah njawabnya pak sebab namanya juga tulisan awang2an heheh🙂

  8. di kota kecil saya Parakan (Kab. Temanggung) banyak yang bertani tembakau, meski sudah puluhan tahun, tapi tidak kunjung sejahtera (harga pasti dimainkan para tengkulak dan boz2 pabrik)tapi petani juga sulit untuk mau ganti nanam selain tembakau (udah turun temurun katanya),padahal perekonomian parakan bagus kalo pas musim tembakau saja, gimana nih ada saran? (lho kok malah konsultasi,..lha masalahe didaerahku banyak kyai,ulama dan pelaku bisnis, tapi….kondisi dari dulu tetep aja gak berubah)matur nuwun ya.

    >>> mas Sihans, bisnis secara jitu atau enterpereneur sejati memang kudu ada ilmunya. Nah kebeneran saya bukan ahlinya…

    Dalam bisnis itu ada modal dan manajemen… rasanya modal sudah ada tapi manajemennya amburadul baik di tingkat lokal sampe pusat… jadilah bisnis yang harusnya banyak mendapat untung malah buntung… duuh kapan yaa kita sadar modal dan sadar manajemen 🙂

  9. bukan banyak anak banyak rejeki, tapi banyak berderma banyak rejeki, mungkin gitu ya pak😀

    >>> hahaha dapat istilah baru .. tq KH. Indra🙂

  10. pelajar bisa jadi Enterpreneur Jiwa gak pak?


    >>> wah jika pelajar bisa, aman deh pelajar dari masalah2 *halah*🙂 …

  11. MAU…
    *mode santri on*
    tolong dibantu pak

    >>> Mau+mau = maumau…

  12. RezekiNya kan emang datang dari tempat yang tak disangka-sangka bang, bagi siapa yang dikendakiNya.
    Biar dikehendaki untuk diberiNya, maka interpeneu rjiwa inilah salah satu caranya.
    Amin ya bang untuk harapan 2008 mendatang,harapan kita semua menjadi lebih baik. Saya bantu doa dulu….
    Photo ibu bersanding anak saya suka tuh🙂

    >>> Mpok Perem, terima kasih atas kelembutan doanya…

  13. rejeki meskipun menjadi rahasia Tuhan, namun masih ada teori nya.
    Seperti pak Kurt katakan 90% rejeki dialirkan melalui pintu perdagangan dan pertanian. Semua orang harus berusaha agar mendapatkan rejeki, bahkan maling pun diberikan rejeki, ayam “nyeker lan nothol” pun juga dikasih rejeki.
    Sekarang tinggal bagaimana cara menyambut rejeki yang sudah disiapkan oleh Tuhan.

    >>> yupe betul sekali adipati… “nyeker lan nothol” adalah ilmu alam yang tanpa belajar loh seekor ayam begitu trampil🙂

  14. Derajat seseorang tergantung dari pada kemampuan akvitasnya. (Al-Ahqaf: 19)

    Yang ini menarik sekali. Bisa lebih detail, Mas Kurt.
    Bukan salahku ya, kalau pada akhirnya saya lebih banyak bertanya. Karena saya sedang belajar dari blog ini juga, makanya saya bertanya. Wah, jadi menghayal bila suatu hari nanti saya bisa menulis tentang Islam meskipun bukan seorang muslimah.

    >> aha.. nanti Insya ALlah tak bahas juga yaa… sabar!
    saya setuju jika ada “Karen Amstrong” asli Indonesia🙂
    ayo semangat!

  15. Maaf nanya Mr.
    Apa yang dimaksud dengan “karya” dan “kreativitas” dalam surat Al An’am ayat 160 Mr? Apakah “karya” itu berupa amalan/perbuatan atau apa Mr?
    BTW maaf agak sedikit OOT, ada 1 pertanyaan lagi:

    Jika mau bikin selamatan 1000 harian

    Maaf, sebenarnya hukum untuk selamatan semacam itu seperti apa ya Mr?

    >> “karya” dan “kreativitas” wah ditanyain yaa.. duh berhadapan sama filosof kudu ati2 nulisnya… heheh jawaban seriusnya belakangan ya belum baca tafsirnya… Insya Allah.
    Tentang hukum 1000 hari… jawabnya: biasa dalam fikih itu ada boleh ada tidak, ada haram ada tidak… nah beda sama judi jelas haram syariat dan matemat..

  16. apa yang kita tanam akan kita petik. istri dan suami juga ibarat ladang ya pak? jadi, pada dasarnya manusia ini diciptakan untuk bertani ya?😀 hmmm… Hidup Petani!


    >> subur makmur sawahnya petani,
    lembur ampe subuh suami-isteri “bertani” heheh

  17. Sayah Orang Nyang Ndak Ada Kerjaan…..

    >> Mas Mbel gak ada kerjaan karena semua pekerjaannya diserahkan pada operator … begitu gak bos mBeling ?🙂

  18. Mampir sebentar, salaman.

    Met Hari Raya Idul Adha, ya.

    >>> hai Ci, makasih capek2 dari bandara habis ke luarnegeri mampir kemari…

  19. ya ampun….
    pada tobat, gua kapan tobaatnya

    >> heheh “kue tobat” lagi laku ya bang? dimana belinya ya?

  20. Mas Kurt, saya percaya ceritamu.
    Ayah ibuku guru, anak tiga orang plus dititipin keponakan, yang alhamdulillah rejeki ada saja.

    >>> makasih bu Enni (ternyata temanku juga yang cerita bu Enny )

    Ya seperti itu tadi, kalau Lebaran murid-muridnya yang udah jadi orang suka membawakan segala macam keperluan rumah tangga, dan oleh ibu dibagikan lagi ke tetangga atau teman yang masih memerlukan.

    >>> wah bisa sama yaa antara bu Enny Nafik dengan Bu Enny edratna heheh … seandainya saya tetanggaan yaa bisa rejeh saya nih.

    Diantara kuliah saya, kadang saya kehabisan uang (maklum kiriman pas-pasan dan belum dapat kerjaan), tetapi ada aja yang menolong, mengajak membantu dosen, membuat feasibility study suatu proyek (nantinya beguna setelah saya kerja di bank), dengan mendapat imbalan. Jadi, saya percaya, bahwa kita harus tetap beramal, kalaupun kita tak punya kemampuan atau penghasilan berlebih, amal nya dengan menyumbang ilmu ke sekeliling yang membutuhkan.

    >>> makasih atas ceritanya bu, saya diyakinkan oleh ibu tentang satu hal itu. Apa masih perlu bukti yang lain ??

    Dari blog teman-teman saya belajar banyak, hal-hal yang sangat berguna menyumbang ilmu ke pikiran saya, yang nantinya saya ceritakan kembali ke murid2 saya kalau ada kesempatan mengajar. Jadi, berputar terus.

    >>> hmmm ibu yang bijak pasti muridnya tidak suka meninjak heheh🙂

  21. Waduh…. saya hampir saja keliru dengan istilah “entrepreneur jiwa” dikirain “entrepreneur jiwa” itu adalah orang yang ‘menjual’ jiwanya😆 , eh jebulé orang yg banyak beramal toh! Sip deh, bagus kupasannya, melihat sisi yg lain dari sebuah “entrepreneur” menjadi “spiritpreneur” **halah**:mrgreen:

    >>> hahah asyik saya berhasil mengecoh pola pikir kang Yari NK yang kritis… heheh🙂

    *diborgol*

  22. entrepreneur jiwa tentunya menghasilkan orang-orang yang sukses dan kaya hati, pandai mensyukuri segala rejeki yang diberikanNya .
    Selamat hari raya idul Adha

    >> OK, selamat hari raya Idul Adha juga…🙂

  23. bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/🙂

  24. huhuhu jadi pengen pak.
    cuma saya orangnya pemalas banget nih
    bisa nggak yah?

    >> pemalas? maksudnya pemalas apa nih… bisa jadi kan maksud njenengan malas untuk tidur sambil berdiri heheh

  25. Jalan ke Surga ?

    ribuan bahkan jutaan kambing dan sapi tergolek tak berdaya meregang nyawa. tanah merah itu makin memerah ditumpahi tetesan darah yg terus muncrat. kulitnya disayat, dagingnya dicabik, kepalanya ntah dikemanakan. semua itu terjadi untuk “memuaskan…

    >> yaa selamat Idul Adha Rajib🙂

  26. heheh..
    setuju kang. toh, sebagai yang menjalani hidup sebagai enterpreneur, dan suka ketar ketir, saya memandang enterpreneur itu kuncinya cuma 1 : silaturrahmi. rejeki toh cuma impact, cuma efek samping. tapi keren nih, kang kurt mendefinisikannya sebagai enterpreneur jiwa🙂
    keren euy. setubuh mah sayah…

    >> wah nambah koleksi kunci kang Edo: silaturahmi. dan rejeki itu namanya impact, kok mirip infak yaa suaranya🙂 seperti orang yang banyak infak ia akan memperoleh efek… tentu efek tak jelek. Saya juga setubuh aja deh hehehe🙂

  27. sepertinya lebih gampang enterpreneur yang gak pake jiwa ya?🙂

    >> hihihiii iya bener jeng swiwi… seperti sakit gak pake jiwa maunya ya 🙂

  28. Ya ya saya baca buku Arsyraf MD, Bisnis Rasulullah. Sayang masih (harus) cari literatur (mau beli). Apa ada ya? Kalau ya tolong ya. Ada pikiran, Rasulullah enterprenure di jiwa dan tindakan dalam kandungan dakwah. Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.

    E … terpantik tu tentang Karen Amstrong … Aku baca beberapa bukunya, bagus ‘membela’ Islam dari pola pikir Barat. Sayangnya seperti dikatakan Jalaluddin Rahmat, dia mengutip hadis yang diragukan. Kudu hati-hati.

    Oh ya … jangan lupa ya, Islam (lebih) disebarkan melalui jalan dagang dibanding kokangan senjata lho. Prinsip-prinsip ebtrepeneure ‘lahir’ dari Islam, dicontohkan Rasulullah. E … kepanjangan, gimana cara mendapatkan buku tentang enterprenuereship Rasulullah. Ada ngak Pak Kurt?

    >> Maaf bang saya itu jarang sekali dan amat sepi dari baca buku2 (*dasar pemalas*). Jadi tidak tahu kalau ada penulis hebat tentang Rasulullah saw. dari Asyraf MD. Judul tersebut memang asal njeplak saja tapi yang penting kan jaka sembung loh nyambung gitu loch!🙂
    Tentang Karen Amstrong, tetap saya appresiatif bukan pada haditsnya, tapi semangatnya…
    Bukankah pembaca yang “baik” itu bukan sebagai follower tapi flower. Punya warna dan wewangian tersendiri..🙂

  29. wah boleh juga tuh dicoba…saya mau ikutan juga doooongg

    >>> mari sini, duduk yang manis mbah mau cerita …🙂
    *benjut-benjut*
    dijedotin Icha ke Piramida Mesir

  30. Assalamu Alaikum,
    TopiQ yanQ menariQ, ENTERPRENEUR JIWA dan BERBISNIS DENGAN ALLAH. YanQ jelas nQQak pernah ruQi, untunQ terusssssssss. Tapi ngomonQ-ngomonQ mas KURT aku tertarik lihat RENUNQAN yang bisa bergerak ituloh…,manusia lahir, HIDUP lalu mati. Tambah tajam dan dalam saja nih ilmunya.

    >> ada yang aneh dari seorang Daeng yang kukenal… menggunakan ungkapan Q di akhir qata-qata, apakah ini pula yang dimaksud renungan yang bisa bergerak??? dalam bahasa Cirebon lawan tajam adalah “Qetul” …🙂 sudah sampe di mana Phinisi Daeng berlabuh?

  31. Orang-orang yang tidak takut berdagang

    untuk yg ini pernah mo n yoba, tp msh blm berhasil pak

    >> mau trial error yaa.. bagus juga tuh… pengalaman adalah guru yang baik…

  32. ah ya saya juga belajar kewirausahaan di sekolah pak…

    >>> kurikulum baru yaa… sip deh, jadilah wirausahawan muda dan tidak lupa sama yang tua heheh🙂

  33. Maaf Mas Kurt, keyboard saya huruf …nya tidak bisa dipencet jadi tukar huruf Q…


    >> hahahah OQ banget alasannya heheh

  34. Yak, taun depan harus lebih mendalami pelajaran ini..😀

    >> gak usah didalami bos tinggal ujian praktek nya saja yang dibanyakin heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: