dadiwongenomblikenasobud

“Bacalah!” dimana Semangatmu?

In Modernisasi, Nasionalisme, Pendapat, sastra, Uncategorized on 11 February 2008 at 10:20 am

Gambar dari Google

Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Wahyu pertama al quran surat al Alaq ini sifatnya umum, berlaku bagi siapa saja dan kalangan mana saja. Namun sepertinya kurang diminati oleh penduduk Indonesia pada umumnya yang mayoritas muslim.

Ironisnya diimani oleh bangsa-bangsa (negara) maju. Sebab di sini, tingkat minat baca berdasar penelitian di Jawa Barat baru-baru ini ada 1:45 (satu koran dibaca untuk 45 orang). Jauh di bawah Filipina dan Sri Lanka.

Dengan dua negara Asia saja negara kita masih kalah apalagi negara maju seperti USA dan Jepang. Memang ada korelasi antara minat baca dan kemajuan bangsa. Menurut sumber data dari media, di Jepang jumlah tiras koran yang dibaca mencapai 1 juta perhari sementara di Amerika 2.8 juta per hari. Tetapi Indonesia masih mending karena ada dua negara di bawah Indonesia yaitu Laos dan Kamboja.

Di Sri Lanka, minat baca masyarakat terhadap media cetak 1:38 dan Filipina 1:30.Idealnya,untuk ukuran penduduk Indonesia yang tergolong besar ini satu media cetak dibaca sepuluh orang atau 1:10 tapi kenyataanya 1:45. Pantas saja jika media massa di negara kita kurang menggembirakan.

Asahi Shimbun, koran di Jepang mencapai 10 juta per hari; untuk edisi sorenya bisa mencapai 8 juta per hari. Di Amerika, koran yang mempunyai tiras terbesar adalah USA Today dengan 2,8 juta, disusul The Wall Street Journal dengan tiras 2,5 juta per hari. Di Indonesia, tiras koran tidak ada yang mencapai 500.000 per hari.

anak baca, orang tua ngaca!Miskin Motivasi
Negara maju seperti Jepang memiliki cara memotivasi warganya agar giat membaca. Gerakan itu dimulai dari rumah kemudian berkembang di lingkungan. “20 minutes reading of mother and child”. Nama gerakan di sana yang mewajibkan para orang tua untuk mengharuskan anak-anaknya membaca 20 menit sebelum tidur.

Jika lingkungan keluarga sudah tidak berminat membaca, tapi lebih berminat ke urusan hedonisme, kemudian budaya “malas baca” diturunkan kepada anak-anaknya tidak mustahil ke depan Indonesia akan begini-begini saja. Akhirnya, membaca bagian dari budaya mewah dan milik negara maju. Padahal kemajuan sebuah bangsa dimulai dari cara belajarnya.

Akhirnya, boleh jadi dalam urusan baca, disiplin, taat hukum dan banyak semangat ajaran Tuhan yang lainnya justru yang mempraktekkan ayat-ayat quran itu orang-orang Barat yang selama ini dicap sebagai kafir. Sementara Muslim terbesar yang konon ada di Negara kita kurang minat dengan ajaran quran sendiri terutama masalah baca yang dierintahkan pada ayat pertama turun.
Karennya, jangan tersinggung jika ada yang mengatakan bahwa : Islam adanya di Barat, sedangkan Orang-orang Muslim adanya di Timur.

Karenanya, pemicu pidato Presiden Yudhoyono di Semarang kemarin dalam rangka memperingati hari Pers Nasional perlu ditindak lanjuti. Selamat Hari Pers Indonesia!

Gambar dibantu cari oleh google

  1. Barangkali karena kita memang lebih senang melihat Pak Kurt😦
    oiya, selamat datang kembali:mrgreen:
    *peluk Pak Kurt*

  2. Hai kang Goop makasih
    Iya betul, budaya “senang melihat” berimbas juga pada senang dipandang alias pamer: ajaran, kebenaran sama urat syaraf..,.🙂

  3. Baca Qur’an dulu.
    baru setelah itu baca koran, tabloid, majalah, buku, karya tulis

    ———–
    benar adipati … quran dibaca sehari lima kali dalam sholat🙂 cukup tidak kang Adipati?

  4. He he, pak de Kurtubi, mungkin ndak ya kalau rendahnya minat baca bangsa kita ini juga dipicu karena faktor “perut yang belum kenyang”.
    Jadi membaca koran menjadi hal nomer ke sekian bagi banyak orang😀

    —————-
    heheheh… “perut yang belum kenyang” itu hanya istilah pak … aslinya adalah struktur, budaya, pola hidup, pola makan, pola pendidikan dan pola kebiasaan… (apologi!) heheh🙂

  5. wah udah balik lagi nih… saya juga baru abis hiatus, tugas luar kota beberapa hari… 8)

    ———–
    selamat kembali yaa siti Jenang..🙂

  6. kita sudah terbiasa di’dongeng’-in sehingga terlena ‘mendengar’ yang indah-indah. Sementara mata memang melihat tapi tidak ‘membaca’ dan memperhatikan. iiih apa hubungannya?

    Anyway, budaya mendengar menang jauh atas budaya membaca. terbukti, minat baca bangsa indonesia rendah. Galib adanya jika prasasti2, atau manuskrip-manuskrip bersejarah milik kita kini berada di Belanda. Knp demikian? karena kita gak bisa baca itu manuskrip hehehehe…..bener gak Ngkonx?

    ———-
    benar sekali Hilda, Ngkonnx jadi malu sendiri kenapa baru sadar stua ini heheh🙂

  7. Minat baca yang kurang itu mungkin juga disebabkan karena tidak dibiasakan dari kecil oleh orangtua untuk hobi membaca.
    Orangtua kayaknya lebih suka membelikan anaknya mainan daripada buku.
    Coba kalau dari kecil suka membaca, budidaya membaca akan terus mengalir…

    ———————-
    seperti juga budidaaya lele, ikan mas dll yaa, akan diturunkan kepada anak2nya

  8. ::Pak Kurt, jangan-jangan jumlah penduduknya dihitung termasuk yang baru lahir…😆 kalau anak kecil aja udah baca…(mungkin saya hanya lihat pertumbuhan bacaan anak-anak di Gramedia…tapi biasanya adanya pertumbuhan karena adanya permintaankan…) apalagi orang besar… minimal bibirmer lah…:mrgreen:

    ———-
    ahahaha… memang ada permintaanlah pasar kita bermain… sehingga stensilan dan bibirmer jadi laku …🙂

  9. kalo menggalakkan membaca ini bisa berhasil, saya mo bisnis buku saja pak.😀

  10. ironi juga yak mas kurt. jelas2 Allah berfirman seperti itu. tapi negeri kita yang mayoritas muslim justru banyak yang tidak mengamalkan. tak heran jika negeri kita selalu saja dijuluki sebagai bangsa iliterate. Payah juga. kayaknya virus malas membaca dah begitu akut dan menurun dari generasi ke generasi.
    BTW, firman Allah itu kayaknya ndak hanya untuk membaca aksara loh mas kurt, tetapi juga membaca ayat2 Allah yang tergelar di semesta ini. *halah la kok malah jadi ngaco, hiks *

    ——————
    …. betul membaca untuk masyarakat kita tak bisa diterjemahkan dengan tulisan saja toh.. banyak orang2 tua bijak di kampung atau di kota, mereka pun ahli membaca tanda2 alam, sawah, tanaman dan juga tanda2 zaman… merekapun mampu mendidik anak2nya dengan berhasil meskipun bukan lulusan univ…🙂

  11. salam kenal pak…
    budaya baca di kita memang harus lebih digalakkan dan ini harus dimulai dari anak-anak.

  12. Mungkin Indonesia kebiasaan fast-reading…:mrgreen:

  13. Budaya membaca masyarakat kita emang masih belom menggemberikan ya pak? Mudah-mudahan kampanye budaya baca yang digagas beberapa waktu ke belakang dapat mendongkrak minta baca masyarakat. Yang ane perhatikan, keberadaan perpustakaan daerah di tiap kota/kabupaten juga sepi peminat. Cuma kalangan tertentu seperti mahasiswa dan pelajar saja yang memanfaatkannya. Mungkin perlu digagas perpustakaan di tingkat RW agar mudah diakses. Memang sudah ada perpustakaan keliling, tapi masih terbatas buat anak sekolah. Ane rasa, sekalipun memerlukan biaya yang sangat besar, tapi hasil yang akan dipetik sangat luar biasa besarnya. Karena cita-cita membangun masyarakat madani tidak akan terwujud kalo enggak sejalan dengan tingkat kecerdasan masyarakatnya. Salahsatu kriteria masyarakat madani adalah kritis, berwawasan dan dinamis. Semuanya akan berjalan mulus jika diawali dengan kuatnya minat baca dan belajar.

    Salam pedes pak…

  14. budaya baca semakin pudar seiring semakin maraknya siaran TV yang menawarkan impian-impian semu,…dikeluarga labih milih nonton sinetron bareng ketimbang baca Al-qur’an

  15. setuju mas, dengan membaca semuanya jadi terbuka …

    kalo saya sih ngga nyeleksi bacaan, biar bisa milih yang mana yang harus diresapi dan mana yang harus ditinggalkan

    baca alam juga perlu, tapi ilmu saya blom nyampek …

  16. seperti kata mas sigid, kebutuhan perut kita belum terpenuhi gimana mau membuat alokasi untuk anggaran membaca koran update? ato ini hanya sebuah alasan?

    ato bisa juga kita memberi alasan bahwa dengan negara kepulauan ini juga menyulitkan untuk meratakan arus dan sumber informasi?

  17. Bacalah dan lalu tulislah…..

    Selamat datang kembali di dunia blog mengeblog…..😀

  18. huhuhuhu
    tidak cukup hanya dengan mebaca kan pak kurt?
    tapi bacalah dengan nama Tuhan yang menciptakan….

    mungkin sama dengan tidak hanya mengaji tapi juga harus meng-kaji
    seperti makna yang tersirat di “Islam adanya di Barat, sedangkan Orang-orang Muslim adanya di Timur”.

    makasih atas pencerahannya pak kurt.

  19. Sekali-sekali membela rhoma irama ah!

    pak kurt, ntar kalo semua orang pada baca koran, pak kyai pada ribut, qur’annya ntar ditinggalkan dong…

    satu lagi pak kurt! minat baca qur’an termasuk bagian dari survey penelitian ndak? soale orang-orang di desa lebih milih baca qur’an ketimbang koran, apalagi di pesantren, selain qur’an, pasti kitab kuning juga…

    hehehehehehehe.. maaf pak kurt… ini guyon, jangan diambil ati

  20. bacalah

    Bacalah, akan sesuatu yang membuatmu mengernyit merasanya. Baca perlahan huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat per kalimat. Jangan biarkan aromanya keluar dan meracuni kegelisahan untuk mekar.

    Bacalah, akan sesuatu yang membuatmu ngeri memandangnya. Baca perlahan frame demi frame, scene demi scene yang terhampar. Biarkan takut itu merasuki keangkuhan hingga terkapar.

    Bacalah, akan sesuatu yang membuatmu bertekuk lutut padanya. Baca setiap lekuknya, setiap puncak dan jurangnya. Biarkan ketaklukan itu menjelajahi harapan hingga kegilaan mencapai sadar.

    Bacalah, karena kita manusia, diciptakan dengan kemampuan belajar. Dan kita mulai pelajaran ini dengan membaca, dengan kata, dengan mata, dengan hati dan dengan logika.

    Bukankah semula dimulai dengan Iqra’

    ===================================

    komeng kupipes p kurt😆
    welkambek

  21. ustru yang mempraktekkan ayat-ayat quran itu orang-orang Barat yang selama ini dicap sebagai kafir

    Naudzubillaahi.
    Ternyata benar yang pernah saya tulis bahwa agama hanya milik mereka yang sekarat, tidak mampu mengisi hati yang kerontang kesrakat. Hanya yang sekarat saja yang ingat agama. Yang hidup sehat wal afiat tidak ingat agama karena perintah membaca atas nama Allah saja tidak ditaati.

    Saya masih sedikit mengikuti perintah agama karena sedikit-sedikit masih membaca: koran dan blog. Majalah jarang sekali.

  22. Umat Islam memang sedang dalam keterpurukan. Etos kerja yang rendah dan produktifitas juga yang rendah telah menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam. Padahal jika kita jalankan ajaran agama dengan benar, niscaya kekuatan dahsyat itu akan datang dengan sendirinya. Ayo bangkitkan, ayo kampanyekan kembali gerakan membaca dan membaca

  23. Tapi “membaca” sendiri itu maknane opo sih?
    Untung Qur’an bilangnya iqro’ bukane ngeblog….

  24. Membaca adalah bagian dari proses belajar / menuntut ilmu.
    Dan menuntut ilmu (agama) hukumnya fardlu bagi umat Islam.

  25. semakin banyak santri dan kyai yang dakwah lewat blog dengan tulisan2nya yang menyejukkan, semakin banyak juga blogger yang mengerti agama. itu membaca juga kan pak?😀

  26. mungkin kebanyakan dari kita pengennya fast reading pak!

  27. Setelah membaca … menulis ya … lalu membangun peradaban. Selamat kembali ke jalan yang benar Bos, he he

  28. Iya nih… Masih sulit… sekali membiasakan diri membaca Quran… Mualese iku loh, puol…

  29. membaca adalah budaya yang sangat penting dalam mengembangkan kemanusiaan.
    namun membaca tidak hanya sekedar mengulangi teks2 yang tertulis, karena kata2 hanyalah represi dari pengalaman yang mereduksi spirit dalam pemaknaan hidup.
    saat Quran tlah diberhalakan sebagai wahyu Illahi, segala pertanyaan terhadapnya adalah DOSA
    manusia terjebak dalam nihilisme hidup karena tak mampu lagi memaknai pengalamannya sendiri. Tuhan sudah mati dalam teks2 buku yang disebut KITAB SUCI

    jangkrik kang pada ngerik
    banyu kang kemricik
    iku kabeh piwulang kang tharik-tharik

  30. halah potone lho kang,nggilani hehehe..

  31. bangsa ini lebih doyan melenakan pikiran, ketimbang mendidik pikiran
    (halah udelmu vincent heheh)

  32. Mungkin karena orang kita terlalu senang mendengar dan menonton ketimbang membaca dan menulis.

    Ah tulisan Mr Kurt yang mencerahkan. Trims.

  33. Padahal membaca itu asyik lho, membuat pikiran kita ikut berkelana mengikuti pengelanaan penulisnya. Dan yang lebih menyenangkan, satu buku jika dibaca oleh beberapa orang, bisa menimbulkan cara pandang yang berbeda, dan menarik untuk didiskusikan.

    Mungkin lebih tepat budaya membaca diawali dari rumah masing-masing, karena saat saya kecil, ayah ibu guru dengan keuangan terbatas, saya bisa membaca dengan meminjam bacaan dari teman, perpustakaan dan lain-lain. Jadi yang penting adalah bagaimana membuat anak-anak lebih tertarik membaca daripada menonton acara yang kurang bermanfaat (walau ada juga acara TV yang bagus).

  34. lagi-lagi kalah ya (negara) kita….

  35. fotonya diganti donk Pak

  36. mbaca blog belum diitung tu Pak, klo di hitung mungkin tingkat mbaca orang Indonesa lumayan juga😀

  37. Pak Kurtubi ke mana saja??? menghilang terus… tafi barusan ane liat nyamfah di blog orang laen…:mrgreen:

  38. iqra’… makanya saya membaca Pak🙂

  39. kalau itungannya seperti itu blog ini jauh lebih baik keknya 1 blog di baca berapa ribu orang pak ?:mrgreen:

  40. Nyicil komentar dulu yaa… limited time .. wuuu sok sibuk ya? bukan, bukan! ini murni karena banyak sekali beban kerjaan akhir2 ini sehingga ketika online yang dipegang kerjaaan sehingga terbengkalai deh blog ini…. maafkanlah saudara2 saya pun jarang kunjung ke rumah tetangga padahal rasa haus tak terkira, untuk sekedar “minta minum segelas” heheh🙂

  41. sayah jadi merinding pak… bukan apa2 tapi pada satu sisi sangat menyakitkan melihat bangsa ini terbelakang tapi disisi lain koran/media massa sudahkah menjadi barang yang mampu menjadi pelepas dahaga para pembaca? saat tingkat bacaan semakin meningkat maka sayah rasa pemikiran pembaca pun makin meningkat.. apa daya media massa lebih banyak menyajikan informasi yang jarang bahkan tidak mempunyai nilai plus bagi para pembaca selain mimpi2 indah disiang bolong, 1 : 45 saja sudah sedemikian menyeramkan kondisi bangsa ini yang terus terpuruk apalagi 1:1😆
    media massa yg patut menjadi lahan bagi generasi sekaligus pupuk bagi tanaman2 muda malah menjerat generasi tersebut dalam keyakinan tanpa tentu, membaca setidaknya menjadi kebutuhan dasar bukan sbagai pelampiasan untuk mencari sebuah sensasi belaka
    *bahasanya kacau balau dah*😀

  42. wah asik om kurt udah balik….

  43. @Kurtubi
    Ane ngerti kok pak Ustad…semoga sukses

  44. Halah..halah…
    Sedianya aku mo bikin tulisan yg berkaitan dengan IQRO’, eh..bos Kurt dah duluan.
    Yah…rupanya klu bos Kurt mengulasnya dari sisi membaca menggunakan sarana Fisik. Rasanya memang bangsa ini perlu ada yg menggerakkan BUDAYA membaca yg sudah semestinya bukan lagi menjadi tanggung jawab Guru seperti Kang SAWALI TUHUSETYO, Bang ERSIS, Kang GEMPUR. Tetapi kita sendiri juga anak-anak kita untuk perlunya IQRO’ dalam konteks yang berimbang antara membaca Materi ( JASMANI )dan membaca BATIN ( Rohani ) klu bahasa gaulnya IMTAK dan IMTEK harus balance.
    Kira-kira begitcu gak Bos Kurt..??

  45. Iqro bismirobbikalladzi kholak… eh merinding pak dengarnya… merindingnya kenapa karena saya masih sangat minim sekali dalam hal urusan baca membaca… jadi pak..🙂

  46. aduhh pak kurt makasih sekali telah di ingetin. betul sekali kayaknya minat baca di masyarakat kita sangat rendah. kita salah kaprah menilai modern sebagai segala yang berbau instan sehingga kita lupa dg proses, belum lagi gempuran media audio visual (terutama tv) dengan segala impian-impiannya yang seakan-akan membuat budaya melihat menjadi lebih penting daripada membaca…

    jd inget temen yang pernah bilang -suatu perumpamaan- klo seorang penikmat kopi akan lebih menikmati kopi yang dicampur dan diseduh sendiri daripada sekedar meminum kopi dari sachet karena dia tidak sekedar meminum kopi tapi menikmati kopi…hehehehe OOT ya

    dan satu lagi yang saya suka dari hobi membaca adalah fantasi dan imaginasi kita akan bergerak lebih liar membayangkan tulisan-tulisan tersebut yang pada akhirnya akan merangsang kita untuk terbiasa kreatif

  47. setuju pak! shino punya pandangan yang sama🙂

  48. welkambek pak!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  49. tanya lagi ni pak, kalo mau masukin gambar di side bar gimana ya, contoh gambar renungan itu, masuk ke tampilan, pilih widget trus..? matur nuwun ya Gus Kurtubi

  50. huhuhu mudah2an sibuknya nggak kelamaan yah pak…
    update dunk pak…
    huhuhu

  51. […] Membaca… adalah suatu religiositas hidup *religius berasal dari relegere (membaca ulang) & religare (menyambung kembali)* Religiositas hidup yang selalu berbenah diri, penyatuan hal yang terpisah secara terus-menerus. […]

  52. masyarakat sudah terbiasa dengan hidup instan…pak kurt.

    Baca…..baca….!DAN Tulislah walaupun tulisan itu tidak ada yang membaca. mari kita galakkan budaya membaca dan menulis!Pesan ini disampaikan oleh rimba.he….he……ketemu lagi pak kurt….

  53. katanya sih budaya bangsa kita memang bukan tulis dan baca, namun budaya lesan…

  54. tulislah,
    mana lagi nih tulisannya. Koq sudah habis?

  55. wah… ternyata kyai kurt dah kembali… ..telat nih tahunya… hiks…

    bener pak kurt… minat baca di indonesia memang payah… tapi perkmebangan terakhir dan mulai membaik kok.. terutama ketika jaringan informasi internet mulai terjangkau… spt pak kurt yg bakal kecipratan turunnya tarif speedy…

    Kalau Al-quran… kayaknya anak2 muda termasuk saya kali ya.. lebih sering baca blog dari pada baca alquran…(astaghfirullah….)

  56. budaya baca memang susah di indonesia..
    sudah tergantikan oleh budaya “NONTON”..
    budaya yang merusak moral..

    karena sudah rusak moral nya maka buat baca al quran jadi takut karena takut dosa nya..(astaghfirullah..)

    aneh memang baca al-quran malah takut?apa karena ga mau tobat?
    ga taulah aku juga bingung..

  57. wah, kok semua pada lebih seneng nonton ya, mereka tidak lagi mau berpikir….

    dengan membaca kita harus berpikir untuk bisa melihat apa yang kita baca….

  58. ooooo

  59. hahahhaha… setujuh sayah..
    islam adanya di barat.. wakakkak..

  60. foto anaknya lucu banget mas saya sampai tertawa terbahak bahak

  61. kode untuk gambarnya gak ada soalnya itu layanan dari blogger untuk tampilan slide

  62. bagaimana dengan budaya bertutur?
    meskipun agak miris juga. di universitas, LPM kekurangan pelanggan. padahl sudah susah2 rapat redaksi dan segala macam, pas udah terbit, e…e… cuma jadi lap pel
    cape deh… piye,jal?

  63. Ini kalau dilihat dari hasil penjualan koran berbanding dengan jumlah penduduk. Tapi kalau dilihat dari pembaca, aku rasa banyak yang baca koran gratisan.

    Di Solo, banyak tukang becak berkerumun membaca koran gratis yang ditempel kayak majalah dinding.

    Di Sawangan, Depok, Jabar, club tukang ojek berlangganan koran secara saweran. Aku lihat bahkan ada 3 koran/hari.

    Yeah ngak apa-apa mereka sudah sedikit sadar membaca dulu sudah baik.

  64. orang orang yang males baca biasanya punya alasan kalo mereka lebih bisa menyerap apa yang didengar daripada apa yang dibaca

    kaya’na saia termasuk de kadang-kadang…

    :|o|:

  65. duh jadi malu sama anak kecil. perlu cari lagi nih buku2 barunya

  66. assalaamu’alaikum, mo silaturahim aja. dah lama gak mampir kesisni. tuliasnnya masih tetep bagus2 dan keren2

  67. Assalammu’alaikum, mas
    Sebaiknya kita pandai membaca dari pada hanya bisa membaca.
    Waaahh… bingung sendiri nich😀

  68. Di Jawa Barat 1:48, gimana di Kalimantan Selatan ya? Pasti lebih parah Pak..

  69. sungkem mowon kulo

  70. KOran mahal, trus ngirimnya kan susah … . Di kita ngga ada yg mikir bikin pamflet atau buletin ya?

  71. wong sidoarjo numpang lewaat yo mas, blogku sing iki sik anyar. dadi sik kpingin blajar akeh nang arek2.

  72. Sebenarnya orang Indonesia itu sangat suka membaca dan pinter mengambil pelajaran dari apa yang dibaca. Masalah minat baca yang rendah, itukan cuman untuk media cetak.

    Tapi untuk yang lain kita mungkin sudah sangat expert, misalnya “baca situasi”, “baca kesempatan”, “baca sifat orang”, “baca keinginan orang”, “baca iklan dan reklame” (terutama kalau ada gambar yang “uhui”, katanya 1 gambar mewakili beribu kata), dan jenis baca-bacaan yang lain terutama “baca angka di lembaran uang”, hehehe…

  73. sistem pendidikan kita belum mendukung penciptaan budaya membaca pak. Orang-orang masih suka baca komik dan koran kuning,,..weleh..weleh….

  74. WAHAI ANAK BANGSA” BANGUNLHAH!,
    BUKALAH MATAMU!
    BERDIRILAH DENGAN KAKIMU, SING-SINGKAN LENGANMU,
    MARI BANGKIT! UNTUK INDONESIAMU TERCINTA
    INDONESIA KITA TIDAK PERNAH MERDEKA!
    INDONESIA KITA TERUS MENANGIS”
    INDONESIA KITA TERUS MERANA”
    INDONESIA KITA SELALU DI PERKOSA
    “PELAKUNYA ADALAH IMPERIALISME ANAK SANG KAPITALIS”
    NEGERI KTA DARI DULU SAMPAI SEKARANG TERUS TERJAJAH
    SADARKAH KITA BAHWA TIGA PEREMPAT KEKAYAAN NEGERI INI
    TELAH TERKURAS HABIS, OLEH SETAN IMPERIALISME
    NEGERI INI MENYEDIAKAN SELURUH KEKAYAAN BUMI, MEMILIKI
    SEJUTA PESONA, BAHKAN SEJUTA RASA.
    KITA PEMILIK SAH NEGERI INI, NAMUN TERPASUNG OLEH SISTEM
    IMPERILALISME MODERN, TERJEBAK OLEH SEKULARISME
    PARTIKULAR, TERLENA OLEH HEDONISME SEMU.
    SADARKAH KITA, SETIAP BANGSA BERHAK ATAS DIRI DAN
    TANAH AIRNYA, AKAKAH KAU GADAIKAN DEMI KENIKAMATAN
    SESAAT, TENGOKLAH KE BELAKANG!
    MAU JADI APAKAH NEGERI INI?
    BAGAIMANA NASIB ANAK CUCU KITA KELAK, JIKA KITA HARI INI
    TIDAK PERNAH MEMBERI MEREKA KEKUATAN UNTUK MENGUASAI
    NEGERI INI, DAN MENGOLAHNYA UNTUK KESEJAHTERAAN MEREKA
    SEPENUHNYA, BUKAN UNTUK NEGARA TETANGGA, BUKAN UNTUK
    ADI DAYA, DAN BUKAN PULA UNTUK INVESTOR.
    IMPERIALISME NEGERI INI SUDAH KETERLALUAN, SANGAT
    MENGERIKAN DAN MEMILUKAN, KITA TENTU TIDAK INGIN
    SELAMANYA MENJADI BANGSA TERJAJAH, TERHINA,
    TERLUKA DAN TIDAK MERDEKA.
    MARI SATUKAN TEKAD, BULATKAN NIAT!
    KITA HARUS MEREBUT KEMBALI SEMUA KEKAYAAN KITA,
    JANGAN BIARKAN SAWAH DAN LADANG KITA DI BAJAK
    ORANG, JANGAN BIARKAN LAUT KITA DI AMBIL ORANG,
    JANGAN BIARKAN HUTAN KITA DITEBANG ORANG,
    JANGAN BIARKAN BUDAYA KITA DICURI ORANG.
    MARI KITA RAMPOK SEMUA BANK, MARI KITA SEGEL
    SEMUA KANTOR PEMERINTAH, MARI KITA AMBIL ALIH
    SEMUA PABRIK, MARI KITA GANTI IDENTITAS NEGERI
    INI DENGAN BUDAYA KITA, BUDAYA TIMUR YANG SEJAK
    DULU MENJADI DARAH DAN INSPIRASI HIDUP KITA.
    PERSETAN DENGAN KEPERCAYAAN, PERSETAN
    DENGAN SEGALA BENTUK KEYAKINAN, YANG JELAS
    MEREKA TIDAK PERNAH MEMBERI KITA HARAPAN,
    APALAGI KEBAHAGIAAN!
    UNTUK MENJADI ORANG BAIK TIDAK PERLU PENGABDIAN,
    TAPI HARUS DENGAN PENGORBANAN, PEPERANGAN DAN
    MENEGAKKAN KEADILAN.
    YANG BISA KITA LAKUKAN HARI INI ADALAH :
    REVOLUSI

  75. pak kurt, kemana kok lama ga nongol……

  76. wah Mas Kurt ini.., saya disuruh mbaca tapi postingannya gak diupdate, lagi sibuk ya …? Selamat deh..semoga sukses
    —salam—

  77. Lama Gak Berkunjung Kemari, Ternyata malah Sedang asik baca di Kamar mandi..! baca Iklan Ya?

  78. waduh moso gambarnya anak kecil baca koran di closed,pedahal tema yang di bahas bagus.trims

  79. monggo siap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: