dadiwongenomblikenasobud

Polarisasi “Kyai Kampung” dan “Kyai Kampus”

In Celotehan, Dunia Pesantren, Modernisasi, Pendapat on 20 June 2008 at 3:40 pm

polarisasiOleh: Muhamad Kurtubi
Antara pendidikan pesantren dan pendidikan non pesantren ada semacam polarisasi pada pembimbingnya. Hal inipun berpengaruh pada cara pandang juga dalam hal menjalani kehidupan selanjutnya baik oleh para santri maupun para murid-muridnya.

Ilmu yang diajarkan di pesantren memang sarat dengan muatan kearifan, akhlaq dan ketulusan sehingga antara guru-murid tejalin berkelindan hingga kapanpun. Tetapi berebeda dengan sistem “pendidikan modern” yang dikembangkan di sekolah umum dan kampus-kampus.

Bahkan yang terjadi di masyarakat jika ada pertentangan antar golongan atau “unjuk gigi” daro para pembawa pesan ilahi, semua itu terkait dengan “ruh ilmu” yang yang mengalir pada masing-masing pembawanya.

Kyai dalam tradisi pesantren merupakan figur yang selalu dihormati, dikagumi dan dimulyakan. Sebab di sanalah estafet ilmu pengetahuan agama diperoleh. Namun bagi tradisi keilmuan modern, se’alim apapun seorang guru di sekolah atau dosen di kampus, tidak mendapat penghormatan ala pesantren. Misalnya dicium tanganya saat bersalaman, dihormati keluarganya, dihargai sikapnya, dan diikuti nasehat-nasehatnya.

Itulah salah satu hal yang membedakan tradisi keilmuan tradisional dan modern. Namun tak perlu disesali, penghormatan dan penghargaan “kyai modern” sudah lebih dahulu didapat dari instansi atau lembaga di atasnya.

Sementara guru (kyai) pesantren sebutan penghormatan itu dikukuhkan justru oleh murid-muridnya (santri). Jika dihitung-hitung barangkali impas juga (sebanding). Lihat saja, sebutan: Guru besar, prof., Dr., dr., Msc., dst bukankah semua itu merupakan penghormatan juga? Plus sederet tunjangan hidup dan nama besar itu bisa terkukuhkan dalam selembar ijazah (surat keputusan). Apalagi jika menjadi pejabat negara, pasti gelar-gelar itu berpengaruh terhadap penghasilan bulanannya. Itulah bentuk penghormatan yang tidak diperoleh bagi kyai kampung.

Sementara bagi “kyai kampung” tidak ada korelasi antara sebutan kyai dengan penghasilannya. Mereka (para kyai), Insya Allah ikhlas dalam mengajar para santrinya. Jangan lupa, banyak sekali kalangan santri didikannya yang tidak membayar biaya bulanan. Contohnya, saat penulis mondok di Buntet Pesantren adalah jenis “santri gratisan”. Menikmati fasilitas hidup di pesantren secara gratis, sementara penulis dibebaskan mendalami ilmu-ilmu agama dan ilmu di sekolah formal. Sebuah fenomena langka dalam tradisi keilmuan modern.

Ruh Ilmu

Pesantren justru lahir karena kharisma para guru di dalamnya. Sehingga kyai merupakan figur yang melatar belakangi eksistensi sebuah pesantren. Walaupun belum ada penelitian, tapi bolehlah jika ada sebuah asumsi mengatakan: apakah benar, semakin alim (mumpuni) ilmu seorang kyai, semakin kuat daya pikat bagi santri-santrinya. Sebaliknya, semakin kurang mumpuni ilmu yang dimilikinya, akan berdampak pada daya pikat (kharisma) seorang kyai.

Meskipun asumsi di atas sangat lemah, dan mudah dibantah, setidaknya, asumi ini, bisalah dijadikan bahan obrolan dalam tulisan ini. Hal ini bisa disamakan dengan mutu sebuah sekolah (perguruan) yang jor-joran promosi dan dibuat menarik, meski mutunya tidak diperhatikan, maka pada awalnya sekolah akan ramai dikunjungi murid-muridnya. Namun bisa saja, sekolah akan bubar dan sepi peminat, jika mutunya (kedalaman ilmu) tidak diperhatikan dengan serius.

Intinya, ruh sebuah perguruan baik modern maupun tradisional adalah pada mutu pembawa pesan ilahinya. Jika “ruh ilmu” itu dipertahankan, maka kehidupan akan terus mewujud. Sebaliknya, akan sakit dan kembang kempis manakala ruh itu “ogah-ogahan” dipupuk. Tidak jarang pesantren itu ramai oleh santri jika di sana terpola sebuah “ruh ilmu” yang mewujud dalam diri tokohnya maupun pada manajemen lembaganya. Sebaliknya, tidak jarang pesantren yang diasuh tanpa “ruh ilmu” akan sepi peminat.

Paramater
Sulit sekali mengukur kealiman (kedalaman ilmu) seseorang. Tetapi setidaknya, asum­si umum patut diper­tim­bang­kan. Misalnya, menurut pandangan umum, ukuran kealiman itu bisa diperoleh manakala kyai itu memiliki karya tertulis ataupun karya tertutur. Hal lain, bisa dilihat dari tingkah laku dan prilaku kesehariannya. Di samping itu berbagai kepedulian dan kearifan dalam menyikapi persoalan. Hampir setiap orang dengan mudah melihat bagaimana akhlak seorang yang dianggap “cerdik pandai” itu. Nah, sikap-sikap pembawaan seorang kyai ini setidaknya dapat melabeli “alim” atau tidaknya seorang kyai.

Atau secara spesifik asumsi umum itu bisa diurai:

pertama, dari karya-karya yang diterohkan dalam berbagai tulisannya. Apakah diakui oleh kalangan ilmuan lain ataupun tidak; membawa manfaat secara umum atau tidak; memberikan khasanah (kekayaan) baru dalam bidangnya atau tidak; dan membawa pesan perubahan prilaku mulia atau sebaliknya.

Kedua, jika tidak ahli dalam menulis, tetap bisa dikategorikan kyai kampung yang alim. Hal itu bisa diukur misalnya dalam setiap “ilmu tutur”-nya. Bagaimana ia menuturkan dan menjelaskan berbagai persoalan dari sudut pandang ilmu yang dikuasainya: apakah konprehensif (mencakup) atau tidak, membawa kepentingan golongan atau pluralis, membawa kedamaian atau sebaliknya, menetramkan atau menggelisahkan, membawa pesan kepedulian atau pengabaian, menciptakan sinergi etika atau anti-etis, membimbing individu masyarakat atau justru mengambangkannya.

Ketiga, wilayah privatnya. Maksudnya adalah kedekatan interaksi vertikalnya. Di kalangan santri, ada pemahaman secara umum, bahwa kyai yang memiliki kedalaman rohani, biasanya karena interval vertikalnya sangat rapat, ditambah wawasan keilmuannya yang komprehensif. Disamping itu, inverval horizontalnya pun juga rapat. Ibarat gelombang FM (frekuensi modulation) akan lebih jernih ketimbang gelombang AM. Hal itu karena FM memiliki karakter gelombang yang modulasi dan intervalnya sangat rapat.

FM modulation waveTidak jarang, “kyai FM” ini sangat dicintai masyarakatnya. Persis seperti radio FM yang lebih diminati masyarakat kita. Sehingga di mana-mana seluruh gelombang radio berpindah pada jalur FM. Hal ini karena karakter kuat pada gelombangnya juga jernih suaranya. Demikian itu bila ilmu ini melekat pada seorang “kyai FM”, maka tidak mustahil, pancaran gelombang ilmunya kuat, prilakunya santun dan nasehatnya jelas, dan tentu saja enak di dengar telinga. Pada akhirnya, tidak mustahil pancaran ilmu dari “kyai FM” ini akan di relay ulang di setasiun daerah masing-masing santrinya dan tentu masyarkat sekitar santri itu akan ramai-ramai mendengar lantunan gelombang “kyai FM” yang indah itu.

Gelar “Asal Gobleg”

Jika saja ketiga asumsi umum di atas tidak ada, maka dikhawatirkan muncul istilah yang kurang enak didengar. Sebuah istilah bagi orang Jakarta ketika melabeli sesuatu yang tidak serius atau asal-asalan dengan istilah “asal gobleg”.

Orang kerap mencibir untuk sarjana pendidikan modern pada akronim S.Ag. Harusnya sarjana agama, tapi dicibir dengan akronim “sajana asal gobleg”. Jika demikian, sangat dikhawatirkan seandainya ada “kyai” atau “santri” yang hanya membela label saja namun kurang perhatian pada khasanah ilmunya tidak mustahil orang akan melabeli dengan istilah ini. Karenanya kita berharap jangan sampai segelintir orang mengarahkan kepada kyai atau kepada santri dengan istilah “santri asal gobleg”. Semoga kita terhindar dan berlindung pada Allah swt.

KoruptorKitapun tidak bisa menutup mata. Sebab tidak jarang, kampus-kampus kita banyak yang menghasilkan sarjana-sarjana “asal gobleg”. Jika saja mereka menjadi mitra pemerintah atau manajemen publik, urusannya makin kacau. Kepentingan keilmuan akan tidak “nyambung” dengan kepentingan publik. Kemanfaatan ilmu untuk kemaslahatan umum, akan diberangus dengan kepentingan pribadi.

Tidak aneh, jika munculnya sifat-sifat hedonistik: korupsi, kolusi dan nepotisme buta pada bangsa ini, benar-benar membutakan semua wacana dan menutupi sinar ilmu yang menyinari semangat kedamaian dan ketentraman. Akhirnya, hanya berharap semoga semua itu bisa terkikis dengan semangat revolusi untuk terus-menerus menggiati berbagai disiplin ilmu dari masing-masing keahlian.

Upaya untuk mengatasi permasalahan ini bagi penulis sangatlah tidak mumpuni. Karena penulis bukanlah ilmuwan yang bisa memaparkan hasil penelitian ataupun refleksinya. Secercah harapan untuk mengatasi itu tentu saja bisa lahir dari setiap individu. Ataupun bisa lahir dari para pengendali kebijakan setiap lembaga modern atau tradisional yang peduli pada tetesan semangat keilmuan.

Harapan ini semata-mata merupakan ikhtiar guna membangun bangsa yang kini telah banyak dipengaruhi oleh sarjana-sarjana “asal gobleg” yang diluluskan oleh segelintir lembaga kampus kota. Semoga kita berharap besar jangan sampai lembaga kampus kampung (pesantren) ikut-ikutan arus dengan meluluskan S.Ag (santri “asal gobleg”). Wallahu a’lam bishshowab. (*)

  1. Maaf karakter suka nglanturku masih terpelihara: NULIS DAWA (menulis panjang) sory bro yah.

  2. 🙂 sampe bacanya harus di rumah… kalo diwarnet abis2in pulsa🙂

  3. sebenarnya keberadaan pesantren dan sekolah umum itu sangat ditentukan kualitasnya oleh para pelaksananya. saya kiranya konsepnya bagus juga, kok, mas kyai kurt. ponpes lewat sentuhan pak kyai yang kharismatik tentu akan menghasilkan santri2 yang alim dan berakhlak. demikian juga kalau para siswa dan mahaiswa dikelola dan digembleng oleh guru/dosen yang baik kelak mereka juga akan menjadi manusia *halah* yang cerdas dan bermoral. sayangnya, hal itu tidak diimabngi dengan kondusifnya atmosfer kehidupan masyarakat kita yang sedang “sakit”, haks:mrgreen:

  4. Soal ‘hasil pendidikan’ tunggu dulu, kalau konsepnya OK punya. Di kampus kini malah banyak “akademisi kyai”; kampus-kampus menjadi pusat kajian keislaman, banyak ceramah dan syiar agama diayunkan orang-orang kampus. Di pesatren, konon banyak kyai-jyai modern, bahkan ‘lebih modern’ dari akademisi. Intinya, terjadi saling mendekati … ini barangkali kembali ke suasana zamam Rasulullah. Ingat ulama itu bukan saja berarti orang yang paham agama lho, tetapi orang berilmu (apa saja). Ah, gawur juga komen saya ya Pak Kiai. Sekali-kali mencandai Pak Kiai ngak dosa kan?

  5. Yang pasti kharisma, kualitas keilmuan dan kepribadian seseorang tak bisa dinilai dari sebutan “Kyai” atau “Bukan Kyai”. Di Jawa, ada keris bergelar kyai lo.

  6. Menikmati tulisan mr Kurt aja aaaaaaaah.

    Untung bukan S.Ag… (kalau S.Ag nanti dibilang sarjana asal gobleg ya?😀 )😀😀

  7. Apakah pesanten dengan sekolah modern memiliki visi yg berbeda.

  8. weladalah..ternyata macam/jenis kiai itu banyak ya ?????

  9. gelar kyai ? Banyak sekali orang mengaku kyai. lhah wong kebo di pelataran keraton solo saja dinamakan kyai slamet. Maka sebenarnya yang berkharisma adalah orang yang berilmu (meskipun sedikit) mau mengamalkannya dengan gigih. Orang alim yang selalu teguh antara ucapan dan perbuatan, menjaga keduanya agar tidak meleset sedikitpun, bisa dijadikan panutan seluruh lapisan masyarakat.
    Sebutan ulama bagi orang yang berilmu dan mengamalkannya hanya datang dari murid2nya, penduduk sekitar, orang lain.
    gelar ulama bukan diaku – aku atau mengaku – ngaku sebagai.

  10. Mas, di pesantren boleh demonstrasi ga ya?

  11. pengkutuban itu pasti bermula dari kesalahan di pusat kekuasaan. Soalnya dulu kita sangat sentralistik; dan semuanya dipaksa masuk ke jaring kekuasaan.

  12. Ada lagi namanya: Ustad Entertainment, cirinya nggak bakal mau njawab kalau ditanya topik-topik sulit. Tapi ngomongnya di TV keren banget.
    Cas Cis cus.

    Giliran ditanya Boleh nggak presiden perempuan. Nggak berani njawab – Ya atau tidak.

  13. welgedewelbeh

    Pak kurt, di kampus2x umum sekarang ini, mulut liat banyak yang ngaku ustad dadakan lho, malah kadang bikin fatwa sana – sini, maklum di kampus umum itu kan pendidikan keagamaannya sangat sedikit dan peran ulama kadang di pegang oleh mahasiswa dan mahasiswi yang menurut mulut kebanyakan pemahaman agamanya ya sama saja dengan kita2x,terutama yang dulunya sekolahnya bukan jebolan pesantren, di sekolah-sekolah umum, dan tahu sendirilah…. , pendidikan keagamaan di sekolah umum itu kan tidak terlalu banyak porsinya. nah seharusnya ini pak pesantren ikut berdakwah disana pak, biar pas gitu, maksudnya ustadnya emang pas paham agama, ga karbitan, karena kalau karbitan menurut mulut jadinya ya …., biar ga marak ini, paham saling menyesatkan satu dengan yang lain.Sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terjaga…., demi kemajuan bangsa kita tercinta ini pak…, sudah saatnya ulama kampung masuk kampus…., he…he…just opinion

  14. weh udah nongol lagi…😀

  15. masing2 tergantung orangnya… kalo sungguh2… insyaalLoh baik hasilnya.

    man jadda wajada

  16. mau kyai kampung/kota sama saja yang penting selalu mengajarkan tauhid kepada santrinya dan bisa dilihat tingkah lakunya.

  17. Domain Gratis
    http://www.co.cc/?id=138366
    Hosting Gratis
    http://www.000webhost.com/?id=10192

    Bila anda ingin website gratis kami akan buatkan.

    Cara membuat domain dan hosting gratis :
    http://akujoker.wordpress.com

  18. Bukankah sekarang sudah banyak juga Ustadz/Kyai modern❓ Pola pandangan yang berbeda, mudah-mudahan satu VISI Ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan di kedepankan untuk kepentingan dan kemajuan bersama.

  19. saya nggak hormat sama “kyai kampus”, tapi saya hormat sama “ustadz kampus”… hehehe emang beda ya…

    yang saya sebut “uztadz kampus” di sini bukan dosen, pengajar atau apapun sebutannya di perkuliahan, tetapi orang yang merelakan waktunya tanpa di bayar untuk membimbing saudara dan adik-adiknya untuk mengenal jalan kebenaran… Murobbi lah sebutan kerennya…

  20. kiayi kampus.. jadi ingat

  21. beuh.. santri gratisan!!!
    skolah tuh HARUS mahal, biar bermutu.. kalo murah apalagi gratisan jd ga bermutu.. org miskin mah DILARANG skolah..

    gyahahaaa.. sapa sih yg bilang gituh..?
    kaboooooooooooorrrrrr… takoooooooooooootttt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: