dadiwongenomblikenasobud

Demokrasi Lumpuh Total oleh Bom

In Kultur, Peristiwa, Tokoh on 28 December 2007 at 11:02 am

Bagi kalangan yang suka dengan kekerasan atas nama agama campur-sari dengan politik, mungkin wafatnya tokoh fenomenal di Pakistan, Benazir Bhutto dianggap sebagai kekalahan kaum modernis atau liberal. Sebab tokoh pejuang demokrasi Palestina itu sangat berani menentang arus kuat kekuasaan di satu sisi dan dipihak lain penentang Islam garis tebal, nama lain dari Islam garis keras.

Salah satu ajaran Islam fundamentalis adalah dilarang wanita jadi pemimpin. Karenanya, keberanian mengusung demokrasi ala Benazir ini mendapat tekanan kuat pada kalangan ini. Sebab semangat demokrasi Benazir itu begitu kuat seperti dia katakan:

Demokrasi sangatlah penting bagi kelangsungan perdamaian dan untuk mengatasi terorisme.

Perjuangan putri sulung mantan Perdana Menteri Prakistan Zulfikar Ali Bhutto itu sangat konsisten memperjuangkan nilai-nilai universal dan mengampanyekan semangat perdamaian. Karena itu wajar saja perjuangan ini banyak ditentang kalangan Islam garis keras.

Disamping itu, demokrasi yag mengharai pluralisme dan teleransi, sangat ditentang kalangan radikalisme. Bernzir dalam hal ini berniat melawanya dengan mengawali sebuah bangunan demokrasi. Benazir begitu berani melawan tirani politik di sana, karena kelompoik militan di  sana berkembang pesat dan kuat justru, menurut Benazir, lantaran pemerintahan pakistean dipimpin seorang diktator.

Keberanian yang luar biasa dari wanita dari Timur ini tidak diragunkan lagi. Meskipun berkali-kali diancam bom tidak sampai mencederainya. Hanya kemarin itu saja kematian tragis merengunggut nyawanya. Persis seperti kematian tragis ayahnya Zulfikar Ali Bhutto yang digantung kemudian anak-anaknya juga hingga keturunan terkahir Benazir Bhutto.

Kekuatan wanita ini bisa dirasakan saat Benzir bicara yang dikutip CNN. (Menurut catatan Amich Al Hummami dari Universtitas Sussex, Inggris:)

I knwo the past is tragic, but I’m an optimist by nature, I put my faith in the people of Pakistan, i put my faith in God. I feel that what I’m doing is for a good cause, for a right cause–to save Pakistan from extremists and millitants and to build regional security. I know the danger is out there, but I’m prepared to take those risks.” (CNN online, 27,11)

Yah tapi bagaimanapun simbol kebaranian membawa hawa dan tenaga demokrasi di Timur untuk memperjuangkan nilai-nilai universal tidak bisa melawan Bom kaum ekstrimis atas nama agama. Sebab dalam benaknya, keyakinan membawa kebanaran dengan bantuan bom itu dianggap sebagai syahid.  Karenanya, kekuatan kaum penebar bom bunuh diri itu sulit dibasmi karena sudah mengakar dalam urat nadi nafsunya.

  1. Kayak Gus Dur aja ya. Sayang belum nemu lagi nih orang yang kayak Gus Dur. Tapi untungnya di Indonesia, soal politik jarang yang pake bom ya mas. Biasanya pake dukun santet hehehe.
    Pertamax

  2. @pak iwan: di indonesia yang sering itu pakai amuk massa, pak.
    lebih ngeri, karena damage areanya jadi lebih luas, korbannya lebih banyak, dan kalau sudah terlanjur terjadi susah dikendalikan kecuali kalau pelaku2nya kecapekan.

  3. ketigax ^ ^
    hehehe memang tragis.
    semoga indonesia tidak demikian ya, pak ^ ^

  4. Berpolitik dengan cara meledakkan bom atau membunuh adalah bukti terjadinya kebuntuan akal dan tumpulnya hati nurani. Jadi bukan hanya demokrasi yang lumpuh total. Lebih parah dari itu : peradaban manusia menderita kemunduran.

    Selamat pak kurt. Artikelnya sangat ringkas, tapi jelas dan lugas.

    salam

  5. sungguh tragis nasib para pejuang demokrasi yang menghargai nilai2 egaliter, perbedaan pendapat, dan persaudaraan. tapi meski ditekan oleh sekelompok kaum radikal, demokrasi tak akan pernah mati. di pakistan pasti akan muncul benazir2 baru yang akan bergerak *halah, pakai ilmu penerawangan? * lebih hebat dan dahsyat dalam menegakkan nilai2 demokrasi. selamajt jalan ny. benazir, semoga perjalananmu lapang menuju ke haribaan-Nya.

  6. andai yang sudah mati bisa ditanyai lagi. mungkin hal-hal seperti ini tak pernah terjadi… ketika pelaku pemboman tak dihakimi sesat, ketika pemimpin murah senyum malah meregang nyawa akibat serangan super nekat, masihkah kita bisa mengaku sebagai orang yang bakal selamat?

  7. Hmm ikut berduka cita. Inna lillahi wa inna illaihi rojiun.

  8. Saya kaget dan shock bahkan hampir menangis ketika koran pagi itu kubaca, dan … isinya: “Benazir Bhutto tewas ditembak”. Satu lagi bencana menjelang akhir tahun 2007..

  9. @Iwan Awaludin
    hahahah kaya Gus Dur apanya nih. demokrasinya ? Wah harusnya setiap orang cinta demokrasi.. bukan demo keras-keras. Kira2 siapa nih calon pengganti Gus Dur?

    @sitijenang
    Masih dikatakan selamat pak, sebab buktinya si pelaku bom gak di Indonesia gak di Pakistan apa mereka takut.. malah mereka bangga bahwa Allah menyertai mereka dan bakal menjadi syahid yang akan menmpati syurga-syurga kemuliyaan.. (ini bagaimana Pak?)

    @edratna
    Innalillahi atas semua milikNya…

  10. GuM
    Memang benar kekerasan seperti amuk massa dikita masih mending lah dibanding di sana. Meski begitu, gak ngrasa capek yaa..🙂

    @shinobigatakutmati
    Indonesia aman kali bos kalau ada jawara seperti njenengan di sini heheh🙂

    @tobadreams
    Hati nurani dan akal kalau sudah bunti, bagusnya dioperasi seperti usus buntu. Di tutup salurannya dan diperpendek areanya.
    terima kasih sama2 pak… salam

    @Sawali Tuhusetya
    Demokrasi takkan mati betul pak.
    Kebaikan akan terus menumbuhkan kebaikan kembali. Meskipun daya serang dari hama2 politik itu besar kebaikan tetap bernama kebaikan dan akan dicintaioleh orang2 baik…🙂 kalau ngebom atas nama agama itukebaikan versi siapa ya?

    @sitijenang
    Mungkin kita bisa dikatakan orang baik, tergantung sudut pandang kan.. heheh jadi memang lagi2 sudut panadang itu jadi bumerang juga yah. Maksudnya, bagi si terorist, membunuh itu adalah berjihad dan karenanya jika mati masuk syurga… nah loh sementara kita membunuh apapun dalihnya ya salah… gak ketemu kan? makanya bener kan judul saya demokrasi itu kalah sama bom.

  11. ya ya ya… btw, ada pemutakhiran di tulisan saya soal sudut pandang. sekarang ada sisi / ruang pandang -> perspektif 8):mrgreen:

  12. Ide demokrasi sudah diusung sejak masih zaman sebelum masehi, tapi rasanya saya belum menemukan satu pun peradaban yang bisa menjalankan demokrasi dengan ‘benar’ ya? tanya kenapa…CMIIW, karena masih sangat banyak sumber sejarah yang belum pernah saya baca🙂

    Saya sendiri sebetulnya merasa tidak cocok juga dengan ide-ide demokrasi. Dalam hal-hal tertentu, ada hal-hal yang tidak bisa disetarakan. Kalau dipaksakan, ya jadinya malah rusak…namanya juga pemaksaan.

  13. demokrasi di mulai dengan pemenggalan sepotong kepala.
    demokrasi di prancis di awali dengan ditebasnya leher raja Lois oleh pisau Guillotine.

    demokrasi di bangun oleh terjeratnya kepala di tiang gantungan.
    seperti Saddam yang digantung.

    saya tak bisa menuduh siapa yang salah. karena seperti biasa yang tampak sering tak sesuai dengan yang sebenarnya.

    saat ini mungkin betapa sedihnya bila Muhammad Iqbal melihat negeri yang dibangunnya kini terjadi perang saudara. apa yang di harapkannya dulu ketika ia memimpin liga muslim dan mendirikan “Pakistan” sebagai “tanah yang suci” menjadi sia-sia.

    O, apakah peradaban harus selalu dimulai dengan kebiadaban??
    _________________________
    salam.
    kabar apa pak disana? apakah baik2 saja?
    lama tak mampir. blognya tambah hueebat euuy!!

  14. sitijenang
    Iyaa saya sudah baca, dan istilah ruang pandang itu kayanya lebih meluas yaa …🙂

    Donny Reza
    Amerika dan sebagian besar Eropa sebenarnya cukup mampu membangun demokrasi hanya saja waktunya seperti US lama baru terbangun. Namun namanya demokrasi pasti ada celah2 kekurangna karena apa, karena kekuasaan itu disebaratakan. bukan dikelompokkan pada satu penguasa. JIka memang demokrasi dianggap sulit bagaimana dengan otokrasi… ya?

    karnanya cukup elegan kalau istilah orang2 Eropa mengatakan demokrasi itu adalah Civil Society, atau dalam islam dikenal dengan Masyrakat Madani.

    bambang
    Yaa itulah bila politik seenaknya dewek dibungkus dibingkai demokrasi. seperti penjelasan di atas.
    Makasih mas bambang saya juga jarang kunjung ke blogspot. soalnya kalau blog spot suka erro kalau kmentar. dan maafkalah komptuer saya lambat baca di blogspot.. bagaimana kalau hijrah mas ke wordpress saja.. banyak teman loh.

  15. Hehehe…👿
    tumbal.. tumbal “kekuasaan” yang lain, meski dengan kedok demokrasi atau apapun namanya,
    kapankah kan berakhir??

  16. kematian Ms. Benazir gak lebih dari kematian seorang manusia…. Simulakra yang membuatnya jadi dramatis….

  17. Jangankan di Pakistan, di Indonesia orang yang mimpin demo pada ilang ngak ketahuan rimbanya, khususnya jamannya soeharto dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: