dadiwongenomblikenasobud

Sayap-sayap Patah

In Ibadah, Keajaiban, Modernisasi on 12 October 2008 at 10:13 pm

Refleksi Syawalan

Sayap hasil metamorphosis.. manusia juga punya
Selamat tinggal ramadhan… kau telah memberikan masa ingkubasi untuk para shoimin. Kau juga telah memberikan rehat bagi tubuh-tubuh yang butuh istirahat. Dari proses “mbrongsongi” menjadi kepongpong lalu melahirkan sayap bagi ulat-ulat yang semula hina menjadi kupu-kupu indah. Lalu apa hasil dari “mbrongsongi” itu bagi manusia.. ?

Teringat dengan kata-kata Cak Nun di salah satu tulisan (lupa dimana?) “makan itu fungsinya untuk tidak makan” Katanya. Maka saya menyimpulkan puasa itu pula fungsinya untuk tidak puasa. Maksudnya, puasa akan berguna di saat tidak puasa. Begitu pula shalat berfungsi untuk saat tidak dalam posisi shalat, sebagaimana juga zakat berguna untuk sinergi berikutnya.

Jika puasa dimaknai sebagai proses “mbrongsongi” (metamorfose) seperti ulat, maka tentu saja setelah masa puasa itu berlalu, si ulat telah lahir menjadi individu baru: kupu-kupu bersayap dan berwarna indah. Sayapnya berguna untuk menyebarkan benih-benih kehidupan bagi kembang-kembang yang tengah berbunga.

Berkat sayapnya bunga-bunga berubah menjadi buah dan buah-buahan ini bisa dipetik dan dan dimakan oleh manusia dan hewan. Terjadilah keseimbangan proses energisasi (sinergi) yang terus-menerus.

Sayap dalam Hadits dan Al Qur’an
Ulat itu bersayap. Malaikat pun seperti dalam al quran dan hadits digambarkan bersayap. Sama dalam paham Injil malaikat dilambangkan dengan bocah cilik yang bersayap. Saya melihat gambar ini biasanya terpahat di nisan kuburan unit Kristen.

Ruzain bin Hubaisyin berkata: Ibnu Mas’ud menceritakan kepadaku: Bahawa Nabi s.a.w telah melihat Jibril a.s mempunyai enam ratus sayap. (Al bayan 107 hadits Riwayat Bukhari Muslim)

Rasulullah s.a.w bersabda: Mengapa kamu menangis? Sesungguhnya Malaikat masih menutupi beliau dengan sayap-sayapnya sehinggalah beliau di bawa naik ke langit ( Al Bayan 1456, HR Bukhari Muslim)

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. (Al Bayan 1573, HR. Bukhari Muslim dll.)

Sayap dalam Al Quran Allah SWT. berfirman:

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Fatir: 1)

Sayap bagi Manusia

Sayap berfungsi untuk terbang, karenanya, mesti memiliki keseimbangan. Kapal terbang bersayap karena ia terbang. Pada sayapnya terdapat mesin. Mesin ini mesti seimbang perputarannya antara sayap kanan dan kiri. Demikian juga manusia harus memiliki “sayap” yang seimbang karena hakekatnya manusia itu terus-menerus bergerak melanglang buana. Al harokah barokah, kata pepatah arab: Bergerak itu adalah keberkahan (kebaikan) bagi manusia. Manusia yang tidak bergerak ya tentu tidak bisa terbang.

Tentu saja sayap yang dimaksud adalah sesuatu yang bisa berguna dan menjadi penyeimbang kehidupan. Ada banyak hal yang berkaitan dan semakna dengan sayap yang harus dimiliki manusia:

1. Keseimbangan antara fikir dan dzikir

Manusia yang “bersayap” akan mampu terbang dan bisa melanglang buana antara alam fikir dan alam dzikir . Tentu saja untuk bisa seimbang antara dua pola ini, ia membutuhakan sayap. Jika kanan-kiri ini tidak seimbang, maka sebagaimana layang-layang akan miring sebelah, kapalpun akan “ngabrok” (jatuh). Juga si layang-layang tidak bisa terbang .

Orang yang berpatokan pada rasio semata tentu akan kewalahan saat menghadapi hal-hal irasional. Bagaimana mungkin mau mengeluarkan zakat yang tidak mendatangkan keuntungan materi. Begitu juga shalat, menghabiskan waktu saja. Apalagi puasa, dianggap hal bodoh karena hanya melemahkan produktivitas.

2. Keseimbangan antara Kerja dan Ibadah

Ibadah melulu dalam agama kurang disukai. Apalagi kerja melulu. Nabi saw pernah menegur seorang pemuda yang diam saja di masjid tapi tidak bekerja. Karya dalam sebuah kehidupan mesti terus digenjot untuk menghasilkan nilai produktivitas yang menghasilkan karya bermacam-macam dan bermanfaat bagi kehidupan.

Sementara Ibadah (shalat), menurut salah satu puisi Cak Nun, merupakan penyatuan dari segenap karya-karya itu. Maka di sini berarti, orang yang memiliki sayap antara kerja dan ibadah akan merasa seimbang dalam pengembaraan hidupnya. Mirip burung elang yang terbang indah di angakasa. Bayangkan akan stress jika sayap itu berat sebelah. Silahkan diteliti orang-orang yang stress dalam hidup, pasti “sayapnya” ada yang terluka di salah satunya.

Masalah Indonesia, menurut orang-orang pinter adalah persoalan pada kebodohan dan kemiskinan. Maka niscaya sekali jika sayap antara kerja dan Ibadah ini mesti harus dipakai pada bangsa ini. Maka jangan tersinggung jika bangsa kita tidak memiliki keseimbangan sayap sehingga terbangnya jungkir balik. Si miskin yang cinta harta, tidak bisa terbang karena sayap ibadahnya rusak. Sementara pada si kaya terbangnya hanya miring ke kiri saja misalnya karena hanya memiliki orientasi keuntungan semata.

3. Keseimbangan Pola Pikir Manfaat & Bahaya

Orang yang memiliki daya keseimbangan antara manfaat dan madorot dalam pola pikirnya saya kira akan terbantu sekali dalam setiap sikap dan prilakuknya: Hati-hati, tidak ceroboh dan berorientasi manfaat. Sayap ini tentu akan terasa sekali terlihat bagi orang-orang yang berfikir dalam.

Dale Carnagie mengatakan yang diterjemahkan oleh penerbit MIZAN dengan istilah AMBAK (apa manfaat bagiku) sebagai patokan berprilaku dan bertindak. Itu adalah sebuah pola pikir yang berorientasi pada manfaat. Jika “sayap” ini terjaga, niscaya orientasi manfaatlah yang selalu diusung oleh si individu “bersayap” manis ini.

4. Keseimbangan Hukum – Hakim

Sayap ini mesti dipakai oleh penegak hukum. Jangan hanya pada yang berduit saja si hakim bisa terbang indah. Namun pada si papa, sayapnya tidak bisa terbang. Sangat ironis jika hakim tidak bersayap seimbang. Indonesia sejatinya membutuhkan para hakim yang bersayap bagus untuk bisa terbang seimbang. Bisa ditonton oleh para penikmatnya.

5. Keseimbangan Dunia Akherat

Lebih spesifik adalah orang yang beragama berorientasi pada dunia aherat. Sebab kata Nabi saw: Addunya mazroatul akhreh, dunia adalah sawahnya akherat. Percaya pada akherat (the day after) adalah rukun iman yang kelima. Maka jika tidak percaya pada hari tersebut, sangat dikhawatirkan seorang individu tidak bisa terbang ke akhirat. Sebab hanya memiliki sayap bermerek dunia saja, ia hanya bisa terbang melanglang buana di negeri dunia.

Dalam beberapa hadits yang mengajarkan sikap pluralitas bisa ditemui misalnya:

Diriwayatkan daripada Abu Syuraih al-Khuza’iy r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya. Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. Sesiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia bercakap hanya perkara yang baik atau diam. (HR. Bukhari Muslim. Al Bayan: 31)

Menurut Istrinya, Rasulullah saw paling sering berdoa dengan ungkapan : “Robana tina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar” Ya Allah berikanlah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

11 Bulan Kedepan

Praktek puasa hanya sebulan, seperti Cak Nun katakan, bahwa manfaat makan untuk tidak makan. begitutapi manfaatnya bulan puasa untuk untuk 11 bulan kedepan (bukan bulan puasa). Jika saja 11 bulan tidak bersinergi, tentu ada sesuatu pada sayap yang telah dihasilkan dari proses metamorfosenya.Dari uraian di atas, masih banyak lagi sisi-sisi keseimbangan (sayap) yang berguna untuk kehidupan antar manusia. Saya, Anda bisa menambahkan lagi lebih banyak untuk kebaikan dan kesejahteraan bumi dan alam ini. Jika ibaratnya bulan ramadhan adalah proses membuat sayap, maka di syawal dan seterusnya jangan sampai sayap itu menjadi patah. Bagaimana menurut Anda? Wallahu a’lam.

———–

Update:

maaf tulisan tentang halal bihalal silahkan bisa mencari sendiri, atau menulis sendiri. Tadinya mau nulis tentang halal-bihalal, eee “clonasnya” mengarah ke masalah sayap… jadi bingung deh kalau menulis tanpa konsep mengalirnya gak sesuai otak gimana sih … Lagi pula masalah halal bi halal menurut saya pembahasannya seputar Fiqh oriented yang sering dikupas oleh para salafy “importir”…🙂

  1. Mencerahkan sekali, mas Kurt.
    Senang deh membacanya.

    #Si miskin yang cinta harta, tidak bisa terbang karena sayap ibadahnya rusak. Sementara pada si kaya terbangnya hanya miring ke kiri saja misalnya karena hanya memiliki orientasi keuntungan semata.#

    Kata yang mengusik kalbu.

    —————–
    @Hanna
    Apalagi ada Hanna lebih cerah deh web ini…🙂

  2. nice posting mas kurt … sedih yah dah gak ramadhan lg

    ———————
    @icha
    nice icha ….🙂

  3. Postingan yang cerdas. Keseimbangan hidup memang perlu dijaga terus agar bisa terbang dengan sayap2 keillahian. 11 bulan mendatang akan lebih bagus jika kita terus berperilaku seperti ketika sedang berpuasa.

    —————
    @Sawali Tuhusetya
    Sayap2 keilahian hmmm kata2 baru aku suka …🙂

  4. Assalamualaikum wr wb

    Kok situs resmi pondok butet belum rampung ..??

    Wassalam

    ————–
    @Islam Muhammadi
    wa’alaikum salam
    sudah beres kok bos… klik di sini

  5. Ya, mudah-mudahan setelah ramadhan ini kita bisa seperti “kupu-kupu” yang indah. Dan menebarkan keindahan.

    Keindahan dalam arti prilaku, sikap kita sebagai pantulan hasil berlatih selama Ramadhan.

    Btw, saya juga sering lho mr Kurt, ketika menulis ide awalnya tentang “anu” eh ketika sedang menulis ide itu berubah dan hasilnya jadi aneh, berubah sendiri. Tapi ga apa-apa… (karena yang menggerakan akal dan pikiran kita kan bukan kita sendiri…😀 )

    —————
    @mathematicse
    Amin… makasih doane.. Yok kita terbang ke angkasa dengan sayap kita masing2🙂 yang menggarakkan akal kita tanya siapa?

  6. ramadhan adalah untuk stelah ramadhan🙂

    ——
    @’K,
    stelah itu ramahan lagi deh …

  7. Aku ingin terbang tinggi…
    Seperti elang….

    Hehehe….
    jadi inget lagunya Dewa…🙂

    ———–
    @dwihandyn
    terbanglah kemari wahai elang betina…🙂

  8. saya malah lg males bgt…. ga tau kenapa. prasaan jd ky ulat dalam kepompong yg blm mau kluar…

    —————
    @Novee
    hahaha… berarti masih seneng menyepi, menyendiri, khusu’ dan tawadlu🙂 males mah alesan aja …

  9. saya kok merasa gebleg banget pak, metamorfosanya ngak kelar kelar hehehe

    ——–
    @kangguru
    habis adem sih pak kalau nempel ma perutnya kangguru…

  10. hahahaaaa… bukan alesan koq!
    males nya sayah keluar dari lubuk hati yg paling dalam…
    ntah lah… tiba2 jenuh. Mo hiatus lagi ah, dalam rangka pemulihan *alasan!*

    ———–
    @novee
    sebabe dalam lubuk hatimua kakeen alesan…🙂

  11. Sayap itukah energi itu ?
    Benar pak, keseimbangan, tawazzun … Ini yg kita2 sering lupa…

    ————-
    @Herianto
    Gak papa bos, manusia kan tempatnya sampah lupa🙂

  12. berarti ramadan ibarat bengkel buat balancing barangkali.😎

  13. Pokoknya menikmati pencerahan Sampeyan … makasih

  14. waktu kecil saya ingn sekali punya sayap … agar saya dapat berlari keliling rumah dengan kaki kecil saya dan sayap di pundak saya.

    kini sayap saya patah sebelah …

  15. ……tapi, menulis untuk tetap menulis dong mas kurt… hehehe.

    salam

  16. Artikel yang mencerahkan..

    *mulai belajar menumbuhkan dan mengepakkan sayap secara seimbang*

  17. tulisannya mencerahkan..sudah lama saya nggak baca tulisan jenis ini…thx

  18. sejujurnya, saya berfikir, judul postingan ini ada kaitannya dengan novel Jubron Kholil Jubron [Kahlil Gibran] dengan saya-sayap patahnya, ternyata tidak.

    Tulisan panjenengan yang berkutat tentang keseimbangan ini mengingatkan saya pada Tuhan yang Maha Indah dan Maha Seimbang dengan Cinta-Nya. \

    Ah, saya tak bisa berkata-kata. Terlalu Indah Dia.

  19. Selalu asyik dan betah mbaca fostingan pak Kurtubi…😀
    gak berani komen di sini…
    *menunduk*

  20. ambil positifnya

  21. Mantap Bos..

  22. Assalamualikum WR,WB

    Trimakasih atas tulisannya, sangat bermafaat untuk saya

    Semoga hari2 anda di rahmati dan di muliakan Allah SWT

    Dimudahkan dalam urusan dunia dan akhirat.

    Amiin

    Wassalam

  23. Sahih Bukhari, Volume 1, Book 5, Number 268
    Diceriterakan Qatada:
    Anas bin Malik berkata, “Sang Nabi sering mengunjungi semua istri-istrinya,
    pada siang dan malam hari dan keseluruhannya berjumlah 11 orang.” Saya bertanya
    kepada Anas, Apakah Nabi memiliki kekuatan untuk itu?” Anas menjawab, “Kita
    menyembutkan bahwa sang Nabi diberikan kekuatan setara dengan 30 (pria)
    .”
    Dan Sa’id berkata pada penguasa dari Qatada bahwa Anas mengatakan kepadanya
    9 istri saja (bukan sebelas).

  24. assalamualaikum

  25. Terima kasih sudah diingatkan !🙂

  26. Apa ngak diapdet ya kog serasa dah lama nich postingan

  27. ********mungkin sayap yang patah dapat tumbuh kembali..?

  28. ********mungkinkah sayap yang patah dapat tumbuh kembali..?

  29. saya ga bisa bilang apa2 lg utk bela diri, pak.. terserah aja mau percaya yg mana.. saya udah ga perduli..
    tinggal Allah satu2nya tempat bergantung..
    sayapku patah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: